Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 92


__ADS_3

“Sebelah sini,” kata Rinjani ketika melihat Indira sedang kebingungan memilih koridor mana yang harus ia lalui.


“Padahal dari luar gedungnya terlihat kecil, tapi isi di dalamnya sangat rumit,” ujar Indira ketika ia sudah berada di sebelah Rinjani.


“Sama seperti demokrasi. Di luarnya terlihat sederhana. Mau memilih seseorang, tinggal voting. Mau memutuskan sesuatu tinggal voting. Ternyata, aslinya sangat rumit. Penuh intrik dan tipu muslihat.”


Indira menatap Rinjani dengan kagum. Ia tak menyangka, Rinjani yang selama ini gaya bicaranya slenge’an, bisa membahas tentang demokrasi. “Wah, padahal baru beberapa hari kamu bergabung dengan tim sukses Bima Sakti, omonganmu sudah penuh dengan filosofi.”


“Ah, artinya mereka berhasil merusakku,” balas Rinjani.


Mereka berdua sudah lebih akrab dibandingkan saat awal-awal bertemu. Hal itu terjadi sejak mereka sadar bahwa mereka punya lawan yang sama, yaitu Regina. Rinjani yang lebih dulu mengenalnya berpikir kalau Indira masih jauh lebih baik untuk dijadikan teman dibandingkan polisi wanita itu.


Ada banyak alasan ia berpikiran seperti itu. Pertama, Abi terlalu mencintainya sehingga seringkali melakukan sesuatu yang merugikan dirinya sendiri untuk kepentingan Regina. Contoh besarnya adalah kejadian lima belas tahun yang lalu. Kedua, Regina kerap kali melukai perasaan Abi dan parahnya, Abi selalu memaafkan. Misalnya, ketika wanita itu memutuskan untuk bertunangan dengan Roy, salah satu musuh berat Abi. Terakhir, Regina tidak banyak membantu mereka saat kasus Kerinci dulu, meski ia punya kemampuan untuk itu.


Sementara bagi Indira, ia lebih memilih Rinjani hanya karena wanita itu tidak lebih cantik daripada Regina. Bahkan jika berbicara tentang paras, ia lebih percaya diri kalau bersaing dengan Rinjani daripada dengan Regina. Kekurangannya hanya ukuran tubuh yang pendek, tidak seperti Rinjani yang memiliki tubuh proporsional.


“Apakah Bima Sakti mengatakan tujuannya memanggil kita?” tanya Indira.


“Sepertinya berkaitan dengan dokumen Paradise yang dikirim oleh Abi.”


Mereka sampai di depan pintu sebuah kantor. Terdengar suara seorang pria yang mempersilakan mereka untuk masuk. Indira masih ragu, tapi Rinjani  dengan santainya membuka pintu dan mengajak Indira untuk ikut masuk bersamanya.


Di dalam, Bima Sakti sudah menunggu mereka dengan senyum sumringah. Ia segera menyalami Indira dan Rinjani dengan semangat. Sebagai awal pembicaraan, ia banyak menanyakan hal basa-basi seperti bagaimana kabar mereka hari ini, transportasi seperti apa yang mereka gunakan untuk sampai ke sini, atau apakah mereka sudah sarapan. Benar-benar khas politikus.


“Baiklah, karena kita sama-sama orang sibuk, saya tidak akan berbicara omong kosong dan langsung ke intinya,” katanya, setelah hampir seperempat jam berbasa-basi. “Aku sudah menerima dokumen tentang Paradise. Apakah salah satu di antara kalian yang melakukannya atau -”


“Saya yang mengirimnya pada Anda. Maaf jika saya tidak menyertakan alamat pengirim. Saya perlu tahu respons Anda terlebih dulu sebelum membicarakannya lebih lanjut,” potong Indira.


“Oh, saya pikir yang mengirimnya adalah -”


“Bukan, itu saya.”


Indira tahu, Bima Sakti ingin memancing pengakuan dari Indira bahwa Abi yang mengirimkannya. Secara tidak langsung pria itu ingin mengkonfirmasi kalau Abi yang sedang dipenjara memiliki akses untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

__ADS_1


“Baiklah.” Bima Sakti kembali tersenyum dan mengambil sebuah dokumen dari lacinya lalu meletakkannya ke atas meja, di hadapan Indira dan Rinjani. “Sekarang, apa yang bisa kulakukan dengan benda ini? Apa keuntungan yang bisa kudapatkan?”


Indira menarik sedikit dokumen itu ke arahnya lalu berkata, “Kursi gubernur.”


Bima Sakti mengangguk, tapi ia tidak terlalu bersemangat meski yang disebutkan Indira adalah ambisi terbesarnya saat ini.


“Aku punya pemikiran sederhana tentang hubungan antara dokumen ini dengan kursi gubernur yang kau katakan. Tapi, seperti yang saya katakan, itu terlalu sederhana. Dokumen ini belum terlalu valid dan tak cukup untuk menjatuhkan petahana, meski nama Theodore Fransiskus ada di dalam dokumen ini.”


“Maka, kita harus memikirkannya dengan cara yang lebih rumit.”


“Bagaimana caranya?”


Indira hendak mengucapkan sesuatu, namun tangan Rinjani mengisyaratkan untuk menahannya. Kemudian, giliran Rinjani yang berbicara.


“Sebagai pengusaha, tentu Tuan tahu kalau segala sesuatu ada harganya.”


Bima Sakti tertawa ketika mendengar kata-kata itu. Ia sadar kalau yang dihadapinya saat ini adalah orang-orang jenius. Bukan hanya mereka berdua, tetapi sosok yang mereka wakilkan, yaitu Abimanyu Alexander. Ia merasa sangat beruntung karena orang-orang itu menawarkan diri untuk berada di pihaknya.


“Oh, tentu saja kami tidak meminta itu. Jika kami mau, tidak sulit bagi temanku yang merupakan pengacara luar biasa ini untuk membebaskannya.”


“Jadi, apa itu?”


“Sebuah informasi. Tentang Sky Emperor.”


Tiba-tiba Bima Sakti mematung ketika mendengar nama itu. Ekspresinya membeku, suaranya tak terdengar, bahkan keringat mulai bercucuran dari keningnya. Lalu ia tertawa terbahak-bahak.


“Kalian pasti sudah mendengar rumor itu. Rumor yang mengatakan kalau aku adalah anggota Sky Emperor. Itu adalah sebuah kebohongan. Bahkan, aku yakin kalau organisasi itu hanyalah bualan belaka yang diciptakan oleh sekelompok orang aneh penggila teori konspirasi.”


“Sayangnya, kami mendapatkan informasi itu bukan hanya dari rumor. Kami telah berhasil mengkonfirmasinya.”


Indira mengeluarkan selembar foto yang menampakkan beberapa orang sedang melakukan sebuah pertemuan. Hampir semua orang di foto itu tidak terlihat jelas wajahnya, kecuali wajah seseorang yang sangat mirip dengan Bima Sakti.


“Da, dari mana kalian mendapatkannya?” tanya Bima Sakti tergagap.

__ADS_1


“Anda tidak perlu tahu itu.”


Indira tidak mungkin bilang kalau ia mendapatkannya dari ayahnya, yang entah bagaimana bisa mendokumentasikan pertemuan Sky Emperor. Lebih tepatnya, ia mencuri dari tas ayahnya ketika mereka sedang makan di swalayan dekat gedung PT. Laras Jaya Karya.


“Baiklah, aku mengakuinya. Tapi, Sky Emperor bukanlah organisasi yang luar biasa seperti yang selama ini digembar-gemborkan oleh para orang aneh penggila teori konspirasi itu. Kami tidak mengendalikan pemerintah, apalagi menentukan pemimpin untuk negeri ini. Kami juga tidak pernah melakukan ritual aneh, memanipulasi kejadian-kejadian penting di negeri ini, atau membunuh orang-orang yang kami anggap penghalang seperti yang sering dirumorkan oleh orang. Kami hanya kumpulan pebisnis yang ingin melindungi bisnis kami. Terkadang kami melakukan beberapa bisnis besar yang sebenarnya legal, tapi rentan untuk dianggap ilegal. Untuk itu, kami menjalin kerjasama dengan anggota dewan untuk merancang beberapa undang-undang yang menguntungkan banyak pihak, tapi kami bukan mengatur pemerintah. Hanya segelintir pejabat yang bisa kami ajak kerjasama.”


“Khas politikus dan pengusaha, mempermanis sesuatu yang busuk. Legal tapi rentan untuk dianggap legal, menjalin kerjasama, merancang undang-undang yang menguntungkan banyak pihak. Indah sekali,” sindir Indira sambil melihat Rinjani, berusaha agar temannya itu menyambung perkataannya.


“Tidak, dia adalah bosku. Aku tidak ingin menjelek-jelekkannya, apalagi di depannya,” kata Rinjani setelah membaca kode dari Indira.


“Jadi, informasi apa yang ingin kalian ketahui tentang Sky Emperor?” tanya Bima Sakti mengembalikan fokus negosiasi mereka.


“Ah, iya. Aku sampai lupa.” Indira memeriksa ponselnya lalu menunjukkan sesuatu pada Bima Sakti. “Ini adalah jadwal kegiatan Mischa Radjasa di hari kematiannya. Ada jadwal online meeting antara dia dengan beberapa orang, termasuk Anda. Apakah orang-orang ini adalah anggota Sky Emperor lainnya? Lalu, apa yang kalian bahas hari itu?”


Bima Sakti berpikir sejenak lalu memeriksa catatan di ponselnya. “Ah, artis bodoh itu sedang menjadi semacam perantara untuk sebuah mega proyek ilegal. Saat itu ia mempresentasikan sesuatu yang menurutku agak tidak masuk akal. Terserah kalian mau percaya atau tidak, saat itu aku hanya mengikuti rapat itu selama beberapa menit saja.”


“Tunggu. Perantara? Antara kalian dengan siapa?”


“Dengan seorang pria yang dijuluki tuan Jireh.”


Indira dan Rinjani saling tatap. Akhirnya, mereka menemukan sebuah benang merah.


“Memangnya mega proyek apa?”


“Entahlah, aku tidak terlalu ingat. Tapi, berkaitan dengan penjara. Intinya, jika suatu saat kami dihukum atas kejahatan kami dan harus dipenjara, kami dapat menjalani hukuman kami tanpa harus menderita.”


Kening Indira dan Rinjani mengerut. Mereka sama sekali bingung dengan penjelasan sang calon gubernur.


“Jadi, kenapa Anda tidak mau terlibat di dalamnya?”


“Aku yakin aku akan menjadi orang yang bersih dan terhindar dari pelanggaran hukum. Proyek itu takkan berguna bagiku. Lebih baik aku menghemat uang untuk pilkada nanti. Lagipula, siapa tuan Jireh itu sehingga bisa membahagiakan narapidana? Apakah ada cara masuk akal yang membuat orang yang dipenjara menjadi bahagia? Apakah ia mau membuat taman bermain di lapas?”


Bima Sakti terus mengoceh, hingga tak sadar kalau Indira dan Rinjani tidak lagi memperhatikannya. Mereka berdua sedang sibuk menebak mega proyek yang dijanjikan oleh tuan Jireh pada para anggota Sky Emperor.

__ADS_1


__ADS_2