
Beberapa hari sebelumnya
Abi, Indira, Regina dan Rinjani berkumpul di sebuah ruangan. Mereka sedang berdiskusi memikirkan sebuah rencana.
“Jadi, kau yakin terowongannya sampai ke sana?” tanya Rinjani pada Abi.
“Tentu saja. Aku sengaja ditangkap untuk kembali ke lapas itu tujuannya adalah untuk menyusuri terowongan itu lebih jauh.”
Pada pelarian pertama, Abi menyadari terowongan itu memiliki ujung yang tak terduga. Karena saat itu ia bersama petugas, ia harus mengikuti langkah petugas ini dan keluar di sebuah rumah dekat lapas. Dua bulan setelah masuk kembali ke lapas itu, ia menemukan kesempatan untuk masuk ke terowongan itu. Dengan bantuan Andika, ayah kandungnya, yang berpura-pura terkena serangan jantung di lapangan dekat area penjara level dua, yang membuat petugas jaga di sana lengah, Abi menyusup ke toilet yang menjadi jalan keluar menuju terowongan itu.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini terowongan itu terlihat lebih rapi. Lampu-lampu terpasang sehingga menerangi terowongan sejak pintu masuk. Ternyata omongan petugas yang memandunya dulu benar. Jika calon gubernur dukungan mereka, yang tentunya Arya Topaz Gumilang, terpilih, maka tuan Jireh akan memugar terowongan itu sehingga menjadi lebih baik.
Yang paling membuatnya bahagia adalah saat ia melihat sebuah mobil yang terparkir di dalam terowongan itu. Sepertinya itu adalah fasilitas baru yang disediakan oleh tuan Jireh untuk pengguna terowongan. Ia pun segera memacu kendaraan itu sejauh yang bisa ia tempuh.
Ternyata, setelah menempuh jarak sekian ratus kilometer, akhirnya ia menemukan ujung dari terowongan tersebut. Sesuai dugaannya, ia sampai di pulau rahasia yang pernah dilihatnya di salah satu dokumen milik PT. Laras Jaya Karya.
“Meski masih kosong, aku yakin kalau pulau itu berada di tengah-tengah proyek reklamasi dan tidak terdaftar sebagai pulau apapun. Di sanalah mega proyek rancangan tuan Jireh dengan sokongan dana dari si Nyonya dan para anggota Sky Emperor akan dibangun.”
“Ya sudah, kita laporkan saja kepada yang berwajib,” usul Regina.
Abi, Indira dan Rinjani menatapnya dengan sinis.
“Kau serius? Apakah sampai sekarang kau masih yakin institusimu itu bersih? Setelah mereka mengkhianatimu?” sindir Rinjani.
“Hei, itu adalah oknum,” bantah Regina dengan wajah kesal.
__ADS_1
“Oknum kok banyak?”
Regina sudah mengepalkan tangannya dan bersiap untuk meninju wajah Rinjani. Untungnya, Abi mencoba untuk menenangkan hatinya.
“Biar bagaimanapun, polisi memang harus menemukan pulau itu. Kita tetap butuh bantuan polisi yang bisa dipercaya, yang memiliki jabatan cukup tinggi. Ia akan memastikan kalau kepolisian memang benar-benar menemukan pulau tersebut dan tidak menutupinya pada publik.”
“Aku tahu siapa orangnya,” kata Regina yang langsung terpikir sosok Iptu Nyoman. “Aku akan mencoba untuk berbicara padanya.”
“Bagus,” kata Abi. “Tapi, berbicara saja tidak cukup. Kita harus membuatnya berpikir kalau apa yang kita lakukan semata untuk menegakkan keadilan. Ia harus sadar kalau kita berada di pihak yang benar. Aku punya rencana untuk itu.”
“Lalu, bagaimana caranya agar para polisi bisa menemukan terowongan itu?” tanya Indira.
Mereka sama-sama berpikir keras. Lalu, Rinjani bertanya, “Di antara para polisi, kira-kira satuan mana yang paling bersih dari korupsi?”
“Semua satuan bersih,” ujar Regina, yang akhirnya sadar mendapatkan tatapan tak yakin dari rekan-rekannya. “Oke, perlu kutegaskan lagi, hal seperti itu relatif dan tergantung pribadi polisinya, tidak bergantung pada di mana satuannya. Tapi, setahuku, tuan Jireh tidak menaruh pengaruhnya di beberapa satuan seperti Densus dan Gegana. Ia lebih banyak menyusupkan anak buahnya di satuan reserse kriminal dan narkoba.”
Abi, Regina dan Rinjani menatapnya tajam, membuat Indira jadi salah tingkah. Ia berpikir telah melakukan kesalahan besar. Tiba-tiba mereka tersenyum lebar.
“Ide yang brilian,” puji Regina.
“Kupikir kau tidak akan pernah punya ide sebrutal itu. Keren, keren,” tambah Rinjani sambil menepuk pundak Indira.
Abi sendiri tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya pada Indira. “Aku setuju dengan ide itu.”
“Masalahnya, bagaimana kita bisa meledakkannya? Peledaknya didapat dari mana?” tanya Regina yang membuat mereka berpikir kembali.
__ADS_1
Tiba-tiba ia teringat pada Amran, rekan satu selnya di rutan Sukadamai dulu. Ia ditangkap karena kepemilikan bahan peledak dan dugaan keterlibatannya dengan aktivitas *******. Meski, ia sendiri mengaku membuat bom karena hobi. Ya, hobi yang aneh.
Abi segera mengambil ponsel dan mencoba menghubungi pria itu. Untung saja, ia menyimpan nomor kontak Amran saat mereka berpisah. Indira, Regina dan Rinjani bingung melihat Abi yang sibuk sendiri dengan ponselnya. Beberapa saat kemudian, Abi menyimpan ponselnya ke saku dengan wajah sumringah.
“Urusan bahan peledak sudah selesai. Temanku Amran, dibantu oleh Tejo dan Edu, akan meledakkan bagian tengah terowongan. Kami akan pastikan lokasi ledakan berada jauh dari pemukiman warga, tapi tidak terlalu jauh sehingga warga bisa melaporkannya ke kepolisian.”
Diskusi mereka terhenti sejenak ketika mendengar suara pengantar makanan di depan pintu. Indira turun dan mengambil makan siang yang telah mereka pesan. Diskusi masih berlanjut sambil mereka menyantap makanan masing-masing, meski dengan suasana yang lebih santai.
“Jadi, kau benar-benar yakin akan melibatkan Jack untuk rencana kita?” tanya Abi pada Indira.
“Mau bagaimana lagi? Katamu, peran dia sangat besar bagi rencana kita. Kamu juga bilang, hanya dia yang bisa melakukannya,” jawab Indira dengan nada cuek. Abi tahu, Indira ingin menolak keterlibatan ayah kandungnya itu, tapi ia merasa tidak berdaya.
“Jack adalah wartawan yang baik.” Indira terkejut ketika mendengar Abi mendadak memuji pria itu di depannya. “Aku sudah menyelidiki masa lalunya. Dulu ia adalah wartawan yang luar biasa. Ia selalu menyampaikan fakta-fakta yang sebenarnya pada masyarakat. Bahkan, ketika kau masih dalam kandungan, ia harus menghilang karena dikejar oleh aparat akibat beritanya yang terlalu menyudutkan Hemas. Menurut cerita yang kudengar, ia pernah mencoba pulang ke rumah, namun gagal karena ada beberapa tentara yang melihatnya. Ia bahkan harus mengalami luka tembak yang cukup parah saat pengejaran itu.”
Indira terkejut. Selama ini ia selalu mendengar cerita kalau ayahnya pergi karena tahu ibunya mengandung anak perempuan lagi sehingga mereka bertengkar hebat. Ia sama sekali tidak pernah mendengar cerita tentang pengejaran itu.
“Apakah yang kamu katakan itu benar? Karena, jika benar, itu akan mengubah banyak hal dalam hidupku,” kata Indira.
“Tentu saja. Jika kau meminta pada papamu, ia pasti bisa menunjukkan surat pembayaran rumah sakit saat kau dirawat karena masalah hati saat masih bayi dulu,” ujar Abi. “Ia yang mengurusmu selama di rumah sakit. Bahkan, ia yang mencari donor hati untukmu.”
Tubuh Indira mendadak lemas. Ia sama sekali tidak pernah mendengar hal itu. Yang ia tahu, waktu masih bayi, ia pernah sakit parah. Ibunya baru saja meninggal dan Mbah Rini, neneknya, sangat tua dan tidak memiliki banyak harta. Untung saja ada seorang tetangga yang dermawan mau mengurus Indira sampai sembuh. Mbak Ratih sendiri tidak tahu siapa tetangga itu. Yang ia ingat, ia dan Mbah Rini harus menunggu kabar Indira selama beberapa hari di rumah tanpa boleh menjenguknya ke rumah sakit.
“Kenapa Mbah Rini menutupinya?”
“Entah, aku juga tidak tahu. Mungkin saat itu ia masih dalam masa persembunyian,” tebak Abi. “Karena, menurut informasi yang kudapat, Jack baru berani menunjukkan dirinya ketika rezim Hemas tumbang dan kalian sudah cukup besar. Jack tidak kembali pada kalian dan menikah lagi karena mendengar kabar kalau kalian telah pergi ke luar kota. Aku yakin, pasti itu perbuatan ibunya, nenek kalian.”
__ADS_1
Indira hanya diam saja. Ia mencoba menyatukan puzzle-puzzle kenangan masa lalunya. Semua yang dikatakan Abi memang terdengar masuk akal. Tanpa ia sadari, air matanya mengalir.