
Pernyataan arogan Indira di hadapan para wartawan beberapa hari yang lalu memberikan dampak yang sangat luar biasa. Secara tidak langsung, Indira berhasil membuka mata masyarakat untuk menyadari bahwa hukum di negeri ini sedang bermasalah. Berbagai kasus yang sudah selesai dan yang masih dalam proses persidangan mulai dibedah oleh para ahli di berbagai stasiun televisi.
Hingga akhirnya, banyak orang yang mulai menyadari kejanggalan-kejanggalan yang terdapat pada beberapa kasus, termasuk kasus-kasus yang disebutkan oleh Indira.
Karenanya, tak heran jika tersangka atau korban yang merasa dirugikan pada kasus-kasus tersebut mulai ambil tindakan. Beberapa di antaranya memecat pengacaranya dan meminta Indira untuk menggantikan.
Tak heran jika kini nama Indira harum di mata masyarakat umum, namun busuk bagi para penegak hukum, terutama dari kalangan advokat. Mereka menuduh Indira telah melakukan promosi diri yang kotor dan jahat dengan menyudutkan beberapa pengacara dan memberi kesan kalau ia lebih hebat dari para pengacara itu.
“Aku merasa bersalah padanya. Dulu ia satu angkatan denganku,” kata indira sambil menatap nama seorang pengacara di dokumen kasus Irina Agusta. Ia melirik ke arah Abi dan menunggu respons pria itu. “Apakah kita harus mengambil kasusnya? Aku yakin ia tidak terlibat dengan tuan Jireh. Ia adalah orang baik.”
“Irina Agusta sudah memecatnya dan memilihmu untuk menggantikannya. Lagipula, kasus itu melibatkan banyak orang yang berkaitan langsung dengan tuan Jireh,” tolak Abi dengan tatapan tajam. “Penegak hukum yang lemah hanya menghambat terjadinya penegakan hukum.”
Indira menghela napas tanda kecewa. “Baiklah, aku akan berhenti berbelas kasihan padanya.”
Sudah beberapa hari ini Abi bersembunyi di lantai dua kantor Indira. Di sana, mereka berdua dan Rinjani menyusun berbagai rencana untuk melawan tuan Jireh. Itu adalah satu-satunya tempat yang menurut mereka paling aman. Jika di tempat lain, besar kemungkinan ada yang curiga karena melihat Indira bolak-balik ke tempat itu.
Indira memang butuh waktu yang banyak untuk bersama-sama dengan Abi. Bukan hanya untuk membangun rencana melawan tuan Jireh, tapi Indira membutuhkan kecerdasan Abi untuk membantunya menangani kasus-kasus yang telah ia terima.
“Ini daftar barang bukti yang bisa kau gunakan. Aku juga sudah mempersiapkan dokumen hukum, laporan singkat, eksepsi, pledoi, permohonan banding dan beberapa dokumen yang dibutuhkan. Aku sudah menyortir sesuai kasusnya.”
Indira hanya bisa melongo saat Abi meletakkan berbagai barang di hadapannya. Ia mengecek sebentar dan kagum karena hasil kerja Abi cukup rapi untuk ukuran orang yang belum pernah bekerja secara resmi di bidang hukum.
“Bagaimana jika semua sudah selesai, kamu bekerja untukku?” tawar Indira yang dianggap hanya lelucon oleh Abi.
“Kita lihat saja, apakah ketika semua sudah selesai, aku masih hidup.”
__ADS_1
Indira terkejut dan merasa ngeri dengan ucapan itu. Ia sampai harus berdiri dan menampar pundak Abi cukup keras. “Hei, perkataan itu adalah doa. Jika memang pada akhirnya kamu akan mati, lebih baik aku berhenti mulai dari sekarang.”
Abi tidak menarik kembali ucapannya dan hanya tertawa terkekeh-kekeh.
Dan memang, seandainya rencana Indira untuk mempekerjakan Abi di kantornya nanti bisa terwujud, mereka akan menjadi duo yang dahsyat. Pekerjaan Indira benar-benar sangat dimudahkan karena pekerjaan Abi. Ia bisa menangani beberapa kasus sekaligus dan semuanya berjalan dengan sangat lancar.
Namun, yang mereka incar bukanlah kemenangan semata. Melalui kasus-kasus tersebut, mereka juga berhasil mengungkap pihak-pihak yang selama tersembunyi dan mereka yakini berkaitan erat dengan tuan Jireh. Hingga akhirnya, Indira menemukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan sebuah rahasia besar.
“Di antara masyarakat kita yang jujur dan menjunjung tinggi hukum, ada iblis yang menunggangi hukum demi melindungi para pendosa demi uang dan kuasa. Ia membebaskan orang jahat dan memenjarakan orang yang tak bersalah. Sebutkan siapa orang yang paling berbahaya dalam hidupmu? Ia lebih berbahaya dari itu, karena ia menghancurkan satu-satunya senjata terkuat yang dimiliki oleh rakyat kecil untuk mendapatkan keadilannya, yaitu hukum. Aku akan menyebutkan namanya sekarang. Ia adalah tuan Jireh!”
*
Di sebuah ruangan yang, meski sangat mewah, dipenuhi oleh aura menyeramkan, seorang pria tua duduk didampingi oleh seorang pria lain yang jauh lebih muda. Mereka berdua menatap ke layar televisi yang sedang menayangkan wawancara kontroversial Indira. Tuan Jireh tersenyum lalu berubah menjadi tawa kecil hingga akhirnya menjadi sebuah tawa yang terbahak-bahak.
“Lihat, inilah kenapa orang-orang seperti kita tidak dilahirkan untuk mencintai siapapun. Tak ada sakit yang melebihi sakit yang dibuat oleh orang yang kita sayangi,” ucap tuan Jireh pada asistennya, Jesse Arnold. “Sekarang ia menyebutku iblis yang menunggangi hukum demi melindungi para pendosa demi uang dan kuasa.”
“Setidaknya kita tahu kalau Abimanyu Alexander benar-benar masih hidup,” sambung tuan Jireh. “Tak mungkin Indira akan melakukan hal-hal yang berani seperti itu tanpa Abimanyu Alexander dan rencana-rencana bodohnya.”
“Kemungkinan besar Abimanyu Alexander ada di gedung kantor hukum itu. Menurut laporan anggota kita yang terus mengawasi Indira Christina, wanita itu jarang keluar dari sana kecuali untuk kegiatan-kegiatan penting seperti ke pengadilan atau menemui klien.”
“Kemungkinan? Bukankah kau sudah tahu kalau aku tidak suka laporan yang masih dipenuhi dengan keraguan. Seharusnya kau memastikannya terlebih dulu sebelum menyampaikannya padaku.”
“Maaf, Tuan. Sulit untuk menerobos gedung itu secara diam-diam. Wanita bernama Regina itu sering datang atau mengawasi gedung itu dari jauh.”
“Buat surat penggeledahan. Apakah kau tidak bisa melakukannya?”
__ADS_1
“Sulit. Tidak seperti orang biasa, Indira mengerti prosedur hukum dan akan sulit untuk mengelabuinya dengan surat penggeledahan yang dibuat-buat.”
“Kalau begitu, buat pengumuman kalau Abimanyu Alexander kabur dari penjara, lalu geledah gedung itu dengan alasan diduga menyembunyikan seorang narapidana yang kabur.”
Jesse Arnold tidak menjawab. Ia bingung dengan sikap tuannya yang seakan lupa dengan laporan yang pernah disampaikannya.
“Kita tidak bisa mengumumkannya sebelum mendapatkan surat itu.”
Tuan Jireh terdiam sebentar, lalu mengangguk kecil setelah mengingat sesuatu. “Ya, karena kebodohan kalian.”
“Maaf, Tuan.” Karena tuan Jireh baru mengingatnya lagi, Jesse Arnold merasa perlu untuk meminta maaf lagi.
“Setidaknya kau belajar, jika ingin menggunakan api untuk mencari sesuatu, cukup bakar ujung sumbu lilin. Bukan satu pemukiman,” sindir tuan Jireh. “Sekarang, hubungi Arya.”
Jesse Arnold segera mengambil telepon dan menekan beberapa nomor. Lama terdengar nada tunggu, lalu seorang pria mengangkat.
[Halo]
“Halo, calon gubernur kesayanganku,” kata tuan Jireh dengan nada ramah.
[Ada apa, Tuan?]
“Aku hanya ingin meminta sedikit bantuan. Bisakah kau berbicara dengan kerabatmu di kepolisian untuk menyingkirkan Aipda Marthaliza Regina Reus sejenak? Wanita itu sedikit mengganggu rencanaku.”
[Akan kuusahakan, Tuan.]
__ADS_1
“Jangan hanya diusahakan, tapi juga diperjuangkan. Aku juga tidak hanya mengusahakanmu untuk menjadi gubernur. Aku memperjuangkanmu.”
Tuan Jireh tertawa kecil, namun tawa itu adalah sebuah peringatan menyeramkan yang sanggup membuat bulu kuduk orang yang mendengarnya berdiri. Tawa yang selalu berhasil mengintimidasi lawan-lawannya.