
“Silakan masuk.”
Seorang sipir ramah mempersilakan Indira masuk ke sebuah ruangan di rutan itu. Indira masuk dengan sedikit ragu. Sebagai pengacara yang hanya pernah berurusan dengan kasus perdata, ini adalah pengalaman pertamanya mengunjungi rutan. Ada banyak kekhawatiran di kepalanya.
Wajar saja ia khawatir. Ia menyetujui pekerjaan sebagai penasihat hukum seseorang sebelum tahu identitas orang tersebut. Abimanyu Alexander, pria yang sedang menjadi pembicaraan nasional karena mengungkapkan kekerasan yang dilakukan oknum polisi pada jumpa pers dan tuduhan pembunuhan terhadap seorang artis yang sedang naik daun.
Indira tidak punya pengalaman dalam menangani kasus pidana dan baru saja membuka kantor advokat. Ia merasa tidak adil jika harus mendapat klien pertama seperti Abimanyu Alexander.
Tenang, Indira. Tenang! Ini akan menjadi promosi yang bagus bagi karirmu sebagai pengacara. Ingat, banyak pengacara yang ingin menangani kasus ini.
Wanita itu mencoba berpikiran positif. Ia menarik napas panjang lalu menghembusnya. Otaknya dipenuhi dengan kata-kata motivasi yang membuat hatinya sedikit tenang. Sayangnya, sebuah pikiran negatif meruntuhkan optimismenya lagi.
Tapi bagaimana jika aku kalah? Bagaimana jika aku melakukan kesalahan lagi? Apalagi ia pernah melawan kepolisian, pasti kasusnya akan dipersulit. Karirku akan hancur.
Kepala Indira tertunduk lemas seakan sudah tak sanggup menopang beban pikirannya yang terlalu berat. Kepala itu langsung tegak ketika mendengar suara langkah yang mendekat. Kemudian seorang pria berbadan tinggi agak kekar mengenakan pakaian berwarna jingga dengan tangan diborgol masuk ke ruangan. Ia adalah Abimanyu Alexander, calon kliennya. Di belakangnya mengikuti seorang sipir yang wajahnya tidak seramah sipir yang mengantar Indira tadi.
Abi duduk di hadapan Indira, sementara sang sipir duduk di pojok ruangan dan langsung sibuk dengan ponselnya. Indira semakin gugup ketika menyadari calon kliennya itu menatapnya tajam. Namun, ia tetap harus mengulurkan tangannya untuk menawarkan diri berjabat tangan sambil memperkenalkan diri.
“Pe, perkenalkan. Sa, saya Indira Christina dari Indira Christina Law Office and Legal Consultant. Saya adalah pengacara yang Anda hubungi kemarin. Saya -”
Belum selesai Indira memperkenalkan dirinya, Abi langsung menjabat tangannya dengan erat. Hal itu membuat Indira terkejut dan hampir menjerit.
__ADS_1
“Anggap saja kita sudah saling mengenal atau kita bisa saling mengenal selama proses hukum yang akan saya jalani nanti. Tapi sebelum kita menyepakati kerjasama ini, saya ingin menanyakan satu hal. Apakah saya bersalah?”
Selain tatapan mata Abi yang tajam, kini Indira semakin gugup karena pertanyaan dadakan itu. Apakah Abimanyu Alexander bersalah? Ia sudah mempelajari kasusnya semalaman dan memang semua petunjuk mengarah padanya. Jika ia mengatakan bersalah, ia takut dianggap tidak percaya pada calon kliennya sejak awal dan berujung pada ketidakpercayaan sang calon klien. Tapi jika ia menjawab tidak, ia khawatir akan dituntut alasannya, padahal ia tidak memiliki hal itu. Jika jawabannya tidak tahu, ia akan dianggap belum mempelajari kasusnya dan akan memberikan kesan kalau dirinya cuek.
Indira menghembuskan napas panjang lalu memberanikan diri untuk membalas tatapan Abi dengan tatapan yang tak kalah tajam juga. Ia lelah memikirkan jawaban apa yang bisa memuaskan orang lain.
“Saya tidak peduli,” jawab Indira, membuat alis kiri Abi terangkat tanda tertarik. Jawaban yang cukup berani dari seorang wanita yang dari tadi terlihat gugup. “Saya sudah beberapa kali mendampingi orang yang terbukti bersalah dan Semua petunjuk yang diungkapkan oleh media mengarah pada Anda. Ada beberapa indikasi yang mendukung Anda, tapi hampir semua hanya berupa spekulasi. Tetapi karena telah memutuskan untuk membela Anda, saya tidak akan menggunakan semua petunjuk itu sebagai kerangka pemikiran saya dalam menangani kasus ini. Saya akan berada di sisi Anda, maka saya perlu menyamakan persepsi saya dengan persepsi Anda terhadap semua kejadian yang berkaitan dengan kasus ini. Untuk itu, mohon percaya pada saya dan berikan semua informasi yang Anda ketahui. Saya juga akan percaya pada semua yang keluar dari mulut Anda.”
Abi mengangguk sambil tersenyum. Meski cukup sederhana, ia terkesan dengan jawaban Indira. Kemudian Abi berdiri dan berbalik hendak meninggalkan ruangan itu. Indira bingung dan tidak tahu apakah ia diterima untuk membela pria itu atau tidak.
“O ya, apakah ada semacam kontrak atau apapun yang harus kutandatangani?” tanya Abi saat ia tiba-tiba kembali berbalik ke arah Indira.
Wanita mungil itu sempat terpaku lalu mengembangkan senyumnya. Ia segera mengambil dokumen beserta pena hitam dari tas lalu menyerahkannya pada calon kliennya itu. Abi pun menunduk lalu membubuhkan tanda tangannya di tempat yang ditunjuk oleh Indira. Kemudian mereka bersalaman.
Indira tercengang mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Abi sebelum pria itu meninggalkannya.
Apa maksudnya? Apakah ada kemungkinan kami akan mati di tengah proses hukum untuk kasus ini?
* * *
[Apa? Kasus Abimanyu Alexander yang viral itu?]
__ADS_1
Indira menjawab ya untuk pertanyaan kakaknya itu. Berikutnya, ia mendengar kata-kata penuh makian dari seberang teleponnya. Indira sampai menjauhkan gagang telepon dari telinganya.
“Aku tahu kasus itu sangat berbahaya. Tapi aku tidak bisa menolaknya. Lagipula, jika aku menang dan berhasil membongkar sebuah skandal besar, namaku sebagai seorang advokat akan ikut naik. Ini adalah kesempatan yang langka,” ujar Indira membela diri.
[Ya, juga kesempatan langka untuk mati konyol karena membela orang yang tidak kau kenal.]
“Lho, memang pengacara bisa makan karena membela orang yang tidak dikenal.”
[Tapi tidak harus mati untuk mereka.]
Ratih masih ngotot melarang Indira membela Abimanyu Alexander, pria yang sedang viral itu. Wajar saja, mengingat sejak Indira bayi, ia sudah berperan sebagai kakak sekaligus ibu bagi adik satu-satunya itu. Bahkan setelah ia menikah, Ratih masih memperlakukan Indira seperti gadis kecil dengan mencukupkan sebagian besar kebutuhannya.
“Iya, iya. Aku janji takkan mati untuknya. Lagipula, dia tidak sejahat yang dinarasikan oleh media. Meski belum ada bukti pastinya, aku yakin dia bukan pelaku pembunuhan itu. Dia hanya dijebak oleh orang jahat.”
[Justru jika bukan dia pelaku pembunuhan itu maka situasinya akan lebih berbahaya. Orang yang telah menjebaknya pasti akan mengincarmu juga.]
“Mbak, tenang saja. Tidak ada yang berani membunuh putri Jack Off the Record.” Indira terdiam penuh penyesalan karena telah menyebut nama tersebut, apalagi saat berbicara pada kakaknya. “Setidaknya ada satu keuntungan kita memiliki ayah sepertinya.”
Tiba-tiba perhatian Indira teralih ke arah televisi. Sebuah berita tentang klien barunya. Reporter acara tersebut menyampaikan informasi tentang masa lalu Abi. Terungkap bahwa Abi pernah bermasalah dengan hukum. Ia sudah pernah ditahan karena kasus penganiayaan ketika masih duduk di bangku SMA dan beberapa tahun kemudian kembali ditahan karena kasus penipuan karena menjadi joki skripsi bagi beberapa mahasiswa. Selain itu, menurut keterangan beberapa tetangganya, ia pernah bekerja sebagai penjaga di klub milik seorang pria yang pernah tertangkap karena kasus narkoba.
[Kau juga menonton berita itu?]
__ADS_1
Ternyata Ratih juga menonton apa yang sedang adiknya tonton. Sementara itu, Indira hanya bisa diam seakan tertipu dengan penampilan polos dan cerdas kliennya tersebut. Kepercayaannya pada pria itu mulai memudar.
“Karirku akan hancur. Sepertinya aku benar-benar mengorbankan nyawaku untuknya.”