Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 49


__ADS_3

Para tahanan memperhatikan televisi dengan seksama. Mereka sedang serius mengikuti jalannya cerita dari salah satu sinetron yang sedang booming akhir-akhir ini, Prahara Rumah Tangga.


“Pradita brengsek. Udah punya istri baik, cantik, penurut, masih saja selingkuh. Emang manusia, gak pernah ada puasnya.”


“Ceweknya juga yang salah. Udah tau tuh cowok punya bini, masih aja diembat.”


“Pak Sipir! Tolong kencengin suaranya, dong! Ribut banget ini orang.”


“Nonton beginian, jadi makin kangen istri.”


Abi hanya bisa diam menyaksikan kehebohan dari rekan-rekan satu rutannya. Ia berharap sipir yang memegang remot mengganti saluran ke acara berita. Tapi sepertinya sang sipir menikmati sinetron itu.


“Lho, kok sinetron? Ganti berita,” kata seorang sipir yang baru datang. Perkataannya itu membuat Abi tersenyum dan tahanan lain protes.


“Halah, isi beritanya tentang itu-itu saja. Bosan lihatnya,” jawab sipir pemegang remot. Tapi, ujung-ujungnya ia mengganti saluran sinetron itu ke saluran berita, membuat kecewa para tahanan.


“Pemirsa, berita menghebohkan kembali datang dari PT. Laras Jaya Karya.”


“Tuh, kan. Berita tentang perusahaan itu lagi,” kata sipir pemegang remot yang didukung oleh para tahanan yang masih belum move on dengan sinetron Prahara Rumah Tangga.


“Ya sudah, ganti lagi salurannya setelah berita ini.”


“Jaksa Leroy Jerold Kurniawan, anak dari Louis Jithro Kurniawan, ditemukan tewas gantung diri di kediamannya. Diduga kuat korban bunuh diri karena depresi. Seperti diketahui, Leroy Jerold Kurniawan adalah seorang jaksa yang memiliki reputasi baik. Sejak beberapa hari terakhir, PT. Laras Jaya Karya, yang merupakan perusahaan orang tuanya mengalami berbagai tuduhan kriminal. Hal ini merembet pada statusnya sebagai jaksa. Banyak kecurigaan atas perannya dalam memenangkan berbagai kasus hukum yang menimpa perusahaan orang tuanya.”


Bagai tersambar petir di siang bolong, Abi sempat syok ketika mendengar kabar itu. Ia sama sekali tidak menduganya. Seluruh sendi-sendi di tubuhnya lemas dan ia hampir tumbang. Ia punya banyak rencana yang akan melibatkan Roy. Apalagi dendamnya pada pria itu belum tuntas. Kematian Roy saat ini bagaikan sebuah pukulan telak baginya.


Apakah ini ulahmu, Tuan Jireh?


                  *

__ADS_1


“Roy bunuh diri.”


Regina mengatakannya dengan nada datar, seperti ekspresinya sejak datang tadi. Tidak seperti biasanya, ia tidak terlihat ceria saat bertemu dengan Abi. Wajahnya selalu serius dan tak ada sekalipun candaan keluar dari mulutnya. Namun, Abi tidak menyadarinya.


“Sayang sekali. Padahal urusanku dengannya belum selesai,” gumam Abi. “Apakah sudah dilakukan autopsi pada jenazahnya? Mungkin saja ia tidak bunuh diri, melainkan dibunuh.”


Mata Regina membelalak menatap Abi. Ia terlihat terkejut dan marah pada kata-kata yang diucapkan oleh Abi tadi. Sementara, yang mengucapkannya merasa canggung melihat tatapan itu. Ia tidak tahu apa makna di balik tatapan seram itu.


“Dalam situasi seperti ini, kau masih berbicara seperti itu?” Regina meninggikan suaranya. “Meski kau membencinya, tapi dia Roy. Orang yang sudah kau kenal sejak SMA dulu!”


Orang-orang yang ada di ruang kunjungan melihat ke arah mereka. Abi merasa sedikit malu, tapi Regina seakan tidak peduli.


“Ada apa denganmu? Bukankah selama ini kau yang lebih sering memakinya?”


“Ini tentang kematian seseorang! Tunjukkanlah sedikit saja empatimu!” teriak Regina. Wajahnya sudah memerah dan matanya mulai berkaca-kaca. “Apakah selama ini aku tidak sadar kalau kau ternyata seegois ini?”


“Baik, aku salah. Aku minta maaf.”


Regina masih menangis untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia menyeka air matanya dan mulai menatap Abi kembali.


“Sebenarnya aku sudah ingin sekali mengatakan sesuatu padamu, tapi selalu kuurungkan karena aku masih memaklumi penderitaan yang selama ini kau tanggung,” ujar Regina, masih dengan mata yang berkaca-kaca. “Kau sudah terjerat oleh kebencian masa lalumu terlalu dalam sehingga kau selalu berpikir kalau apa yang kau lakukan adalah hal yang dapat dimaklumi.”


Abi mengangkat alisnya. Ia sama sekali tidak menduga Regina, wanita yang sejak dulu selalu berada di pihaknya dan setia mendukungnya, saat ini malah menyerangnya.


“Apakah aku sudah terlalu menyakitimu?” Meski tidak terima dengan sikap Regina yang mendadak terlalu konfrontatif padanya, Abi berusaha untuk bersikap lembut. “Baik, aku memang salah karena tidak menunjukkan rasa duka untuknya. Tapi bukan aku yang membunuhnya. Aku tak bisa bersikap munafik dengan berpura-pura menangis karenanya.”


“Setidaknya kau sadar kalau kau penyebabnya,” ujar Regina yang membuat Abi cukup terkejut. “Aku tahu, pengacaramu yang pertama kali menyelidiki tentang skandal dilusi di perusahaan ayahnya Roy. Lalu kalian memperbesarnya dengan menghasut investor-investor  yang pernah bekerjasama dengan perusahaan itu sehingga pemberitaannya seheboh itu. Aku tahu, kau juga pasti terlibat dengan tuduhan korupsi abang dan kakaknya beberapa waktu yang lalu, kan?”


“Hei, kau adalah polisi. Bukankah seharusnya bagus jika sebuah kejahatan terungkap?”

__ADS_1


“Tapi semua ada prosedurnya. Kau selalu bertindak sendiri seakan kau tak pernah menganggap kami, para polisi, ada di dunia ini.”


“Ayolah, kau pasti mengerti kenapa aku bersikap seperti itu pada polisi,” kilah Abi. “Aku hanya mencoba untuk berpartisipasi dalam penegakan hukum.”


“Bukan, kau hanya ingin membalas dendam.”


Mata Abi membelalak mendengar tuduhan Regina yang sayangnya benar. Wajahnya yang sebelumnya terlihat lembut, kini menunjukkan urat-urat kemarahan.


“Apakah salah jika aku ingin membalas dendam, setelah semua yang mereka lakukan padaku, merusak hidupku?”


“Tidak, hanya saja kau terlalu mencurahkan hidupmu untuk balas dendam sehingga kau lupa kalau ada banyak hal yang lebih indah dan yang bisa kau raih daripada menuntaskan dendam kesumatmu itu.”


“Misalnya?”


Regina tidak langsung menjawab. Tak mungkin ia mengatakan jika hal yang lebih indah itu ada perasaan cintanya pada Abi, meski sebenarnya itu yang ia maksudkan. Apalagi saat ini perasaan itu sudah mulai surut.


“Bukan hanya itu, kau juga membuat orang-orang di sekitarmu, yang peduli padamu, harus menanggung akibat buruk dari pembalasan dendammu dan kau tidak pernah merasa bersalah.” Regina sama sekali tidak menjawab pertanyaan Abi tadi. “Lihat ibumu yang sempat difitnah membakar rumah seseorang. Lalu adikmu, Rama, yang diserang oleh orang-orang tak dikenal. Belum aku dan para polisi yang telah bertugas dengan jujur harus mendapatkan citra buruk karena aksi-aksimu selama ini.”


Abi hanya diam. Untuk beberapa waktu, ia tidak bisa memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan, yang bisa menghibur Regina sekaligus membela dirinya sendiri. Hingga akhirnya ia berbicara pada sahabat baiknya itu dengan suara yang lirih agar tidak melukainya, meski ia tahu kata-kata ini cukup kejam sebagai reaksi dari perkataan Regina sebelumnya.


“Maaf, aku tidak bisa berhenti. Aku harus menuntaskan dendamku atau aku akan menyesal sepanjang hidupku. Yang bisa kulakukan adalah berusaha untuk melindungi orang-orang di sekitarku yang mungkin akan menerima dampak buruknya.”


Seperti dugaan Abi, Regina terlihat kesal mendengar jawabannya. Wanita tangguh itu berdiri dan pergi meninggalkan Abi. Namun, baru berjalan beberapa langkah, ia berbalik dan menghampiri Abi kembali.


“Jika memang itu keputusanmu, artinya aku akan menjadi musuhmu. Aku akan selalu mengawasimu dan melawanmu jika kau melakukan hal-hal yang menyalahi aturan. Aku takkan membiarkan apa yang dialami oleh Roy terjadi lagi pada orang lain. Karena jika kau ingin menghukum seseorang, apalagi dengan hukum, seharusnya kau menyerahkannya pada kami, pihak kepolisian. Tapi jika kau melakukannya sendiri, itu berarti kau yang melanggar hukum.”


Abi menghela napas. Matanya yang sedih terus menatap orang yang telah mengisi hidupnya sejak mereka kecil. Kemudian ia berkata, “Walaupun suatu saat kita menjadi musuh untuk satu sama lain, aku berharap takkan pernah melukaimu.”


Regina berbalik dan melangkah pergi lagi. Untuk kali ini, ia tak lagi kembali. Abi punya firasat kalau wanita itu takkan pernah kembali lagi. Kalaupun kembali, ia tidak akan kembali sebagai sebagai seorang sahabat lama.

__ADS_1


__ADS_2