
Wajah Abi terus berseri-seri. Ia melihat sang mama sedang sibuk membuka rantang berisi nasi lengkap dengan daun ubi tumbuk, ikan teri, tempe dan sambal kesukaannya. Sudah lama ia tidak melihat wajah itu, bahkan saat sang mama tersandung masalah hukum dan dipukul oleh bajingan yang bernama Reynold dulu.
“Kenapa kau melihat mama seperti itu? Seperti sudah bertahun-tahun tidak melihat mama saja,” kata tante Jenny.
“Tidak apa-apa. Hanya saja aku merasa Mama lebih cantik dari terakhir aku lihat,” ujar Abi sambil cengengesan.
“Kau memang tidak berubah. Suka sekali mengejek mama.”
Abi menyambut rantang yang diberikan oleh sang ibu, yang di dalamnya berisi nasi dan berbagai lauk pauk yang sudah lama Abi idam-idamkan. Ia segera menyantapnya dengan lahap.
“Kenapa tidak menyuruh Rama mengantarnya?” tanya Abi.
“Kau keberatan jika mama datang?”
“Tentu saja tidak. Bahkan aku sangat senang. Hanya saja, tumben si cecunguk itu membiarkan Mama pergi jauh sendirian. Biasanya dia selalu mengekor.”
Tante Jenny tertawa mendengar anak sulungnya mengejek anak bungsunya. “Dia tidak bisa datang. Katanya, ia lupa memarkirkan mobil pacarnya dan menonaktifkan ponselnya agar tidak ditelepon pacarnya. Lalu -”
“Biar kutebak. Pasti ia juga lupa di mana meletakkan ponselnya,” tebak Abi yang dijawab anggukan dan senyum ibunya. “Si bodoh itu, tak berubah sama sekali.”
Mereka berdua tertawa. Abi tak menyangka bisa merasakan suasana seperti itu sekarang. Ya, ia sebenarnya hanya menaruh sedikit harapan atas kasus pembakaran rumah Totok yang menyeret nama mamanya dulu. Untung saja, karena kecerdasan Indira, mereka berhasil mengungkap rekayasa yang dilakukan oleh Totok. Pria itu langsung menyerahkan diri ke kantor polisi dan mengakui semua kesalahannya. Ia juga mengatakan jika semuanya itu adalah arahan dari mendiang Reynold dengan tujuan untuk membuat Abi marah. Karena hal itu, tante Jenny bisa kembali menghirup udara kebebasan.
“Daripada membicarakan adikmu, lebih baik kita membicarakan sahabat perempuanmu. Siapa namanya? Regina?” Abi terkejut ketika mamanya menyebut nama itu. “Kata Rama, kalian berantem hebat, ya?”
Memang, keduanya sudah lama saling kenal. Bahkan Regina sering membawakan tante Jenny beberapa barang mahal yang hampir semuanya adalah hadiah yang diberikan Roy padanya. Meski awalnya membenci Regina karena tahu ia adalah penyebab Abi berkelahi dengan Roy dan berujung dengan penyiksaannya di penjara lima belas tahun yang lalu, akhirnya tante Jenny menyukainya. Ia luluh karena keramahan dan kelucuan Regina.
“Begitulah. Tunangannya meninggal dan dia seperti melampiaskannya padaku. Tapi, Mama tenang saja. Saat dia sudah tenang dan bisa berpikiran jernih lagi, kami pasti akan berbaikan,” jawab Abi seraya mengelus lengan ibunya.
“Hati-hati dengan wanita. Semakin kau menganggap remeh pertengkaran kalian dan alasan kalian bertengkar, semakin sulit hatinya untuk memaafkanmu. Kau harus benar-benar terlihat merasa bersalah di hadapannya. Tak peduli siapa yang salah, kau harus terlihat sadar kalau kau salah. Pura-pura saja juga tidak apa.”
__ADS_1
Abi tidak lagi membantah dan memilih untuk fokus pada makanannya. Meski demikian, ia sangat menyadari jika apa yang dikatakan oleh mamanya seratus persen benar.
“Baiklah, aku akan meminta maaf padanya. Dengan tulus.”
Kata-kata Abi itu membuat tante Jenny tersenyum. Ia kembali mengelus tangan kiri Abi yang sedang memegang rantang.
“Tapi, bukannya Mama tidak suka dan bukannya Regina tidak cantik. Hanya saja mama lebih suka kau bersama pengacara mungil itu. Ia sangat cantik, baik dan terlihat pintar. Selain karena merasa berhutang padanya, mama melihat ketulusan yang luar biasa dalam dirinya. Ia pasti akan menjadi seorang istri yang hebat.”
Wajah Abi yang sejak tadi berseri-seri mendadak berubah bingung. Ia tidak mengerti kenapa ibunya menilai Indira dalam kapasitas sebagai seorang istri, bukan sebagai seorang pengacara, padahal wanita itu belum menikah sama sekali.
“Ia memang tulus, tapi terkadang sulit untuk memahami sebuah situasi,” celetuk Abi yang langsung dihadiahi jeweran kuping.
“Maksudmu, memahami situasi di persidangan kemarin? Kau pikir jika orang lain yang menjadi Indira, orang itu takkan marah?” Tante Jenny menjewer kuping Abi dengan sekuat tenaga hingga anak sulungnya itu menjerit kesakitan.
“Tapi aku sudah mengatakan aku punya alasan yang kuat untuk melakukan itu. Dia seharusnya -”
“Bukan masalah ada atau tidaknya alasan. Tapi, kau sudah tidak memercayainya dan itu melukai perasaannya. Itu sama sakitnya dengan diselingkuhi.”
“Baiklah, aku akan meminta maaf padanya juga,” kata Abi lirih.
“Anak-anakku memang punya bakat membuat para wanita marah,” celetuk tante Jenny sambil geleng-geleng kepala.
*
“Kemarin mama lama di sini, Bang?” tanya Rama. Hari ini giliran dirinya yang datang menjenguk.
“Lumayan. Dari awal jam besuk sampai akhir,” jawab Abi. “Mobil pacarmu dan ponselmu sudah ketemu? Di mana?”
“Mobil Shasha belum ketemu. Tapi ponselku sudah. Ternyata di atas meja ruang tamu. Untung Kakak Indira menemukannya.”
__ADS_1
Abi menaikkan alisnya karena merasa ada yang aneh. “Indira? Kenapa dia yang menemukannya?”
“Oh iya, Rama lupa bilang. Kemarin kakak Indira datang ke rumah. Katanya ada yang mau ditanyakan terkait Abang.”
“Apa yang ditanyakannya?” tanya Abi dengan penuh penasaran.
“Lupa,” jawab Rama santai. “Soalnya, waktu itu kakak langsung menemukan ponsel Rama dan Rama baru membaca pesan dari Abang. Setelah itu, kami mengambil dokumen yang Abang maksud dan kakak sibuk memikirkan keanehan dokumen itu.”
Abi menegakkan duduknya dengan mata terbelalak. Ada rasa cemas bercampur marah di dalam dirinya. Beberapa detik kemudian, Rama menyadari hal itu dan jadi takut karenanya.
“Katakan dengan jujur, apakah kau mengajaknya masuk ke kamarku?”
Suara Abi saat menanyakan hal itu terlihat sangat berat dan terasa mengandung amarah yang luar biasa. Rama sampai ketakutan melihat ekspresi wajah abangnya yang seperti ingin memakannya. Ia sadar telah melakukan sebuah kesalahan besar. Ingin mulutnya berkata bohong, tapi sejak lahir ia tidak pernah bisa berbohong di depan abangnya.
“I, iya. Karena Rama pikir Abang -” PLAKKK!
Ucapan Rama terpotong karena tamparan yang dilakukan Abi ke mulutnya. Rama memejamkan mata berusaha menahan sakit dan mencoba melanjutkan perkataannya.
“Abang menyuruh Rama untuk -” PLAKKK! “Untuk memberikannya pada kak Indira, jadi Rama -” PLAKKK! “Rama mengajak kak Indira untuk -” PLAKKK! “Untuk sekalian saja masuk ke kamar -” PLAKKK! PLAKKK! PLAKKK!
“Apakah kau membahas tentang poster-poster itu juga?” tanya Abi dengan suara yang semakin berat dan lirih.
“I, iya. Kakak sangat senang ketika tahu Abang penggemar -” PLAKKK! PLAKKK! PLAKKK! PLAKKK! PLAKKK! PLAKKK! PLAKKK! PLAKKK! PLAKKK!
Para pengunjung dan tahanan lain yang berada di ruangan itu sampai melihat mereka karena bunyi tamparan yang berulang-ulang itu. Rama mengelus bibirnya sambil meringis. Ia sama sekali tidak melawan karena sadar akan kesalahannya.
“Ingat, aku akan membunuhmu saat sudah bebas nanti.”
“Karena Rama menyebut GFriend dan Eunha di depan kakak Indira?”
__ADS_1
PLAAAKKKKK!!!