Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 54


__ADS_3

Suara alarm membahana memenuhi kantor Indira, memaksa wanita bertubuh mungil itu terbangun. Kepalanya pusing karena semalaman begadang untuk mempersiapkan persidangan 3 kasusnya yang semua akan dilaksanakan dalam dua minggu ini. Tapi kemungkinan penyebab pusingnya adalah karena air mata kemarahan yang cukup banyak tertumpah tadi malam. Ia sangat marah karena perbuatan Abi di persidangan kemarin.


“Bajingan itu!” teriak Indira spontan ketika mengingat wajah Abi.


Perutnya lapar dan otaknya lelah. Ia berjalan ke arah dapur dan membuka salah satu lemari. Ada beberapa mie instan di dalamnya. Tangannya masih mengorek isi lemari lebih dalam. Akhirnya, ia mendapatkan apa yang ia cari. Ia merendam makanan itu dengan air panas lalu menunggunya masak sambil menyeduh kopi. Mie instan untuk perut lapar, kopi untuk otak lelah.


Dengan terburu-buru, ia membawa mangkuk berisi mie ke meja yang ada di depan televisi. Kopinya sudah bertengger di sana. Ia menyalakan televisi dan mencari saluran berita. Seperti dugaannya, persidangan kemarin menjadi topik paling hangat hari ini. Di saluran yang sedang ia tonton, ditayangkan sebuah acara talkshow yang membahas tentang persidangan tersebut. Indira berusaha mengenali para narasumber, tapi tak berhasil.


Kemudian, wajahnya cemberut saat acara tersebut menampilkan beberapa detik persidangan kemarin, tepatnya ketika Abi mengatakan jika bukan pria bernama Benjiro yang membunuh Mischa. Dan wajahnya berubah menjadi tersenyum ketika melihat dirinya yang menolak untuk diwawancarai pers sesaat setelah persidangan ditunda.


“Ah, cantiknya aku. Bukankah aku terlihat lebih keren jika sedang marah seperti itu? Aura luar biasaku terpancar jelas, kan?” gumam Indira. Ia tak peduli melontarkan kalimat tanya meski tidak akan ada yang menjawabnya saat itu.


Di kepalanya selalu terngiang kata-kata yang diucapkan oleh Abi sesaat sebelum petugas itu membawanya keluar ruang persidangan.


“Jika ia membunuh Mischa, kenapa ia harus mencari kambing hitam? Jika ia tidak membunuh Mischa, kenapa ia merekayasanya sehingga terlihat seperti pembunuhan? Kebakaran itu bukan kecelakaan, tapi jelas dilakukan secara sengaja dengan tujuan menunjukkan mayat itu pada publik. Kenapa? Lalu, kenapa ia sangat percaya diri sehingga datang ke setiap persidangan? Aku berjanji, aku akan berhenti jika sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.”


“Hei, sejak awal kita sudah berjanji untuk tidak menyimpan rahasia apapun terkait kasus ini. Ini masalah kepercayaan. Jika klien tidak percaya pada pengacaranya, maka tugas pengacara itu sudah selesai,” respons Indira kala itu.


Sekarang Indira kebingungan dengan statusnya. Apakah ia masih menjadi pengacara Abi atau kata-katanya itu menjadi pertanda kalau hubungan pengacara-klien mereka telah berakhir? Matanya menerawang ke langit-langit ruangan. Ia harus mengambil keputusan sebijaksana mungkin untuk itu.


Di tengah menikmati acara berita bersama semangkuk mie instan dan segelas kopi, Indira diganggu oleh suara teriakan tukang pos di depan pintu kantornya. Seperti membutuhkan banyak tenaga, ia mengambil ancang-ancang untuk berdiri dan berjalan menyambut sang tukang pos. Ia sudah bisa menebak apa yang akan diantarkan pria itu.


“Surat lamaran lagi?” Demikian Indira membalas sapaan ramah dari sang tukang pos.

__ADS_1


“Iya, Mbak,” jawab pria itu.


“Banyak, ya?”


“Banyak, tapi tidak sebanyak kemarin.”


Tukang pos itu menyerahkan beberapa amplop besar pada Indira lalu pamit pergi. Indira membawa tumpukan amplop itu lalu meletakkannya ke atas meja yang sudah dipenuhi oleh benda yang sama.


Sejak penampilannya yang impresif di persidangan kedua Abi, banyak orang yang mencari tahu tentangnya. Secara otomatis, kabar tentang dirinya yang baru membuka kantor hukum tersebar luas. Karena itu, banyak lulusan sekolah hukum yang melamar untuk menjadi pengacara atau hanya sekadar magang di sana. Tiap hari ada lamaran yang masuk ke kantornya. Mengingat makin banyaknya kasus yang ditanganinya, sebenarnya ia sangat membutuhkan rekan kerja. Namun, ia cukup lelah untuk menyeleksi lamaran yang sudah menggunung itu.


Ia tidak menyangka kalau akan mendapat pengakuan secepat ini. Apalagi sebelum membuka kantor, ia mengalami hal yang memalukan dan memiliki catatan persentase kemenangan yang sangat rendah. Mau tidak mau ia harus mengakui kalau semua karena Abi. Jika ia tidak menangani kasus Abi, mungkin saat ini belum ada satu klien pun yang ia miliki.


Ia jadi teringat dengan ucapannya kemarin, yang mempertanyakan tentang kepercayaan Abi padanya. Setelah dipikir-pikir, pria itu telah memercayainya sejak awal. Jika tidak, tak mungkin ia mau mempekerjakan seorang pengacara pecatan yang baru saja membuka kantor hukum untuk kasus sebesar itu.


Tiba-tiba terdengar pintu kantornya dibuka oleh seseorang. Mungkin seorang calon klien. Indira menyesal karena lupa mengunci pintunya kembali setelah menerima kiriman dan tukang pos. Ia masih belum bersiap-siap untuk menerima calon klien pagi ini.


“Maaf, dengan siapa, ya?”


Seorang pria tinggi kurus tersenyum membelakangi pintu yang baru ditutupnya. Ia memakai setelan yang sangat rapi dan tangannya memegang payung hitam yang gagangnya memiliki ukiran yang merah. Sesekali ia membetulkan posisi kacamatanya yang terlihat klasik.


“Selamat pagi, Nona. Perkenalkan, saya Jesse Arnold. Kedatangan saya ke sini adalah untuk konsultasi sedikit tentang hukum mewakili bos saya, tuan Jireh.”


                  *

__ADS_1


Regina masih serius membaca berita tentang persidangan Abi. Meski sudah berikrar sudah tidak mau lagi berhubungan dengan Abi, ia tidak bisa menutup kepeduliannya pada sahabat sejak kecilnya itu.


Iptu Nyoman melewati ruangan itu. Seluruh petugas yang sebelumnya santai dengan kegiatan pribadi mereka, kini langsung bersikap serius. Hanya Regina yang tetap santai membaca berita di komputernya.


“Hei, kerja yang benar. Jangan baca berita saja,” tegur sang atasan.


Regina hanya menunjukkan wajah bagian atasnya saja, sementara sisanya tertutup layar monitor. Ia sama sekali tidak takut karena tahu Iptu Nyoman tidak benar-benar serius menegurnya.


“Pak, saya ingin pindah,” katanya tiba-tiba.


“Baguslah. Sudah lama aku menyuruhmu pindah,” ujar Iptu Nyoman yang wajahnya sudah menunjukkan senyuman. “Sudah dapat tempatnya? Atau perlu bantuan istriku? Dia tahu lingkungan di sekitar sini, termasuk kontrakan kosong.”


“Bukan, bukan pindah rumah. Saya mau dipindahtugaskan.”


Mendadak kaki Iptu Nyoman lemas, seperti kehilangan persendiannya. Bagaimana tidak? Salah satu anggota terbaiknya, yang sudah ia anggap sebagai adik perempuannya sendiri, tiba-tiba ingin pergi darinya.


“Ke, kenapa? Kau ada masalah di sini? Siapa yang mengganggumu? Siapa?!”


Semua orang menatapnya dengan ketakutan, membuat Regina merasa malu.


“Aih, bukan karena itu. Saya punya alasan pribadi.”


“Alasan pribadi apa?”

__ADS_1


Regina terdiam sambil berpikir. Bibirnya dimanyunkan seraya jarinya mengetuk-ngetuk meja. Kemudian ia berkata, “Saya hanya ingin orang jahat yang saya kenal mendapatkan hukuman yang setimpal.”


__ADS_2