Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 59


__ADS_3

Suasana di ruang kunjungan penasihat hukum terasa canggung. Abi dan Indira yang biasanya baru bertemu langsung membahas banyak hal panjang lebar, kini hanya saling berhadapan tanpa saling menatap. Indira pura-pura sibuk dengan kertas-kertas di tangannya, sementara Abi hanya menjelajahkan tatapannya ke langit-langit ruangan seperti sedang mengecek kebocoran.


Abi merasa sedikit lega ketika Indira menjatuhkan pulpen dan mengambilnya dari atas lantai. Setidaknya, ia bisa mengistirahatkan lehernya sejenak karena terlalu lama mendongak. Dan ketika Indira sudah kembali ke kursinya, ia kembali mendongak.


“Bagaimana dengan pemeriksaan kemarin?” tanya Indira yang sadar jika mereka tidak bisa terus merasa canggung selama pertemuan ini. Ia menyerahkan beberapa lembar kertas yang disatukan oleh staples pada Abi.


“Baik, lancar,” jawab Abi seadanya. Ia menerima kertas-kertas itu, namun matanya yang sudah lelah menjelajah malah tersangkut di wajah Indira. Jika kemarin ia gagal meminta maaf pada Regina, hari ini ia tidak ingin gagal juga meminta maaf pada Indira. Karena itu yang diharapkan sang mama padanya. “Eh, aku -”


Abi terdiam ketika Indira memberikan sebuah isyarat. Tangannya menunjuk ke arah kertas itu seakan memerintahkan Abi untuk membacanya. Dan Abi pun melakukan perintahnya.


Aku sudah menyusun dialog kita hari ini. Baca saja dialog pertama, aku akan memberikan instruksi berikutnya.


Abi menatap ke arah Indira dan wanita itu mengangguk-angguk seperti ingin membenarkan apa yang dibaca oleh Abi barusan.


“Eh, bagaimana dengan Benjiro? Apakah kamu… Kamu?” tanya Abi. Ia tidak pernah menggunakan kata ganti itu pada Indira. “Ya, apakah kau sudah menyelidikinya lagi?”


Lagi-lagi Abi terkejut saat ia melihat tulisan tangan yang ada di tangan Indira. Ternyata selama Abi berbicara, ia menulisnya.


Kata Rama, kamu bisa menulis dengan posisi terbalik. Tulislah  apa yang ingin kau katakan saat aku berbicara dan aku juga akan melakukan yang sama.


Abi benar-benar sangat bingung. Ia masih tidak mengerti dengan permainan yang sedang dimainkan oleh Indira. Kemudian wanita itu berbicara sambil menulis.


“Aku sudah menyelidiki kemungkinan orang lain terlibat, tapi hasilnya masih belum bagus.”


Setelah selesai berbicara, ia juga selesai menulis dan Abi langsung membacanya.

__ADS_1


Aku baru saja melihat penyadap di bawah meja. Kamu benar. Jadi, kamu tak perlu menyembunyikan apapun lagi dariku dan katakan saja semua yang kamu tahu.


Akhirnya Abi paham maksud Indira. Ia pun menulis terbalik sehingga ia tak perlu membalikkan kertas agar Indira bisa membacanya. Hal ini bisa mengurangi kecurigaan petugas yang mengawal Abi.


Mari kita lakukan.


“Apakah kau sudah memeriksa semua pengedarnya? Kudengar, ia punya banyak pengedar di kota ini. Bisa saja ia mengajak salah satu dari mereka untuk membantunya merekayasa pembunuhan Mischa. Karena menurutku sangat sulit melakukan rekayasa serumit itu hanya seorang diri saja,” kata Abi mengulang kalimat yang ditulis oleh Indira. Sebenarnya ia tidak setuju karena rekayasa itu sangat bisa dilakukan seorang diri, apalagi oleh pria berbadan besar seperti Benjiro. Tapi, tujuan utamanya bukan untuk membahas Benjiro, melainkan hal lain. Dan ia membaca tulisan yang ditulis oleh Indira.


Aku sudah mengecek dokumen yang kamu berikan melalui Rama dua hari yang lalu. Itu adalah dokumen serah terima pekerjaan. Memang ada beberapa kejanggalan. Tapi sebelumnya, apakah kamu tahu prosedur serah terima pekerjaan?


Abi sadar kalau itu adalah pertanyaan yang harus segera dijawabnya. Ia melihat ke arah Indira dan menggeleng.


“Ini adalah data nama-nama pengedar Benjiro yang berhasil kulacak,” kata Indira. Ia menyerahkan setumpuk kertas lagi yang berisi penjelasan sederhana tentang prosedur serah terima pekerjaan. Lalu Indira menunjuk sebuah dialog untuk Abi.


“Oh, sebentar. Aku baca dulu.”


Kedua, Serah Terima Akhir Pekerjaan (Final Hand Over-FHO). Jika penyedia barang/jasa menyelesaikan semua kewajibannya selama masa pemeliharaan, maka dilakukan serah terima akhir pekerjaan secara resmi dari penyedia barang/jasa kepada direksi pekerjaan. Prosedurnya hampir mirip dengan PHO.


Setelah memahaminya sedikit, Abi kembali menulis.


Kejanggalan apa?


Setelah itu, ia membaca dialog lanjutan yang telah ditulis oleh Indira sambil wanita itu menulis sesuatu dengan cepat dan penuh semangat.


“Dari semua pengedar ini, ada satu pengedar yang mencurigakan. Ini, yang berambut hitam ini. Ia terlihat seperti orang teler. Kudengar, Benjiro sangat ketat mempekerjakan seseorang untuk menjadi pengedarnya. Ia sangat tidak mengizinkan pengedarnya menjadi pemakai. Nah, dia pasti bukan pengedar, melainkan rekan kerja Benjiro yang ia samarkan identitasnya menjadi salah satu pengedarnya agar orang-orang tidak curiga ia selalu bersama dengan Benjiro.”

__ADS_1


Abi menaikkan alisnya. Ia sama sekali tidak setuju dengan semua yang baru saja diucapkannya. Tapi, ia tak sempat protes karena Indira menyuruhnya untuk segera membaca apa yang baru saja ditulisnya.


Pertama, jarak waktu ditandatanganinya PHO dan FHO sangat dekat. Padahal, menurut hasil pemeriksaan PPHP, sangat banyak daftar cacat dan kerusakan yang harus diperbaiki. Kedua, anggota-anggota PPHP di tahap PHO dan FHO berbeda. Padahal, seharusnya mereka adalah orang yang sama. Lalu yang terakhir dan yang paling mendasar, dari semua dokumen, tidak dimuat lokasi pastinya. Hanya ada nama proyeknya, yaitu Perumahan Naga Mulia. Seandainya Rama tidak mengatakannya, aku juga takkan tahu jika proyek itu dilakukan di pulau reklamasi.


“Tidak, caramu menganalisis salah. Dia bukan teler, tapi memang tekstur wajahnya seperti itu. Lagipula, aku sudah memeriksa alibinya saat waktu kejadian. Sangat kuat. Sebab, hari itu dia menikah. Hati-hati jika terlalu cepat menuduh sesuatu pada orang dengan alibi yang sangat dangkal. Kau bisa kena pasal 310 ayat 1 dan pasal  311 KUHP.”


Indira tertawa. Karena Abi melihat di dialog itu ia harus tertawa juga, maka ia juga tertawa. Ia tahu, penasihat hukumnya itu sengaja memasukkan dialog itu untuk menghinanya. Sepertinya Indira masih marah padanya. Ya, harusnya ia percaya kalau wanita tidak segampang itu memaafkan seorang pria. Ia pun hanya bisa pasrah sambil menunjukkan tulisan yang baru saja ia buat.


Apakah ada kemungkinan terjadi pembangunan ilegal di pulau itu? Mengingat saat ini status pulau itu sedang tidak jelas karena protes dari masyarakat sekitar dan LSM lingkungan serta menjadi alat politik di pilkada?


“Ya, maafkan aku. Kenapa aku bisa seceroboh ini? Sepertinya karena di persidangan kemarin aku terlalu menggunakan banyak kemampuan otakku.”


Abi menghela napas. Dialog itu sama sekali tidak menggambarkannya dan hal itu justru akan menimbulkan kecurigaan bagi orang yang menyadap mereka. Tapi ia yakin kalau Indira pasti mengetahuinya. Wanita itu memang sedang sengaja menghukumnya.


“Ah, aku jadi teringat dengan tuan Jireh.”


Melihat Indira menggumamkan nama itu, jantung Abi serasa hendak melompat dari dadanya, kepalanya seakan mau meledak dan napasnya seperti sulit untuk menerobos lubang hidungnya. Ia melihat ekspresi Indira yang masih santai seakan tidak menyadari betapa mengerikannya nama itu.


“Aku punya hadiah untukmu. Balik ke halaman berikutnya,” kata Indira dengan nada suara yang berat, membuat Abi semakin gugup. Apakah ia sudah tahu tentang tuan Jireh? Apakah mereka sudah berhubungan? Apakah hadiah yang dimaksud oleh Indira berkaitan dengan tuan Jireh? Pertanyaan demi pertanyaan menyerang pikiran Abi saat ini.


Perlahan ia membuka halaman kertas itu. Ia merasakan darah di nadinya mengalir lebih cepat dari biasanya. Entah hanya halusinasi atau memang benar, ia bahkan mendengar aliran itu.


Tiba-tiba wajahnya berubah saat halaman kertas yang ada di hadapannya berganti. Wajah yang sebelumnya tegang itu mendadak berseri-seri seakan melupakan seluruh kecemasan yang menghinggapinya tadi. Matanya menyipit dan bibirnya tersenyum sambil berbisik lirih, “Eunha!”


“Wah, ternyata benar kata Rama,” kata Indira sambil menggebrak meja. Ia memang sengaja meletakkan foto idola kesayangan Abi di halaman itu

__ADS_1


Wajah Abi sekarang berubah lagi. Tak ada senyum, hanya guratan ekspresi yang  menggambarkan amarah besar. Dengan suara ditekan, ia berkata, “Jangan bawa Eunha ke dalam perseteruan kita!”


__ADS_2