
Sidang dilanjutkan saat seorang pria bertubuh tinggi kekar masuk ke ruangan persidangan. Ia mengenakan seragam biru tua dan di tangannya tergenggam sebuah topi baret. Seperti saksi-saksi sebelumnya, panitera mengambil sumpahnya terlebih dulu sebelum ia duduk di kursi saksi.
“Baik, perlu diingatkan, Saudara telah disumpah sehingga diharapkan Saudara dapat memberikan keterangan sesuai dengan apa yang Saudara alami, Saudara lihat dan Saudara dengar. Apabila Saudara tidak melakukannya, maka Saudara akan dianggap mengucapkan sumpah palsu dan dapat dituntut sesuai pasal 242 ayat 1 KUHP. Saudara mengerti?
“Mengerti, Yang Mulia.”
“Baik, saya akan mulai bertanya. Sebelumnya, apakah Saudara pernah memberikan keterangan sehingga disusun Berita Acara Pemeriksaan perkara ini?”
“Pernah, Yang Mulia.”
“Apakah keterangan yang Saudara berikan sudah benar?”
“Sudah, Yang Mulia.”
“Ketika memberikan keterangan, apakah Saudara dipaksa atau dalam keadaan tertekan?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Baik, sekarang ceritakan secara singkat tentang apa yang Saudara ketahui mengenai perkara ini.”
“Saya tidak tahu banyak tentang kasus ini, Yang Mulia. Yang saya tahu adalah saya sebagai petugas pemadam kebakaran, ikut bertugas memadamkan kebakaran yang terjadi di rumah Mischa di jalan Alam Raya nomor 37.”
“Oh, jadi Saudara ikut bertugas saat itu?”
“Benar, Yang Mulia.”
“Berapa orang yang bertugas saat itu?”
“Enam orang, Yang Mulia.”
“Posisi Saudara?”
“Saya adalah komandan regunya, Yang Mulia.”
“Oh, begitu,” kata hakim ketua sambil mengangguk-angguk. “Berarti hanya satu mobil?”
__ADS_1
“Benar, Yang Mulia.”
“Bisa? Karena yang saya lihat, rumahnya sangat besar dan semuanya ludes terbakar.”
“Bisa, Yang Mulia. Karena ketika kami tiba di lokasi, kebakaran sudah hampir melewati tahap puncak dan akan masuk ke tahap kebakaran reda. Jadi, kami tidak lagi kesulitan memadamkannya, Yang Mulia.”
“Tolong jelaskan secara singkat tentang tahap-tahap kebakaran,” pinta salah satu hakim anggota.
“Baik, Yang Mulia. Pertama adalah tahap penyalaan atau munculnya api. Yang kedua adalah tahap pertumbuhan, di mana pada tahap ini api mulai membakar benda-benda di sekitarnya. Dan jika panas dalam ruangan tidak stabil, maka berpotensi terjadinya flashover, di mana sebelumnya kebakaran hanya terjadi sebagian akan mendadak dan serentak terbakar seluruhnya. Lalu tahap pembakaran penuh atau tahap puncak. Pada tahap ini, semua barang-barang mudah terbakar akan menyala secara keseluruhan. Ini adalah tahap yang paling berbahaya, terutama jika ada orang yang masih terperangkap di dalam gedung. Dan yang terakhir adalah tahap kebakaran reda atau surut. Pada tahap ini, api mulai surut seiring dengan semakin menyusutnya material yang mudah terbakar dan temperatur mulai turun.”
“Berarti bisa dikatakan kedatangan pemadam kebakaran sudah sangat terlambat, ya?”
“Benar, Yang Mulia. Hal ini dikarenakan lokasi kejadian jauh dari rumah warga lainnya sehingga laporan kebakaran yang masuk ke kami juga sudah sangat terlambat. Ditambah lagi lokasi kejadian yang cukup jauh dari kantor pemadam kebakaran dan harus melewati beberapa titik yang rawan kemacetan meski pada malam hari."
Ketiga hakim berdiskusi sejenak setelah mendengar penjelasan dari saksi. Kemudian hakim ketua berkata, “Saudara penasihat hukum, silakan mengajukan pertanyaan pada saksi.”
“Terima kasih, Yang Mulia,” jawab Indira. Kemudian ia memalingkan pandangannya pada sang petugas damkar. “Menurut saksi, melihat kondisi TKP, apakah penyebab kebakaran karena korsleting listrik atau ada kemungkinan disebabkan oleh hal lain?”
“Keberatan, Yang Mulia. Saksi yang dihadirkan adalah saksi fakta, bukan saksi ahli. Jadi, seharusnya penasihat hukum tidak bertanya tentang pendapat saksi.”
“Benar,” jawab saksi sambil mengangguk.
“Silakan dilanjutkan, Saudara penasihat hukum,” kata hakim ketua yang membuat jaksa Jerold kembali kesal.
“Apa yang mengindikasikan penyebab kebakaran itu adalah korsleting listrik?”
“Kami menemukan MCB di lokasi kejadian dalam keadaan rusak.”
Abi membisikkan sesuatu pada Indira yang membuat wanita itu mengangguk-angguk. Meski sudah didiskusikan sebelumnya, Indira masih sedikit bingung karena tidak terlalu menguasai bidang kelistrikan.
“Bisakah Saudara jelaskan hubungan antara MCB dengan korsleting listrik yang menyebabkan kebakaran tersebut?”
Saksi itu kebingungan saat menerima pertanyaan dari Indira. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi ia ragu apakah harus menjawab secara umum atau pengacara itu membutuhkan jawaban yang lebih detail.
“Saudara penasihat, apakah hal itu penting? Karena itu adalah pengetahuan yang cukup umum,” kata hakim ketua.
__ADS_1
“Penting, Yang Mulia. Ini ada kaitannya dengan alibi terdakwa.”
“Baik, kalau begitu, Saudara saksi silakan menjawab pertanyaan tersebut.”
“Baik, Yang Mulia,” kata saksi. “MCB atau Miniature Circuit Breaker adalah perangkat yang digunakan untuk membatasi arus listrik dan pengaman ketika ada beban lebih. MCB bekerja secara otomatis memutus arus listrik ketika arus yang melewatinya melebihi arus nominal pada MCB tersebut. Jika MCB dalam keadaan bagus, ketika terjadi kerusakan pada sistem kelistrikan seperti korsleting, maka MCB akan mati secara otomatis. Namun, karena MCB pada rumah tersebut rusak, MCB itu tidak mati meski terjadi korsleting listrik yang menyebabkan kebakaran.”
Indira kembali berdiskusi dengan Abi. Cukup lama, sehingga hakim mengingatkan mereka agar tidak membuang waktu hanya untuk berdiskusi secara pribadi.
“Izin, Yang Mulia. Kami ingin menghadirkan barang bukti berupa MCB rusak yang ditemukan di TKP.”
“Baik, silakan, Saudara penasihat hukum,” kata hakim.
Beberapa saat kemudian, seorang petugas membawa barang bukti yang terbungkus dalam plastik transparan. Kemudian Indira mengarahkan barang bukti tersebut untuk diperiksa oleh saksi.
“Apakah benar benda tersebut yang Saudara dan rekan-rekan petugas damkar temukan di lokasi kejadian?”
“Benar.”
Indira menghela napas panjang lalu kembali bertanya, “Bagaimana Saudara bisa tahu MCB itu rusak hanya dengan melihatnya saja?”
“Ada bekas lelehan di beberapa bagian permukaan MCB.”
“Apakah ada kemungkinan lelehan itu terjadi karena panas dari luar?”
Saksi itu tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak dan kemudian berbicara dengan ragu, “Mungkin saja.”
Ruang sidang kembali mulai gaduh dengan bisikan para pengunjung persidangan yang membuat hakim ketua memberikan peringatan.
“Kami mengajukan pengujian untuk MCB ini, Yang Mulia. Jika ternyata MCB ini masih bagus, maka kemungkinan penyebab kebakaran karena korsleting listrik harus gugur. Artinya, ada kemungkinan terjadi pembakaran yang disengaja, yang mana klien kami tidak mungkin melakukannya karena memiliki alibi yang kuat. Dan besar kemungkinan pelaku pembakaran juga merupakan pelaku pembunuhan Mischa Radjasa.”
Kegaduhan di ruang sidang kembali terjadi, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Hakim ketua yang masih terkejut dengan pernyataan Indira sampai lupa untuk menenangkan para pengunjung persidangan.
“Baik, permintaan dari Saudara penasihat hukum diterima. Untuk mempersiapkan pengujian MCB tersebut, maka sidang akan diskors sampai pukul 1 siang.”
Hakim ketua memukul palunya lalu pergi dengan kedua hakim anggota. Indira pun bersorak senang dan tanpa sadar memeluk Abi. Meski merasa risih dan terkejut karena pelukan itu, Abi hanya tersenyum membiarkan Indira meluapkan kegembiraannya.
__ADS_1
Kemudian Abi menyadari ada sepasang mata yang sedang menatapnya tajam. Tatapan dari jaksa Jerold. Ia pun membalas tatapan itu tanpa rasa gentar sedikit pun.