Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 106


__ADS_3

Suasana ruangan itu hening. Dua orang yang menghuni ruangan itu tidak mengeluarkan suara apapun. Yang satu berpikir, satunya lagi menunggu hasilnya.


“Kenapa lama sekali berpikir? Sekarang saya tanya, bagaimana Bapak mengenal pengacara Bapak yang sekarang?”


Bima Sakti menatap Indira dan belum paham maksud dari pertanyaan itu. “Aku mengenalnya dari -”


“Dari sesama anggota Sky Emperor? Pasti salah satu dari mereka yang merekomendasikan pengacara itu.”


Tebakan Indira sangat tepat, membuat Bima Sakti semakin bingung meresponsnya. “Memangnya kenapa?”


“Coba pikirkan, Bapak pernah bilang kalau saat rapat bersama Mischa dulu, Bapak adalah satu-satunya orang yang keluar dari rapat itu sebelum anggota Sky Emperor yang lain memutuskan untuk ikut menolak atau malah menyetujui rencana tuan Jireh,” kata Indira yang masih belum bisa membuat Bima Sakti mengerti. “Artinya, bisa jadi Sky Emperor menyetujuinya. Dan jika memang demikian, artinya mereka menjadi lawan Bapak karena Bapak telah menggagalkan Raperda yang diusulkan oleh Theodore Fransiskus.”


Bima Sakti mengangguk-angguk tanda mulai memahami maksud Indira. “Pantas saja bajingan itu terlihat lamban dalam menangani kasus ini. Ia tidak pernah memberikan opsi yang menguntungkanku. Selalu saja opsi buruk dan tidak terlalu buruk.”


“Dan sebagai bahan pertimbangan tambahan, aku pernah menangani kasus yang berkaitan. Aku masih punya sisa bukti yang sangat bagus dan bisa membantu Bapak lepas dari tuduhan.”


“Sisa bukti apa?”


Indira mendekatkan mulutnya ke telinga Bima Sakti dan berbisik, “Aku punya jadwal kegiatan Mischa yang asli dan yang terpenting, aku juga punya bukti tentang penyebab kematian Mischa.”


Mata Bima Sakti terbelalak. Seandainya ia menyadari hal itu sejak awal, tentu ia takkan berpaling dari Indira. “Kau benar-benar punya keduanya?”


“Tentu saja. Aku tidak bohong. Dan jika bukan aku pengacara Bapak, aku takkan pernah memublikasikannya.”

__ADS_1


Senyum Indira mengembang, terutama ketika melihat keraguan yang memenuhi hati Bima Sakti dan terpancar di wajahnya.


“Tapi, apakah tidak akan menimbulkan masalah bagimu karena merebut klien dengan cara seperti ini?”


“Secara kode etik, iya. Secara hukum, tidak.” Indira terdiam karena berpikir sejenak. “Sebenarnya, kode etik adalah hukum tertinggi dalam menjalankan profesi. Tapi, mengganti pengacara adalah hak mutlak dari klien itu sendiri. Aku takkan merebut Bapak dari pengacara Bapak. Namun, jika Bapak memecatnya dan butuh bantuan pengacara lain, aku akan selalu siap untuk membantu.”


“Kau memang ular,” ujar Bima Sakti sambil tersenyum. “Mengingat bagaimana polosnya kau sebelum membela Abimanyu Alexander, aku tak menyangka bisa melihat kelicikan seorang Indira Christina.”


“Bapak belum melihat semuanya,” balas Indira.


                  *


Indira menghela napas. Ia masih ragu meski tangannya sudah menggenggam gagang pintu. Ia tahu, ketika ia membuka pintu, akan terjadi sebuah cerita seru lainnya di dalam hidupnya. Seperti kata Abi, ia akan menjadi bahan perbincangan masyarakat lagi. Namun, kali ini takkan ada pembahasan positif yang akan ia dapat, setidaknya untuk beberapa hari ini. Orang-orang akan menganggapnya gila dan menyebalkan. Mungkin, ia akan menjadi musuh rekan-rekan sejawatnya, lebih parah dari ketika ia menghajar pengacara Titus.


Akhirnya, Indira membuka pintu kantornya. Seketika, ia disambut oleh riuh teriakan para pemburu berita. Mereka langsung melemparkan berbagai pertanyaan pada Indira yang langsung membuat tekanan darah pengacara bertubuh mungil itu menurun. Ia hampir tumbang karena gugupnya. Untung saja, ia bisa mengatasinya.


“Bagaimana tanggapan Anda terkait pemecatan pengacara Okan Katalis yang dilakukan oleh pak Bima Sakti?” tanya salah satu wartawan.


“Saya tidak peduli. Saya bukan orang tuanya,” jawab Indira bercanda, namun sama sekali tidak lucu bagi para wartawan itu. Setidaknya, ini adalah langkah awal yang bagus untuk menjadi brengsek.


“Apakah Anda yang akan menggantikannya untuk membela pak Bima Sakti?” tanya wartawan lain.


“Bukan,” kata Indira sambil menggeleng kepala. “Bukan ‘akan’, tapi ‘sudah’. Per tanggal hari ini, pak Bima Sakti menunjuk saya sebagai pengacaranya.”

__ADS_1


“Menurut kabar yang kami dapat, beberapa hari sebelum pak Bima Sakti memecat pengacara Okan Katalis, Anda mengunjungi beliau di penjara. Apakah itu benar?”


“Benar. Sebagai mantan konsultan hukumnya, tidak salah jika saya mengunjunginya saat itu, bukan?”


“Tapi, menurut pendapat banyak orang, itu sudah melanggar kode etik advokat. Tanggapan Anda?”


“Ya, tentu saja. Kode Etik Advokat alinea 4 pasal 5, Advokat tidak diperkenankan menarik atau merebut seorang klien dari teman sejawat. Tapi, apa definisi menarik atau merebut? Menurut KBBI, merebut adalah mengambil sesuatu dengan kekerasan atau dengan paksa. Sangat jelas, saya tidak melakukannya. Pak Bima Sakti dengan sadar dan tanpa paksaan telah memecat pak Okan dan langsung memilih saya sebagai penggantinya.”


Para wartawan saling berbisik melihat arogansi yang jarang mereka dapati dari seorang Indira Christina. Ya, wanita itu memang seperti orang yang berbeda. Dan ternyata, arogansi itu tidak berhenti sampai di sana.


“Saya pastikan tidak akan pernah merebut klien siapapun. Meski pernah dikeluarkan IKAKUM, saya mengerti apa itu kode etik. Misalnya, jika Deodius Purnama ingin memecat pengacaranya karena kinerjanya sangat buruk di persidangan perdana dan sering mengeluarkan pernyataan yang justru menyudutkannya di media, lalu ia memilih saya sebagai pengacaranya, justru saya seperti tidak punya etika jika menolaknya.”


Sebagai informasi, Deodius Purnama adalah seorang supir pribadi yang menjadi terdakwa karena tuduhan memperkosa dan membunuh kekasih dari majikannya. Semua bukti, termasuk rekaman CCTV dan DNA di pakaian korban, mengarah padanya. Masyarakat seantero negeri ini menghujatnya karena kekejian yang ia lakukan di luar peri kemanusiaan.


Pernyataan Indira itu tentu saja membuat heboh para wartawan. Mereka tak melepas kesempatan ini untuk melemparkan pertanyaan yang arahnya menyudutkan Indira. Namun, wanita itu terlihat tenang (atau berusaha keras untuk terlihat tenang).


“Atau Irina Agusta, yang harus menerima putusan hakim yang penuh dengan keanehan dan permohonan bandingnya dipersulit karena punya pengacara bodoh. Takkan ada yang dipersalahkan jika ia memecat pengacaranya dan memilih saya. Untuk orang-orang seperti mereka, saya akan memberikan harga yang murah dan masuk akal.”


Sementara Irina Agusta adalah seorang warga dari salah satu desa terpencil. Awalnya, ia diberitakan sebagai wanita tangguh yang punya determinasi tinggi dalam memperjuangkan tanah warisan leluhurnya dari penambangan liar. Namun, lama kelamaan berita tentangnya mulai negatif. Konon, ia menerima banyak uang dari perusahaan penambang tersebut, namun berpura-pura tidak pernah menerimanya karena, menurut pengakuan karyawan perusahaan, wanita itu kembali meminta uang yang sangat besar dan perusahaan tidak sanggup memenuhinya.


Ia juga dituduh memalsukan dokumen tanah yang ia akui sebagai milik keluarganya sejak nenek moyang mereka. Bukan hanya itu, tuduhan padanya melebar sampai dugaan penipuan penjualan tanah yang telah ia lakukan terhadap warga sekitar. Pada akhirnya, pengadilan negeri memaksanya untuk mengakui perusahaan tambang liar tersebut sebagai pemilik sah tanah warisan leluhurnya dan ia harus dihukum penjara untuk kasus penipuan tersebut.


Ternyata Indira tidak hanya membahas kedua orang itu. Ada beberapa nama yang sedang terlilit kasus yang disebut olehnya. Kesamaan dari kasus-kasus mereka adalah hakim yang memimpin persidangan mereka adalah junior dan mantan mahasiswa pak Burhan. Indira seperti sedang memberikan sugesti pada mereka untuk memecat pengacara mereka dan memilih Indira untuk menggantikannya.

__ADS_1


Tindakan Indira itu memang menghebohkan. Tak sedikit yang menganggapnya hanya sedang mencari sensasi karena sudah mulai tidak laku lagi sebagai pengacara. Dan sekali lagi, Indira melihat ucapan Abi menjadi kenyataan.


__ADS_2