Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 76


__ADS_3

Abi dan Regina masih saling menatap. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka dalam beberapa menit terakhir. Entah karena ingin mengintimidasi satu sama lain atau hanya karena kehabisan kata-kata. Yang pasti, Regina sedang mengantisipasi setiap alasan yang hendak diberikan oleh Abi, sementara Abi sibuk memilih alasan agar tidak dimentahkan oleh Regina dengan mudah.


“Tidak ada pembelaan lagi? Artinya, kau mengakuinya?” Akhirnya Regina memecah kebisuan di antara mereka.


Tatapan Abi masih kosong untuk beberapa detik seakan tidak mendengar ucapan Regina, kemudian ia menghela napas lalu memandang wajah sahabatnya itu sambil tersenyum dan berkata, “Tidak ada. Kau bisa mencari bukti lebih banyak lagi lalu melaporkanku.”


Seperti kata Regina, ia sangat mengenal Abi. Apa yang dikatakan Abi bukanlah bentuk kepasrahan, melainkan sebuah gertakan. Abi sangat tahi situasi saat ini. Penusukan yang ia alami bukan hanya berpengaruh padanya. Banyak pihak yang diseret oleh media, termasuk kepolisian. Meski kesalahan terbesar ditimpakan kepada kepala rutan, polisi juga dianggap kecolongan karena kejadian tersebut.


Dan jika Regina mengungkapkan kaburnya Abi, itu tidak akan memberikan dampak positif bagi kepolisian. Sebaliknya, masyarakat akan kembali mempertanyakan kinerja mereka.


Belum lagi dampak yang lebih spesifik. Rekan-rekannya yang bertugas menjaga Abi pasti akan menerima sanksi yang cukup berat karena perbuatan sahabatnya itu.


“Sangat mengherankan karena aku pernah mengagumi bajingan sepertimu,” sindir Regina sambil menggeleng kepala.


“Ayolah, kau sendiri yang bilang kalau kau sangat mengenalku. Sekarang, tanya hatimu. Apakah menurutmu aku akan melakukan kejahatan yang bisa membuatmu membenciku?”


“Kenapa tidak?”


Abi seolah ingin menyerah untuk meyakinkan Regina bahwa dia tak sejahat yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.


“Aku sangat menyesal dengan apa yang terjadi pada Roy. Tapi, aku tak bisa menerima prasangkamu bahwa aku yang menyebabkan kematian Roy sehingga kau begitu membenciku.”


“Jangan bawa nama Roy.”


“Tapi semua yang kulakukan juga berkaitan dengan Roy.”


Ketegangan di antara mereka semakin meruncing. Hati kecil Regina ingin sekali mendengar penjelasan dari Abi. Tapi, egonya melarang karena ia tidak ingin Abi memengaruhinya. Ia tahu, Abi punya keahlian khusus untuk meyakinkannya dengan kata-kata yang terdengar masuk akal. Ia tidak ingin goyah dari tekadnya untuk memenjarakan Abi.

__ADS_1


“Sejak awal, seharusnya aku mencurigaimu. Seperti saat ini, kau menunjukkan jika kau sangat mampu dan sangat berani untuk melakukan apapun, termasuk dengan membahayakan dirimu, untuk mencapai tujuanmu.”


“Maksudmu?”


“Melihat betapa matangnya persiapanmu untuk berganti peran dengaN Rama, tak salah lagi jika penusukan itu adalah hasil rekayasamu,” ujar Regina yang tak mampu disangkal oleh Abi.


“Jadi, kau tidak lagi memercayaiku karena kau berpikir-”


“Ya, aku tahu sejak dulu kau ingin membalaskan dendammu pada polisi bernama Reynold, Roy dan ayahnya atas perbuatan mereka lima belas tahun yang lalu. Dan sekarang, satu per satu dendammu terbalaskan. Maka, sangat wajar jika aku menduga sejak awal kau terlibat dalam kasus ini. Termasuk ketika kau mem-framing dirimu sebagai korban dan menyudutkan polisi di hadapan publik.”


Abi terlihat cukup terkejut dengan pernyataan Regina itu. Memang, ia merekayasa kejadian penusukan dirinya untuk bisa kabur sebentar untuk mengurus beberapa hal. Tapi, ia tak menyangka Regina menuduhnya telah merekayasa kasus yang membuatnya mendekam di penjara beberapa bulan terakhir.


“Aku menyerah,” kata Abi sambil mengangkat tangan dan menggelengkan kepalanya. “Kau berpikir terlalu jauh tentangku. Kecurigaanmu padaku sudah pada tahap yang sulit untuk ditolong lagi. Aku seperti sedang mencabut tanaman yang akarnya sudah sangat dalam.”


“Kau yang salah karena tidak bisa meyakinkanku.”


“Persetan dengan perumpamaan bahasa Latinmu. Aku hanya ingin kau membuatku berhenti untuk berpikir bahwa kau yang membunuh Roy. Karena aku sudah mencoba, sudah ribuan kali aku mencoba mencari kemungkinan bahwa kau tidak terlibat atas kematiannya dan sampai sekarang aku gagal melakukannya.”


Hati Abi terasa sakit ketika melihat Regina mengatakannya dengan mata berkaca-kaca. Ia bisa melihat kesungguhan hati wanita itu, yang selaras dengan ucapannya.


“Aku tidak merancangnya, tapi sudah lama menunggunya,” kata Abi yang membuat Regina bingung. “Sebagai seorang polisi, tentu kau sadar jika selama ini terjadi berbagai macam manipulasi kasus yang incarannya adalah orang-orang kecil seperti kami.”


“Maksudmu, kau menunggu menjadi korban manipulasi kasus untuk balas dendam? Sudah kuduga, kau memang gila,” kata Regina sambil menggeleng kepala. “Tapi, itu tak cukup untuk meyakinkanku.”


Seperti biasa, Regina menjadi batu karang yang teguh yang membuat Abi kelelahan untuk menembus hatinya.


“Baiklah, aku tak ingin berdebat lebih lama lagi. Aku hanya ingin kau menyelidiki motif Benjiro memalsukan kematian Mischa, maka kau akan tahu jika aku sama sekali tidak bersalah.”

__ADS_1


Regina menaikkan alisnya. “Motif?”


“Ya, dan jika kau menemukannya, kau tidak perlu datang padaku untuk meminta maaf atas semua tuduhan yang telah kau lemparkan padaku. Aku hanya ingin kau membantuku mengungkapkan kebenarannya dan menangkap dalang di balik semua ini. Sosok yang menyebabkan semuanya, termasuk kematian Roy.”


Regina terdiam melihat keseriusan di mata Abi. Kini hatinya mulai ragu.


                  *


“Lembur, Pak?” tanya seorang wanita yang kebetulan melewati pintu ruangan itu. Sang penghuni ruangan melirik sebentar lalu tersenyum ramah.


“Tidak, Sus. Aku hanya sedang membereskan berkas-berkasku, lalu setelahnya langsung pulang. Kamu kok baru pulang sekarang?”


“Biasa, yang jemput saya telat datang. Mungkin di jalan macet parah. Jadi, sambil menunggu, saya mengecek kembali beberapa hal untuk kegiatan kita besok.”


“Jangan bekerja terlalu keras. Kalau kamu sakit, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dan lain kali, kalau pacarmu tidak bisa jemput cepat, minta tolong pak Kadiran untuk mengantarmu pulang.”


“Terima kasih, Pak. Tapi, lebih baik menunggu lama asal sama pacar sendiri,” jawab wanita itu sambil tersenyum.


“Ah, saya mengerti. Tidak ada yang bisa mengalahkan indahnya berboncengan dengan pacar. Doakan saja, jika saya menang, hal pertama yang saya lakukan adalah mengatasi kemacetan agar Susi bisa dijemput tepat waktu oleh abang tersayang.”


Mereka berdua tertawa dan wanita bernama Susi tersebut pamit pergi.


Sementara pria itu, bacagub Bima Sakti, kembali sibuk merapikan berkas-berkasnya. Ia memilah-milah mana pekerjaan yang harus dikerjakan di rumah dan yang bisa dikerjakan di kantor lain waktu. Besok ia akan mengikuti sebuah acara yang akan menguras banyak tenaga dan waktunya, jadi ia harus menghemat tenaga dan waktunya untuk malam ini.


Saat ia baru saja mengangkat tasnya dan bergegas untuk pergi, ponselnya menyala. Bukan sebuah panggilan, hanya pesan masuk. Ia membuka pesan tersebut dan berpikir dari salah satu tim suksesnya yang memang berjanji akan mengirim jadwal kegiatan besok. Namun, isi pesan itu bukan seperti yang disangkanya.


“PARADISE PROJECT?” gumamnya. Ia kemudian bergegas menyalakan kembali laptopnya dan memeriksa beberapa data. Matanya terbelalak ketika menemukan sesuatu yang tidak pernah ia sangka. Kemudian, wajah terkejut itu berubah menjadi senyuman.

__ADS_1


__ADS_2