
“Ah, sulit sekali!”
Indira mengeluh seraya mengunyah cokelat batang. Ia tidak menghiraukan Rama yang juga sedang mengeluh karena kesulitan mengutak-atik mesin mobil mereka yang mogok.
“Memangnya bang Abi dapat laporan itu dari mana? Apakah ia tahu kalau korbannya tidak mau kasusnya diperkarakan?”
“Entah. Karena katamu dia punya ponsel di sana, kemungkinan ia mendapatkannya sangat banyak. Dan dia juga tahu kalau korban masih menutupi kejahatan yang dilakukan oleh suaminya. Makanya, sejak awal ia bilang salah satu bagian tersulit adalah membujuk korban agar mau melapor ke polisi.”
“Bukankah itu kasus pidana? Berarti tidak harus korban yang melapor, kan? Setahu Rama, warga negara yang baik wajib melaporkan setiap tindak kejahatan. Kita saja yang membuat laporan. Atau kita cari keluarga atau tetangga yang pernah melihat wanita itu dipukul suaminya.”
“Menurut undang-undang KDRT, yang bisa melaporkan secara langsung dugaan KDRT hanyalah korban. Bahkan keluarga ataupun tetangga tidak bisa melaporkannya, kecuali diberi kuasa oleh korban.”
Rama menggaruk kepala karena tidak paham. Ia memilih untuk tidak memikirkan masalah itu dulu dan berkonsentrasi dengan mobil milik kekasihnya itu.
“Kenapa dengan mobilnya? Apakah pengaruh tabrakan dulu?” tanya Indira yang baru sadar kalau Rama sedang berjuang untuk memperbaiki tunggangan mereka itu.
“Entah. Sepertinya ada yang hilang. Tapi aku tak tahu itu apa,” jawab Rama. “Mungkin hilang saat kecelakaan, mungkin saat diservis atau mungkin di jalan tadi.”
Kemudian Rama berceloteh tentang mesin yang sama sekali tidak dipahami oleh Indira. Pengacara bertubuh mungil itu hanya mengangguk dan memilih untuk memikirkan calon kliennya tadi.
Ia adalah seorang wanita berusia sekitar pertengahan tiga puluhan. Badannya yang kurus dan mulai keriput sempat membuat Indira berpikir kalau ia lebih tua dari usia sebenarnya. Matanya sayu, bahunya bungkuk dan napasnya tersengal, menunjukkan kelelahan luar biasa yang sedang ditanggungnya. Meski menolak bantuannya tadi, Indira bisa melihat jerit minta tolong dari matanya yang hampa.
Tanpa disadari, air mata mengalir di pipi Indira. Ada kenangan dari masa lalu yang membuat hatinya nelangsa.
*
Sudah tiga hari berturut-turut Indira mendatangi wanita yang bernama Alya itu dan hasilnya masih nihil. Ia sampai merasa kasihan dengan Rama yang berjuang membawanya dengan kondisi tubuh yang belum pulih benar dan mobil yang sering ngambek. Apalagi mereka harus menempuh perjalanan selama 3 jam untuk sampai ke rumah wanita itu.
Karenanya, di hari keempat, Indira datang sendiri. Ia mengaku pada Abi dan Rama untuk pergi ke acara keluarga. Itu agar mereka tidak terbebani.
Indira turun di salah satu halte. Ia melihat ke arah rumah Alya. Hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk sampai ke sana dengan berjalan kaki. Tapi, Indira memilih jalan yang sebaliknya.
Langkahnya terhenti tepat di depan sebuah sekolah dasar. Indira mengintip ke dalam melalui pagar merah yang sekitar 5 cm lebih tinggi daripada tubuhnya..
__ADS_1
Tak lama, ia dikejutkan oleh suara bel diikuti oleh sorakan dari dalam lingkungan sekolah. Ternyata itu adalah bel pulang karena beberapa saat kemudian, anak-anak dari kelas keluar memenuhi halaman karena menunggu petugas membuka pagar untuk anak-anak yang sudah dijemput.
Indira bersandar di sebuah tiang listrik sambil memandangi anak-anak yang satu per satu keluar dari gerbang. Ada yang langsung disambut orang tuanya, ada juga yang berjalan sendiri.
Beberapa menit berlalu, akhirnya ia melihat seorang anak laki-laki yang melihat sekitarnya dengan wajah gelisah. Sepertinya ia sedang menunggu jemputan.
Karena sudah menunggu terlalu lama, akhirnya ia memutuskan untuk berjalan. Indira pun mengikuti dari belakang dan mendekatinya dengan perlahan.
“Ando, ya?” tanya Indira tiba-tiba, yang membuat anak itu menoleh ke arahnya.
“Bukan. Tante salah orang. Fernando Putranto yang ingin Tante culik masih di sekolah,” jawabnya dengan nada suara yang cempreng dan menggemaskan.
Indira tertawa mendengar jawaban itu. Sangat lucu karena dianggap sebagai penculik, tapi lebih lucu karena cara pintar anak itu untuk ingin mengelabui ‘penculik’.
“Tante adalah teman bunda. Dua hari yang lalu, kamu pasti melihat Tante berbicara dengan bunda.”
Anak kecil itu kembali melirik Indira untuk memastikan kebenaran yang dikatakan oleh Indira. Ia akhirnya ingat kejadian dua hari yang lalu itu.
“Tapi saat itu bunda marah.”
Kata-kata itu Indira ucapkan dengan penuh resiko. Ia terpaksa berbohong agar anak bernama Ando itu memercayainya. Anak itu terlihat gamang karena setengah hatinya tak yakin dengan ucapan Indira, namun setengahnya lagi sangat ingin percaya.
“Ah, tak mungkin Tante bisa,” celotehnya sambil meneruskan perjalanannya.
“Tante akan traktir kamu es krim coklat di toko itu.”
Ucapan Indira tersebut menahan kembali langkahnya. Anak itu menatap Indira dengan tajam seakan ingin mempelajari raut wajahnya. Kemudian ia berkata dengan suara cemprengnya, “Yang rasa stroberi, tapi dikasih toping coklat, ya.”
*
Indira tersenyum sambil menatap Ando yang sedang sibuk menyantap es krimnya, seolah lupa dengan sekitarnya. Ia membiarkan suasana hati anak itu tenang, baru mulai bertanya tentang apa yang terjadi pada kedua orang tuanya.
“Memang, apa pekerjaan Tante sehingga bisa menyelamatkan bunda? Kata bunda, polisi saja tidak bisa bantu.”
__ADS_1
“Tante adalah pengacara.”
“Lho, bukannya pengacara itu jahat?”
Indira tidak marah, bahkan kembali tertawa mendengar jawaban polos dari anak itu. Ia pun mengusap kepala Ando dengan gemas.
“Pengacara itu tidak jahat. Tugasnya memang membela orang, siapapun itu. Tak peduli ia baik atau jahat. Itu yang membuat pengacara terkadang dikatakan jahat.”
“Berarti seperti Tuhan, yang sayang sama siapa saja. Anak baik atau anak jahat, semua Tuhan sayang.”
“Eh, kira-kira seperti itu,” respons Indira agak kebingungan karena disamakan dengan Tuhan.
“Tapi aku membenci Tuhan,” kata Ando yang membuat Indira tertegun.
“Kenapa?”
“Karena ia juga sayang ayah.”
Baru kali ini Indira bingung saat menanggapi ucapan seorang anak berusia sekitar delapan tahun. Ia merasakan kebencian yang cukup mendalam dari mata anak itu.
“Jadi, Ando -”
“Tapi Ando tetap sayang Tuhan. Seperti Ando tetap sayang bunda walau bunda masih sayang ayah.”
Anak laki-laki itu melanjutkan acara menyantap es krimnya, sementara Indira menatapnya dengan perasaan masygul. Ia seperti melihat sebuah penderitaan besar yang tertahankan dari pancaran mata polos itu.
“Memangnya, apa yang sudah ayah lakukan pada Ando dan bunda?”
Ya, Indira merasa ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya tentang kedua orang tuanya. Ando tidak langsung menjawab. Wajahnya mendadak murung dan tertunduk. Es krim yang tinggal beberapa sendok lagi, kini diabaikannya.
“Ayah sudah -”
“ANDO!”
__ADS_1
Mereka berdua dikejutkan oleh suara seorang wanita yang baru masuk ke toko es krim itu. Indira mengecek sumber suara. Ternyata Alya sedang menatap mereka dengan penuh amarah.