Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 91


__ADS_3

Pria 0608 masih melongo mendengar perkataan dari Abi. Ia sama sekali tak menyangka jika Abi diam-diam telah mengetahui identitas aslinya. Lalu, kenapa ia tidak mengatakannya?


“Sejak kapan kau mengetahuinya?”


“Bodoh! Waktu kau ditangkap dan penangkapanmu disiarkan di televisi nasional, secara tak sengaja kami menontonmu. Mama menggerutu dan memakimu. Setelah kutanya siapa Andika Alexander, kenapa mama sangat membencimu dan kenapa nama belakang kita sama, ia memberitahukanku kalau kau adalah orang yang memberikan namaku. Abimanyu Ananta Alexander. Anak umur 10 tahun pasti langsung sadar kalau itu artinya Andika Alexander adalah pria yang dulu pernah ditinggalkan mama karena kebodohannya.”


“Bukankah itu adalah nama yang keren? Jika disingkat menjadi AAA. Awalnya hanya Abimanyu Alexander. Tapi, karena aku sangat menyukai Pramoedya Ananta Toer, makanya aku menambahkan Ananta di tengah. Sayangnya, media hanya menyebutkan Abimanyu Alexander saja,” kata pria 0608 yang bernama asli Andika Alexander itu mencoba mengalihkan topik tentang ‘ditinggalkan’.


“AAA? Apa itu? Kau pikir aku baterai?” Abi menunjukkan wajah geramnya pada Andika lalu naik ke atas ranjangnya.


“Ayolah, karena kau sudah tahu semuanya, bukankah sebaiknya kita mengakrabkan diri seperti yang biasa dilakukan oleh ayah dan anak?”


“Sudah kubilang, kau bukan ayahku. Kau tidak pernah hadir di hidupku.”


“Memangnya itu definisi ayah sesungguhnya? Kalau begitu, Atuk si tukang sampah di Batavia Baru itu adalah ayahmu? Bukankah setiap hari ia selalu hadir di hidupmu sejak kau lahir? Ya, meski hanya untuk mengambil sampah dari rumahmu.”


Kepala Abi menjulur tiba-tiba, membuat Andika terkejut. “Bagaimana kau bisa tahu Atuk si tukang sampah? Selama ini kau menyelidiki kami? Tapi, kau tidak pernah menemui, apalagi mengurus kami? Jika boleh memilih, aku akan memilih Atuk sebagai ayahku.”


Andika gelagapan mendengar perkataan Abi. Ia berusaha mengoreksi perkataannya agar tidak timbul salah sangka, tapi kepala Abi sudah tidak menjulur lagi. Abi kembali ke posisi tidurnya.


“Maafkan ayah, eh, papa.” Andika berpikir sejenak, mencari panggilan yang lebih baik untuk dirinya sendiri. “Kalau papi, terdengar seperti puppy. Bagusnya memang Abi, biar kearab-araban. Tapi nama panggilannya Abi. Bagaimana kalau daddy? Terdengar modern dan keren, sih. Apa daddy saja, ya?”


“Tak ada gunanya kau memikirkan itu. Sampai kapan pun, aku enggan menganggapmu orang tuaku,” kata Abi yang tidak nyaman mendengar konflik batin Andika terkait panggilan untuk dirinya itu.


“Ayolah. Selama ini aku bukannya ingin menelantarkanmu. Memang si Jenny, eh, mamamu itu yang selalu menolak kehadiranku. Aku juga butuh waktu bertahun-tahun sampai tahu kalau kalian tinggal di lokalisasi itu dan ibumu menjadi, yah, kau tahulah.”


“Aku tak butuh klarifikasi darimu. Yang pasti, selama ini kau tidak pernah ada dalam hidupku dan merupakan hal yang sulit jika tiba-tiba kau muncul lalu menyuruhku menerimamu seakan tidak terjadi apa-apa.”

__ADS_1


Andika menghela napas panjang. Sepertinya, untuk saat ini, berbicara dengan Abi tidak akan membawa mereka ke mana-mana. Ia takkan menganggapnya sebagai ayah dalam waktu dekat ini. Abi tentu saja mewariskan sifat keras kepala darinya dan ibunya. Maka, ia beralih ke metode yang lain untuk setidaknya mengakrabkan diri dengan anak kandungnya, yaitu tawar-menawar.


“Baiklah, sekarang katakan apa yang ingin kau selidiki di lapas ini. Sebagai orang yang paling dituakan karena sudah di sini selama puluhan tahun, tentu aku tahu banyak informasi tentang lapas ini.”


Kepala Abi kembali nongol dengan wajah penasarannya.


“Bagaimana kau tahu aku ke sini untuk menyelidiki sesuatu?”


“Tentu saja. Kau menolak bantuan pengacaraku demi menunggu pengacara wanita yang kikuk itu. Hasilnya apa? Kau dan dia seperti memasrahkan diri untuk mendapatkan vonis yang berat. Aku juga tahu, setelah bertemu dengan pengacaraku, kau sadar kalau aku memperhatikanmu dan masih punya cukup kuasa meski berada di penjara. Kau pasti sudah menduga kalau aku yang mengatur agar kau bisa dipenjara di sini sehingga aku bisa dekat denganmu.”


Abi tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk seakan mengagumi kemampuan analisis dari ayah biologisnya.


“Katakan saja. Percayalah, aku berada di pihakmu dan siapapun lawanmu adalah lawanku juga,” lanjut Andika dengan wajah senyum penuh tekad.


“Baiklah kalau begitu.” Akhirnya Abi turun dari ranjangnya dan kini mereka berhadap-hadapan. “Untuk saat ini, aku hanya ingin mengetahui apa saja yang telah dilakukan oleh tuan Jireh di tempat ini.”


Tiba-tiba senyum penuh tekad di wajah Andika lenyap ketika mendengar nama itu keluar dari mulut anak kandungnya.


Dua puluh tujuh tahun yang lalu


“Pokoknya, aku ingin kalian mencari tahu keberadaan ibu Geni!”


Kiswanto adalah satu dari beberapa anggota yang mendapatkan perintah itu dari Letkol Andika Alexander. Ibu Geni yang dimaksud adalah istri sang atasan, dengan nama lengkap Anggraini Lenggo Geni.


Menurut cerita yang pernah diedarkan, wanita itu lari dari Letkol Andika demi pria lain. Namun, sebagian besar orang tidak memercayainya. Mereka lebih percaya ibu Geni lari karena kekasaran sang letkol.


Awalnya, kepergian istrinya tidak memengaruhi kehidupannya. Ia fokus pada karirnya di militer. Namun, ketika ambisinya untuk menyematkan tanda bintang di bahunya sudah dekat, ia diganggu oleh isu terkait masalah pribadinya. Ketiadaan istri akan mempersulit peningkatan karirnya.

__ADS_1


Sang letkol panik. Peraturan melarangnya untuk menikahi lebih dari satu wanita. Peraturan juga melarangnya untuk menceraikan istrinya. Seandainya ia ingin menikahi wanita lain, ia harus menunjukkan surat keterangan kematian istrinya.


Jadi, ada dua alternatif yang ingin ia capai. Pertama, mengembalikan ibu Geni ke sisinya. Kedua, jika Geni menolak, wanita itu harus mengganti identitasnya dan membiarkan Letkol Andika membuat surat keterangan kematian atas namanya dan memberikan jaminan jika suatu saat tidak akan mempermasalahkannya.


Untuk itu, langkah pertama yang harus dilakukannya adalah menemukan wanita itu terlebih dulu. Ternyata, hal itu tak semudah yang ia pikirkan. Sudah lebih dari setahun, tak ada hasil yang terlihat.


Akibatnya, dari hari ke hari sang letkol semakin menekan anak buahnya. Salah satu yang tertekan adalah Kiswanto. Padahal ia sudah bekerja sangat keras untuk tugas itu. Ia sudah mencari di berbagai tempat. Semua hotel, rumah sakit, rumah ibadah dan berbagai tempat yang biasa dikunjungi oleh orang yang melarikan diri telah dikunjunginya. Tapi, wanita itu tidak ditemukannya.


Ia sama sekali tidak membayangkan ketika akan masuk tentara dulu, dengan latihan yang keras, belajar yang giat dan uang yang cukup banyak, ia akan berakhir dengan tugas mencari istri orang.


Atas saran rekannya, ia memilih untuk menghibur dirinya sejenak. Lokalisasi adalah tempat yang terdengar menyenangkan baginya. Maka, ia memutuskan untuk mengunjungi sebuah tempat yang sudah terkenal di kota tempat temannya tinggal, yang bernama Batavia Baru.


Seperti tebakannya, ia berhasil melepaskan stresnya dengan baik. Ia dan temannya memilih sebuah kafe baru yang lebih menonjol dibandingkan kafe yang lain. Di sana, suasananya sangat bersahabat. Para pelayannya cantik dan ramah


 “Pilihlah salah satu,” kata temannya merujuk pada para pelayan itu.


Kiswanto sangat antusias. Ia meneliti para pelayan satu per satu, mulai dsri qajah sampai penampilannya. Akhirnya, pilihannya jatuh pada seorang wanita dengan riasan minimalis namun masih terlihat cantik. Ia juga merasa dekat dengan wanira itu, entah karena apa.


Temannya memanggil wanita itu dan menyampaikan maksud mereka. Sang wanita setuju dan mulai duduk di samping Kiswanto untuk menemaninya minum.


“Siapa namanya, Dek?” tanya Kiswanto yang sudah mulai mabuk.


“Jenny, Bang.”


Kiswanto mengernyitkan dahinya, seperti ada sesuatu yang mengganggu hatinya setelah mendengar nama itu.


Jenny? Kenapa aku muak mendengar nama itu, ya?

__ADS_1


Tiba-tiba matanya terbelalak ketika menyadari sesuatu. Buru-buru ia merogoh kantongnya dan mengambil sebuah foto. Secara bergantian dan berulang-ulang, ia melihat foto itu dan wanita bernama Jenny yang ada di hadapannya.


Tidak salah lagi. Mereka adalah wanita yang sama.


__ADS_2