
Media pagi ini diramaikan oleh berita penangkapan Rama. Ia tertangkap di sebuah rumah tua berkat laporan dari salah satu warga yang merasa curiga karena beberapa kali melihat seseorang mengintip dari dalam rumah itu, padahal rumah itu sudah belasan tahun tak berpenghuni.
Rama ditangkap dalam keadaan lusuh dan memprihatinkan. Sejak kejadian itu, ia sama sekali belum makan, minum dan mandi. Melihat ketakutannya sehingga tidak menunjukkan usaha sedikit pun untuk keluar dari rumah itu, memang sesuatu yang baik baginya tertangkap dengan cepat karena jika terlambat beberapa hari saja, ia akan mati kelaparan dan kehausan.
Setelah konferensi pers dari pihak kepolisian tentang penangkapan itu selesai dilaksanakan dan Rama dijebloskan ke dalam rutan, semua perhatian tertuju pada Indira sebagai kuasa hukumnya. Ia dikejar untuk memberikan pendapat tentang kasus ini dan apa rencananya untuk membela Rama.
“Saya belum bertemu secara empat mata pada klien saya. Saya harus mendengar kronologisnya dari klien saya terlebih dulu sebelum bisa menyusun rencana ke depan. Yang pasti, saya akan berusaha semaksimal yang saya bisa agar dapat menegakkan keadilan untuknya dan untuk korban seadil-adilnya,” kata Indira di depan para pencari berita.
“Apakah tersangka mengakui perbuatannya?” tanya salah seorang wartawan.
“Tadi klien saya sempat bilang kalau ia tidak membunuh dan merasa dijebak. Jadi, saya akan berangkat dari pernyataannya itu. Ia juga menyebutkan kalau ada bukti kuat yang bisa membuktikan kalau bukan dia pelakunya. Untuk rekan-rekan wartawan dan masyarakat, mohon bersabar menunggu. Kami akan berusaha untuk segera menemukan bukti tersebut.”
Setelah memberikan pernyataan itu, Indira bersiap untuk pergi. Namun, langkahnya terhenti ketika seseorang melemparkan pertanyaan tentang Abi padanya.
“Bagaimana dengan rencana banding untuk kasus Abimanyu Alexander? Batas waktu banding hanya tujuh hari sejak putusan keluar, sedangkan waktu itu sudah lama berlalu. Apakah Anda sudah menyerah dengan kasus Abimanyu Alexander, tidak seperti yang pernah Anda katakan dulu?”
Indira berbalik dan mencari penanya itu. Wajah yang sangat familiar baginya. Jack Off the Record, ayah kandungnya. Pria itu tersenyum seakan sedang mengejek putrinya sendiri.
Awalnya, Jack berpikir hubungannya dengan Indira akan membaik setelah sang putri mengajaknya untuk makan, meski hanya di minimarket. Ia sudah memberikan informasi yang cukup penting bagi Indira, yaitu perihal kematian Mischa. Bahkan, ia tidak memakai informasi tersebut untuk kepentingan pribadinya karena menunggu waktu yang tepat dan saat bertemu dengan Indira itulah dianggap waktu yang tepat.
Tapi, Indira mengecewakannya. Informasi penting itu sama sekali tidak digunakannya, termasuk di pengadilan. Ia membiarkan hakim memutuskan bahwa Benjiro adalah pelaku pembunuhan Mischa. Jack sempat berharap Indira menyerang balik melalui banding ke pengadilan tinggi, tapi sampai kini ia belum juga mengajukan banding tersebut.
“Sebaiknya tanyakan pada sipir lapas Maharaja. Sejak klien saya masuk ke sana, saya tidak pernah diperbolehkan untuk menjenguknya sehingga untuk meminta tanda tangannya saja saya tidak bisa. Bahkan, pada kunjungan terakhir, saya masih dilarang menjenguk dengan alasan klien saya sedang menjalani tes kesehatan karena beberapa hari terakhir menunjukkan gejala kanker. Bayangkan, bahkan ketika ia sedang menghadapi kondisi kritis, klien saya harus sendiri dan tidak bisa didampingi oleh orang yang ia kenal, hanya karena keluarganya dalam kondisi tidak memungkinkan untuk menemaninya. Saya, pengacaranya sendiri, dilarang untuk mendampinginya. Jika sekarang saya bisa bertemu dengan klien saya, saat ini juga saya akan mengajukan banding. Meski terlambat, saya pikir pengadilan akan menerima alasannya.”
“Maksud Anda, kondisi Abimanyu Alexander saat ini tidak diketahui?” tanya salah satu wartawan diikuti pertanyaan-pertanyaan dari wartawan yang lain.
“Saya belum tahu. Untuk itu, saya meminta tolong pada masyarakat untuk membantu saya mendesak lapas Maharaja agar saya dapat dipertemukan dengan klien saya.”
Wajah Jack berubah ketika melihat Indira tersenyum padanya. Ia sadar kalau Indira ternyata memanfaatkan pertanyaannya yang dimaksud untuk menjebak itu. Ya, Indira butuh seseorang untuk membahas tentang Abi terlebih dahulu agar ia bisa curhat tentang perlakuan sipir lapas Maharaja padanya. Tapi, akhirnya ia bisa tersenyum puas. Setidaknya, ia tahu kalau putrinya masih melakukan perlawanan. Bisa jadi, informasi yang ia berikan dulu masih akan dipakainya. Indira bukannya sama sekali tidak menghargai ayahnya.
__ADS_1
Firasatnya kuat mengatakan kalau putri kandungnya sedang mempersiapkan sebuah aksi besar yang akan membanggakannya lagi.
*
Indira duduk di kursi taman sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya. Ia tidak memedulikan sekitar karena mendengarkan musik melalui earphone merah muda miliknya. Ia sedang menyusun eksepsi yang akan digunakannya di persidangan pertama Rama dua hari lagi.
Tiba-tiba seorang pria tua duduk di kursi yang ada di hadapannya. Ia mengetuk meja sehingga Indira sadar kalau ada orang yang hendak meminta perhatiannya.
“Pak Burhan?!” kata Indira sedikit berteriak. Entah karena terkejut atau karena suara kencang dari earphone masih menggema di telinganya.
“Sibuk?” tanya pria tua itu.
“Begitulah,” jawab Indira. “Aku hanya sedang menyusun eksepsi untuk kasus Rama, adik Abimanyu Alexander.”
“Oh, kasus pembunuhan itu. Sepertinya kau ingin agar kasus itu bisa segera selesai karena sebenarnya kau bisa menyusun eksepsi setelah sidang pertama.”
“Untuk apa menundanya lebih lama? Lagipula, ini adalah kasus yang mudah.”
“Kau punya bukti yang kuat?”
Indira tersenyum saat menerima pertanyaan itu lalu mengangguk. “Ya, bukti paling akurat. Sehari sebelum kejadian, Rama memberikan Shasha boneka yang di dalamnya tersimpan kamera pengintai. Ia bermaksud menangkap basah pacarnya itu kalau sedang tidur dengan pria lain. Sayangnya, kamera itu memiliki fungsi perekam built-in yang mana hasil rekamannya langsung ke media penyimpanan semacam SD Card yang juga tersimpan di dalam boneka itu. Aku harus mendapatkan boneka itu.”
Wajah pak Burhan berubah pucat. Ia sama sekali tidak menduga dengan apa yang dikatakan oleh Indira. Ia pikir pembunuhan wanita itu sudah sangat sempurna dan tidak meninggalkan jejak sedikitpun.
“Kau bisa menanyakannya langsung ke penyidik. Pasti mereka sudah menyadari hal itu.”
“Tidak juga. Buktinya, dari hasil penyidikan yang mereka berikan, tidak ada ditulis tentang boneka itu.”
Pak Burhan berpikir keras. Ia tahu tak bisa mengelabui Indira dengan trik murahan. Ia harus membuat Indira tidak berusaha terlalu keras untuk mendapatkan rekaman itu.
__ADS_1
“Aku akan bertanya pada jaksa yang menangani kasus itu. Kebetulan, aku mengenalnya karena ia salah satu mahasiswaku. Jika ada kabar tentang boneka itu, aku akan segera mengabarkannya padamu,” janji pak Burhan yang dibalas dengan senyuman oleh Indira.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Burhan merasa sedikit lega karena Indira masih memercayainya.
“Tentang Abimanyu Alexander. Apakah kau benar-benar belum pernah bertemu dengannya?” tanya pak Burhan, yang membuat Indira menatapnya lama.
“Aku tidak pernah bertemu dengannya. Seperti yang kukatakan di media kemarin, petugas lapas selalu melarangku.”
“Lalu, bagaimana dengan permohonan banding itu? Kau tak bisa melakukannya tanpa Abimanyu Alexander. Setidaknya, kau butuh tanda tangannya untuk surat kuasa.”
“Tidak, aku memang tidak berniat untuk mengajukan banding,” jawab Indira yang lagi-lagi membuat pak Burhan terkejut. “Memang, awalnya aku punya rencana untuk melakukan itu. Tapi, setelah pak Bima Sakti dituduh merencanakan pembunuhan Mischa, aku berpikir untuk membelanya. Dengan demikian, aku bisa membuktikan kalau Abimanyu Alexander benar-benar dijebak oleh Benjiro dan orang itu.”
“Orang itu? Maksudmu, sosok besar yang ada di balik reklamasi pulau itu?”
“Ya, orang yang pernah kuceritakan itu.”
“Jadi, maksudmu orang itu bukan Bima Sakti.”
Indira melongo lalu tertawa terbahak-bahak. “Bukan, orang itu tidak sebodoh pak Bima Sakti. Pak Bima Sakti hanya dijadikan kambing hitamnya saja. Sosok besar itu juga jauh lebih jahat dari pak Bima Sakti.”
Perasaan pak Burhan seakan campur aduk saat Indira menyebutnya jahat secara tidak langsung. “Jadi, siapa sosok besar itu?”
“Kita akan tahu itu nanti. Pokoknya, aku harus menjadi pengacara pak Bima Sakti terlebih dulu. Bukti-bukti yang kumiliki akan sia-sia jika tidak kugunakan atau jika kugunakan di sidang banding Abimanyu Alexander. Panggungnya harus lebih besar dan itu adalah persidangan pak Bima Sakti, calon gubernur yang juga anggota Sky Emperor.”
“Jadi, apa yang bisa kulakukan untukmu? Aku akan membantumu selagi tidak melanggar peraturan,” tawar pak Burhan dengan nada lembutnya. Indira hanya tersenyum menyambut kebaikan pria yang selama ini dianggap sebagai ayahnya itu. “Kau bisa menceritakan tentang bukti-bukti yang kau punya, jadi aku bisa memberikan masukan agar di pengadilan nanti bukti-bukti itu cukup kuat untuk dihadirkan.”
“Tidak perlu, Pak. Bapak hanya perlu melihatnya saja. Aku tidak ingin Bapak mendapat masalah nantinya.”
__ADS_1
Setelah itu, mereka hanya membahas hal-hal sepele, lalu beberapa saat kemudian pak Burhan pamit pergi. Indira menatap pria itu sampai sosoknya tidak terlihat lagi di pandangannya. Kemudian, ia melakukan panggilan dengan ponselnya ke sebuah nomor.
“Aku sudah menyampaikan semua padanya. Kita tinggal menunggu, apakah boneka itu akan segera diperiksa oleh para polisi di sana atau tidak. Jika ya, berarti tidak salah lagi. Pak Burhan adalah tuan Jireh,” kata Indira dengan wajah tegang. “Berikan ponselmu pada Abi. Ada yang ingin kukatakan secara langsung.”