
Abi duduk termenung di dalam ruang arsip perusahaan karena pikirannya buntu. Ada satu situasi yang berada di luar perencanaannya, yaitu keberadaan dokumen perumahan Naga Mulia atau proyek di pulau reklamasi yang ia cari. Ia tidak tahu di mana lokasi dokumen itu disimpan.
Dulu, Abi menemukan dokumen perumahan Naga Mulia, yang berhasil ia salin dan disimpan di kamarnya, dari sebuah brankas yang ada di ruang arsip. Karena masalah waktu, ia hanya sempat menyalin beberapa lembar dokumen saja. Tapi sekarang, bahkan brankasnya tidak ada lagi.
Sementara, ruangan itu memiliki belasan lemari dengan masing-masingnya terdiri dari belasan laci dan setiap laci menyimpan puluhan folder dokumen. Yang menyebalkannya adalah tidak diberikannya label jenis dokumen pada tiap laci. Apakah ia harus memeriksa masing-masing laci, sementara ia harus keluar setengah jam lagi, yaitu waktu biasanya petugas kebersihan terakhir pulang.
Tiba-tiba Abi sadar kalau bukan hanya tidak ada brankasnya, tapi susunan lemarinya juga berubah. Kemudian, ia membuka salah satu laci, dan tebakannya benar. Laci itu kosong. Pasti ketika perusahaan menerima gugatan, seluruh dokumen disita. Pantas saja sudah tidak ada label penanda di setiap laci.
Abi pun mengingat susunan lemari saat ia bekerja dulu. Ia memperhatikan juga jejak lantai bekas lemari yang digeser paksa. Kemudian ia tersenyum saat sadar ada lemari yang perubahan posisinya sangat menonjol. Dengan perlahan, ia menggesernya lalu mengetuk lantai bekas pijakannya. Suaranya nyaring, menandakan ada ruang tepat di bawah lantai. Abi pun segera mencari benda yang berfungsi sebagai kenop.
Akhirnya, ia berhasil menemukan benda itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menarik dan lantai itu terangkat. Senyum Abi mengembang ketika melihat brankas itu terletak rapi di dalamnya. Ia pun mengangkatnya dengan hati-hati.
Abi sedikit kewalahan mencari dokumen yang sudah dipesankan oleh Indira. Daripada menghabiskan waktu untuk mencari, ia memutuskan untuk mengambil foto semua dokumen yang ada di dalam brankas.
Tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh salah satu dokumen. Di sana tertulis sebuah nama yang rasanya tak asing bagi Abi. Theodore Fransiskus, orang yang sedang menjabat sebagai gubernur provinsi ini. Abi membaca dokumen itu dengan teliti dan menemukan hubungan erat antara gubernur itu dengan proyek PT. Laras Jaya Karya di pulau Sarden.
*
Indira merasa gelisah karena sepanjang umurnya, baru kali ini ia duduk berhadapan dengan papanya dalam situasi setenang ini.
Berbeda dengan Jack yang sedari tadi tak lepas dari senyumnya. Ini adalah momen yang telah lama dinantinya. Andai Ratih ada di sini, maka semakin sempurnalah.
“Kau mau makan apa lagi?”
“Apalagi yang bisa dimakan di minimarket selain makanan instan?” jawab Indira ketus. “Mie ini sudah cukup buatku. ”
“Apakah kita perlu makan di tempat lain?”
__ADS_1
“Tidak usah. Kita sama-sama masih punya urusan di sini. Lagipula, ini sudah larut malam.”
Jack mengangguk tanda setuju. Tapi, itu tak menghalanginya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi putrinya. Tanpa diminta, ia memesan kopi untuk Indira.
“Jadi, kau ingin meminta bantu apa?”
Indira masih belum memikirkan bantuan apa yang bisa ia minta pada Jack, meski hanya sebuah dalih untuk mengalihkan perhatiannya.
“Eh, itu…”
“Terkait kasus Abimanyu Alexander?” tebak Jack yang membuat wajah Indira terkejut. Terakhir, sang ayah sangat menentangnya berurusan dengan Abi. Apakah sekarang ia masih akan melakukan hal yang sama?
“Ya, begitulah.”
“Tidak perlu ragu-ragu seperti itu. Awalnya papa memang tidak setuju dengan keputusanmu itu, tapi melihat performamu di pengadilan, aku merasa tenang. Jadi, papa akan membantumu,” kata Jack sambil tersenyum. Indira sama sekali tidak menduga respons itu. “Apakah kau mau tahu tentang Benjiro? Kebetulan, beberapa waktu yang lalu, papa melakukan wawancara eksklusif padanya.”
Indira membelalakkan matanya. Ia seperti sedang menemukan harta karun besar di tempat yang tak terduga.
Jack merasa senang bisa melihat binar di wajah anaknya itu secara langsung. Selama ini, ia hanya bisa melihat hal seperti itu dari televisi saja, saat Indira menjalankan tugasnya sebagai penasehat hukum Abimanyu Alexander.
“Benar kata bocah sombong itu, bukan Benjiro yang membunuh Mischa.”
“Lalu, siapa? Apakah ada dalang besar di balik semua kejadian ini? Jika ada, siapa? Apakah Benjiro menyebut identitasnya? Apakah polisi sudah tahu?”
“Hei, tenang. Ajukan pertanyaanmu satu per satu,” kata Jack sambil tertawa kecil. “Sepertinya klienmu itu juga sudah mengetahui penyebab kematian Mischa.”
Indira semakin antusias. Ia yakin jawaban yang akan diberikan oleh papanya akan identik dengan apa yang Abi pikirkan.
__ADS_1
“Jadi, apa penyebab kematiannya?”
“Serangan jantung,” jawab Jack yang langsung menjatuhkan Indira ke kubangan kekecewaan. “Kudengar, seorang pria yang mirip bocah sombong itu mencuri rekam medis rumah sakit langganan Mischa. Ternyata itu adalah adiknya. Ia pasti sudah memberitahu abangnya kalau Mischa memiliki penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. Sebelumnya, ia juga pernah beberapa kali mengalami serangan jantung.”
Indira masih kecewa. Jika ucapan Jack benar, artinya tidak ada 'orang berbahaya' yang disebutkan Abi. Itu artinya, Abi membohonginya dan ia punya maksud yang lain untuk tinggal di penjara. Mungkin berkaitan juga dengan apa yang sedang mereka lakukan sekarang.
*
Abi baru saja berhasil melewati pos penjagaan dengan lancar. Ia tersenyum lega karena bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik dan tepat waktu.
Ia melangkahkan kakinya ke parkiran. Sudah tak sabar ia melihat wajah Indira saat mendengar sebuah informasi mengejutkan yang baru ia temukan.
Namun, ia harus menunda keinginannya itu ketika melihat mobil tempat Indira seharusnya menunggu dalam keadaan kosong.
Ah, itu dia.
Abi melihat Indira yang sedang menyantap mi instan di dalam minimarket seberang gedung. Ia pun memutuskan untuk menghampirinya.
Indira masih belum menyadari kedatangan Abi sampai ia sudah berada di depan pintu minimarket. Wajar jika ia terkejut ketika melihat Abi tersenyum menyapanya.
“Aku mendapatkannya. Bukan hanya itu, aku juga menemukan -”
Abi terdiam ketika ia sadar ada yang aneh karena wajah Indira yang terkejut. Kemudian, ia sadar kalau ada seorang pria yang sedang menemani pengacaranya itu.
Jack, yang posisinya membelakangi Abi, bingung melihat wajah Indira yang ketakutan hingga pucat. Ia membalikkan badannya untuk mencari tahu apa yang mengejutkan putrinya. Kini, ia dan Abi saling bertatapan.
“Abimanyu Alexander?” ucap Jack dengan nada gemetar. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Sementara Indira kesal karena usahanya untuk membuat Jack tidak bertemu dengan Abi gagal.
__ADS_1
Tiba-tiba terlintas di pikiran Abi salah satu ucapan Siti V yang ia katakan tadi.
“Tuan Jireh memiliki ikatan yang cukup dekat dengan wanita itu.”