Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 78


__ADS_3

Ruangan itu mirip sebuah kantor dengan tata ruang kantor bilik atau dengan istilah cubicle. Para karyawannya disibukkan oleh aktivitas mereka masing-masing. Setiap dari mereka berbicara, tetapi tidak ada yang saling berbicara. Mereka sibuk dengan telepon mereka masing-masing di bilik mereka masing-masing.


Salah satu di antara mereka ada seorang pria yang lebih menonjol dari yang lain. Cara bicaranya yang enak didengar, ditambah dengan kelihaiannya dalam memilih kata, sudah diakui oleh para rekannya sebagai yang terbaik di antara mereka.


“Benar sekali, Bu. Di dalam pesan yang baru terkirim itu, ada kodenya. Jadi, Ibu hanya perlu mentransfer uang sebesar tiga puluh ribu saja, dan tambahkan lima kode angka yang tadi terkirim di belakang nominal tiga puluh ribu tersebut sebagai kode unik identitas Ibu. Tidak, Bu. Uang yang terkirim tetap tiga puluh ribu.”


Pria itu tersenyum lebar karena mangsanya kali ini sangat mudah. Benar saja, tidak berapa lama, ia mendapatkan notifikasi uang masuk ke rekeningnya.


“Baik, Bu. Tidak perlu khawatir. Kami akan segera memprosesnya paling lambat 24 jam ke depan. Terima kasih atas kerjasamanya.”


“Wah, dapat mangsa besar hari ini,” kata seorang wanita dari sebelah biliknya.


“Biasa saja. Tadi pagi aku dapat mangsa yang lebih besar. Bisa saja aku -”


Pria itu berhenti berbicara karena merasa ia pernah mendengar suara wanita itu. Tak asing, tapi seharusnya ia tak mendengar suara itu di sini, di kantor ini. Kemudian, ia memutar lehernya sehingga bisa melihat ke arah sumber suara itu. Benar saja tebakannya, ia melihat seorang wanita yang seharusnya tidak boleh berada di sini, di kantor ini.


“Ibu Regina,” katanya dengan nada penuh kepasrahan.


Sementara itu, Regina yang sedang menopangkan dagunya di atas lengan yang sedang terletak di tepi atas bilik, sedang tersenyum kepadanya.


“Menyenangkan sekali. Hari ini aku juga mendapatkan mangsa besar.”


Pria yang menjuluki dirinya dengan sebutan De Syado itu hanya bisa tersenyum kecut.


                  *


Beberapa tahun yang lalu


“Bang! Bang!”


Itu bukan suara pistol, hanya suara teriakan Rama yang ingin mengadukan kejadian sial yang baru saja menimpanya. Baginya, tidak ada tempat mengadu yang lebih baik dibandingkan abangnya yang pintar bernama Abimanyu Alexander. Ya, meski sang abang sering acuh tak acuh terhadap keberadaannya.


“Ada apa? Aku lagi istirahat,” teriak Abi dari dalam kamarnya. Ia baru saja lembur dari tugasnya sebagai Angelo (antar jemput l*nte) karena penumpangnya semalam, yaitu Wulan Cetar, mendapat empat klien berturut-turut.

__ADS_1


“Ayolah, Rama tahu kalau Abang sekarang tidak sedang istirahat.”


Abi mendongakkan kepalanya ke arah pintu sambil bertanya-tanya bagaimana Rama bisa melihat ke dalam. Memang, awalnya ia berniat untuk beristirahat. Tapi, foto-foto idolanya yang baru diposting membuatnya terikat dengan ponsel dan media sosialnya. Ya, ia seperti punya tanggung jawab untuk memberikan like pada setiap foto tersebut.


Akhirnya, Abi memutuskan untuk mendengarkan cerita adiknya sebentar. Ia tahu, jika tidak sekarang, Rama akan terus mengganggunya. Ia pun berjalan ke arah pintu dan membukanya.


“Ada apa? Awas kalau bukan sesuatu yang penting.”


“Rama tertipu, Bang,” kata Abi dengan wajah memelasnya. “It’s sad, so sad, it’s a sad sad situation.”


“Sudah kubilang padamu sejak dulu, karma itu nyata. Selama ini, kau sudah menipu banyak orang. Sekarang saatnya kau merasakan apa yang dulu korbanmu rasakan.”


“Ini bukan tentang karma. Ini tentang harga diri. Jika orang tahu Rama tertipu, mau ditaruh di mana wajah Rama ini?”


“Bagaimana jika aku beritahukan Regina tentang semua penipuan yang pernah kau lakukan agar wajah bodohmu itu bisa ia taruh ke dalam penjara?”


“Ah, iya. Kakak Regina. Rama akan meminta bantuannya,” kata Rama seakan mengabaikan ucapan Abi.


“Kau sama sekali tidak menangkap maksud perkataanku?” Abi mengangkat alisnya. Tangannya sudah bergetar karena menahan keinginan untuk memukul adiknya yang bodoh itu.


Abi semakin mempertajam tatapannya pada Rama, tapi adiknya terlalu bodoh untuk menyadari kekesalannya saat ini. Kemudian, ia teringat ucapan Regina dua hari yang lalu untuk tidak menghubunginya dulu sampai ia sendiri yang menghubungi karena beberapa hari ini ia sedang dalam pengintaian tersangka sebuah kasus pembunuhan.


“Ya sudah, katakan padaku, oleh siapa dan bagaimana kau tertipu,” ujar Abi sambil menarik ponsel dari tangan Rama.


Kemudian, Rama mulai bercerita. Awalnya, ia melihat postingan tentang jual sepeda murah. Ia tergiur karena harga sepeda yang ditawarkan sangat murah. Tanpa pikir panjang, ia segera menghubungi si penjual dan mulai bernegosiasi.


Akhirnya, mereka mencapai kesepakatan harga untuk sebuah sepeda lipat. Lima ratus ribu adalah angka yang mereka sepakati. Rama sangat senang karena untuk harga sebesar itu, bahkan ia sudah untung bisa mendapatkan sepeda paling jelek sekalipun. Sedangkan menurut perkataan si penjual, yang ia dapatkan adalah sepeda dengan merk terkenal yang biasanya berharga lima jutaan.


“Apakah otakmu sudah tidak berfungsi lagi? Bagaimana mungkin kau bisa membeli sepeda itu dengan harga hanya lima ratus ribu?”


“Habisnya, dia bilang itu adalah sepeda impor yang tidak ada surat-suratnya, jadi harganya bisa murah.”


“Memangnya orang pacaran, pakai surat-surat?”

__ADS_1


“Ya sudah, Rama cerita pada kakak Regina saja.”


“Baik, baik. Lanjutkan ceritamu.”


Beberapa hari menunggu barangnya, ia justru mendapatkan telepon dari seseorang yang mengaku orang bea cukai. Memang, foto profil yang ia pakai adalah logo instansi tersebut. Menurut orang tersebut, ia baru saja menyita sepeda yang dicurigai barang impor ilegal. Sepeda tersebut ditangkap ketika akan dikirim ke alamat atas nama Rama. Jadi, Rama diwajibkan untuk mentransfer uang sebesar dua juta jika tidak ingin didenda atau dipenjara. Dan transfer itu dilakukan ke sebuah rekening pribadi.


“Lalu, kau transfer?” tanya Abi.


“Iya, soalnya Rama takut.”


“Bodoh. Apakah kebiasaanmu menipu itu tidak menciptakan suatu alarm yang membuatmu tidak mudah percaya pada orang? Sudah jelas itu penipuan. Bea cukai tidak pernah mengurusi pengiriman domestik dan biasanya pembayaran resmi bea cukai tidak pernah melalui transfer ke rekening pribadi, tapi menggunakan kode billing ke rekening negara.”


“Rama mana tahu seperti itu. Namanya saja panik. Strategi penipu kan memang kebanyakan membuat korbannya panik terlebih dulu.”


“Intinya, kau tertipu dua kali. Sekali untuk membayar sepeda, sekali lagi untuk membayar ke bea cukai palsu itu.”


Rama kembali tersenyum dan kali ini terasa sangat getir. “Actually, three times.”


Abi menggeleng-geleng kepalanya seakan tidak percaya kalau punya adik sebodoh itu. Tapi, ia lagi-lagi harus menahan diri untuk tidak menghajar adik satu-satunya itu. “Katakan, apa yang ketiga?”


“Orang dari bea cukai itu menyuruh Rama menginstal aplikasi yang dia kirim. Katanya, itu adalah aplikasi untuk mengecek status Rama di bea cukai, apakah sudah bersih atau masih dianggap sebagai pengimpor ilegal.”


“Dan ternyata itu adalah aplikasi spyware yang membuat dia bisa mengakses data-data di ponselmu?” tanya Abi dengan nada tinggi yang dijawab Rama dengan anggukan lemah. “Kamasutra, bukankah kau pernah menipu orang dengan cara yang sama?”


“Jadi, bagaimana? Sepertinya dia sudah mengambil beberapa foto dari ponsel Rama.”


Abi menghela napas, lalu menatap adiknya yang sudah hampir menangis. Amarahnya kini bercampur dengan rasa kasihan. “Apakah ada foto yang tidak boleh dipublikasikan?”


“Ada. My naked photos. Soalnya, Shasha sering memintanya untuk -”


Belum selesai Rama berbicara, Abi sudah menampar mulutnya. Ia sudah tidak tahan lagi.


“Biarkan saja foto-foto itu menyebar. Bukannya ada yang mau melihatnya,” gerutu Abi. “Kita akan memasukkan foto yang tidak boleh disebarkan.”

__ADS_1


Rama tidak tahu foto seperti apa yang dimaksudkan oleh abangnya. Tapi, ia percaya pada Abi, apalagi ketika Abi mengatakannya dengan mimik serius seperti sekarang ini.


__ADS_2