Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 61


__ADS_3

Ada 5 pasang bakal calon gubernur yang sudah menebarkan pesona mereka kepada masyarakat. Mulai dari blusukan, suwon ke tokoh-tokoh masyarakat, mengadakan acara bakti sosial, sampai menghadiri acara-acara rakyat jelata, meski tak diundang.


Salah satu bakal calon gubernur yang paling populer bernama Bima Sakti. Kepopulerannya meningkat sejak ia berikrar menolak reklamasi. Sebenarnya hampir semua bakal calon selain petahana yang menolak, namun ia yang paling vokal dan dengan argumen yang paling kuat. Ia mampu menjelaskan alasan kenapa reklamasi itu harus dihentikan.


Sebagai akibatnya, ia mengaku mendapat banyak teror dari berbagai pihak. Mulai dari orang-orang penting sampai yang identitasnya tidak diketahui. Kuat dugaan jika mereka adalah pihak-pihak yang dirugikan jika proyek reklamasi dibatalkan. Pengakuannya itu semakin mengatrol popularitasnya.


Selain itu, bacagub Bima Sakti memiliki satu kekuatan, yaitu kemampuan dalam menarasikan sesuatu dengan sangat baik, atau yang disebut lawan politiknya dengan istilah pandai berkata-kata. Ia bukan bacagub pertama yang mengikrarkan anti reklamasi. Ia juga bukan bacagub pertama yang curhat kalau banyak pihak yang menerornya terkait posisinya yang menolak reklamasi. Visi dan misi yang diangkatnya juga cukup ‘hambar’ karena terlalu klise dan kurang gebrakan. Kalaupun ada yang baru, kesannya terlalu dilebih-lebihkan. Misalnya saja pengadaan lift di pasar tradisional untuk orang tua. Tapi, ia mampu membuat semua yang keluar dari mulutnya terdengar indah dan membangkitkan optimisme.


Elektabilitasnya kini hanya terpaut beberapa persen lagi di bawah petahana, yang meski mendukung reklamasi, tetap dipercaya masyarakat karena kinerjanya selama menjadi gubernur cukup bagus. Bahkan, beberapa orang percaya jika sedikit saja petahana ‘tersandung, maka Bima Sakti bisa dengan mudah memimpin elektabilitas. Namun, ia selalu menekankan kepada para pendukungnya bahwa elektabilitas bukan segalanya. Perolehan suara di pilkada adalah hasil akhirnya.


“Aku berdoa agar pak Bima selalu diberi kesehatan dan selamat dari segala musibah,” kata Amran ketika para tahanan sedang menonton berita tentang sang bacagub.


“Ya, suaranya sangat vokal dan dia berani melawan para cukong yang selama ini menghisap darah rakyat,” timpal Iskak, tahanan dari ruangan lain.


Hampir semua tahanan mendukung bacagub Bima Sakti untuk menang di kontestasi pilkada yang akan diadakan sebentar lagi. Sebagian besar alasan mereka mendukung bukan karena kualitas Bima Sakti itu sendiri, melainkan kekecewaan terhadap petahana.


Sang petahana adalah Theodore Fransiskus, pria timur yang bukan hanya wajah dan suaranya, tapi sikapnya dalam memimpin provinsi ini juga sangat keras. Ia membuka pos pengaduan masyarakat di beberapa tempat yang ia awasi secara langsung. Bagi masyarakat umum, itu bagus. Tapi bagi para pelaku kejahatan, itu adalah bencana. Para calo, penipu, preman dan pelaku kejahatan kelas teri yang sering meresahkan masyarakat langsung terdeteksi oleh aparat karena pos pengaduan tersebut. Bahkan di rutan ini ada dua RT yang ditangkap karena menggelapkan bantuan untuk masyarakat.


Meski tidak ada jaminan Bima Sakti tidak akan bersikap sama dengan gubernur Theodore ketika memimpin nanti, mereka tetap mendukungnya. Setidaknya mereka bisa puas melihat sang gubernur menerima kekalahan.


Bagi Abi sendiri, siapapun gubernur yang akan terpilih di pilkada nanti tidak akan berpengaruh untuknya. Ia hanya memikirkan posisi tuan Jireh dalam pertarungan politik ini. Apakah ia berdiri sebagai pengusaha pemilik salah satu aset di pulau reklamasi yang tentu saja berharap Bima Sakti kalah? Atau ia berdiri sebagai penjahat yang terganggu dengan ketegasan gubernur Theodore Fransiskus?

__ADS_1


Ia sudah meminta Rama untuk menyelidiki bacaleg mana yang berhubungan dengan Benjiro. Dengan demikian, ia bisa tahu siapa yang diharapkan oleh tuan Jireh untuk menang. Masalah janji untuk menolak reklamasi, itu bisa saja hanya janji kosong untuk menarik suara dari masyarakat.


Kemudian, datang beberapa sipir memberitahukan bahwa sudah saatnya bagi para tahanan untuk mandi. Para tahanan keluar secara teratur dalam barisan menuju kamar mandi dengan membawa peralatan mandi masing-masing. Abi sendiri membawa ember kecil berisi sabun, sikat dan pasta gigi.


Mereka berjalan gontai sambil diawasi oleh para sipir. Tiba-tiba Abi merasa ada yang aneh. Ia seperti sedang diawasi oleh seseorang. Matanya menjelajah mencari siapa yang sedang melihatnya atau bersikap mencurigakan. Tapi, tidak ada. Setelah meyakinkan dirinya kalau itu hanya halusinasinya, ia kembali berkonsentrasi pada perjalanannya ke kamar mandi.


Seluruh tahanan membuka pakaian mereka dan mengambil tempat di atas pancuran. Mereka memutar kran dan merasakan butiran-butiran air menimpa tubuh. Semua sibuk menikmati air yang membasuh debu-debu yang melekat di tubuh mereka. Bersyukur cuaca siang tadi sangat panas sehingga meningkatkan suhu air di tangki menjadi hangat. Air hangat memang sangat cocok untuk relaksasi diri.


“Darah! Ada darah!”


Suara teriakan salah satu tahanan membuyarkan acara relaksasi diri tahanan lainnya. Seperti yang diteriakkannya, ada darah yang sudah memerahi lantai kamar mandi, bercampur dengan air dari pancuran. Segera mereka mencari sumber darah itu dan mendapati perut Abi yang sudah tertancap sebuah pisau. Setelah melihat semua mata tertuju padanya, tiba-tiba kesadaran Abi mulai hilang dan tubuhnya ambruk ke lantai.


Regina mengucek matanya yang mulai kelelahan. Sudah beberapa jam ia terus menatap ke arah laptop untuk memeriksa belasan, atau mungkin puluhan rekaman CCTV dari beberapa tempat di kota ini.


Ia masih ngotot mencari hubungan antara Abi dan Benjiro. Firasatnya berkata, mereka pasti pernah bertemu di suatu tempat dan merencanakan pembunuhan Mischa. Sikap Abi yang menuduh Benjiro sebagai perekayasa kematian, tapi membelanya dengan mengatakan bukan dia pembunuh Mischa, seakan menunjukkan hal ini sebagai bagian dari rencana mereka untuk menghindari hukuman yang berat.


Regina tahu Abi cukup pintar untuk merencanakan hal itu. Meski selama ini ia tahu kalau Abi adalah orang baik, ia tidak bisa menjamin jika sahabatnya itu tak mungkin berubah dan melakukan kejahatan besar seperti pembunuhan.


Ah, ternyata sudah habis.


Regina menggerutu ketika hendak menenggak kopinya. Ia pun bangkit berdiri dan keluar ruangannya untuk menyeduh segelas kopi lagi. Dalam situasi seperti ini, ia tak bisa melepaskan diri dari minuman hitam manis itu.

__ADS_1


Sekeluarnya dari ruangan, ia dikejutkan dengan kehebohan kantor. Bunyi deringan beberapa telepon, suara langkah rekan-rekannya yang terlihat panik, bercampur teriakan Iptu Nyoman yang sedang memberikan instruksi.


Awalnya Regina hendak mengabaikannya dan hanya berjalan ke dapur untuk membuat kopi. Ia akan terganggu jika sudah mendengar apa yang terjadi tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia sudah disibukkan oleh penyidikan kasus Abi, tentu ia tak mau lagi memikirkan kasus lain.


Sayangnya, ia memiliki rasa penasaran tinggi. Apalagi jarang melihat Iptu Nyoman sepanik itu. Dengan segelas kopi di tangan, ia mendekati atasannya itu untuk bertanya.


“Ada kasus pembunuhan baru, Komandan?”


“Bukan, masih percobaan pembunuhan,” jawab Iptu Nyoman.


“Oh, begitu. Tapi, kenapa sampai heboh begini? Memangnya, korbannya orang penting? Atau jangan-jangan pelakunya yang orang penting?”


Iptu Nyoman yang hendak memberikan instruksi lagi pada anak buahnya terdiam. Ia menatap Regina sehingga membuat wanita itu kebingungan. “Ya, seharusnya kau tahu. Korbannya adalah orang yang sedang kau selidiki.”


Jantung Regina tiba-tiba berdetak kencang. Di pikirannya muncul sebuah nama, tapi ia ingin menyangkalnya dengan menebak nama lain.


“Benjiro?”


Namun sayang, nama yang ia sangkal itulah yang disebut oleh Iptu Nyoman.


“Bukan dia, tapi Abimanyu Alexander.”

__ADS_1


__ADS_2