Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 119


__ADS_3

Setelah wawancara selesai


Jack memperhatikan Abi yang sedang menikmati kopi sambil memperhatikan Indira yang sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya. Ia menyadari getaran yang terjadi antara Abi dan Indira, yang mungkin tidak disadari oleh keduanya. Tapi ia mencoba untuk mengabaikannya.


“Kenapa kau tidak mengungkapkan identitas tuan Jireh atau megaproyek itu?”


Abi tersenyum. Ia meletakkan kopinya ke atas meja yang ada di dekatnya. “Tuan Jireh adalah lawan yang sangat jenius. Ia sudah tahu kalau aku dan Indira sering memanfaatkan media untuk keuntungan kami. Aku yakin, ia pasti sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi serangan seperti itu. Meski stasiun televisimu mau menyiarkan wawancara kita, ia pasti sudah menguasai stasiun televisi lain dan mereka akan membuat siaran tandingan yang bertujuan untuk mendiskreditkanku.”


Jack mengangguk kecil, menyetujui kondisi yang dikatakan oleh Abi.


“Lalu, untuk apa wawancara ini?”


“Untuk memberitahukan pada masyarakat tentang kondisi hukum yang sedang menyedihkan di negeri ini.”


“Kau tak perlu memberitahukannya,” ujar Jack terkekeh. “Terpidana hukuman mati bisa bebas ketika kasasi ke mahkamah agung, lalu pengacara yang mengungkap kejahatannya malah dipenjara karena alasan yang tak masuk akal. Kasus itu saja sudah menggambarkan betapa bobroknya hukum di negeri ini.”


Abi merenung. Ia juga tahu, bukan hanya tuan Jireh yang merusak supremasi hukum di negeri ini. Banyak sekali oknum yang bermain. Dan yang menyedihkannya, mereka adalah orang-orang pintar yang paling diharapkan untuk menegakkan keadilan.


“Tapi, aku tidak hanya ingin memberitahu mereka, melainkan menggerakkan hati mereka untuk melawan. Aku ingin menyadarkan mereka kalau mereka juga bisa melawan, seperti yang sedang kulakukan. Mereka harus mengingat kembali bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Mereka juga punya hak dan kewajiban untuk memperbaiki hukum di negeri ini.”


Jack dan Indira menatap Abi yang terlihat sangat berapi-api, bahkan melebihi semangatnya ketika membaca pledoi di depan kamera tadi. Namun, Jack masih meremehkan tujuan mulia Abi tersebut. Baginya, itu hanya utopia semata.

__ADS_1


“Betapa menyenangkannya jika hal itu benar-benar terjadi. Tapi, masyarakat kita sudah terlanjur apatis. Ketidakberdayaan mereka selama ini yang membuatnya. Kekuasaan yang harus mereka lawan terlalu superior dan mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup, bahkan hanya untuk sekadar berbicara. Dan aku tak yakin, apakah pidatomu barusan akan bisa mengubah hati mereka atau tidak.”


“Kita lihat saja nanti. Yang pasti, aku punya rencana agar mega proyek dan identitas tuan Jireh bisa terungkap tanpa intervensi dari pria tua itu,” kata Abi.


“Iya, tapi -”


Perkataan Jack terhenti ketika ia sadar putrinya sedang menyentuh lengannya. Saat ia melihat, Indira tersenyum lebar sampai matanya menyipit. “Tenang saja. Abi pasti tahu apa yang harus dilakukannya.”


Jack tertegun mendengar perkataan putrinya tersebut. Ia melihat kesungguhan di mata Indira dan itu bukanlah optimisme buta. Ada keyakinan besar yang berdasarkan dari pengalaman yang telah ia lalui bersama anak muda itu.


Akhirnya, ia menyerah.


“Baiklah, aku takkan mempertanyakan kemampuanmu dalam berencana lagi,” kata Jack sambil melanjutkan kegiatan beres-beresnya. “Lalu, bagaimana dengan ‘Nyonya’? Apakah kau juga akan membongkar identitasnya?”


“Aku pasti akan mengungkapnya. Meski itu akan menjadi kabar yang mengguncang negeri ini, aku pasti akan mengungkapnya,” ujar Abi mantap.


                  *


Sementara itu, di lapas Maharaja, Andika duduk di selnya sambil membaca salah satu buku karya sastrawan lain yang juga pernah dipenjara seperti Pramoedya Ananta Toer, yaitu Sitor Situmorang. Meski itu adalah buku kumpulan puisi dan puisi bukan bacaan kesukaannya, ia mencoba menikmati buku yang berjudul Dalam Sajak tersebut. Benar, ia terlalu bodoh untuk berpikir kalau buku itu tak mungkin berisi kumpulan sajak meski judulnya sudah demikian.


“Tahanan 0608! Seseorang ingin bertemu dengan Anda,” kata seorang petugas dari luar pintu sel.

__ADS_1


Andika berdiri dan mendekati pintu yang kuncinya sedang dibuka itu. Selama ini ia tidak pernah datang mengunjunginya kecuali pengacaranya. Tapi, ia tidak memiliki jadwal untuk bertemu pengacara hari ini.


“Lho, ke mana?” tanya Andika ketika melihat petugas itu mengarahkannya ke koridor lain, bukan ke arah ruang jenguk.


“Seseorang ingin bertemu Anda dan orang itu bukanlah pengunjung biasa,” ujar petugas tersebut.


Jantung Andika mulai berdebar kencang. Ia sangat takut jika seseorang yang ingin bertemu dengannya adalah orang yang tak ingin ia lihat. Ketakutannya semakin besar ketika ia sadar kalau mereka sedang berjalan ke arah area penjara untuk level dua. Pasti orang yang ingin bertemu dengannya adalah orang penting.


Ternyata, perjalanan mereka cukup jauh. Andika tak menyangka kalau area untuk level dua cukup luas. Dan tujuan mereka adalah ujung area. Akhirnya, mereka sampai di penjara paling ujung.


Petugas itu menatap Andika lalu membuka pintu. Ternyata, masih ada pintu yang menunggu mereka di dalam. Dan jantung Andika hampir berhenti berdetak ketika melihat ke balik pintu tersebut. Sebuah pemandangan yang sama sekali tak disangkanya.


Ia melihat ruangan itu bak istana kerajaan yang sangat luas dengan interior yang mewah. Bahkan ada sebuah kursi mewah yang terlihat seperti tahta kerajaan. Meski di dalam ruangan, tidak ada kesan suram sedikit pun. Pencahayaan sangat baik dan aroma di setiap sudut ruangan juga harum semerbak. Padahal ruangan itu masih dianggap sebagai sel penjara.


“Aku mendengar dari Jireh kalau bajingan kecil yang selama ini mengganggu kami telah kabur lagi dari penjara ini. Dan Jireh curiga kalau ada yang membantunya dari dalam lapas untuk aksi kaburnya tersebut. Aku sempat bertanya-tanya, siapakah itu. Ternyata, dia adalah orang yang sangat kukenal, sahabat lama yang sudah lama tak kutemui.”


Andika benar-benar terkejut ketika melihat sosok yang berbicara itu. Ia adalah wanita tua berbadan gemuk dengan kebaya membalut tubuhnya dan sanggul tercantol di kepalanya, sedang berjalan menuju sebuah kursi mirip tahta kerajaan. Seperti kata wanita tersebut, Andika benar-benar sangat mengenalnya. Meski sudah berjarak hampir tiga puluh tahun mereka terakhir bertemu, Andika tidak mungkin melupakannya.


“Nyo, Nyonya. Ba, bagaimana mungkin?”


“Kau tidak perlu melihatku seperti itu. Seperti sedang melihat hantu saja,” kata wanita itu bercanda.

__ADS_1


Sebenarnya, wajar jika Andika melihat seperti itu. Baginya, ia memang sedang melihat hantu. Bagaimana tidak? Terakhir kali ia melihat wanita itu di sebuah pemakaman. Ya, pemakaman wanita itu.


__ADS_2