Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 84


__ADS_3

“Jadi, kenapa Abang menunjukkan wajah di depan kamera CCTV? Apakah Abang pikir itu adalah kamera untuk membuat pas foto?” tanya Rama kesal saat ia sedang menjenguk Abi.


“Aku memang sengaja terlihat di kamera CCTV agar kau ditangkap,” jawab Abi santai.


“Apa?! Setelah memaksa Rama menjadi pasien dadakan, Abang juga memaksa Rama menjadi tahanan? Rama memang sayang Abang, tapi bukan berarti mau menerima penderitaan yang sama dengan yang Abang alami.”


“Aku tahu, kau takkan dipenjara. Bahkan mereka tahu kalau itu adalah aku. Buktinya, malam setelah aku masuk ke gedung itu, mereka mengejar dan nyaris membunuh kami. Bukan melaporkan kami ke polisi. Sampai sekarang, mereka tidak berani membocorkan perihal aku kabur dari rumah sakit. Yang mereka butuhkan bukan hukuman untukku, tapi apa yang sudah kucuri dari mereka. Di sana banyak sekali dokumen yang sangat dirahasiakan. Seberapa banyak rahasia yang kutahu menandakan seberapa bahayanya aku bagi mereka. Lihat saja, mereka pun melaporkanmu bukan untuk memenjarakanmu, tapi untuk mendapatkan kembali apa yang sudah kucuri. Meski mereka tidak tahu apa itu.”


Rama tersenyum mendengar penjelasan dari Abi. “Benarkah? Ah, Rama sempat berpikir jelek kalau Abang mengorbankan Rama.”


“Benar,” jawab Abi. “Tapi, selama aku di dalam penjara, mungkin mereka akan mengincar nyawamu dan Indira.”


Rama melongo seakan tak percaya. “Ternyata Abang mengorbankan kami lebih kejam dari yang kami duga.”


Abi tersenyum. Ia tahu kalau tuan Jireh takkan segegabah itu. Pria misterius itu masih belum tahu apakah Abi memiliki dokumen yang dirahasiakannya atau tidak. Menyerang Abi dan orang-orang di sekitarnya bisa menimbulkan resiko besar yang akan menghancurkannya.


“Sekarang yang harus kita pikirkan adalah Indira.”


“Ya, Kakak pasti sedih karena dipecat sebagai advokat. Sejak kemarin Rama berpikir, pekerjaan baru apa yang cocok untuknya?”


“Bukan, bukan itu,” sanggah Abi. “Kita harus memikirkan pengganti Indira untuk menjadi pengacaraku. Sebentar lagi sidang berikutnya digelar. Kalau menggunakan pengacara baru, kami harus mempersiapkannya lebih lama.”


Rama menyipitkan matanya seakan memandang rendah Abi. “Sekejam itukah?”


“Mau bagaimana lagi? Cepat atau lambat, kita harus memikirkannya. Sidang takkan ditunda hanya karena Indira dipecat,” jawab Abi. Responsnya yang sangat datar, sedatar ekspresi wajahnya, tidak menunjukkan empati pada Indira sedikit pun.

__ADS_1


“Bagaimana jika sampai persidangan nanti, belum ada pengganti Kakak Indira?”


“Tergantung pertimbangan majelis hakim. Kemungkinan persidangan tetap jalan. Namun, tanpa didampingi oleh pengacara akan memberikan dampak yang tidak baik bagi kita,” jawab Abi, yang meski sesang menceritakan situasi genting, tetap bersikap santai.


“Kasihan Kakak Indira, kariernya harus hancur karena membela psikopat ini,” gerutu Rama. Sejak menggantikan Abi dengan terpaksa, sepertinya rasa hormat yang selama ini ia berikan pada abangnya telah terkikis. Dan setelah kejadian pemukulan pengacara menyebalkan itu beberapa hari yang lalu, ia sudah menetapkan bahwa Indira adalah panutan nomor satunya sekarang.


“Tenang, Indira tidak melakukan pelanggaran kode etik yang berat. Pemecatan terhadap dirinya adalah sesuatu yang sangat berlebihan. Apalagi sebelumnya ia tidak pernah mendapatkan teguran, baik lisan maupun tulisan. Seperti yang kau tahu, sekarang Indira sudah berubah. Ia akan melawan jika ada sesuatu yang tidak adil terjadi padanya.”


Rama meragukan ketulusan Rama saat mengatakannya, tapi ia tidak menyangkal semua perkataannya itu.


                  *


Indira keluar dari ruang rapat di kantor IKAKUM lalu membanting pintunya dengan cukup kencang, sampai orang yang ada di sekitarnya melonjak karena terkejut. Beberapa orang yang melihatnya juga merasa takut karena Indira menunjukkan wajah penuh amarah yang sangat menyeramkan.


“Mengaku pintar, mengaku tahu hukum, mengaku sangat menjunjung tinggi keadilan. Ternyata semua hanya hanya omong kosong!” teriak Indira sambil mengepalkan tangan dan mengarahkannya ke pintu ruangan itu, seakan ingin menghancurkannya dengan sekali tinju.


Ah, tentu saja. Tadi aku berteriak terlalu keras. Wajar ia tahu aku akan lewat sini. 


“Apa kabarnya, Bu? Sudah lama kita tidak bertemu,” kata pria itu. Indira sama sekali tidak menyangka jika akan disapa seramah itu setelah mengamuk tadi.


“Jesse?”


Indira terkejut ketika melihat wajah pria itu dengan jelas. Ia adalah orang yang pernah mengaku mewakili tuan Jireh untuk konsultasi terkait sebuah masalah hukum. Saat itu Indira tidak tahu siapa itu tuan Jireh sehingga ia bisa bersikap ramah dengan pria tersebut. Tapi sekarang, setelah mengetahuinya, ia jadi merasa takut.


“Sepertinya Ibu adalah orang yang sangat sibuk. Saya sudah beberapa kali ke kantor Ibu dan selalu tutup.”

__ADS_1


Indira masih belum bisa mengendalikan emosi dan ekspresi wajahnya. Ia masih melongo dan pikirannya benar-benar kosong beberapa saat.


“Ya, andai kamu tahu apa yang kualami selama ini. Naik mobil berkecepatan tinggi, dikejar pembunuh, menghajar rekan seprofesi hingga dipecat dari advokat dengan cara yang menyakitkan.”


Meski bingung, Jesse tertawa mendengar cerita dari Indira. “Syukurnya, kita masih bisa bertemu sekarang.”


“Eh, ada apa ke sini? Bukan khusus untuk mencariku, kan?”


“Menurut Ibu?”


Pria tampan itu tertawa sehingga tanpa sadar Indira ikut tertawa. “Pasti kamu mendengar teriakanku tadi, ya? Ah, sangat memalukan.”


“Tidak, tidak memalukan. Justru terdengar sangat keren,” ujarnya sambil mengacungkan jempol. “Saya ke sini karena ingin menemui seseorang. Kebetulan, beliau adalah kenalan atasan saya.”


“Kenalan tuan Jireh?” tanya Indira yang dijawab oleh anggukan. Kemudian, terlintas sebuah ide iseng di kepalanya. Ia pun berjalan ke arah Jesse dan mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu lalu berbisik, “Ngomong-ngomong, tuan Jireh itu orangnya seperti apa?”


Terlihat Jesse agak sedikit terkejut dengan pertanyaan yang diberikan oleh Indira tersebut. Tapi, ia bisa mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi normal kembali.


“Tuan Jireh adalah orang yang -”


Jesse tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat Indira sedang serius menonton televisi yang ada di sana. Sebuah siaran berita siang menyiarkan kabar yang cukup mengejutkan bagi Indira, bak petir di siang bolong sedang menyambarnya.


“Berita terkini. Beberapa waktu yang lalu, tersiar kabar tentang pemecatan Indira Christina dari profesinya sebagai advokat oleh Ikatan Advokat dan Konsultan Hukum, atau yang lebih dikenal dengan IKAKUM. Seperti yang telah diketahui, Indira Christina merupakan seorang pengacara yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan setelah menjadi pengacara dari seorang terpidana yang sedang viral, Abimanyu Alexander. Terkait pemecatan tersebut, firma hukum Heart of Justice menawarkan bantuan hukum pada Abimanyu Alexander. Dengan kata lain, mereka menawarkan diri untuk menggantikan peran Indira Christina sebagai penasehat hukum dari pria yang dituduh membunuh artis Mischa dan menjadi kurir narkoba tersebut.”


Tubuh Indira mendadak lemas seperti kehilangan tulang-tulang. Ia akan tersungkur ke lantai jika Jesse tidak segera menangkap tubuh mungilnya.

__ADS_1


“Apa? Abi sudah mendapatkan pengacara yang baru untuk menggantikanku?”


__ADS_2