
Indira berjalan menyusuri trotoar jalan dengan wajah penuh duka. Langkahnya seperti diseret-seret seakan tak ada lagi tenaga yang ia miliki. Ia masih belum sadar kalau perjalanannya itu sedang tidak ada tujuan yang pasti.
Pikirannya juga mengembara tanpa tujuan yang jelas. Ia sedang meratapi kehancuran cita-cita yang selama ini ia bangun dengan bersusah payah. Sejak dulu, pekerjaan yang ia inginkan hanyalah pengacara. Sebesar apapun tantangan yang harus dihadapinya untuk menjadi pengacara, ia akan lalui. Kini, saat telah dipecat dari advokat oleh IKAKUM, ia benar-benar tidak tahu arah hidupnya lagi.
Sempat terlintas tawaran yang diberikan oleh Jesse Arnold tadi tentang bekerja di perusahaan milik tuan Jireh dan itu sangat menggoda baginya.
“Tuan Jireh punya sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan spare part mobil dan perusahaan itu sedang membutuhkan seorang HRD. Memang, sesekali kami juga akan meminta konsultasi terkait hukum pada Ibu, tapi gajinya besar dan akan sepadan. Em, kita juga tentu masih berharap agar Ibu bisa kembali menjadi pengacara. Jika seandainya ada mukjizat dan status Ibu sebagai pengacara telah kembali lagi, Ibu masih bisa tetap bekerja di perusahaan kami.”
Benar-benar tawaran yang menggiurkan. Seandainya ia belum pernah mendengar cerita tentang tuan Jireh, tanpa berpikir panjang akan ia setujui. Tapi, ia tidak ingin mengkhianati Abi. Selain karena tuan Jireh adalah orang jahat, menurut cerita Abi, ia masih memiliki integritas yang tinggi sebagai bekas pengacara Abi. Ah, sedihnya membayangkan istilah bekas pengacara.
Di tengah ‘pengembaraan tanpa tujuan’nya, secara kebetulan Indira bertemu dengan Rinjani. Wanita itu sedang santai menyantap cendol yang dijual di pinggir jalan. Indira yang pertama kali melihat, tapi Rinjani yang lebih dulu menyapa. Sebenarnya, Indira ingin menghindar karena sadar hubungan mereka tidak bisa dibilang baik. Tapi, Rinjani keburu sadar dan meneriakkan namanya kencang, sehingga orang-orang di sekitar melihat ke arahnya.
“Hai,” sapa Indira saat datang menghampiri Rinjani. Wajahnya malu bercampur kesal.
“Percayalah, cendol di sini sangat enak. Kau takkan menyesal kalau mencobanya sekarang. Apalagi cuaca hari ini panas sekali.” Rinjani berhenti berbicara sejenak lalu meneliti air muka Indira. “Dan bagus juga untuk suasana hati yang sedang panas.”
“Memangnya siapa yang suasana hatinya sedang panas?” Indira mencoba menyangkal sindiran Rinjani.
“Ayolah, seluruh negeri ini sudah tahu apa yang terjadi. Kau dipecat dari pengacara Abi karena memukul seorang pengacara.”
“Ya, semua negeri sudah mengetahuinya,” gerutu Indira. “Bukan hanya pengacara Abi, aku dipecat sebagai pengacara. Dan bukan hanya karena memukul pengacara yang lain, tapi karena beberapa pelanggaran yang telah kulakukan lainnya.”
__ADS_1
Rinjani tersenyum, lalu merangkul leher Indira sehingga wanita mungil itu terkejut. “Jangan bersedih, jangan bermuram durja, Sahabatku. Yang kau lakukan itu sangat keren. Bahkan, sekarang kau resmi menjadi sahabat baikku karena kau telah melakukan apa yang sudah lama ingin kulakukan dan tak bisa kulakukan.”
“Kamu tidak bisa memutuskan begitu saja orang yang ingin kamu jadikan sahabatmu. Aku tidak pernah bilang mau,” ujar Indira sambil melepas rangkulan Rinjani. “Memangnya, kamu sangat ingin menghajar pengacara? Sebegitu besarnya rasa bencimu pada pengacara? Oh, apakah karena itu kamu tidak pernah ramah padaku dan sekarang kamu bersikap sebaliknya? Karena aku menghajar pengacara dan sudah tidak lagi menjadi pengacara?”
Rinjani terkejut dengan ocehan Indira. Bukannya tak bisa melawan, tapi ia tak tega setelah melihat wajah Indira sudah berurai air mata. Pasti kondisi yang wanita itu alami sekarang sangat berat dan ia malah bercanda.
“Baiklah, baiklah. Aku memang benci pengacara, tapi dulu aku tidak menyukaimu bukan karena kau pengacara. Ada alasan lain,” kata Rinjani. Ia menyerahkan cendol yang sudah siap untuk disantap pada Indira. Ternyata, ia langsung memesannya saat baru melihat Indira. “Titus Yana, pria berkumis petak yang kau tinju itu adalah pengacara yang kubenci.”
Indira terkejut ketika Rinjani menyebut nama itu. Seolah ia sudah sangat familiar dengan nama itu.
“Memangnya, ada hubungan apa kamu dengannya?”
“Ia adalah pengacara dari pemuda yang memerkosa adikku. Mendiang adikku,” jawab Rinjani yang membuat Indira sangat terkejut. Seketika muncul rasa belas kasihan di hati Indira untuk wanita itu. “Aku tak pernah bisa melupakan wajah jahatnya saat menuduh adikku yang menggoda kliennya. Padahal semua bukti sudah mengarah pada tindak pemerkosaan.”
“Apa yang bajingan itu lakukan?”
“Seperti yang kau bisa tebak. Dia memalsukan semua barang bukti dan meragukan barang bukti asli dengan berbagai argumen yang kedengarannya masuk akal. Tentu saja, jaksa dan hakimnya pasti sudah berada di pihaknya. Pelaku pemerkosaan itu adalah anak orang kaya yang memiliki banyak relasi di berbagai instansi besar pemerintahan.”
“Kalian tidak punya pengacara yang membela?” tanya Indira penasaran.
“Punya. Tapi, ternyata ia juga dibayar oleh pengacara brengsek berkumis petak itu,” jawab Rinjani dengan nada kesal. “Sebenarnya, di awal kami punya seorang penasehat hukum yang handal. Seandainya ia bisa menemani sampai akhir.”
__ADS_1
“Memangnya, ada apa dengannya? Apakah ia pergi? Atau ia mati?”
“Bukan, bukan karena itu. Tapi karena ia adalah Advokat Malam.”
Indira kembali terkejut ketika Rinjani menyebut nama itu. Sudah lama nama itu tidak didengarnya. Akhirnya, ia mulai mengetahui situasinya.
“Ya, Advokat Malam tidak punya izin advokat. Ia tidak bisa membela kalian sampai pengadilan. Langkahnya yang paling jauh hanyalah mediasi.”
Rinjani mengangguk. “Padahal saat itu kami mengawalinya dengan sangat baik. Saat mediasi, pihak mereka sudah ketar-ketir atas argumen yang diberikan oleh Advokat Malam. Sayang sekali.”
“Lalu, apa yang terjadi dengan adikmu?”
“Ia dibunuh, tetapi direkayasa sehingga terlihat sebagai bunuh diri. Dan kau pasti bisa menebak, polisi sama sekali mengabaikan bukti-bukti yang mengarah pada pembunuhan dan tetap menganggapnya sebagai bunuh diri.”
Nada bicara Rinjani terdengar getir. Seperti sebuah perasaan getir yang menyentuh hati Indira. Meski tidak ikut menyaksikannya secara langsung, Indira seperti memahami apa yang telah terjadi saat itu.
“Kau tahu?” lanjut Rinjani. “Itu adalah kasus terakhir yang ditangani oleh Advokat Malam. Setelah itu, ia berhenti membela rakyat kecil.”
“Ya, aku paham betapa terlukanya Advokat Malam karena kejadian itu. Wajar jika ia berhenti,” ujar Indira menaruh simpati.
“Tapi, yang tidak diketahui oleh banyak orang adalah Advokat Malam masih terus berjuang untuk keadilan bagi orang-orang kecil. Memang, tidak sefrontal saat ia menjadi Advokat Malam. Meskipun ia tidak memiliki gelar, ijazah, surat izin atau apalah, ia masih percaya hukum adalah senjata terkuat bagi orang-orang yang tertindas. Ia tidak pernah menyerah pada kasus Kerinci, mendiang adikku. Sampai sekarang ia mengumpulkan berbagai bukti yang suatu saat akan ia gunakan untuk menghukum penjahat itu. Dan meskipun saat ini ia sedang menjalani proses persidangan dan harus mendekam di rutan, ia masih berjuang. Perlawanannya pada tuan Jireh adalah salah satu bukti nyatanya.”
__ADS_1
Mendadak Indira merasa malu karena pernah membenci Abi saat pria itu mengatakan hal aneh yang membuatnya gagal dibebaskan. Ia juga malu karena merasa hidupnya telah hancur hanya karena surat izin praktek advokatnya dicabut. Abi tak memiliki apapun yang bisa mendukungnya untuk berjuang dalam bidang hukum kecuali ilmu pengetahuannya. Tapi, ia tak pernah berhenti berjuang dan menaruh keyakinan tinggi pada hukum itu sendiri.
Saat itu juga, hidupnya yang sempat ia pikir telah hancur, kembali bersinar lagi. Ada secercah harapan yang memotivasinya untuk bangkit kembali.