
Iptu Nyoman masih terpaku di depan Tracy Ross, seakan masih belum percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Kemudian, beberapa polisi dari satuan lain lewat dan memberi hormat padanya sebelum bergegas pergi. Padahal baru beberapa menit yang lalu mereka sama-sama sedang menonton wawancara Abimanyu Alexander.
“Mau ke mana?” tanya Iptu Nyoman.
“Baru dapat tugas dari atas, Pak,” jawab salah seorang dari mereka. “Melacak rumah bordil dan kasino yang berkedok panti asuhan.”
“Memangnya ada yang seperti itu?”
“Kata si Abimanyu Alexander itu ada, Pak,” timpal polisi yang lain. “Memang orang itu, selalu saja menyusahkan polisi.”
Mereka pun pergi. Seandainya bisa, Iptu Nyoman juga ingin memaki pria bernama Abimanyu Alexander itu. Dan tentu saja, mantan anak buahnya yang bernama Regina, yang merekomendasikan namanya pada Tracy Ross, juga layak untuk mendapatkan makian darinya.
*
“Kau sudah mempersiapkan semuanya?” tanya tuan Jireh dengan nada berat.
“Su, sudah, Tuan. Para polisi itu takkan memeriksa dengan benar. Apapun yang dikatakan oleh Abimanyu Alexander hanya akan dianggap sebagai kebohongan demi mencari perhatian saja.”
Tuan Jireh menengadah ke atas dan menghela napas panjang. “Bagaimana ia bisa lolos dari penjara? Apakah ia punya orang dalam?”
“Kami masih menyelidikinya. Tapi, kemungkinan besar ia melewati jalan yang sama.”
“Apakah kita keledai hingga bisa jatuh lagi di lubang yang sama?”
“Se, sepertinya ada yang membantunya di dalam?”
Tuan Jireh menegakkan posisi duduknya lalu menatap ke arah Jesse Arnold tajam. “Ia punya koneksi di sana? Siapa?”
__ADS_1
“Entah, Tuan. Kami sedang menyelidikinya.”
“Pasti lebih seru jika memang ada orang yang membantunya di sana.” Tuan Jireh kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Sudah tahu di mana keberadaannya?”
“Be, belum, Tuan,” jawab Jesse Arnold gugup. Tapi, ada kabar lain yang lebih membuatnya gugup. “Sepertinya, wawancara itu adalah rekaman.”
Tuan Jireh menatapnya tajam. Ia seakan sedang memancarkan kemarahan pada sang asisten. Jika dugaan itu benar, artinya keterlibatan Indira yang sebelumnya dianggap tak mungkin, kini menjadi mungkin. Dan itu membuat tuan Jireh kesal.
“Bagaimana dengan Indira? Di mana dia sekarang?”
“Dia masih berkeliling mencari ayahnya?”
“Tidak\, di mana dia sekarang?!|
Jesse Arnold semakin gugup dengan bentakan tuan Jireh. Ia segera menghubungi anak buahnya dan meneruskan pertanyaan itu.
“Sekarang, ia sedang menuju ke kantor mahkamah konstitusi.”
“A, ada apa, Tuan?”
“Temukan bocah sialan itu segera! Jika tidak, ia akan benar-benar menghancurkan kita.”
*
“Membangun sel mewah dan terowongan di penjara?” tanya Jack mewakili pertanyaan yang timbul di hati para penonton di seluruh negeri.
“Benar. Entah bagaimana, tapi tuan Jireh mendapatkan izin untuk melakukannya. Dengan bantuan PT. Laras Jaya Karya sebagai konstruktornya, ia memberikan layanan istimewa pada para narapidana kelas atas. Beberapa lapas di negeri ini, yang sering menjadi tempat para pejabat menjalankan masa tahanannya, kemungkinan besar memiliki kedua fasilitas tersebut.”
__ADS_1
“Termasuk lapas Maharaja tempat Anda dipenjara?”
“Tentu saja. Dua kali saya lolos dari penjara itu, bagaimana lagi caranya selain melewati terowongan tersebut?”
Jack masih tercengang dengan pernyataan Abi tersebut.
“Jadi, jika tuan Jireh punya otoritas dan kemampuan dalam mempermainkan hukum, kenapa ia tidak membebaskan mereka saja daripada memberikan fasilitas pada mereka setelah berstatus narapidana?”
“Pertama, uang. Ia bisa menghasilkan uang lebih banyak dan lebih lama dengan cara itu dibandingkan hanya sekadar membebaskan saja. Kedua, nama baik. Ia tidak ingin dikenal sebagai aparat hukum yang membebaskan seorang pelaku kejahatan. Ketiga, penjara ibarat tempat penyucian bagi para pelaku kejahatan. Mungkin mereka bisa bebas di pengadilan, tapi tidak di mata masyarakat. Jika mereka mendapatkan vonis yang cukup ringan, apalagi dibebaskan, sangat mungkin jaksa penuntut umum akan melakukan banding ke pengadilan tinggi atau mahkamah agung. Dan, tuan Jireh tidak memiliki akses yang cukup kuat di tingkat itu. Dengan putusan vonis penjara yang cukup layak, mereka seakan telah menebus dosa-dosa yang telah mereka lakukan dan kasus mereka tidak perlu diperpanjang.
“Mereka pun tidak mempermasalahkan hal itu. Putusan pengadilan yang cepat tentunya mempercepat penyidikan. Semakin cepat penyidikan, maka semakin sedikit uang hasil kejahatan mereka yang sempat dicuci terlacak. Mereka hanya perlu pindah tempat tinggal. Fasilitas di penjara lengkap dan mereka bisa sesuka hati keluar masuk penjara.”
“Ini adalah informasi yang cukup serius. Apakah Anda punya bukti yang kuat? Jika tidak, Anda hanya akan dianggap menyebar kebohongan.”
“Tentu saja saya punya buktinya. Saya punya rekaman kamera pengawas di sebuah rumah yang menjadi ujung dari terowongan lapas Maharaja. Dari rekaman itu, kita bisa melihat para narapidana keluar masuk. Mungkin pemirsa bisa mengenal beberapa di antaranya karena banyak dari mereka yang merupakan mantan pejabat.”
Abi menyerahkan sebuah flashdisk berwarna hitam pada Jack. Pria itu berterima kasih dan berjanji pada penonton untuk memutarnya setelah wawancara selesai.
“Apakah nota pembelaan Anda sudah selesai?” tanya Jack.
Abi terdiam. Ia menghela napas panjang lalu menatap ke arah kamera dengan lekat.
“Tidak seperti biasanya, nota pembelaan ini saya tujukan pada masyarakat di seluruh tanah air. Semua yang telah saya sampaikan bukan hanya membuktikan bahwa saya tidak bersalah. Tidak untuk tuduhan-tuduhan yang pernah ditujukan pada saya, baik itu pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan sengaja, pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, pasal 56 KUHP tentang pembantu kejahatan, atau pasal yang membuat saya dipenjara sepuluh tahun yaitu pasal 132 ayat (1) juncto pasal 114 UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.
“Nota pembelaan ini saya sampaikan pada seluruh masyarakat untuk memberitahukan keadaan sebenarnya di negeri kita yang tercinta ini, bahwa hukum sedang tidak berdaya di bawah kaki beberapa pihak, terutama seorang penegak hukum bernama tuan Jireh.
“Seperti yang selama ini saya yakini, bahwa hukum adalah satu-satunya senjata paling kuat yang dimiliki oleh orang-orang kecil seperti saya untuk meraih keadilan. Jika hukum itu diperkosa dengan mudahnya, bukannya tidak mungkin akan muncul orang-orang kecil yang bernasib sama seperti saya. Dijebak untuk mempertanggungjawabkan kesalahan yang tidak pernah dilakukan. Mengorbankan masa depannya secara paksa untuk menyelamatkan hidup para penguasa dan orang kaya dari kejahatan mereka. Bahkan harus kehilangan orang-orang yang dicintainya hanya untuk melawan demi kebenaran yang ingin ia junjung.”
__ADS_1
Abi terdiam dengan wajah yang sendu. Indira tahu, saat itu Abi sedang mengingat adiknya, Rama, yang telah tiada setelah berjuang untuknya.
“Melalui nota pembelaan ini, saya ingin membuka mata masyarakat bahwa penjahat seperti tuan Jireh benar-benar ada di tengah kita. Kita harus berjuang untuk melawan mereka, demi terwujudnya supremasi hukum yang nyata di negeri kita tercinta ini.”