Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 96


__ADS_3

Bima Sakti berjalan mondar-mandir di depan meja kerjanya. Sudah hampir habis kuku jarinya karena ia gigit. Memang, demikianlah kebiasaannya ketika ia sedang mencemaskan sesuatu. Beberapa kali ia menyentuh gagang telepon dengan niat menghubungi seseorang, namun urung karena ragu. Dan akhirnya, ia membulatkan tekad untuk menelepon.


“Halo. Eh, tidak. Aku hanya ingin tahu, apakah kita bisa melakukannya sekarang?” tanya pria itu.


[Sudah kubilang, belum. Jika kita melakukannya terlalu cepat, itu akan menjadi sia-sia. Sabar saja dan percaya pada kami. Waktu yang tepat akan memberikan hasil yang terbaik.]


Ternyata yang dihubunginya adalah Indira.


“Tapi, waktu terus berjalan. Jika sampai pemilihan nanti ia tidak melakukannya, strategi kita juga akan sia-sia.”


[Percaya pada kami, ia pasti akan melakukannya.]


Kemudian, Indira menutup teleponnya. Perasaan Bima Sakti sedikit lega karena jaminan yang diberikan oleh Indira, meski kecemasannya tidak seratus persen hilang.


Untuk menghilangkannya, ia memilih duduk di kursi tamunya dan menyalakan televisi. Siaran berita adalah acara kesukaannya. Isi berita yang disampaikan tidak selalu menghiburnya, bahkan tak jarang menambah stresnya. Tapi, setidaknya ia bisa melupakan kecemasannya.


Sayangnya, kecemasan yang bersarang di kepalanya semakin membesar ketika melihat running text tentang hasil survey calon gubernur terbaru. Selisih persentase elektabilitas antara dirinya dengan petahana semakin besar. Sesuai dengan prediksinya, mengingat beberapa waktu belakangan ia tidak pernah disorot lagi. Menentang reklamasi pulau adalah aksi andalannya selama ini dan Indira malah melarangnya untuk membahas hal itu untuk sementara waktu demi berjalannya strategi mereka.


Bima Sakti berdiri lagi dan melihat teleponnya. Ia sempat berpikir untuk menelepon ketua tim suksesnya untuk membicarakan strategi yang baru. Memang, tim suksesnya belum tahu kalau ia sedang menjalankan strategi yang ditawarkan oleh Indira beberapa waktu yang lalu. Tapi, Indira berkata strateginya akan hancur jika ada orang luar yang tahu, termasuk tim suksesnya sendiri.


Tiba-tiba telepon berdering. Ia segera mengangkatnya dan terdengar suara Indira.

__ADS_1


[Anda sudah melihat berita?]


“Maksudmu, tentang elektabilitasku yang semakin menurun? Apakah ini rencana yang kau bilang itu?”


[Apa yang Anda tonton? Berita atau hanya running text?]


Bima Sakti kembali ke hadapan televisi dan melihat sebuah berita tentang petahana yang sedang melakukan pertemuan dengan beberapa pengembang di salah satu pulau reklamasi.


“Lha, bukankah itu -”


[Ya, ini waktunya. Segera persiapkan konferensi pers dan beraksilah.]


Untuk pertama kalinya di sepanjang hari ini, Bima Sakti mampu tersenyum lebar. Ia segera keluar dari kantor dengan langkah sedikit berlari sambil berteriak, “Susi! Persiapkan konferensi pers! Kita akan beraksi sekarang!”


Regina masih sibuk dengan komputernya. Sudah beberapa hari sejak ia bertemu dan berbicara dengan Abi. Ia sudah menguji beberapa fakta yang diungkap oleh Abi. Yang pertama adalah penyebab kematian Mischa, yaitu serangan jantung yang diakibatkan dari penyakit jantung koronernya. Ia pun mengkonfirmasinya pada dokter pribadi Mischa dulu dan sang dokter membenarkan tentang penyakit itu serta mengatakan Mischa pernah beberapa kali mengalami serangan jantung semasa hidupnya.


Yang kedua adalah perihal Bima Sakti. Seperti yang dikatakan oleh Abi, sejauh ini Regina belum menemukan keterlibatan pria yang sedang bersemangat untuk mencalonkan diri dalam pertarungan merebut kursi gubernur itu terhadap kematian Mischa selain keikutsertaannya dalam rapat di hari kematian Mischa.


Kini ia sedang sibuk menyelidiki sang petahana, Theodore Fransiskus. Seperti kata Abi, justru pria itu yang dianggap terlibat dalam kasus kematian Mischa dan rekayasa kematiannya yang dilakukan oleh Benjiro. Tapi, sampai saat ini ia juga bersih. Sebersih Bima Sakti.


Tiba-tiba matanya tertuju pada siaran yang ada di televisi. Ada Theodore Fransiskus terpampang di layar. Karena jarak antara dirinya dengan televisi cukup jauh sehingga ia tidak bisa mendengar suaranya, Regina berjalan mendekatinya.

__ADS_1


Berita itu menayangkan tentang pengajuan dua Raperda dari sang petahana untuk DPRD terkait penghentian hampir seluruh kegiatan reklamasi yang selama ini menjadi kontroversi. Ini merupakan gebrakan yang sangat luar biasa dari seorang Theodore Fransiskus mengingat selama ini ia berjuang sangat keras agar reklamasi pulau-pulau itu dapat selesai pada masa jabatannya. Ia bahkan sampai ‘bermusuhan’ dengan berbagai pihak.


Banyak yang menganggap tindakan yang diambil oleh sang petahana ini adalah wujud usahanya untuk mempertahankan kursinya di kontestasi pilkada nanti. Meski elektabilitasnya tetap stabil di peringkat satu, bahkan jarak antara namanya dengan lawan terdekatnya semakin membesar, ia harus tetap waspada. Ada rumor beredar yang mengatakan kalau beberapa organisasi akan melakukan aksi besar-besaran untuk menolak reklamasi dan akan berdampak buruk. Akan tetapi, banyak pihak yang memuji aksi yang dilakukan oleh sang petahana ini.


Salah satu Raperda juga memuat satu pulau tetap akan direklamasi sebagai bentuk ‘pembayaran utang’ bagi para pengusaha yang telah mendapatkan izin membangun dari undang-undang sebelumnya. Ini merupakan win win solution yang bisa memberikan keuntungan untuk semua pihak.


“Para pengusaha juga merupakan warga negara ini yang memiliki hak untuk mendapatkan keadilan,” demikian kata Theodore Fransiskus saat diwawancarai.


Regina adalah salah satu orang yang memuji pria itu karena telah berani dan cerdas mengajukan 2 Raperda tersebut. Padahal baginya, Theodore Fransiskus hanya menjalankan aturan yang berlaku, di mana ia ingin menegakkan undang-undang yang sudah terlanjur dibuat oleh pendahulunya.


Tidak lama kemudian, saat Regina bersiap untuk kembali ke dalam kesibukannya, sebuah berita mengejutkan lainnya disiarkan. Regina membatalkan niatnya untuk kembali ke mejanya. Ia tak mungkin melewatkan konferensi pers yang dilakukan oleh Bima Sakti tak lama setelah saingan beratnya melakukan sesuatu yang besar.


“Saya berdiri di sini bukan sebagai bakal calon gubernur, melainkan sebagai warga provinsi ini, yang mencintai daerah ini dengan sepenuh hati. Ini adalah tanah kelahiran saya, asal usul saya. Saya takkan membiarkan provinsi ini hancur karena tindakan licik segelintir orang yang berusaha menipu saudara-saudara saya.”


Ternyata tidak hanya Regina, seisi ruangan itu memasang telinga mereka untuk mendengarkan kelanjutan dari cerita Bima Sakti.


“Secara keseluruhan, saya menolak rencana reklamasi untuk semua pulau. Tapi, saya lebih keras menolak reklamasi pulau Sarden. Kenapa? Karena di sanalah kejahatan yang paling dahsyat itu terjadi. Teman-teman dari media dan dari kalangan manapun bisa ikut menelaah apa yang terjadi di sana. Lihat saja dari rencana tata ruangnya yang sama sekali tidak memberikan keuntungan bagi rakyat kecil di sekitar pulau, penetapan peraturan zonasi pesisir yang mengurangi batas gerak para nelayan untuk mencari ikan, pengurangan angka kontribusi tambahan yang ditetapkan pemerintah untuk para pengembang, yang awalnya dua puluh persen menjadi hanya tiga persen. Masyarakat jangan mau dibodoh-bodohi. Pulau-pulau lain belum ada nilainya, jadi tidak masalah jika reklamasinya dihentikan. Yang sarat dengan pelanggaran adalah pulau Sarden. Pelanjutan reklamasi pulau itu hanya akan menjadikannya sebuah sarang korupsi. Ini akan berpotensi menjadi sebuah kasus dengan kategori grand corruption.”


Regina terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Bima Sakti. Sangat masuk akal. Dan ternyata, tidak sampai di sana. Ada informasi terakhir, yang tak kalah mengejutkannya, yang disampaikan oleh pria itu.


“Dan saya menemukan sebuah fakta yang sangat mengejutkan. Ini bukan serangan politik, bukan cara licik saya untuk menjatuhkan lawan saya. Saya mendapatkan sebuah informasi bahwa di pulau itu akan dibangun sebuah kasino megah dan tentu saja ilegal. Bahkan saya menerima dokumen-dokumennya, termasuk blueprint kasino tersebut. Yang paling mengejutkannya adalah di dalam dokumen ini terdapat tanda tangan gubernur kita, Theodore Fransiskus.”

__ADS_1


Semua orang di kantor itu terkejut mendengarnya. Regina yakin, bukan hanya di kantor itu, tapi semua orang yang menontonnya, pasti mengeluarkan ekspresi yang sama. Ini adalah berita yang sangat besar.


__ADS_2