
Suasana ruangan itu mendadak mencekam. Terdengar suara tawa tuan Jireh dari ponsel yang Abi pegang. Regina ikut tegang melihat ketegangan di wajah Abi
“Apakah akhirnya kau bertindak sepengecut ini karena sudah terlalu putus asa?” tenya Abi mencoba untuk memprovokasi.
[Bisa dikatakan seperti itu.]
“Aku salah karena terlalu memandangmu tinggi sebagai lawanku.”
[Apa yang kau harapkan dariku? Aku sudah tua, baru saja mengalami kekalahan telak dan banyak hal.]
Abi mengerti keadaan yang dialami tuan Jireh. Organisasi Raja Pati yang sudah hancur dan anggotanya dalam pengejaran polisi. Bukan hanya itu, kementerian hukum juga melakukan kegiatan bersih-bersih secara serius. Sebagian besar hakim dan jaksa yang selama ini berada di bawah kendalinya sudah ditangkap. Sisanya, ketakutan menunggu giliran ditangkap dan memutuskan komunikasi dengannya. Sementara Jesse Arnold, orang yang selama ini selalu ia andalkan, sudah tewas. Ia benar-benar sendiri.
“Bukankah Indira adalah orang yang paling berharga bagimu? Bagaimana bisa kau melukainya?”
[Kenapa tidak bisa? Ia bahkan menghinaku dengan pengkhianatan yang telah dilakukannya. Bahkan, walaupun ia anak kandungku, aku tetap akan membunuh orang yang telah mengkhianatiku.]
Abi bingung harus berkata apa lagi. Ia takut memprovokasi tuan Jireh terlalu berlebihan. Nyawa Indira sedang terancam di tangan pria tua itu. Matanya menatap Regina yang sudah sibuk menghubungi rekan-rekannya di kepolisian.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Abi.
[Pasti kau tak menyangka jika saat ini kau mengajukan pertanyaan yang telah membuatmu muak itu padaku. Baiklah, aku hanya ingin meminta kau melakukan satu hal. Hal yang sangat mudah bagimu.]
“Katakan saja. Tidak usah berbelit-belit.”
[Aku ingin kau mewawancarai Nyonya Hemas dan ditayangkan secara langsung. Aku ingin ia terlihat jelas di televisi. Seluruh tubuhnya. Tapi, setengah tubuhnya juga tidak apa-apa. Akan sulit baginya untuk berdiri selama wawancara. Bukankah kau sangat suka dengan wawancara?]
Abi mengernyitkan keningnya. Ia sama sekali tidak mengerti maksud dari tujuan permintaan aneh itu.
“Bagaimana aku bisa mewawancarainya? Aku tidak punya otoritas untuk itu. Lagipula, aku bukan wartawan. Aku tak punya keahlian untuk mewawancarai.”
__ADS_1
[Ayolah, bahkan untuk menghancurkanku, kau bisa memikirkan caranya. Kau bisa meminta tolong pada teman polisimu itu. Apakah ia ada di sana? Katakan saja padanya sekarang.]
Abi semakin curiga dengan tuan Jireh. Bahkan, ia sama sekali tidak takut jika polisi terlibat.
“Apakah kau ingin mendengar sesuatu dari wanita itu?”
Lama tidak terdengar apa-apa dari seberang. Sepertinya, tebakan Abi benar. Sayangnya, ia tidak bisa menebak lebih dari itu.
[Katakanlah demikian. Aku menunggu kabar baik darimu. Kesabaranku hanya sampai besok saja. Jika lewat dari itu, mungkin aku akan mengingat amarahku pada kekasihmu.]
Tuan Jireh menutup teleponnya. Abi hanya bisa terpaku karena tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Regina. Saat ini yang ada dipikirannya hanyalah keselamatan Indira. Regina menyadari kecemasan itu dan menghiburnya.
“Kita pasti akan menemukannya,” ujar Regina.
“Aku sudah tahu mereka ada di mana,” kata Abi dengan wajah tegangnya. “Tapi, aku tidak tahu pasti lokasinya. Aku takut kita takkan bisa menemukannya hanya dalam waktu sehari.”
*
Ia memutar kepalanya dan melihat dua orang pria dari salah satu stasiun televisi yang akan menemaninya mewawancarai Nyonya Hemas. Salah satu di antara mereka bertindak sebagai juru kamera, sedangkan satunya adalah reporter senior yang akan memandu Abi saat mengajukan pertanyaan nanti.
“Jangan tegang. Rileks saja,” ujar reporter senior itu sambil menepuk pundak Abi. “Yang penting, jangan terlalu dipaksa, apalagi kondisimu saat ini belum pulih benar.”
Seharusnya Abi masih perlu beristirahat dan tidak boleh melakukan banyak pergerakan karena lukanya belum sembuh. Tapi, demi keselamatan Indira, ia harus tetap melakukan wawancara ini dengan bantuan obat penahan rasa sakit.
“Aku tidak punya pengalaman mewawancarai orang,” kata Abi.
“Kami akan membantu. Lagipula, kami berterima kasih karena kau memilih kami untuk wawancara eksklusif ini.”
“Aku hanya terpikir stasiun televisi kalian karena kalian bersedia menayangkan wawancaraku dan mendiang Jack beberapa waktu yang lalu.”
__ADS_1
Memang, mewawancarai Nyonya Hemas merupakan kesempatan emas yang dapat membuat rating acara akan melejit. Mungkin, jika bukan Abi yang mengusahakannya, mustahil untuk mewawancarai tokoh yang saat ini paling kontroversial tersebut.
Abi sendiri berjuang cukup keras untuk mendapatkan izin mewawancarai Nyonya Hemas. Ia harus mengajukan permohonan kepada Kakanwil Kementerian Hukum dan HAM setempat dan direktur jenderal pemasyarakatan. Kebetulan, kedua orang tersebut sangat sulit ditemui sehingga ia membutuhkan bantuan dari pihak khusus, yaitu netizen. Tentu dengan caranya yang biasa, yaitu memanfaatkan media.
Beberapa orang petugas polisi keluar dari pintu masuk lapas tersebut dan membimbing jalan mereka menuju sebuah ruangan tempat Nyonya Hemas sekarang berada. Ada perasaan gugup menghinggapi mereka bertiga. Ini akan menjadi sebuah wawancara yang penting bagi mereka.
Akhirnya, mereka sudah sampai di ruangan tersebut. Di dalam sudah menunggu dua orang petugas wanita dan Nyonya Hemas duduk di antara mereka. Tangannya sudah terpasang borgol yang menempel di meja. Abi dan kedua orang dari stasiun televisi semakin gugup melihat sosok yang selama ini hanya mereka ketahui dari media beberapa puluh tahun yang lalu.
Si juru kamera segera mempersiapkan peralatannya. Ia meminta salah satu petugas wanita itu untuk memasangkan mikrofon pada Nyonya Hemas. Reporter senior menghubungi studio dan berkomunikasi dengan produser di sana untuk mengkonfirmasi kesiapan mereka. Lalu, sang reporter memberikan aba-aba sebagai tanda wawancara bisa dimulai.
“Selamat sore, Nyonya. Apa kabarnya?”
“Kau pasti sudah tahu bagaimana kehidupan di dalam penjara. Memuakkan. Makanannya seperti sampah.”
Abi terdiam. Ia tidak memberikan hati untuk wawancara ini. Ia seperti terpaksa melakukannya. Demi Indira, Abi akan berusaha untuk bersabar.
“Tentu saja. Puluhan tahun Anda dipenjara di sel yang mewah dan makan makanan yang harganya lebih tinggi dari penghasilan sebagian besar buruh di negeri ini.”
Nyonya Hemas menatap Abi dengan tajam seakan hendak membunuhnya. “Apakah kau yang bernama Abimanyu Alexander itu? Kau memang sangat mirip dengan ayahmu.”
Mendengar wanita itu membahas ayahnya, jantung Abi berdetak lebih kencang. Sekarang pikirannya bercabang pada kondisi Andika saat ini di lapas Maharaja. Ia pun mencondongkan tubuhnya ke arah Nyonya Hemas. Tatapannya berubah, menjadi lebih tajam dari sebelumnya.
“Sekarang, kita langsung kepada inti pembicaraan saja. Apa yang pria itu inginkan darimu?”
Nyonya Hemas merasa sedikit ngeri melihat tatapan itu. Ada sedikit perasaan gugup di hatinya. Ia tidak menyangka, bocah ingusan itu mampu mengintimidasinya yang sudah hampir berumur seabad itu.
“Kau pasti akan menangis jika mengetahui kondisi Andika Alexander saat ini,” ujar Nyonya Hemas dengan senyum jahatnya.
Tiba-tiba, Abi memegang tangan kiri wanita itu. Kedua orang dari stasiun televisi dan para polisi yang berjaga di sana bingung dengan kelakuan Abi tersebut. Terlihat wajah sang mantan ibu negara memucat seperti sedang melihat hantu. Sementara, Abi hanya menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
“Aku mengerti. Jadi, itu yang ingin kau sampaikan pada Jireh.”