Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 34


__ADS_3

“Kenapa kita tidak jadi mengunjungi abangmu? Aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan tadi. Ehm, mungkin berhubungan dengan kasusnya.” kata Indira. Sebenarnya ia lebih penasaran dengan apa yang terjadi antara Abi, jaksa Jerold dan Regina.


“Kata bang Abi, ada hal penting yang harus kita urus.”


Rama tidak tahu jika menurut Indira saat ini, tidak ada yang lebih penting daripada mengetahui lebih detail tentang kisah 'cinta segitiga' yang sedang panas itu.


“Ah, apa hal penting itu?” gerutu Indira dengan suara pelan, hingga Rama tidak mendengarnya.


Pertanyaan Indira terjawab ketika mereka akhirnya bertemu dengan seseorang yang cukup familiar bagi mereka.


“Totok!”


Rama menyebut nama itu dengan nada yang lebih berat dari biasanya. Sorot matanya yang tajam memperjelas sikap hatinya yang masih marah pada pria itu. Sementara pria itu menunjukkan ekspresi terkejut seakan tak siap menyambut kedatangan Indira dan Rama.


“Ada apa? Aku tak ingin berurusan dengan kalian lagi.”


“Ayolah, kita punya hubungan yang cukup erat. Adikmu lolos dari jeratan hukum karena abangku, abangku terancam mendapatkan hukuman berat karena kesaksianmu dan rumahmu terbakar karena ‘katanya’ dibakar oleh mamaku.”


Pria bernama Totok itu kebingungan memberikan tanggapan dari Rama. Sebenarnya ia sudah muak berurusan dengan keluarga itu. Apalagi di sini, di pasar yang sedang ramai ini, dengan beberapa calon pembeli masih mengitari dagangannya.


“Jika ada yang ingin kau sampaikan, sampaikan di tempat lain. Jangan mengganggu orang yang sedang mencari nafkah.”


Indira setuju dengan apa yang dikatakan oleh Totok. Ia mendekati Rama dan berbisik, “Sebaiknya kita ajak dia ke tempat lain. Kita sudah menjadi tontonan orang-orang di pasar.”


“Kakak tidak tahu? Sudah ratusan kali Rama berusaha menemuinya di rumah, tapi dia selalu menolak.”


“Tentu saja. Kalian sudah membakar rumahku.”


“Hei, ingat! Precision of Energen - Seseorang tidak bisa dianggap bersalah sebelum ada putusan bersalah dari hakim di pengadilan.”


Indira menaikkan alisnya setelah mendengar istilah yang dikatakan oleh Rama itu. Ia merasa pernah mendengarnya, tapi sepertinya bukan tepat seperti itu.


“Ah\, t*i kucing dengan hukum! T*i kucing dengan pengadilan!”

__ADS_1


“Bung, negara ini adalah negara hukum. Hukumlah yang memastikan ketertiban dan keteraturan dalam masyarakat. Siapapun takkan bisa melepaskan dirinya dari hukum,” kata Indira yang mulai tersinggung dengan perkataan Totok.


“Jika hukum berjalan dengan benar, harusnya wanita itu sudah dihukum.”


“Sialan! Sudah berapa kali dibilang, mama kami bukan -”


“Mau bukti apa lagi? Sudah jelas ada beberapa orang yang melihatnya menyiram bensin ke rumahku.”


Rama ingin memberikan jawaban, walau tak tahu jawaban seperti apa yang paling tepat. Namun, Indira merentangkan tangannya sebagai isyarat agar ia menahan emosinya. Amarahnya yang tadi membara, mendadak surut saat melihat wajah Indira yang sudah memerah dan bahkan pipinya sedikit bergetar. Sepertinya wanita mungil itu sedang menuju puncak emosinya, lebih daripada emosi yang Rama miliki.


“Jadi, kamu ingin kita menyelesaikannya tanpa melalui pengadilan?” Indira tidak menunggu jawaban dari pertanyaannya itu. Ia membuka ponselnya dan menunjukkan sebuah video yang menunjukkan seseorang sedang menyiram seember cairan pada benda yang terbakar dan kebakaran itu makin membesar. “Menurut pengakuan para saksi yang kamu katakan tadi, mereka melihat tante Jenny melakukan seperti pada video ini. Artinya, mereka melihat tante Jenny setelah kebakaran muncul. Karena api semakin membesar, awalnya mereka berpikir kalau tante Jenny menyiram bahan bakar. Tapi kau tahu apa yang disiram di video ini? Hanya air biasa.”


Semua orang yang mendengarnya terkejut. Beberapa orang sadar bahwa hal yang diucapkan oleh Indira masuk akal, meski ada beberapa orang yang belum mengerti. Termasuk Rama


“Jadi, yang disiram oleh mama kami itu hanyalah air biasa?” bisik Rama. Tapi, Indira mengabaikannya karena sedang bersemangat untuk menyudutkan Totok.


“Kamu tahu kenapa bisa terjadi demikian? Itu karena tante Jenny menyiram tangki minyak yang terbakar sehingga menimbulkan api yang besar ke atas akibat suplai oksigen dari air yang menguap,” kata Indira. “Dan lucunya, tangki minyak itu berada di tempat yang tak wajar, seperti sengaja diletakkan di sana untuk disiram oleh tante Jenny.”


“Apa maksudmu dengan ‘sengaja diletakkan di sana’? Kau menuduh kami membakar rumah kami sendiri?”


Perkataan Indira itu memancing emosi Totok. Secara tidak langsung, pengacara wanita itu menuduh Totok merekayasa kebakaran rumahnya sendiri.


“Kau orang hukum. Kau pasti tahu kalau aku bisa menuntutmu atas fitnah itu,” bentak Totok. Urat di wajahnya sampai keluar seperti hendak pecah.


“Ke mana barang-barang berhargamu? Ke mana televisi yang biasa berada di ruang tamumu? Ke mana motor yang biasa diparkirkan di teras rumahmu pada jam itu? Lalu, apakah suatu kebetulan jika kebakaran itu terjadi ketika ibumu yang terkena stroke sedang menginap di rumah keluargamu di luar kota? Kau seperti sudah siap dengan kebakaran itu.”


“I, itu karena kami sudah punya firasat kalau wanita itu akan membakar rumah kami. Karenanya, kami -”


“Menurut laporan kejadian kebakaran, dugaan kuat api bukan berasal dari luar, tapi dari dalam rumah. Pertama, kamu memastikan tidak ada lagi barang-barang berharga dan anggota keluarga yang sulit bergerak di dalam rumah. Lalu, kamu merusak selang tabung gas dan membiarkan gas menumpuk di dapur yang dalam kondisi tertutup. Kamu hanya perlu menunggu tante Jenny datang untuk memarahimu karena bersaksi untuk menyudutkan Abi. Jika tidak ada tanda-tanda kedatangannya, mungkin kamu akan memanggilnya atau Rama. Dan ketika tante Jenny sudah datang, kamu hanya perlu memberikan sedikit percikan agar terjadi ledakan di dapur. Memang beresiko, tapi aku yakin kamu sudah melatihnya agar kamu tidak terluka ketika melakukannya.”


Seluruh orang mulai percaya dengan analisis Indira karena cukup detail. Hal ini diperkuat dengan ekspresi gugup dari Totok.


“Ha, hanya karena kau mengatakannya panjang lebar, bukan berarti semua yang kau katakan itu benar. Bisa jadi itu hanya buah dari fantasi liarmu.”

__ADS_1


“Tapi aku punya buktinya,” kata Indira seraya merogoh tasnya. Totok semakin gugup. Apalagi ketika Indira menunjukkan foto sebuah benda yang terbakar. Benda itu sangat familiar baginya. “Pisau ini ditemukan di TKP. Menurut ahli forensik, bentuk bilahnya sangat identik dengan bekas kerusakan pada selang tabung gas.”


Sendi kaki Totok seakan hilang mendadak, membuat tubuhnya goyah seakan ingin roboh. Wajahnya memucat bak sedang bertatap muka dengan malaikat maut. Sementara itu, mulai terdengar suara tepuk tangan dari para pengunjung pasar yang sedari tadi menonton perdebatan tersebut. Rama yang paling pertama dan paling kencang bertepuk tangan.


“Marvelous, Marvelous,” puji Rama yang terdengar seperti salah satu tokoh kartun terkenal dari negeri jiran.


Rama kagum karena dua hal. Pertama, tentu saja karena kemampuan Indira dalam menganalisis kemungkinan kejadian dengan detail. Kedua, karena isi pesan dari abangnya saat mereka masih di rutan.


Pergilah menemui Totok di pasar bersama Indira. Provokasi dia dan buat keributan sampai Indira tersulut emosi.


Sekarang ia mengerti, kenapa bukan Totok, tapi Indira yang harus tersulut emosi.


Sementara itu, Indira masih merespons sorak pujian yang ditujukan untuknya dengan senyum malu-malu. Ya, pengacara kikuk yang mudah malu itu telah memecahkan sebuah kasus bak seorang detektif terkenal.


                  *


Abi tertawa ketika mendengar berita tentang video amatir yang menampilkan bagaimana Indira mengungkapkan analisisnya di hadapan Totok yang selama ini dianggap korban.


“Aku curiga, jangan-jangan semua ini adalah skenariomu,” tebak Amran yang sejak tadi ikut menonton bersama Abi.


“Tidak sepenuhnya. Aku tidak tahu tentang analisis itu,” jawab Abi. “Aku hanya tahu kalau wanita itu sudah punya analisis yang bagus.”


“Apakah tidak masalah jika ia mengganggu saksi di luar pengadilan?” tanya Dipo yang tertarik untuk nimbrung percakapan mereka.


“Tentu saja. Menurut kode etik advokat Indonesia, seorang advokat tidak dibenarkan untuk mengajari dan atau memengaruhi para saksi. Tapi, jika melihat dari undang-undang tentang advokat, seorang advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya dengan itikad baik untuk kepentingan pembelaan kliennya. Dan sejauh ini, yang dilakukannya menunjukkan sebuah itikad yang baik.”


“Bukannya itu hanya berlaku di dalam persidangan?”


“Tidak. Menurut putusan MK beberapa tahun yang lalu, itu berlaku di dalam dan di luar pengadilan.”


“Wah, enak sekali kalau paham dengan hukum ini, ya,” celetuk Tejo.


“Hanya saja, aku masih curiga denganmu. Jika kau tahu pengacara itu punya analisis yang bagus, kenapa kau tidak membiarkannya terungkap di pengadilan? Kejadian seperti ini tetap beresiko besar. Jika pengacara itu diperiksa dan diadili oleh dewan kehormatan organisasi advokat, ia pasti terancam dipecat dari keanggotaan organisasi.”

__ADS_1


Abi tidak menjawab dan tersenyum. Tidak ada yang tahu kalau kemarin, saat berbicara dengan Roy, tanpa disadari jaksa itu, ia sedang mengonfirmasi keterlibatan Roy dalam beberapa kasus yang menimpa perusahaan ayahnya. Tentu saja, bukan hanya Roy yang bermain curang. Pengacara ayahnya juga pasti terlibat. Ironisnya, salah satu pengacara itu kini telah menjabat sebagai anggota dewan kehormatan organisasi advokat.


Dan tadi malam Abi mengirim beberapa ‘tanda mata’ untuknya.


__ADS_2