Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 58


__ADS_3

Mobil tahanan itu berhenti di belakang kantor polisi. Mereka menghindari serbuan wartawan yang biasanya sudah menunggu di depan. Polisi yang menyetir segera bergegas membuka pintu belakang mobil. Dari pintu itu, dua orang petugas keluar sambil membawa seorang tahanan. Ia adalah Abi.


Abi meletakkan tepi telapak tangannya yang terborgol di kening untuk menghalangi cahaya matahari yang silau menusuk matanya secara langsung. Ia menatap kantor polisi itu sambil mengingat kenangan buruknya beberapa minggu yang lalu, saat ia disiksa setelah tertangkap membawa sabu-sabu.


Berhubung adanya temuan baru di persidangan terakhir, hari ini Abi dijadwalkan untuk pemeriksaan ulang. Ia harus menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari para penyidik.


“Sepertinya kita terlalu cepat datang. Apakah tidak sebaiknya kita minum kopi dulu?” seloroh Abi yang tak ditanggapi para petugas.


Mereka membawa Abi masuk melalui pintu belakang kantor polisi dan melewati koridor yang berliku-liku. Hingga akhirnya mereka berdiri di ruangan yang tak asing baginya: ruang interogasi.


Salah satu petugas menautkan borgol di tangan Abi ke meja. Lalu mereka keluar meninggalkan Abi sendirian. Meski sudah mempersiapkan mental untuk apapun yang akan terjadi saat pemeriksaan nanti, ia masih merasa gugup.


“Selamat siang. Perkenalkan, saya Aipda Marthaliza Regina Reus dan rekan saya, Briptu Slamet. Apakah sebelumnya Saudara sudah mengerti maksud dan tujuannya sehingga dilakukan pemeriksaan sekarang ini? Jika mengerti dalam perkara apa?”


Abi tercengang melihat orang yang ada di hadapannya, yang memperkenalkan dirinya sebagai penyidik yang akan memeriksanya. Wanita itu adalah Regina, sahabat dekatnya sejak kecil.


“Bukankah ini pemeriksaan ulang untuk kasus pengedaran narkoba dan pembunuhan terhadap Mischa Radjasa?” Abi balik menanya.


“Baik, berarti Saudara sudah mengerti. Mohon kerjasama yang baik untuk pemeriksaan ini.”


Regina sama sekali tidak melihat ke mata Abi, meski ia sadar kalau Abi terus menatapnya. Wajahnya pun terlihat serius. Abi tidak pernah melihat sahabatnya itu bersikap demikian padanya. Ia teringat dengan kata-kata mamanya kemarin, kalau ia harus meminta maaf pada Regina dan ia sudah berjanji akan melakukannya. Tapi, melihat situasinya, ia tidak yakin kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk meminta maaf. Bahkan mereka terlihat terlalu bersemangat untuk pura-pura saling tidak mengenal.


“Baik, Bu. Saya akan bekerjasama sebaik mungkin,” kata Abi yang memutuskan untuk bersikap seolah tidak mengenalnya juga dan berbicara dengan bahasa resmi.


“Apakah Saudara mengenal Benjiro Michael? Apa hubungan Saudara dengannya?”


“Saya tidak mengenalnya secara pribadi. Saya hanya mendapatkan informasi tentangnya dari penasihat hukum saya.”

__ADS_1


“Bagaimana penasihat hukum Saudara mendapatkan informasi tentangnya?”


“Melalui investigasi. Dia hebat dalam melakukannya.”


“Kenapa dia melakukan investigasi tersebut? Apakah sudah sejak awal Saudara atau penasihat hukum Saudara tahu kalau Benjiro Michael yang menjebak Saudara?”


“Tidak. Saya hanya menyebutkan ciri-ciri orang yang memberikan paket narkoba untuk saya kirim di hari ketika saya ditangkap. Kemudian, berangkat dari ciri-ciri yang saya sebutkan, pengacara saya melakukan investigasi dan menemukan nama Benjiro. Sebelumnya, kami tidak pernah mengenalnya, bahkan mendengar namanya pun tidak.”


Regina mengetuk pena di tangannya ke atas meja sambil menatap berkas yang ada di hadapannya. Sementara Abi masih menatapnya dengan senyuman. Meski tidak tahu hubungan keduanya, Briptu Slamet yang menjadi rekan Regina merasakan aura yang menyeramkan di antara mereka.


“Mengapa Saudara tidak pernah mengatakan pada penyidik sebelumnya tentang ciri-ciri orang tersebut?”


“Bagaimana bisa? Mereka terus memaksa saya mengatakan jika orang itu adalah Mischa. Itulah yang membuat para polisi itu menyiksa saya,” kata Abi. Ia sengaja menggunakan kata ‘para polisi’ untuk memancing reaksi marah dari Regina. Wanita itu sendiri yang pernah mengatakan kalau banyak anggota polisi yang membencinya dan memberinya gelar si pengadu karena mengungkap penyiksaan yang dilakukan oleh oknum polisi saat menginterogasinya dulu.


“Apakah Saudara yakin kalau Benjiro adalah orang yang Saudara temui saat itu?”


Lagi-lagi Abi memprovokasi Regina dengan membahas kedua penyidik itu lagi. Namun, polwan cantik itu masih bisa mengontrol emosinya dengan baik. Bahkan, ia seperti sengaja menghindari pembahasan tentang Aipda Carlos dan Briptu Donny, rekan seprofesinya yang terus dibicarakan oleh Abi, dan memilih fokus pada pertanyaan tentang Benjiro.


“Bisa Saudara sebutkan ciri-ciri yang Saudara lihat dan sampaikan pada penasihat hukum Saudara terkait Benjiro?”


“Entah kebetulan atau tidak, posturnya memiliki banyak kesamaan dengan Mischa. Tinggi badan sekitar 180 cm, kurus, warna kulit putih dan mata sipit. Hanya saja, ia memiliki mata kirinya yang biru, tubuhnya agak bungkuk, ada bekas luka bakar di telapak tangannya, kaki kanannya sedikit lebih panjang sehingga saat berjalan sedikit terlihat pincang, serta logat Jepang yang agak samar.”


“Jadi, hanya dengan ciri-ciri seperti itu, penasihat hukum Saudara bisa menemukan Benjiro?”


“Tentu saja dengan tambahan satu faktor penting yang sangat membantu,” kata Abi. “Ia pasti pengedar narkoba karena sulit bagi orang biasa mendapatkan sabu-sabu sebanyak yang ia titipkan padaku itu.”


Abi sengaja merahasiakan tentang koin VIP dari klub milik bos Dirga. Regina tidak perlu tahu hubungannya dengan raja kasino itu, apalagi setelah perubahan sikapnya itu.

__ADS_1


“Bagaimana Saudara dan penasihat hukum Saudara mengambil kesimpulan kalau Benjiro adalah pelaku pembunuhan itu?”


Abi menghela napas  panjang. Ia mencondongkan badannya ke depan dengan siku di atas meja sebagai penopang tubuhnya. “Saya sudah mengatakan ini di pengadilan dan sepertinya seluruh negeri sudah pernah mendengarnya. Pria itu bukan pembunuhnya. Ia hanya merekayasa kematian Mischa, entah apa alasannya.”


“Ya, maksud saya, bagaimana Saudara dan penasihat hukum Saudara bisa menyimpulkan kalau dia yang merekayasa kematian Mischa?”


“Bukankah tidak sulit untuk mengetahuinya? Bahkan saya yakin jika polisi juga sudah mengetahuinya sebelum persidangan itu. Mungkin tidak secara instansi, tapi tidak mungkin tidak ada salah satu anggota kepolisian yang tidak bisa mengetahuinya.”


Untuk pertama kalinya, Regina menatap mata Abi, bahkan dengan tatapan yang tajam. Ada makna tersembunyi dari kata-kata yang diucapkan oleh sahabat lamanya itu dan ia memahaminya.


“Maksud Saudara?”


“Maksud saya, pasti ada seorang polisi yang menginterogasi Aipda Carlos dan Briptu Donny lalu mendapat nama Benjiro. Kemudian, ia mencoba menangkapnya,  tapi bajingan itu harus dilepaskan karena kurangnya bukti,” terang Abi sambil tersenyum. “Atau lebih tepatnya, karena perintah atasan.”


Regina dan Abi saling menatap. Tak ada kata-kata, hanya saling menatap. Regina sangat tahu apa yang dibicarakan oleh Abi.


Tanpa sepengetahuan Abi, bahkan tanpa sepengetahuan rekan-rekan kerjanya, selama ini Regina diam-diam menyelidiki kasus Abi. Ia mencari tahu keberadaan dua penginterogasi dan penyiksa Abi, Aipda Carlos dan Briptu Donny, yang hilang tanpa jejak.


Pada akhirnya, ia bertemu dengan Briptu Donny yang bersembunyi di sebuah daerah. Polisi itu memberitahukan Regina tentang dua hal: nama Benjiro dan kenyataan bahwa instansi tempatnya mengabdi tidak sebersih yang ia percaya selama ini.


Menurut Briptu Donny, banyak pihak yang terlibat dalam kasus Abi, termasuk beberapa pejabat kepolisian. Akan sulit baginya untuk menangkap Benjiro hanya dengan mengandalkan sedikit bukti. Apalagi kasus itu berada di luar wewenangnya. Karenanya, ia mencoba menangkap pria itu untuk kejahatannya yang lain, yaitu pembunuhan salah satu pengedar narkoba.


Sayang, meski ia sudah mengumpulkan bukti yang cukup kuat untuk menahannya, pria itu dapat bebas hanya dengan satu perintah lisan dari atasannya. Semuanya tepat seperti yang Abi katakan. Hanya saja ia malu mengakuinya.


“Saya merasa Saudara tahu terlalu banyak,” ujar Regina dengan suara yang tertahan.


“Saya akan mengatakan semua yang saya ketahui dan yang ingin Ibu ketahui,” balas Abi, kini tanpa senyum dan hanya tatapan tajam.

__ADS_1


__ADS_2