Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 55


__ADS_3

Persidangan ketiga kasus Abimanyu Alexander sudah berlalu lima hari yang lalu. Pemberitaan yang heboh tentangnya juga sudah mulai surut, berganti dengan hiruk pikuk pemilihan gubernur yang akan diadakan beberapa bulan lagi. Para bakal calon gubernur yang akan bertempur di ajang itu sibuk menyadarkan masyarakat atas keberadaan mereka. Maklum saja, selain petahana, selama ini kontribusi mereka bagi orang banyak tidak pernah terlihat atau sekadar terdengar sama sekali.


“Kalian tahu apa persamaan politikus dan pel*c*r? Sama-sama menjual diri. Bedanya\, pel*c*r menjual diri apa adanya\, sedangkan politikus penuh dengan kemunafikan\,” kata Didit\, salah satu penghuni rutan yang baru.


Amran menyenggolnya dan membisikkan perihal latar belakang Abi secara singkat\, di mana  pekerjaan ibunya adalah pel*c*r dan ia besar di lingkungan lokalisasi. Didit menunduk ketika beradu pandangan dengan Abi.


“Kau salah\,” kata Abi lirih\, membuat Didit semakin khawatir karena telah membuatnya tersinggung. “Pel*c*r juga menjual diri dengan kemunafikan. Kau datangi saja mereka siang hari\, lalu bandingkan dengan apa yang kau lihat di malam hari. Mereka adalah orang yang berbeda\, baik dari sikap atau penampilan.”


Para penghuni sel itu tertawa lega karena ternyata Abi tidak marah. Bahkan Amran menimpalinya dengan sebuah candaan\, “Makanya politikus disebut juga pel*c*r intelek.”


Berbeda dengan saat ia masih kecil sampai remaja\, sekarang Abi tidak merasa risih mendengar kata pel*c*r dari mulut kenalannya di luar Batavia Baru. Apalagi\, setelah melihat bagaimana perjuangan sang ibu untuk bertahan hidup dan membesarkannya dengan menjadi pekerja pr*stitusi\, ia berhenti untuk malu.


Lagipula\, pendosa bukan hanya pel*c*r. Para pengunjung Batavia Baru juga tak kalah biadab dari pel*c*r yang mereka sewa. Bahkan\, sepanjang perjalanan hidupnya juga ia sudah melihat banyak orang jahat. Dari yang bangga dengan kejahatannya sampai yang menyembunyikannya dalam balutan kesucian agama. Ia merasa jika neraka memiliki tingkatan\, posisi pel*c*r hanya berada di luar peringkat sepuluh besar.


Daripada memikirkan itu, ia lebih sibuk memikirkan tentang kasus yang membelitnya. Ia baru saja selesai memikirkan Indira yang tak pernah mengunjunginya sejak persidangan terakhir. Jika pada Rama, wanita itu beralasan sedang sibuk mengurus klien-kliennya yang lain. Ia tahu, Indira sedang mengabaikannya.


Tapi, ia tidak menyesali apa yang telah dilakukannya tempo hari. Ia memang benar-benar harus berada di dalam lingkaran kasus ini sampai semua kebenarannya terungkap. Jika tidak, sia-sia semua penderitaan yang dialaminya beberapa minggu belakangan. Dan tentu saja, sia-sia kematian Roy yang tragis itu.


Dan hal pertama yang harus diungkapnya adalah alasan Benjiro merekayasa kematian Mischa. Ia tahu kalau pria itu tidak melakukan pembunuhan. Hanya saja, kenapa ia mesti menempuh jalur yang rumit dengan memesan driver ojol untuk dituduh sebagai kurir narkoba terlebih dahulu, lalu membuat Mischa seperti dibunuh dan membakar rumah itu agar mayatnya ditemukan sehingga tuduhan pembunuhan diarahkan pada driver ojol tersebut?


Jika ia ingin menghilangkan jejak kematian saja, cukup dengan mengubur Mischa entah di mana. Jika ia ingin mencari kambing hitam, cukup dengan mengajak driver ojol -jika memang harus driver ojol yang disalahkan- masuk ke rumah Mischa, membuatnya pingsan lalu tinggal mengatur agar si driver terlihat seperti melakukan pembunuhan. Atau jika ia ingin membakar rumah itu, kenapa tidak dilakukan sesaat setelah driver pergi?

__ADS_1


Abi tidak yakin kalau semua yang terjadi adalah sebuah kesalahan yang di luar rencana. Ia tahu reputasi dan kecerdasan tuan Jireh. Tak mungkin sosok itu membiarkan sesuatu yang serumit ini terjadi kalau bukan rencananya.


Kegiatan berpikirnya terhenti ketika fokusnya teralihkan oleh sebuah liputan di layar televisi. Masih memuat berita tentang pertempuran para bakal calon gubernur. Salah satu bakal calon terkuat mengusung sebuah misi yang cukup populer dan efektif membuat elektabilitasnya naik. Ia menolak proyek reklamasi pulau Sarden, sebuah proyek lama yang sempat terhenti karena diterpa kontroversi dan penolakan dari beberapa pihak, namun dilanjutkan kembali karena izin dari sang petahana.


Sesuatu yang besar terlintas di pikirannya, seperti merentangkan sebagian benang kusut hipotesis yang ia bangun selama ini. Ia hanya perlu mengonfirmasinya dengan beberapa data yang akurat agar beberapa hal bisa terang.


“Abimanyu Alexander, ada yang datang menjenguk,” kata seorang sipir yang baru datang sambil membawa kunci dan borgol.


“Cewek atau cowok, Pak?” tanya seorang tahanan.


“Cewek, dong,” jawab sipir itu disambut oleh teriakan menggoda Abi.


Sipir tadi membawa Abi ke ruang kunjungan. Di tengah perjalanan menemui pengunjungnya, Abi memikirkan kata-kata yang tepat untuk meminta maaf dan ternyata lebih sulit dari yang diduganya. Ia tak menyangka, berkonflik dengan wanita hanya akan membuatnya merasa bersalah, tak peduli ia benar atau salah. Ia pikir itu hanya terjadi pada mamanya saja.


“Mama!”


Ya, mama. Itulah kata yang diucapkan oleh Abi saat melihat orang yang datang mengunjunginya. Seorang wanita paruh baya tersenyum di hadapannya sambil membawa rantang yang menyemerbakkan aroma makanan kesukaannya, rendang.


                  *


Sementara Abi mendapatkan kunjungan dari salah satu wanita paling berharga dalam hidupnya, Benjiro, pria yang ditunjuk Abi sebagai orang yang merekayasa pembunuhan Mischa di persidangannya beberapa hari yang lalu, mendapatkan kunjungan juga. Bukan wanita paling berharga dalam hidupnya, tapi seorang reporter menyebalkan: Jack Off the Record.

__ADS_1


“Ayolah, aku tahu banyak tentang tuan Jireh,” kata Jack sambil tersenyum. “Pasti kau melakukan pembunuhan itu atas perintahnya.”


“Aku tidak pernah mendengar nama itu. Sebaiknya kau pergi saja, karena aku tidak akan mengatakan apapun.”


Senyum di wajah Jack masih belum menghilang. Ia bahkan membuatnya terlihat menyeramkan dan berhasil menakuti lawan bicaranya.


“Baik, aku akan mengganti pertanyaan.” Jack merapikan posisi duduknya lebih tegak dan nampak formal. Ia menyimpan senyumnya sejenak agar suasana menjadi lebih serius. “Apakah yang dikatakan bajingan itu tentangmu di persidangan lalu benar?”


Benjiro menaikkan alisnya karena bingung. “Bajingan?”


“Ah, maksudku Abimanyu Alexander,” ralat Jack. “Maaf, aku punya dendam pribadi padanya.”


“Aku tidak mengingat apa yang dikatakannya.”


“Ayolah, dia mengatakan kalau kau bukan pembunuh Mischa. Apakah itu benar? Apakah tuan Jireh yang membunuhnya?”


“Pak, aku mau pergi. Aku tidak mau lagi berbicara dengannya,” teriak Benjiro pada sipir yang mengawalnya.


“Ayolah, kau pikir aku bisa mewawancaraimu sekarang tanpa koneksi? Aku takkan pergi tanpa mendapatkan apapun darimu, terutama tentang pria bernama tuan Jireh.”


Keringat mulai mengucur di kening Benjiro. Ia lelah dan takut dengan berbagai pertanyaan yang dilontarkan oleh wartawan menyebalkan itu. Bahkan, meski belum pernah melihatnya, ia tak pernah mendengar orang terlalu mudah mengatakan nama tuan Jireh.

__ADS_1


__ADS_2