Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 99


__ADS_3

Regina mengetuk-ngetuk pena ke atas meja kerjanya. Otaknya sedang dibebani oleh pikiran tentang perbincangan terakhirnya dengan Abi di lapas Maharaja. Ia bahkan sampai melupakan kasus pembunuhan ART yang sedang diusut oleh timnya.


Ucapan Abi sudah terbukti benar. Theodore Fransiskus benar-benar orang yang pantas untuk dicurigai. Karena konferensi pers yang dilakukan oleh Bima Sakti, Theodore Fransiskus dicurigai telah melakukan kejahatan terkait reklamasi pulau Sarden.


Bukan hanya tentang mencurigai sang mantan gubernur itu, Abi juga menceritakan tentang hubungan antara reklamasi dan rancangan kasino itu dengan kematian Mischa.


“Mischa adalah seorang penghubung. Ia menjadi penghubung antara seorang pimpinan organisasi rahasia yang berpengalaman di bidang kejahatan dengan Sky Emperor, organisasi rahasia lainnya yang diisi oleh para pebisnis nomor wahid di negeri ini.”


“Pimpinan organisasi rahasia yang berpengalaman di bidang kejahatan?”


“Benar. Kau mungkin tidak pernah mendengar namanya. Tapi, para petinggi polisi pasti pernah karena ia memiliki koneksi kuat dengan kepolisian kita.” Abi mendekatkan wajahnya ke wajah Regina dan berbisik, “Namanya adalah tuan Jireh.”


“Tuan Jireh?”


“Ya, nama yang bahkan tabu untuk disebut di kalangan dunia hitam,” ujar Abi. “Mereka dijadwalkan melakukan pertemuan di hari kematian Mischa. Sayangnya, Mischa meninggal sebelum rapat itu berlangsung. Sebagai pihak yang paling membutuhkan dan kebetulan yang pertama kali mengetahui kematian Mischa, tuan Jireh mencoba merekayasa kematiannya dan mengirim seseorang untuk menyamar sebagai Mischa. Dan orang itu adalah Benjiro. Karena, jika mengetahui Mischa telah mati, Sky Emperor yang eksklusif itu takkan mau menunjukkan wajahnya pada orang lain dan rapat itu bisa dipastikan takkan pernah terjadi.”


“Memangnya, apa agenda rapat hari itu?” tanya Regina.


“Pembangunan kasino terbesar di pulau Sarden,” jawab Abi.


“Berarti, Bima Sakti adalah salah satu anggota Sky Emperor.”


“Ya, benar. Seperti yang kau ketahui, Bima Sakti mengikuti rapat itu walau sebentar. Artinya, ia tak mungkin terlibat dengan rekayasa kematian Mischa itu. Juga, ia meninggalkan rapat di tengah jalan karena sejak mendengar rencana itu, ia sudah menyatakan tidak setuju karena bertentangan dengan rencana kampanyenya untuk merebut kursi gubernur.”


“Lalu, apa hubungannya dengan Theodore Fransiskus?”

__ADS_1


“Tujuan rapat itu diadakan adalah untuk menggaet beberapa atau semua anggota Sky Emperor untuk berinvestasi di kasino rahasia mereka,” ujar Abi pelan. “Pikirkan saja. Kenapa ia sudah yakin mencari investor sekelas Sky Emperor? Pasti karena sudah mendapatkan jaminan dari Theodore Fransiskus dan beberapa anggota dewan.”


Regina mengangguk. Hari ini, sangat banyak informasi baru yang didapatnya. Mulai dari kronologis kematian Mischa, keberadaan Sky Emperor yang rupanya nyata, seorang pria pemimpin organisasi kejahatan rahasia yang bernama tuan Jireh, hingga hubungan Theodore Fransiskus dengan rekayasa kematian Mischa.


Saat ini, di kantornya, Regina sibuk memikirkan bagaimana caranya mengungkap identitas tuan Jireh dan menangkapnya. Namun, ia sadar kalau saat ini ia sendiri. Seperti kata Abi, instansi tempatnya bekerja sudah disusupi oleh orang-orang yang berada di bawah kendali tuan Jireh. Bukti nyatanya adalah tidak dilakukannya penyelidikan untuk tuduhan tindak korupsi dari Bima Sakti yang ditujukan pada Theodore Fransiskus atas dua Raperda yang baru dibuat olehnya.


Apalagi, berita tentang kasino yang akan dibangun di atas pulau Sarden juga menguap begitu saja. Hal ini menandakan jika ada ‘orang kuat’ yang berada di balik semua ini. Meski Theodore Fransiskus sudah mengundurkan diri, bukan tidak mungkin jika tuan Jireh akan memakai calon lain untuk memuluskan rencana kasinonya itu.


Kemudian, Regina mengambil ponselnya dan membuka nomor kontak yang ia simpan di sana. Ia mencari sebuah nama. PENGACARA LUGU PEMUJA ABI BODOH! Itu adalah nama yang ia berikan untuk nomor ponsel Indira.


“Halo! Kau punya waktu siang ini? Aku ingin bertemu dan membicarakan sesuatu yang penting padamu.”


                  *


Indira menyeruput jus alpukatnya dengan perasaan gugup. Matanya tak henti melirik ke sekelilingnya. Ia mengalami kecemasan karena akan bertemu dengan seseorang yang tidak terlalu akrab dengannya. Bahkan, bisa dikatakan kompetitornya. Meski ia tak ingin memperjelas kompetitor dalam hal apa.


“Sudah lama?” tanya Regina sambil menduduki kursi yang ada di hadapan Indira. Bahkan caranya duduk saja sangat keren menurut Indira.


“Untuk menunggumu, sangat lama. Aku bisa menggunakan waktu ini untuk hal-hal yang lebih berguna,” jawab Indira sinis.


“Aku tahu kalau kau tidak begitu laku sejak dikeluarkan dari IKAKUM. Bahkan, karena tidak ada klien yang datang padamu, kau menawarkan diri jadi tim sukses Bima Sakti.” Ternyata, Regina lebih hebat dalam hal kesinisan.


“Aku bukan tim sukses. Aku adalah konsultan hukumnya!” amuk Indira. Kemudian ia duduk bersandar dan mencoba menenangkan diri. Ia tidak boleh terintimidasi karena saat ini yang butuh untuk bertemu bukanlah dia. “Kau ingin aku pulang?”


Ternyata cara itu berhasil. Regina jadi berpikir untuk berhati-hati dalam berbicara agar tidak menyinggung perasaan Indira. Saat ini, dia adalah satu-satunya sumber jawaban untuk pertanyaan yang mengganggu pikirannya. Ia sudah beberapa kali mengajukan izin jenguk di lapas Maharaja, tapi selalu ditolak dengan alasan yang membingungkan.

__ADS_1


“Baik, aku meminta maaf,” kata Regina. “Aku ingin membahas suatu hal yang penting. Mungkin ini juga berguna bagi kalian.”


“Bagaimana kamu bisa menilai itu berguna bagi kami?”


Regina menghela napas, lalu berkata, “Abi sudah menceritakan tentang orang yang sedang kalian lawan bernama tuan Jireh. Jadi, berhentilah bersikap sinis dan ketahuilah kalau sekarang aku berada di pihak yang sama dengan kalian.”


Indira menajamkan tatapannya seakan tidak yakin dengan apa yang diucapkan wanita itu. Tapi, ia menyebut nama tuan Jireh dengan percaya diri. Tidak salah lagi, pasti Regina mendapatkan nama itu dari Abi.


“Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Sebelumnya, aku ingin bertanya. Apakah konferensi pers yang dilakukan oleh Bima Sakti adalah salah satu rencana Abi?”


Indira mengangguk dengan keraguan. “Memangnya kenapa?”


“Aku hanya ingin tahu tujuannya. Memang, Theodore Fransiskus mengundurkan diri dari kursi gubernur dan dari niatnya mencalonkan diri kembali. Tapi, setelah itu, tidak terjadi apa-apa lagi. Kupikir akan ada sesuatu yang dahsyat, misalnya terkait dugaan suap yang dilakukan oleh para pengembang di pulau Sarden atau tentang rencana pembangunan kasino itu.”


“Harusnya aku yang menanyakannya padamu selaku bagian dari kepolisian negeri ini. Kenapa polisi tidak melakukan penyelidikan untuk itu?”


“Jadi, rencana kalian hanya sampai situ saja?”


Indira merasa terluka karena ia berpikir kata-kata Regina yang terakhir itu untuk menyindirnya.


Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh tayangan berita di televisi. Berita itu tentang Bima Sakti.


“Berita mengejutkan baru saja kami terima. Benjiro Michael, tersangka kasus pembunuhan Mischa, mengungkapkan sebuah fakta yang mengejutkan. Tiba-tiba ia mengaku bahwa pembunuhan itu dilakukannya atas perintah dari salah satu calon gubernur, Bima Sakti. Hal ini diperkuat oleh jadwal kegiatan Mischa yang diserahkan oleh manajernya. Dalam jadwal itu tertulis di hari kematiannya, Mischa dijadwalkan rapat dengan Bima Sakti.”

__ADS_1


Masih panjang lagi kabar yang disampaikan oleh sang pembawa berita, namun Indira dan Regina sudah tahu apa yang sedang terjadi. Akhirnya, tuan Jireh bergerak menyerang dan korban pertama adalah Bima Sakti.


__ADS_2