Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 56


__ADS_3

Indira memeluk erat tasnya sambil memperhatikan langkahnya menyusuri jalanan becek. Matanya mawas mengawasi sekitarnya, mencurigai setiap gerakan yang mengarah padanya. Sikap seperti itu memang selalu dilakukannya jika berada dalam situasi atau tempat yang menurutnya bahaya.


Sempat ia menyesali keputusannya untuk datang ke tempat ini. Tapi, ia sudah hampir sampai dan sepertinya ia memang harus datang karena kesalahan yang telah diperbuatnya.


Bodohnya aku. Selama ini aku selalu bersamanya, tapi nomor teleponnya pun aku tidak punya.


Seorang wanita berwajah paling ramah yang ia temui di daerah ini lewat. Ia pun segera mencegatnya untuk menanyakan alamat yang ingin didatanginya.


“Permisi, Bu. Rumah Abimanyu Alexander di mana, ya, Bu?” tanya Indira.


“Anaknya tante Jenny itu, ya? Itu, dua blok lagi dari sini. Rumahnya yang sebelah kiri, yang ada plakat Cafe Jenny.”


Indira berterima kasih pada wanita ramah itu lalu pamit pergi. Ia pun berjalan sesuai petunjuk yang baru didapatnya.


Ia menyesal karena bersikap kasar pada Rama. Beberapa hari yang lalu, ia mengusirnya yang datang ke kantor secara halus dengan alasan ingin menemui klien lain. Padahal ia marah pada Abi, seharusnya tak perlu dilampiaskan ke Rama yang selama ini bersikap baik padanya. Kini, ia harus menemui pria ceria itu dengan membawa perasaan bersalah.


Langkahnya terhenti di sebuah plakat kafe bertuliskan Jenny Cafe. Indira semakin yakin kalau perjalanannya sudah sampai tujuan saat ia melihat motor tua berbentuk aneh milik Rama yang diberi nama Belalang Tempur.


“Lho, Kakak? What are you doing here?”


Terdengar suara cempreng yang familiar di telinga Indira. Rama sudah berdiri di depan kafe milik ibunya dengan tangan memegang es krim. Senyum ramahnya menandakan tak ada dendam di hatinya, yang membuat Indira lega.


“Aku harus balas dendam pada abangmu,” jawab Indira seraya membalas senyuman Rama.


                  *


“Kakak mau minum apa? Hot? Cold? Sweet? Bitter? Sour?”


Rama terlihat sibuk cenderung panik melayani Indira. Rasa senang dan terkejut campur aduk di hatinya. Baginya, Abi ada di urutan pertama yang paling dihormati dan disayangi dalam hidupnya, diikuti oleh mamanya. Sebelumnya ada Shasha di urutan ketiga -ia terpaksa menempatkannya di sana karena tidak ada lagi yang layak untuk itu- dan kini posisi itu sudah direbut oleh Indira.


“Tidak perlu repot-repot. Aku hanya sebentar,” kata Indira merasa sungkan.


“Kakak sudah repot-repot datang, tentu Rama harus repot-repot melayani Kakak.”

__ADS_1


Indira hanya bisa melihat Rama yang sedang membawa banyak makanan ringan ke atas meja yang ada di depannya.


Rumah Abi dan Rama berada di sebelah kafe ibunya. Bentuk rumahnya sederhana, terbuat dari papan kayu dengan cat yang sudah memudar. Bangunan itu terlihat cukup tua. Berbeda dengan kafenya, yang menurut cerita Rama sudah beberapa kali direnovasi sehingga terlihat lebih hidup.


Dinding rumah itu dipenuhi oleh foto Rama sejak ia beranjak remaja. Sementara foto tante Jenny dan Abi hanya ada satu, yaitu foto ukuran 5R yang sudah lusuh dengan bingkai yang tak kalah lusuh dan berdiri di atas sebuah meja rias tua.


“Motormu sudah ketemu?”


Sebenarnya Indira ingin memulai pembicaraan serius, tapi ia ragu dan malah menanyakan hal lain.


“Oh, itu. Rama ingat tempat memarkirkannya dulu ketika Rama mencoba mengingat di mana Rama memarkirkan mobil Shasha,” jawab Rama santai.


“Maksudmu, sekarang kamu lupa di mana memarkirkan mobil Shasha, tapi ingat di mana memarkirkan motormu yang sudah kamu lupakan hampir sebulan?”


“Benar sekali.” Tidak terlihat rasa bersalah di wajahnya. “Entah kenapa, semalam Shasha terus menelepon Rama untuk meminta mobilnya. Karena itu, Rama menonaktifkan ponsel Rama. Sekarang Rama tidak tahu di mana meletakkan ponsel Rama.”


Indira bingung dengan ucapan Rama yang terlalu banyak kata Rama. Apakah orang ini tidak mengenal kata ganti pertama?


“Bukankah ini ponselmu?” Indira mengangkat sebuah majalah di atas meja dan ada ponsel dengan case berwarna biru di bawahnya.


Rama menyambut ponselnya dengan sumringah. Ia membuka ponsel itu lalu melihat sebuah pesan masuk.


“Dari bang Abi,” kata Rama membuat Indira penasaran dengan isi pesannya. “Abang menyuruh Rama untuk mengambil dokumen di map biru yang ia simpan di laci kecil kamarnya lalu berikan pada Kakak.”


Indira menatap Rama. Tak bisa ditutupinya binar sukacita di matanya. Ia merasa lega karena Abi masih percaya padanya.


“O ya, Kakak mau ikut ke kamarnya?”


Binar sukacita di mata Indira semakin cerah. Jiwa ingin tahunya seperti mendapatkan makanan lezat secara tiba-tiba. Konon kamar seseorang mencerminkan kepribadian asli pemiliknya, bahkan yang selama ini disembunyikan di depan orang. Kapan lagi ia bisa melihat kepribadian pria semisterius Abi? Kesempatan untuk memasuki kamarnya takkan datang dua kali.


“Aku mau! Sangat mau!”


Rama mengajak Indira berjalan melewati koridor pendek lalu masuk ke sebuah kamar yang berada di sebelah kanan koridor. Pintu kamar itu digembok. Rama mengambil kuncinya di ventilasi yang berada di atas pintu itu lalu membuka gembok tersebut.

__ADS_1


“Eh, kenapa bang Abi menyuruh Rama mengambil barang di kamarnya? Apakah ia tahu kalau Rama tahu tempat ia menyembunyikan kuncinya?” tanya Rama pada dirinya sendiri setelah menyadari sesuatu yang membuat Indira geleng kepala.


Pintu kamar terbuka dan Rama langsung masuk. Indira mengikutinya, tapi ia mendadak dia. terpana saat melihat bagian dalam kamar itu. Benar-benar di luar nalarnya.


“Benarkah ini kamar Abi?”


Wajar jika Indira meragukannya. Memang, hampir semua yang ada di kamar itu mencerminkan diri Abi, seperti kerapiannya yang menunjukkan kalau Abi memiliki OCD ringan, aksesoris serba hitam yang menggambarkan sifatnya yang misterius tapi berani dan penuh percaya diri, serta buku-buku tentang hukum yang memenuhi raknya, yang menandakan ia memang gila hukum.


Yang membuat Indira terkejut adalah dinding kamarnya yang dipenuhi dengan poster salah satu grup K-Pop. Beberapa ada poster dari salah satu anggota grup itu.


“Bang Abi memang penggemar berat GFriend. Biasnya adalah Eunha. Cobaan apapun yang dihadapinya, misalnya saat disiksa polisi dulu, ia sama sekali tidak menangis. Ia hanya marah. Tapi saat G-Friend diumumkan bubar, ia mengurung diri beberapa hari di kamar dan malas makan. Ketika ia keluar dari kamar, aku melihat matanya bengkak seperti habis menangis.”


“Benarkah? Abi seperti itu?”


Rama masih ingat, saat itu Abi bertanya padanya tentang pemilik mobil yang sering ia bawa.


“Oh, itu punya Shasha, my gfriend,” jawab Rama kala itu dan Abi menampar mulut adiknya itu berkali-kali tanpa penjelasan apa-apa.


“Kenapa aku tidak bisa percaya, ya? Apalagi jika mengingat wajah Abi yang serius itu, tak mungkin ia fans grup wanita K-Pop,” ujar Indira ragu.


“Rama tidak bohong. Bang Abi mengoleksi semua lagu GFriend di ponselnya. Hampir setiap hari ia memutarnya. Ia juga diam-diam mendaftar untuk menjadi member fans klubnya. Setiap masuk kamar ini, bang Abi selalu berbisik, ‘Eunha’ sambil tersenyum. Lalu, jika ia sedang tidak bekerja, ia akan membuka media sosial dan memberikan like untuk semua postingan yang ada foto grup itu sambil berbisik, ‘Eunha’. Kakak bayangkan saja bagaimana jika wajah bang Abi yang serius itu terlihat mesum. Seperti itulah wajahnya ketika membisikkan nama itu,” kata Rama yang mengundang tawa kencang Indira.


Saat Indira masih sibuk tertawa dengan apa yang baru saja diketahuinya, Rama membongkar laci yang ada di samping tempat tidur dan mengambil sebuah map biru dari dalamnya. Ia pun menyerahkan benda itu pada Indira.


“Mari kita lihat isinya,” ujar Indira sambil membongkar map itu. Ada beberapa kertas seperti surat-surat resmi.


Yang membuat Indira terpana adalah tulisan PT. Laras Jaya Karya di beberapa kertas. Rupanya salah satunya adalah salinan berita acara serah terima pekerjaan konstruksi atas nama perusahaan yang sedang diserang berbagai kontroversi itu.


Indira membolak-balik semua kertas seperti sedang mencari sesuatu. Ia merasakan ada yang aneh.


“Cari apa, Kakak?”


“Rincian objeknya. Di sini hanya dikatakan Perumahan Naga Mulia.”

__ADS_1


“Perumahan Naga Mulia? Seperti nama perumahan yang akan dibangun di salah satu pulau reklamasi. Waktu itu iklannya sudah muncul di televisi, walau proyek reklamasi itu sendiri sedang ada masalah,” tukas Rama.


“Nah, dokumen ini jadi semakin aneh.”


__ADS_2