Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 16


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu


Totok baru saja tiba di polsek Talang Angin dengan tubuh penuh keringat. Ia berlari dari parkiran motor yang jaraknya cukup jauh dari pintu masuk polsek. Ia sudah lupa dengan jualannya yang ia tinggal begitu saja. Di pikirannya hanya ada adik semata wayangnya, Kuntet, yang tertangkap oleh polisi saat menjual salah satu jenis narkotika pada seorang remaja.


“Pak, bagaimana dengan adik saya?” tanya Totok pada salah satu polisi yang berjaga.


“Adikmu siapa?”


“Kuntet. Eh, maksudnya Teddy Putra. Katanya, ia baru saja tertangkap.”


“Oh, pemuda yang jualan ekstasi di SMA itu, ya? Jadi, kamu abangnya?”


“Iya, Pak.”


“Jadi, kalian yang tinggal di lokalisasi Batavia Baru, ya?”


Briptu Sartono, salah satu penyidik yang pernah memeriksa Abi dan kebetulan sedang di sana, melihat ke arah Totok ketika mendengar nama Batavia Baru. Ia cukup familiar dengan tempat tersebut.


“Benar, Pak.” kata Totok menjawab pertanyaan polisi jaga itu.


“Wah, pantas aku tak asing dengan wajah adikmu. Bukankah dia sudah dua kali lolos karena pengacara aneh itu? Siapa namanya? Advokat Malam.”


Totok tertunduk malu. Ia sadar jika sebelumnya ia bisa menyelamatkan Kuntet karena bantuan Advokat Malam dan itu pasti menimbulkan kekesalan bagi para polisi. Bukan hanya melindungi Kuntet, Advokat Malam juga mempermalukan para polisi yang hendak menangkap adiknya tersebut.


“Siapa Advokat Malam?” tanya Briptu Sartono tiba-tiba.


“Aku hanya mendengar cerita dari yang lain. Kata mereka, ia hanya seorang pengacara kampung. Pakaiannya nyentrik dan cara bicaranya menyebalkan. Ia selalu membicarakan tentang pasal-pasal seakan para polisi bodoh dalam hal undang-undang.


Briptu Sartono menaikkan alisnya. Ia seperti baru saja mendapatkan sebuah pencerahan. Kemudian ia melihat ke arah Totok lalu melemparkan senyumnya.


“Sepertinya aku tahu siapa itu Advokat Malam. Aku akan membantu adikmu bebas jika kau juga mau membantu kami.”


Totok bingung. Namun, ia hanya berpikir untuk menyelamatkan adiknya. Maka, ia setuju untuk membantu polisi yang tidak ia kenal itu.


* * *


Sudah lebih dari setengah jam Totok duduk di kursi saksi untuk menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari para hakim dan penuntut umum. Terlihat wajahnya sangat tenang seakan yakin dengan setiap jawaban yang diberikannya. Ia sama sekali tidak terintimidasi oleh tatapan Abi.

__ADS_1


Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang muncul hanya membuka identitas Abi sebagai Advokat Malam. Secara hukum, Abi terbukti telah melakukan tindak pidana di luar tindak pidana yang dituduhkannya untuk persidangan ini. Ia dapat dikenai pasal 378 KUHP tentang penipuan dan kemungkinan terjerat pasal 263 KUHP tentang surat palsu jika ia terbukti pernah menggunakan identitas palsu, kartu advokat palsu, sertifikat pendidikan advokat palsu, atau sejenisnya.


Indira terlihat gugup karena tidak tahu harus melawan dengan cara seperti apa. Ini benar-benar di luar perkiraannya. Yang bisa dilakukannya hanya menatap Abi dan berharap kliennya itu punya jalan keluar yang bagus.


“Advokat Malam telah menyelamatkan adiknya dari kejaran polisi karena mengedarkan narkoba. Dua kali. Dan ia juga bukanlah orang jahat. Aku tidak mengerti kenapa ia melakukan ini,” gumam Abi.


Di tengah kegugupannya, Indira menaruh simpati pada perasaan Abi saat ini. Ia sudah mendengar sedikit cerita tentang alter ego Abi sebagai Advokat Malam dari Rama. Adik dari kliennya itu bercerita bagaimana Abi berkali-kali harus menghadapi aparat atau orang-orang yang memiliki uang dan kuasa untuk melindungi tetangga dan kenalan mereka tanpa pernah mendapatkan upah apapun. Dan bukan sekali dua kali ia harus menghadapi ancaman dari para lawannya yang kalah berargumen dengannya. Bahkan ia sudah dua kali diacungkan pistol dan sekali menghindar dari sabetan pedang panjang.


“Baik, Saudara penasihat hukum, apakah ada pertanyaan yang ingin diajukan pada Saudara saksi?” tanya hakim pada Indira.


“Ada, Yang Mulia.”


“Silakan, Saudara penasihat hukum.”


Indira menatap ke arah saksi. Sebenarnya ia belum memutuskan harus memberikan pertanyaan apa. Setiap kali memikirkan sebuah pertanyaan, ia sudah membayangkan kemungkinan jawabannya dan tidak ada yang cukup menguntungkan bagi kliennya.


Tiba-tiba Abi membisikkan sesuatu yang membuat Indira mengangguk seakan sedang menyetujui apa yang dikatakan oleh Abi.


“Apakah Saudara saksi pernah melihat terdakwa menjual narkoba jenis apapun?”


“Tidak. Saya tidak pernah melihatnya.”


“Benar.”


Indira menunjukkan kelegaan di wajahnya. Bukan karena Totok membuka identitas Abi sebagai Advokat Malam yang membuatnya khawatir. Ia khawatir jika Totok berbohong dan memfitnah Abi.


Sebenarnya Abi hanya menyuruhnya bertanya sampai sebatas itu pada Totok kemudian membuat jawaban tersebut menjadi dasar baginya untuk mempertanyakan fungsi Totok sebagai saksi a charge karena sama sekali tidak membuktikan keterlibatan Abi terhadap narkotika secara langsung. Tapi Indira punya rencana lain. Ia ingin memanfaatkan Totok untuk memberitahukan kepada hakim dan publik bahwa Abi berperan sebagai Advokat Malam demi alasan kebaikan.


“Mengingat dia adalah Advokat Malam yang membela warga buta akan hukum dari orang-orang paham hukum yang mencoba menindas mereka, menurut Saudara, apakah mungkin seorang Abimanyu Alexander melakukan kejahatan seperti yang dituduhkan padanya?”


Totok menghela napas seakan sedang berpikir keras. Abi tahu kalau pria itu terlalu baik untuk berbohong, apalagi setelah ia bersumpah di bawah kitab suci.


“Kami sudah saling mengenal sejak kecil. Dan sudah lama saya berpikir kalau Abi adalah seorang psikopat dan suatu saat akan melakukan sebuah kejahatan yang keji. Karenanya, saya tak terkejut ketika pertama kali mendengar kasus ini.”


Seluruh ruangan kembali heboh karena ucapan Totok. Terutama Indira. Tubuhnya terlihat lemas. Sendi-sendi di tubuhnya seakan menghilang karena jawaban yang tak diduganya.


* * *

__ADS_1


Dua puluh lima tahun yang lalu


Panas terik menyengat hingga ke ubun-ubun. Totok dan Oding mencoba untuk menetralkan suhu panas di tubuh mereka dengan es krim batang rasa kacang hijau.


“Ada apa itu?” tanya Totok ketika melihat ada kerumunan di belakang sekolah. Karena tidak ada jawaban untuk pertanyaan itu, mereka memutuskan untuk mengecek sendiri


Totok dan Oding mengintip dari balik tubuh teman-temannya. Mereka melihat ada seorang anak seusia mereka yang tergeletak dengan memar di wajahnya. Ujung bibirnya sampai mengeluarkan darah. Mereka kenal anak itu. Abimanyu Alexander, teman sekelas mereka.


“Pasti dihajar lagi oleh Sumadi,” gumam Totok sambil meneruskan kegiatan menjilat es krimnya. Benar saja, mereka pun melihat Sumadi di hadapan Abi sedang mengelus tinjunya. “Kali ini karena apa, ya?”


“Kudengar karena Sumadi merusak jam tangan barunya. Dia marah dan mencoba menghajar Sumadi,” tukas Fiko yang sudah sedari tadi menonton perkelahian itu.


“Kadang aku bingung, si Abi itu pintar atau bodoh, ya? Kalau pelajaran, dia selalu juara. Tapi dia selalu melawan Sumadi yang badannya sudah kayak bapak-bapak itu. Padahal dia tidak pernah menang dan tidak akan punya kesempatan untuk menang.”


Meski tidak dekat, Totok sudah mengenal Abi sejak mereka masih sangat kecil. Mereka seumuran dan rumah mereka hanya berbeda beberapa gang saja. Totok tahu kalau Abi tidak pernah punya teman dekat. Yang ia punya hanya teman sekampung dan teman sekelas. Tidak ada yang pernah bermain dengannya.


Abi bukanlah anak yang menonjol kecuali karena kepintarannya. Ia selalu meraih juara umum di sekolahnya dan sangat hobi belajar. Tidak seperti anak seusianya, ia lebih memilih untuk membaca buku daripada bermain. Selain membaca, ia juga suka menggambar. Hasil karyanya sangat bagus. Namun, ia selalu menolak untuk diikutsertakan dalam lomba apapun.


“Eh, si Abi berdiri,” kata Oding sambil menyenggol Totok.


Benar, Abi berjuang untuk berdiri meski ia sedang merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Matanya nanar seakan masih ingin menantang lawannya, meski kondisi tubuhnya tak mendukung hal tersebut.


“Kenapa? Masih mau minta ganti rugi lagi? Jammu itu murahan, makanya cepat rusak. Bukan karena aku.”


Abi masih sibuk mengatur napasnya. Darah di sudut bibirnya sudah mengering sehingga sesekali ia menjilatnya dan meludah karena cukup mengganggu, namun darah itu tidak hilang. Ia maju perlahan ke arah Sumadi. Semua orang yang menonton kembali antusias karena berpikir akan melihat kembali bagaimana anak laki-laki paling menyebalkan di sekolah ini akan dipukul.


“Aku akan membalasnya,” kata Abi. Sumadi dan semua orang yang melihat terkejut. Bukan karena ucapan Abi, tapi karena senyum yang mengembang di bibirnya. Senyum yang dipenuhi oleh aura gelap.


“Ba, bagaimana caranya? Kau ingin menghajarku lagi?”


“Aku akan mempelajarimu.” Kali ini Abi membuat Sumadi dan semua orang yang melihat bingung. “Aku akan mengikutimu siang dan malam. Aku akan melihat bagaimana kau makan, bagaimana kau minum, belajar, tidur, mandi, b*rak dan apapun itu. Aku akan selalu mencari celah untuk membuatmu celaka tanpa harus menyentuhmu. Aku akan membuatmu menyesal karena telah menghancurkan jam tanganku. Aku akan -”


Belum selesai Abi berbicara, Sumadi kembali melayangkan tinjunya ke wajah Abi. Tak peduli sudah berkali-kali kepalan tangannya menyentuh wajah dan tubuh Abi, ia masih bisa ketakutan dengan ancaman yang ditebarkan oleh anak laki-laki kurus itu.


Saat itu Totok menyadari keanehan dari diri Abi. Ia tahu, tetangganya itu punya sesuatu yang menyeramkan di dalam dirinya dan suatu saat akan mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang menyeramkan juga.


Dugaannya semakin kuat saat beberapa hari kemudian Sumadi mengalami kecelakaan parah di gunung belakang sekolah. Tubuhnya penuh dengan luka dan kakinya patah. Ia sampai tidak bisa masuk sekolah selama sebulan. Tidak ada orang lain yang bisa disalahkan karena itu adalah kecelakaan tunggal dan murni kesalahan dari Sumadi sendiri.

__ADS_1


Namun, menurut rumor yang beredar, beberapa orang sering melihat seorang anak kecil yang tak dikenal sering berkeliaran di sekitar rumah Sumadi dengan tingkah yang mencurigakan.


Tak salah lagi. Itu pasti Abi!


__ADS_2