
Pak Burhan mencari kunci rumahnya di antara tumpukan kunci yang terikat pada satu lingkaran besi. Ia mulai mengutuki matanya yang tak lagi dapat melihat dengan jelas tanpa bantuan kacamata. Kemudian, ia mengutuki kacamatanya yang tertinggal di kantor.
Hari ini, ia kembali ke rumah sederhananya. Seperti biasanya, setiap hari Sabtu, ia selalu tinggal dan menginap di rumah itu. Ia akan melupakan sejenak rumah megahnya yang berada di kota berbeda.
Bukan tanpa alasan, beberapa sejarah penting di rumah ini, entah sebuah kebetulan atau kesengajaan Tuhan, selalu terjadi di hari Sabtu. Mulai dari hari pertama ia dan mendiang istrinya menempati tempat ini, hari kelahiran Lasmi, hari kematian sang istri karena kejamnya kanker, hari kelulusan Lasmi masuk universitas dengan fakultas hukum terbaik di negeri ini, dan tentu saja hari kematian putri tercintanya itu.
Jesse Arnold sudah menunggu di dalam rumah, menjadi satu-satunya hal yang bukan dari masa lalunya, yang ia izinkan berada di rumah ini.
“Hari yang melelahkan,” kata pak Burhan a.k.a tuan Jireh saat meletakkan tubuhnya ke atas kursi goyang kesukaannya. Kemudian, ia tersenyum sambil memandang fotonya bersama mendiang putrinya. “Tapi aku bahagia.”
“Ada kabar baik, Tuan?” tanya Jesse Arnold merespons perkataan tuannya.
“Tidak ada. Hanya hari biasa di mana aku bisa lebih dekat dengan Indira. Makin lama, aku melihatnya makin mirip dengan Lasmi.”
Jesse Arnold hanya diam. Ia mulai terbiasa dengan sikap tuannya yang seolah kehilangan wibawa setiap kali membahas tentang pengacara wanita itu. Tapi, ia sedang menunggu kabar lain dari sang tuan.
“Apakah yang mendatangi Tuan di taman tadi adalah Abimanyu Alexander?” tanya Jesse Arnold yang membuat tuan Jireh tertegun. “Saya mendapatkan laporan dari anggota kita yang mengawasi Tuan dari kejauhan. Dan kebetulan, saya baru saja mendapatkan informasi dari lapas kalau pria itu berhasil kabur lagi.”
Wajah tuan Jireh berubah drastis, seperti suasana hatinya yang berubah dari ceria menjadi suram. Nama itu adalah nama yang paling tidak ingin ia dengar saat ini. Bahkan suara gertakan gigi mulai terdengar dari mulutnya.
“Bajingan itu! Kupikir ia takkan bertingkah lagi sampai aku akan melupakannya. Tapi, pagi ini, dengan santainya ia muncul di depan hidungku dan mengancamku. Ingin rasanya aku membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
Jesse menyunggingkan senyumnya tipis. Akhirnya, ia melihat sosok tuannya yang asli, kejam dan penuh amarah, yang jauh lebih ia kagumi dan hormati dibandingkan sosok periang yang selalu menceritakan wanita yang mirip dengan mendiang putrinya.
“Apakah kami perlu membunuhnya? Mumpung ia berada di luar lapas. Tentu akan lebih mudah bagi kita untuk melakukannya. Dan kondisi sekarang lebih baik dari dua bulan yang lalu. Tidak ada yang peduli dengan keberadaan Abimanyu Alexander, termasuk mantan pengacaranya.”
Tuan Jireh mengangguk seakan mempertimbangkan usul asistennya itu cukup baik. “Kalian tahu keberadaannya?”
“Anggota kita masih mengikutinya. Beberapa menit yang lalu, ia sedang menaiki bus ke luar kota,” lapor Jesse Arnold.
Tuan Jireh terdiam sambil berpikir, kemudian ia berkata, “Baiklah. Aku juga sudah muak dengannya. Jangan sampai ia melakukan tindakan konyol lagi dan membahayakan kita. Bahkan meski ia pecundang sekalipun, jika ia melakukan sesuatu berulang kali, pasti ada setidaknya sekali ia berhasil.”
__ADS_1
“Baik, Tuan. Saya akan membereskannya segera.”
Jesse Arnold menunduk sejenak lalu pergi.
*
Abi hanya memerhatikan Jack Off the Record yang sedang sibuk mengatur posisi kameranya. Sesekali matanya menjelajah ke sekeliling ruangan. Ia masih ingat bagaimana mereka masuk ke ruangan tersebut, yaitu melalui lemari yang bisa digeser. Seperti ruang rahasia yang sering ia lihat di televisi.
“Kau yakin tak ada yang mengikutimu saat ke sini?” tanya Jack.
“Tentu saja. Saat ini anak buah tuan Jireh sedang mengikuti Rinjani yang berpenampilan sepertiku ke luar kota,” jawab Abi sambil tersenyum membayangkan bagaimana wajah tuan Jireh saat tahu anak buahnya kembali ia kelabui.
“Baguslah. Karena aku tidak ingin mereka datang ke sini dan akhirnya menemukan kita di ruangan ini.”
“Biasanya, kau pakai ruangan ini untuk apa?”
“Tidak penting. Hanya sebuah tempat persembunyian ketika aku dikejar oleh orang-orang yang tidak suka dengan berita yang kubuat,” jawab Jack santai.
Abi mengerti. Ia tahu rekam jejak Jack Off the Record yang memang dikenal sebagai wartawan paling menyebalkan sepanjang sejarah jurnalistik. Wajar jika ia sering diburu oleh banyak orang karena beritanya.
“Maksudnya, seperti apa?” Abi berpura-pura tidak mengerti.
“Wartawan brengsek yang membuat berita demi uang,” ujar Jack. Wajahnya terlihat sendu dan penuh dengan penyesalan. “Semua karena tuan Jireh sialan itu.”
Mendengar nama itu, entah kenapa jantung Abi berdetak kencang. Tuan Jireh? Ia jadi penasaran dengan masa lalu mereka berdua.
“Bagaimana kalian saling mengenal?”
“Sangat rumit,” jawab Jack. Ia sudah selesai mengatur kameranya. Kemudian, ia duduk di depan Abi dan bersemangat untuk bercerita lebih banyak lagi. “Beberapa minggu setelah ibunya tiada, Indira didiagnosis menderita kerusakan hati akibat atresia bilier. Satu-satunya cara untuk menyembuhkannya adalah dengan transplantasi hati. Ibunya baru saja meninggal, kakaknya terlalu muda untuk menjadi pendonor, sementara aku tidak bisa karena golongan darah kami berbeda. Entah takdir apa yang mempertemukan kami, saat itu putri semata wayang Burhanuddin Wiratama atau tuan Jireh, baru saja mengalami kecelakaan yang merenggut nyawanya. Kebetulan, golongan darahnya cocok dengan Indira dan ia juga sudah mendaftarkan diri sebagai pendonor organ saat masih hidup.”
“Jadi, kau memintanya agar mendonorkan hati putrinya untuk Indira?”
__ADS_1
“Ya, begitulah. Karena hal itu, aku berutang budi cukup besar padanya dan ia memanfaatkan hal itu dengan baik. Ia menyuruhku memanipulasi berita demi melindungi kliennya dan semua orang berpikir aku melakukannya demi uang.”
“Apakah sudah lama ia sejahat itu? Menjual hati anaknya demi keuntungan pribadi.”
Jack berdiri untuk mengambil kopinya sambil menggeleng kepala. “Tidak, dulu dia adalah hakim yang baik. Kematian putrinya itulah yang mengubahnya.”
Abi mengangkat alisnya. “Memangnya kenapa dengan kematian putrinya?”
“Aku pernah menyelidiki kasus yang ia tangani sebelum kematian putrinya. Itu adalah kasus yang melibatkan anak seorang pejabat sebagai pelakunya. Kau tahu sendiri bagaimana bobroknya hukum di orde pemerintahan saat itu. Namun, ia dengan berani menjatuhkan hukuman berat pada si anak pejabat itu.”
“Berarti, kematian putrinya adalah perbuatan pejabat itu?”
“Sulit untuk mengatakan tidak, meski polisi saat itu menyebut tidak menemukan kejanggalan apapun dan menyatakan itu murni kecelakaan.”
Menurut Jack, meski awalnya adalah orang baik, pak Burhan memiliki bakat untuk menjadi penjahat. Tidak seperti di film-film yang mana tokoh utamanya membalas dendam pada pembunuh orang yang dicintainya, ia justru memilih untuk menguasainya. Ia hanya mengandalkan satu senjata, yaitu pengetahuannya di bidang hukum.
“Sangat mirip denganmu. Mungkin itulah yang membuat kalian punya ikatan yang kuat,” ujar Jack.
Setelah kematian putrinya, Burhanuddin Wiratama mencari tahu tentang kehidupan para pejabat dan bagaimana selama ini mereka bisa mempermainkan hukum untuk menutupi semua kejahatan mereka. Penyelidikan itu mengantarnya pada sebuah organisasi yang bernama Raja Pati.
Tidak banyak orang yang tahu nama organisasi itu, bahkan sampai saat ini. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya. Banyak orang penting di negeri ini yang merasakan bantuannya tanpa pernah berhubungan secara langsung. Selalu ada perantara yang memang sudah dipercaya oleh organisasi. Mischa adalah salah satunya.
Dengan status sebagai hakim yang dikenal dengan reputasi positifnya ditambah kecerdasan dan bakat jahat yang tadi Jack katakan, tak sulit bagi pak Burhan untuk masuk ke dalam organisasi itu. Bahkan, hanya butuh waktu beberapa tahun, ia berhasil duduk di puncak organisasi itu dan mendapatkan julukan tuan Jireh.
Di tangannya, organisasi itu berkembang sangat pesat meski zaman sudah berganti dan pemerintahan yang diktator sudah tumbang, berganti pemerintahan yang digadang-gadang jauh lebih demokratis dari sebelumnya.
“Aku kagum padamu karena bisa melawannya sampai sejauh ini,” puji Jack di akhir cerita. “Sudah puluhan tahun aku melihat kekejaman yang dilakukannya. Seakan tak mungkin seorang pemuda biasa yang bahkan tidak memiliki ijazah SMA bisa melawannya.”
“Aku juga kagum padamu karena, meski sudah melihat kekejamannya, kau masih bersedia membantuku untuk melawannya.”
“Tidak, aku tidak pantas dipuji untuk itu. Aku melakukan semua ini demi Indira,” ujar Jack yang membuat Abi heran.
__ADS_1
“Indira?”
“Ya, sejak pertama kali bertemu dengannya di kampus, tuan Jireh selalu menganggap Indira Sebagai Lasmi Kenanga, mendiang putri semata wayangnya. Aku melihat rasa cinta yang ingin ditunjukkannya pada Indira sudah mulai berubah menjadi obsesi. Aku takut, suatu saat itu akan membahayakan Indira.”