
Indira diam mematung. Ia melihat rumah tempat jasad Mischa Radjasa ditemukan. Harusnya sekarang ia ada di rutan, mendiskusikan tentang persiapan mereka untuk persidangan berikutnya serta ‘sesuatu’ yang dijanjikan oleh Abi. Tapi tadi siang, saat ia bersiap bersiap untuk pergi ke rutan, Rama menjemputnya dari kantor dan mengajaknya menyelidiki sesuatu seperti perintah abangnya.
“Kenapa dia menyuruh kita ke sini? Apa yang bisa kita selidiki? Garis polisi masih melintang di sekeliling rumah ini.”
Rama merasa tidak enak dengan Indira. Sejak ia menjemputnya, wanita itu selalu marah-marah. Setiap tarikan napasnya berisi dengan amarah. Meski yang dimaksud adalah Abi, ia merasa Indira sedang memarahinya. Ia memakluminya. Bukan kali ini saja abangnya yang aneh itu membuat orang marah.
“Abang ingin kita memastikan sesuatu. Katanya akan menjadi bukti penting,” kata Rama. “Kita akan masuk ke rumah itu silently.”
“Maksudmu, diam-diam?”
“Iya,” jawab Rama sambil membuka ponselnya, memastikan kalau ia sudah tepat menggunakan kata silently.
“Apa yang mau dipastikannya?”
Rama tidak menjawab. Ia sibuk mencari celah yang bisa dipakai untuk masuk ke rumah itu sambil melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada yang melihat mereka di sana. Untung saja rumah tersebut berada jauh dari rumah tetangga terdekatnya.
“Ah, I’ve got it,” teriak Rama sambil menunjuk sebuah pintu kecil yang ketahuan tak terkunci saat ia mencoba untuk membukanya.
Indira sempat merasa ragu untuk masuk melalui pintu itu. Ia takut kalau ada orang yang akan melihat mereka. Tapi, setelah Rama memberikan pilihan lain yang lebih aman dari pantauan orang lain, yaitu menyusup di malam hari, ia memilih untuk masuk sekarang. Rumah itu akan lebih horor jika dikunjungi malam hari.
Mereka pun masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Baru saja melewati pintu kecil itu, mereka langsung disuguhkan oleh pemandangan yang cukup mengerikan, yaitu puing-puing rumah bekas kebakaran. Hampir semua bagian rumah tak lagi terlihat utuh.
“Jadi, apa yang mau dipastikan?” Indira mengulangi pertanyaannya. Rama kembali tidak menjawab dan menyibukkan dirinya dengan sekitarnya. Ia berjalan ke sana kemari seakan sedang mencari sesuatu. Karena sadar kalau Rama sengaja tidak ingin menjawabnya, Indira menampar bagian belakang kepala pria itu dengan cukup keras.
“Baiklah, Rama akan menjawab,” kata Rama sambil mengelus bagian kepalanya yang terkena tamparan. “Abang menyuruh kita memastikan ini.”
Rama menunjuk sebuah dinding di bagian depan rumah yang masih berdiri kokoh meski sudah diliputi oleh jelaga. Ia juga menunjuk ke arah puing-puing mobil berada. Sepertinya dahulu di sana ada garasi.
“Benar juga!” teriaknya dengan wajah tersenyum. “Kenapa kamu sulit sekali untuk memberitahukan hal sepenting itu padaku? Apakah Abi melarangnya?”
“No, of course not. Sejak mendapatkan perintah dari bang Abi, Rama tak tahu untuk apa kita memeriksa ini. Setelah mendengar gerutuan dari Kakak, Rama berpikir kalau ini hanyalah alasan bang Abi agar Kakak tidak datang ke rutan hari ini.”
__ADS_1
Indira berpikir sejenak. “Sepertinya ia memang tidak ingin bertemu denganku sekarang. Jika tidak, ia bisa saja menyuruhmu datang memeriksa sendiri.”
“Memangnya ada apa?” tanya Rama penasaran.
“Kau pernah dengar penyebab kebakaran rumah ini?” Indira balik bertanya yang dibalas dengan gelengan kepala Rama. “Katanya karena korsleting listrik.”
Rama masih belum mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Indira. Ia menggaruk-garukkan kepalanya. “Jadi, apa yang aneh? Bukankah korsleting listrik sering menjadi penyebab kebakaran?”
Indira tersenyum lalu menunjuk dinding tadi dengan tangan kanan dan puing mobil dengan tangan kiri. “Yang aneh adalah keduanya ini.”
* * *
Seorang pria berpakaian rapi baru saja turun dari mobilnya. Ia melihat ke arah sebuah gerbang besar dengan wajah khawatir. Matanya mencoba mengintip ke dalam pagar, tapi tak terlihat apapun. Kemudian ia mendekati intercom yang berada di samping pintu gerbang.
“Selamat siang. Saya jaksa Jerold. Saya datang karena dipanggil oleh tuan.”
Tiba-tiba pintu gerbang terbuka. Ia segera kembali ke mobil dan mengemudikannya masuk ke pekarangan rumah tersebut. Seorang satpam yang bertugas membukakan gerbang menundukkan kepalanya sebagai bentuk sambutan.
Jaksa itu harus melewati pekarangan yang sangat luas dan asri sebelum mencapai sebuah rumah yang sangat besar dan megah. Rumah dengan desain khas Eropa itu adalah tempat kediaman seorang pria yang paling ia hormati dan takuti.
Seorang pria kurus berkacamata menyambutnya di pintu depan rumah. Dari setelan pakaiannya dan caranya bersikap, terlihat kalau ia adalah asisten di rumah tersebut. Ia mengantar si jaksa ke sebuah ruangan yang ada di tengah rumah itu.
“Tuan Jireh sudah menunggu di dalam,” kata pelayan itu mempersilakan masuk.
Jaksa Jerold membuka pintu secara perlahan. Ia melihat seorang pria tua sedang membersihkan pistol yang terlihat sangat antik. Ketika mendengar pintu terbuka, pria itu memutar duduknya secara perlahan lalu melemparkan senyum.
“Wah, jaksa hebat sudah datang,” kata pria tua itu.
Jaksa Jerold menyambut senyuman itu dengan senyuman juga. Ia sangat senang ketika mendapatkan pujian dari pria itu. Bahkan ia tidak pernah sesenang itu saat dipuji oleh orang tuanya sendiri.
“Tuan jangan berlebihan. Saya hanya jaksa biasa.”
__ADS_1
“Tapi performamu di sidang yang lalu sungguh mengagumkan. Kau membuat pemuda sombong itu kewalahan.”
“Ah, itu hal yang mudah, Tuan. Sudah kukatakan, Abimanyu hanyalah orang sombong yang merasa sudah mengerti hukum hanya karena mampu menghafal banyak pasal. Dia -”
Ucapan jaksa Jerold terhenti ketika sebuah suara tembakan yang sangat kuat terdengar. Kemudian ia mengetahui darimana asal suara itu ketika melihat pria tua yang dipanggilnya ‘Tuan’ itu sedang mengacungkan pistol tua tadi ke arahnya. Ia sadar kalau ia hampir saja kehilangan nyawa karena diterjang oleh peluru.
“Jika mudah, kenapa ia bisa mempermalukanmu? Saksi palsu sialan itu.”
Jaksa Jerold tertunduk. Ia tahu yang dimaksud adalah saksi pertama pada sidang yang lalu, di mana penasihat hukum Abimanyu berhasil membongkar kebohongan dari kesaksiannya.
“Ma, maaf, Tuan,” kata jaksa Jerold sambil menundukkan kepalanya tanda menyesal.
“Kupikir kau benar-benar mengenal Abimanyu Alexander. Aku percaya ketika kau mengatakan ia bukanlah sebuah ancaman. Tapi kau sendiri kewalahan menghadapinya.”
“Ma, maaf, Tuan. Saya pikir itu hanya keberuntungan penasihat hukumnya saja. Tapi saya berjanji kalau hal seperti itu takkan terjadi lagi. Kami telah menyingkirkan beberapa saksi dan barang bukti penting yang akan mereka gunakan di persidangan nanti. Mereka pasti akan kalah telak di persidangan berikutnya.”
Pria tua itu mengisi pistolnya dengan peluru dan kembali mengacungkannya ke arah jaksa Jerold.
“Sebaiknya kau tidak usah berjanji apapun dulu. Kau tahu kalau aku akan mengawasimu dari dekat. Sekali saja kau melakukan kesalahan, aku akan menganggapmu sampah yang tak berguna bagi organisasi kita. Ingat, kau hanya berharga jika kau bisa menunjukkan dirimu adalah seorang jaksa yang kompeten.”
Jaksa Jerold tertunduk. Ini adalah kali pertamanya menerima kemarahan pria tua itu. Selama ini ia selalu memenuhi setiap keinginan pria tua itu melalui penampilannya di persidangan. Jika pria itu memerintahkannya menang, ia akan menang dengan sempurna. Jika pria tua itu memerintahkannya untuk kalah, ia akan kalah dengan perlawanan yang cukup baik sehingga tak ada yang curiga jika ia sengaja kalah.
Untuk kasus ini, ia ingin Abimanyu Alexander dibuktikan bersalah untuk kepemilikan narkoba dan pembunuhan.
“Saya berjanji akan memenangkan kasus ini. Jika tidak, saya akan mempertaruhkan posisi saya di kejaksaan dan di organisasi,” kata jaksa Jerold dengan wajah gugupnya.
“Wah, keputusan yang sangat berani.” Pria tua itu bertepuk tangan sambil tertawa. Ia meletakkan pistol antiknya lalu berjalan ke arah sang jaksa, kemudian menyentuh pundaknya. “Kau pasti tahu, jika kau keluar dari organisasi ini, ayahmu juga harus keluar. Artinya, takkan ada lagi yang bisa melindunginya.”
Wajah jaksa Jerold semakin pucat ketika pria tua itu membahas tentang ayahnya.
“Sa, saya -”
__ADS_1
“Ayolah, tak mungkin S2 hukum dari universitas terbaik di dunia bisa kalah dengan driver ojek online yang hanya punya ijazah SMP?”
Pria tua itu meninggalkan jaksa Jerold dengan sebuah pertanyaan bak pedang bermata dua. Bisa membuatnya lebih percaya diri, bisa juga membuatnya malu.