
Regina duduk di sebelah pria itu dan menyuruhnya untuk tidak melakukan sesuatu yang menarik perhatian. Rekan-rekan sekantornya yang juga sedang melakukan penipuan yang sama tidak ada yang tahu kalau seorang polisi sudah masuk ke markas mereka.
“Sabar Parulian,” ucap Regina sambil menepuk pundak pria itu.
“De, De Syado, Bu. Aku tidak memakai nama itu lagi.”
“Nama bodoh itu? Bahkan kau tidak tahu penulisannya yang benar. Harusnya seperti ini, The Shadow.” Regina menuliskan nama itu pada secarik kertas yang ada di atas meja.
“I, itu bahasa Spanyolnya, Bu,” jawab pria itu. “Kata temanku.”
“Kenapa aku masih ingin sekali menghajarmu, ya?” tanya Regina pada pria itu dengan maksud membuatnya ketakutan. “Ah, pasti karena aku belum benar-benar memaafkanmu.”
Kening pria berjuluk De Syado itu mulai berkeringat. Ia tahu, Regina sedang membahas kejadian beberapa tahun yang lalu. Semua karena tingkah duo kakak beradik yang pernah jadi korbannya dulu. Dan sebenarnya, Regina lebih kesal pada Abi dibandingkan pada penipu yang sekarang sedang ada di hadapannya itu.
“Berdasarkan pengalaman hidup yang pernah kujalani selama ini, tidak ada penjahat yang lebih pintar daripada polisi,” kata Abi saat itu. “Kenapa ada penjahat yang bebas berkeliaran melakukan aksinya? Itu karena dua alasan. Pertama, ada polisi yang terlibat. Kedua, tidak ada polisi yang peduli.”
“Tapi, jika kalian melapor padaku, aku bisa membantu kalian menangkap penjahat itu. Kau tidak perlu menempelkan foto wajahku ke tubuh wanita bug*l dan memasukkan ponsel yang sudah disadap agar penipu itu menyebarkannya ke internet sehingga instansi kepolisian panik dan mengerahkan pasukan untuk segera menangkap penipu itu. Untung saja kalian tidak ditangkap karena mengedit foto orang sembarangan.”
Ya, sampai sekarang Regina dan De Syado masih kesal jika mengingat kejadian itu.
“Ja, jadi a, apa yang bisa saya lakukan untuk I, Ibu sekarang?”
“Aku ingin kau melacak ponsel seseorang,” jawab Regina yang membuat De Syado terkejut.
“Ta, tapi itu kan perbuatan melanggar hukum.”
“Makanya, aku menyuruhmu melakukannya.”
“Ka, kalau begitu, aku bisa dipenjara lagi.”
“Tidak akan. Aku akan membuat laporan bahwa kau melakukannya demi kepentingan pengusutan kasus penting,” jamin Regina. Kemudian, ia memberikan nomor ponsel pada Sabar Parulian a.k.a De Syado. “Aku mau kau meretas nomor ini, seperti yang kau lakukan pada ponsel temanku Rama dulu.”
De Syado mengangguk sambil melihat nomor yang tersimpan di ponsel Regina itu. Ia kemudian mengetik nomor tersebut di komputer yang ada di hadapannya.
__ADS_1
“Untuk bisa melakukannya, aku harus mengirimkan sebuah aplikasi dan orang itu harus menginstalnya. Cukup dengan mengklik, maka aplikasi itu terinstal di ponselnya.”
“Baik, lakukanlah,” titah Regina yang langsung dikerjakan oleh De Syado.
“Selesai,” ujar De Syado yang langsung membuat Regina bingung.
“Jadi, kita sudah bisa melihat isi ponselnya?”
“Belum. Seperti yang kukatakan tadi, ia harus mengklik aplikasi yang kukirim barusan.”
Regina mengangguk. Kemudian, ia menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi sambil memainkan ponselnya. Semenit, dua menit berlalu dan terasa sangat lama. Hingga di menit ke tiga belas, ia sudah tidak tahan lagi.
“Kenapa lama sekali?”
“Berarti dia tidak mau menginstal aplikasi itu,” jawab De Syado santai.
“Berarti kau harus mengirimnya lagi,” balas Regina.
“Dia akan curiga jika aku mengirimnya kembali terlalu cepat.”
De Syado terdiam sejenak lalu mengangguk tanda mengerti. Kemudian, ia mengetik sesuatu dan bersiap untuk mengirimnya.
“Aku membuatnya dalam bentuk link. Biasanya, para pria akan penasaran jika mendapat pesan yang mesum. Kemungkinan besar ia akan mengklik link yang ada dengan harapan bisa melihat hal-hal yang mesum.”
Regina menahan tangan De Syado sebelum ia menekan tombol enter.
“Dia wanita, bukan pria,” terang Regina.
De Syado berpikir kembali lalu mulai mengetik lagi. “Kalau begitu, kita akan buat pesan berupa pemberitahuan kalau dia mendapatkan voucher belanja.”
“Pintar, pintar,” puji Regina sambil menepuk bagian belakang kepala De Syado pelan.
Benar saja, hanya butuh waktu beberapa detik, si pemilik ponsel mengklik link yang dikirim tadi dan ponsel itu sudah terhubung dengan komputer De Syado.
__ADS_1
“Baik, sekarang kita lihat isi galerinya.”
“Bukan, bukan isi galerinya. Kita harus menghargai privasi orang.” Regina kembali menahan tangan De Syado. “Aku ingin kau membuka kalender atau catatannya. Aku ingin melihat semua yang berbentuk jadwal.
“Bukankah itu juga bentuk pelanggaran privasi?” gumam De Syado tanpa berharap Regina mendengarnya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka menemukan apa yang Regina cari. Sebuah aplikasi pencatat jadwal kegiatan. Regina meminta De Syado untuk membuka jadwal di suatu hari, yaitu hari di mana Abi ditangkap karena dituduh menjadi kurir narkoba. Hari di mana Mischa diduga kehilangan nyawanya. Ternyata, itu adalah ponsel dari manajer Mischa.
Regina memeriksa jadwal tersebut dengan teliti. Matanya tiba-tiba terhenti pada sebuah kegiatan yang seharusnya dilaksanakan beberapa saat sebelum Abi menghampiri rumah itu. Ia melihat sebuah nama yang cukup familiar baginya. Bukan Benjiro, apalagi Abi.
“Kenapa orang ini dijadwalkan melakukan online meeting dengan Mischa? Apa hubungannya dengan Mischa?”
*
“Ingat, tidak ada yang boleh tahu tentang ini,” kata Regina setengah mengancam De Syado. “Jika tidak, aku akan memenjarakanmu.”
“Ba, baik, Bu. Lagipula, untuk apa dan pada siapa aku memberitahukan tentang ini?”
“Apakah kau sudah memutuskan koneksi ponsel itu? Aku tidak mau kau menyalahgunakannya dengan mengubek-ubek galeri seseorang lalu memakai foto atau video mereka untuk memeras.”
“Ba, baik, Bu.”
“Dan aku ingin kau mengembalikan semua uang yang telah kau tipu hari ini pada para korbanmu lalu pulang dan beristirahat.” Regina mengambil buku besar berisi kumpulan nomor ponsel beserta data nama pemiliknya, lalu memfotonya. “Aku sudah punya nomor mereka dan jam 3 nanti aku akan mengecek sendiri apakah uang mereka sudah kembali atau belum.”
“Ta, tapi, Bu -”
“Tidak ada tapi-tapian. Aku ingin setidaknya di hari aku bertemu denganmu, kau tidak melakukan kejahatan apapun.”
De Syado tertunduk lesu dan menjawab dengan nada lemah, “Baiklah, akan kulakukan.”
Regina mengangguk tanda percaya dengan ucapan De Syado. Kemudian, ia pergi begitu saja tanpa dipedulikan oleh rekan-rekannya. Andai mereka tahu siapa wanita itu, pasti akan terjadi kehebohan besar sekarang.
Setelah memastikan Regina telah pergi melalui jendela kantor, De Syado bergegas duduk dan segera memegang komputernya. Ia membuka kembali aplikasi yang menghubungkannya ke ponsel milik manajer Mischa dan mencari jadwal yang tadi mereka buka. De Syado berbohong pada Regina tentang tidak terhubung lagi dengan ponsel tersebut.
__ADS_1
Jadwal itu sudah kembali terbuka dan De Syado melakukan tangkapan layar. Ia membuka emailnya lalu mengirim hasil tangkapan layar itu ke sebuah alamat.
Itu adalah alamat email milik Abi.