
Untuk kesekian kalinya, nama Abimanyu Alexander membuat kehebohan di negeri ini. Hampir seluruh media memberitakan tentang kabarnya. Jika sebelumnya terkait dengan kasus yang sedang dihadapinya, kali ini adalah kasus penyerangannya. Meski pihak rutan dan kepolisian sudah berusaha untuk menutupinya, media berhasil mencium kejadian tersebut.
Berbagai analisis dan tanggapan bermunculan karena berita yang menghebohkan itu. Sebagian besar mengaitkannya pada kasus pembunuhan Mischa. Jika sebelumnya opini publik terpecah dua, antara Benjiro pelaku utama atau ada lagi dalang yang lebih besar dari Benjiro, kali ini mereka sepakat untuk opini kedua. Benjiro yang ditahan di penjara tak mungkin melakukan atau memberikan perintah untuk membunuh Abi. Pasti ada mindmaster.
Di tengah pemberitaan yang menghebohkan itu, tak ada media yang concern dengan kondisi terkini dari Abi. Mereka sibuk dengan teori-teori konspirasi yang muncul karena peristiwa itu. Padahal, menurut sebuah kabar yang beredar, luka yang dialami oleh Abi sangat fatal dan mengancam nyawanya. Kabar yang beredar juga mengatakan Abi belum berhasil melewati masa-masa kritisnya. Bahkan jika ada media yang membahas tentang kondisinya, langsung dikaitkan dengan teori konspirasi lain seperti Abi yang sebenarnya sudah meninggal, namun pihak kepolisian menutupinya agar tidak dicurigai.
Tapi publik masih menunggu berita dari Jack Off the Record. Seperti yang telah diketahui oleh banyak orang di negeri ini, sejak penampilan gemilang putrinya di persidangan kedua (sebenarnya sejak Indira diserang, tapi publik tidak mengetahui kejadian itu), Jack malah rajin menyerang Abi melalui berita-beritanya. Ia mengumbar berbagai teori dan fakta palsu terkait Abi yang tak jarang sudah sangat melewati batas. Meski tahu kalau berita yang disampaikan oleh Jack tidak bisa dipercaya seratus persen, masyarakat tetap menyukainya.
Aksinya berjalan terus tanpa gangguan mengingat dari pihak Abi sendiri tidak pernah berniat untuk menuntutnya. Indira, pengacara Abi yang juga adalah putrinya, tidak mau berurusan lagi dengan Jack. Sebelumnya, Abi juga sudah mengatakan pada Indira untuk tidak menggubris pemberitaan-pemberitaan itu dan lebih fokus untuk persidangan-persidangan yang akan mereka hadapi ke depannya.
Dan kali ini Jack memberikan judul berita yang cukup provokatif: MENUSUK DIRI SENDIRI! PENGEDAR DAN PEMBUNUH ITU BERENCANA UNTUK KABUR DARI HUKUMANNYA.
Tidak ada yang kepikiran dengan teori yang disampaikan oleh Jack, karena memang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seseorang mau menusukkan dirinya sendiri hanya untuk lepas dari hukuman? Hukuman terberat adalah hukuman mati. Bukankah menusukkan diri sendiri beresiko pada kematian? Bahkan lebih sakit daripada hukuman mati.
Abi sudah melalui masa persidangan yang panjang. Aneh rasanya jika baru sekarang ia menyerah. Apalagi kondisi saat ini menguntungkan bagi Abi. Tersangka lain telah ditemukan dan satu per satu bukti yang mengarah padanya mulai terbantahkan. Jika ia tidak mengatakan Benjiro bukanlah pembunuh Mischa, yang mana membuat hakim berpikir ia mengetahui sesuatu dan bisa saja itu adalah persekongkolan dengan Benjiro atau pembunuh aslinya, bisa jadi ia akan segera bebas. Jadi, judul berita yang dibuat oleh Jack hanyalah omong kosong.
Publik lebih percaya pada statement yang diberikan oleh putrinya di media lain, yaitu kemungkinan besar Abi diserang oleh pelaku asli dari pembunuhan Mischa. Mungkin pelaku itu sengaja mengarahkan bukti pada Benjiro, setelah gagal mengkambinghitamkan Abi. Namun, karena Abi kembali menggagalkan skenarionya, sang pelaku berusaha menyerang Abi.
“Kita tunggu saja sampai kondisi Abimanyu Alexander membaik. Setelah itu, kita akan benar-benar mengusut siapa pelaku dibalik penusukan ini,” ujar Indira dalam sebuah wawancara.
“Apakah sudah ada tersangkanya?” tanya salah satu awak media.
__ADS_1
“Untuk resminya, tentu saja kita harus menunggu hasil penyelidikan dari pihak kepolisian. Tapi, kami menduga kuat pelakunya masih ada kaitannya dengan kasus yang sedang berlangsung. Kenapa penusukan ini terjadi ketika kasusnya mulai terungkap?”
“Maksudnya, pelaku penusukan adalah orang yang sama dengan pelaku pembunuhan Mischa?”
“Bisa jadi dia, bisa jadi suruhannya, bisa jadi orang lain. Seperti kata saya, kita tunggu saja hasil penyelidikan dari pihak kepolisian.”
Selesai mengatakannya, Indira segera beranjak pergi dari tempat itu, meski para wartawan memanggilnya karena masih banyak pertanyaan yang ingin mereka ajukan.
Sebenarnya ia sendiri tidak bisa memberikan konsentrasi penuh saat menghadapi para pejuang berita itu. Ia masih kepikiran dengan kondisi Abi saat ini. Kabar terakhir yang ia dengar adalah Abi baru saja turun meja operasi. Namun, ia masih belum bisa menerima kunjungan dari siapapun, termasuk Indira.
Saat ini perasaan Indira kacau tak karuan. Ia merasa sangat sedih, bahkan lebih sedih dari yang seharusnya seorang pengacara rasakan saat kliennya mengalami penusukan. Tapi, ia harus menahannya. Ia tidak ingin bersikap emosional sehingga mengaburkan profesionalismenya. Ia harus tetap fokus dengan tugas dan tanggung jawabnya. Meski ia tak dapat menahan air matanya.
Ah, kenapa aku sampai menangis seperti ini?
Rama berjalan dengan langkah ragu-ragu. Di tangannya ada rantang berisi makanan. Ia sudah tahu kamar tempat abangnya dirawat dari kejauhan. Tentu saja, karena sudah ada beberapa polisi yang berjaga di depan pintunya.
“Yaelah, Bang. Sial banget nasib lu. Udah difitnah, dipenjara, sekarang ditusuk lagi,” celoteh Rama dengan suara cemprengnya yang menarik perhatian para polisi yang berjaga.
“Siapa?” tanya salah satu polisi saat Rama sudah berada di dekat mereka.
“Ra, Rama, Pak. Rama Alexander, adiknya Abimanyu Alexander,” jawab Rama dengan nada gugup.
__ADS_1
“Tolong tunjukkan kartu identitasnya.”
Rama mengeluarkan KTP dari dompetnya dan menunjukkannya pada polisi itu. Sang polisi menaikkan alisnya karena merasa ada yang aneh.
“Di sini tertulis namamu Kamasutra, bukan Rama Alexander.”
Mendengar nama asli Rama, para polisi yang lain tertawa. Nama yang sangat unik. Rama sendiri tak sempat untuk malu dengan nama tersebut karena sibuk merogoh tasnya dan mencari selembar kertas.
“Maaf, Pak. Lupa. Rama Alexander itu nama panggung. Kamasutra baru nama asli. Ini kartu keluarga kami.”
Rama ternyata sudah mempersiapkan diri. Ia mengeluarkan kartu keluarga mereka untuk meyakinkan para polisi tersebut. Setelah barang-barangnya diperiksa, polisi yang sudah mulai pusing karena Rama yang terus berceloteh dengan suara cemprengnya itu langsung menyuruhnya untuk masuk ke kamar Abi.
Dengan kesadaran bahwa salah seorang polisi mengintipnya dari kaca pintu, Rama berjalan dengan hati-hati mendekati Abi. Ia sempat merasa sedih melihat abangnya yang terbaring lemas di atas tempat tidurnya. Wajah Abi masih sangat pucat dan lemas.
“Lha, bisa juga lu ditikam, Bang? Katanya jawara kampung, masa’ bisa kena tusuk?”
Rama masih berceloteh dengan suara cemprengnya. Perlahan Abi membuka matanya dan melihat wajah sang adik sudah memucat sepertinya, meski karena ketakutan. Ia pun melirik ke arah barang-barang yang dipegang oleh Rama. Rantang dan tas. Lalu lirikannya berpindah ke arah pintu. Sudah tak ada lagi polisi yang mengintip.
“Kau bawa semua yang kusuruh, kan?” tanya Abi dengan nada berbisik yang dijawab dengan anggukan kepala Rama.
“Abang benar-benar mau kabur?”
__ADS_1
“Bukan kabur, tapi hanya keluar sebentar.”