Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 40


__ADS_3

“Apa? Kamu mau aku menangani kasus lain?” tanya Indira dengan wajah keheranan. “Aku sudah disibukkan dengan kasusmu. Belum lagi aku juga menangani kasus tante Jenny, ibumu. Aku memang butuh uang, tapi aku tetap ingin all out dalam setiap kasusku. Jika aku menerimanya, aku yakin takkan bisa tampil all out.”


“Untuk kasusku, aku dan Rama akan membantu apapun yang kau butuhkan. Untuk kasus mamaku, bukankah sudah hampir berakhir? Berkat kecerdasanmu, kejadian yang sebenarnya terungkap dan kudengar Totok akhirnya mau mengaku kalau itu adalah perbuatannya. Tinggal mencari dalangnya dan kasus itu selesai. Kau pasti bisa tetap all out untuk kasus kami. Kalaupun tidak, aku takkan pernah menyalahkanmu. Aku janji.”


“Kenapa kamu sengotot itu menawariku kasus ini? Aku sudah tahu kalau kamu bukanlah orang baik. Pasti ada pamrih yang kamu harapkan.”


“Itu benar, tapi aku tak bisa mengatakannya sekarang. Aku tahu kau pasti akan hebat dalam menangani kasus KDRT.”


“Aku tidak pernah menangani kasus demikian. Aku hanya menangani kasus -” Kalimat Indira terputus karena ia menyadari sesuatu. “Sebentar, ini kasus KDRT?”


Abi mengangguk untuk menjawab pertanyaan Indira tersebut. “Kau butuh lebih banyak portofolio untuk kantormu nanti. Jika kau hanya mengandalkan kasusku, ke depannya kau akan mendapat kasus besar lainnya dan klienmu belum tentu sepintar dan sekooperatif aku.”


“Maksudmu, kasus KDRT bukan kasus besar dan sulit? Masih banyak pelaku KDRT yang mendapatkan hukuman ringan atau bahkan dibebaskan sehingga walau sudah menang, korbannya seringkali merasa dirugikan karena keputusan dari hakim. Bahkan sangat sering pelaku KDRT melakukan kembali kejahatan serupa ketika bebas dari penjara.”


“Baik, baik. Aku takkan meremehkan kasus KDRT. Berarti, kau bersedia untuk menerima kasus tersebut?”


“Tentu saja aku menerimanya,” kata Indira yang sudah bisa menyunggingkan senyumnya. “Kamu tahu? Jika di hari pertama kantorku buka, kamu tidak menghubungiku untuk menangani kasusmu, mungkin kantorku dikhususkan untuk laporan kasus KDRT saja.”


“Baiklah kalau setuju. Rama akan mengantarmu ke rumah wanita itu. Sepertinya ia masih belum mau menuntut suaminya. Jadi, tugasmu adalah membujuknya. Jika perlu, kau bisa mengatakan kalau jasa ini gratis.”


“Ah, sial sekali!”


Abi terkejut mendengar bentakan Indira. Baru kali ini ia dibentak oleh wanita itu. Untungnya, Abi langsung sadar kalau bukan dirinya yang menyebabkan kekesalan itu.


“Kau tidak bisa? Atau karena gratis?”

__ADS_1


“Bukan, bukan. Aku hanya kesal saja harus membujuknya. Dari beberapa kasus KDRT yang pernah kuikuti, problem terbesar adalah korban KDRT. Kebanyakan dari mereka berpikir itu adalah masalah keluarga yang tak perlu dibesar-besarkan agar keluarganya tidak hancur. Meski jika bertahan, tubuh dan hidup mereka yang hancur.”


“Aku yakin kau pasti bisa.”


Indira masih ragu, tapi motivasi yang diberikan oleh Abi membuat keraguannya mulai terkikis. Hingga akhirnya ia berkata, “Baik, akan kucoba. Besok aku akan ke rumahnya.”


                  *


Indira sibuk dengan tabletnya sejak tadi. Ia tak peduli dengan keramaian di rest area tempatnya istirahat saat ini. Ia juga tak lagi memperhatikan Rama yang datang dari minimarket dengan langkah tertatih-tatih.


“Kenapa Kakak senyum-senyum dari tadi?” tanya Rama sambil memberikan salah satu es krim dari tangannya.


“Tidak, aku hanya senang bisa menangani kasus selain kasus Abi dan tante Jenny. Kasus KDRT pula. Bisa dibilang, aku jadi pengacara karena ingin mendedikasikan diri untuk membela para korban KDRT,” jawab Indira dengan nada penuh semangat. “O ya, bagaimana dengan lukamu? Hebat juga fisikmu bisa pulih secepat ini. Belum ada seminggu, kamu sudah bisa membawa mobil ke luar kota.”


“Lho, Kakak belum tahu? Rama itu masih punya hubungan saudara dengan Wolverine dan Deadpool, jadi punya healing factor juga seperti mereka.”


“Siapa itu Wolverine dan Deadpool?”


“Oke, tak usah lagi kita bahas itu. Lalu, kenapa Kakak senang menangani kasus KDRT?” Rama mengganti topik pembicaraan karena sadar kalau lawakan tentang superhero bukanlah untuk Indira.


“KDRT adalah kasus yang cukup rumit. Hampir sama dengan pemerkosaan, salah satu kesulitan terbesar yang sering ditemui pada kasus ini adalah si korban menutupi kejadian yang sesungguhnya. Memang, dalam beberapa tahun terakhir pelaporan kasus KDRT meningkat. Tapi ini bukan hanya berarti makin banyak korban KDRT yang berani untuk melapor. Bisa saja memang kasusnya juga yang meningkat.”


“Kenapa mereka tidak mau melapor?”


“Banyak faktornya. Terutama bagi para istri, mereka tidak mau melapor karena mempertimbangkan peran sosial mereka sebagai seorang perempuan. Mereka harus menjaga nama baik keluarga. Mereka juga tidak ingin keluarga mereka berantakan karena si ayah dipenjara. Tak jarang para istri yang melapor suaminya justru menjadi pihak yang disalahkan karena faktor-faktor tersebut. Lalu ada alasan lain seperti cinta, yang membuat mereka berpikir kalau tindak kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya adalah sesuatu yang wajar terjadi di dalam sebuah rumah tangga. Atau, mereka memikirkan masa depan anak-anak mereka. Jika kepala keluarga mereka berhadapan dengan kasus hukum, tentu sumber penghasilan mereka juga akan terhenti. Bagaimana mereka bisa membesarkan anak-anak mereka?”

__ADS_1


“Wah, begitu, ya. Kalau mereka memang tidak mau melapor, mau bagaimana lagi. Mungkin mereka menunggu suatu saat mereka mati saat disiksa sehingga polisi dapat menangkap pelakunya tanpa mereka harus melapor.”


“Dampak kasus KDRT bukan hanya secara fisik. Korbannya juga menderita secara mental. Tidak sedikit kasus kematian yang disebabkan oleh penyakit mental yang disebabkan oleh tindakan KDRT. Jika sudah terjadi demikian, pelaku KDRT akan sulit dijerat hukum. Belum lagi jika melihat anak-anak mereka yang ikut menjadi korban, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebuah generasi bisa hancur karena terjadi pembiaran atas kasus KDRT.”


Rama terdiam. Ia merasa Indira sudah mulai emosional. Sebaiknya ia tidak memberikan respons apapun lagi agar tensi Indira bisa kembali stabil dan mereka bisa melanjutkan perjalanan dengan perasaan tenang.


“Baik, kita berangkat sekarang.”


                  *


Malam itu, Abi kembali menggunakan ponsel rahasianya di dalam toilet, saat semua orang sudah terlelap. Ia menekan beberapa angka yang sepertinya sudah dihapalnya. Kemudian terdengar nada tunggu yang samar, lalu sebuah suara menyapa.


[Halo, Bi.]


“Iya, aku di sini,” jawab Abi dengan suara berbisik.


[Kau sudah menyuruh pengacaramu untuk menangani kasusnya?]


“Sudah. Kau tidak perlu khawatir. Dia adalah pengacara yang hebat. Bahkan aku akan ikut membantu agar ia bisa memenangkan kasus itu.”


[Aku percaya padamu. Aku sudah sering mendengar kehebatan Advokat Malam.]


“Maka dari itu, sebaiknya kau segera menyiapkan semua yang kuminta kemarin.”


[Tenang saja. Aku takkan ingkar. Semuanya sudah ada di tanganku sekarang. Kapanpun aku bisa memberikannya padamu.]

__ADS_1


Percakapan mereka terputus. Abi segera menonaktifkan ponsel tersebut dan mengembalikannya ke persembunyian semula. Matanya menatap nanar ke langit-langit toilet yang sudah dipenuhi oleh sarang laba-laba. Hatinya berharap bisa segera memiliki benda yang mereka bicarakan tadi.


“Aku mengandalkanmu, Indira.”


__ADS_2