
Untuk kesekian kalinya, Indira menghubungi ponsel Rama. Hasilnya tetap sama, ponsel itu tidak aktif. Ia menghela napas panjang lalu kembali memeriksa surat pemanggilan yang dikirim oleh pihak kepolisian padanya terkait kasus. Sebagai pengacara Rama, kini ia kembali disorot karena dianggap menyembunyikan tersangka. Padahal, ia sendiri tidak tahu di mana keberadaan Rama. Bahkan, Rama belum menunjuk Indira untuk membelanya atas kasus ini.
Sesekali matanya melirik ke arah ranjang pasien tempat tante Jenny berbaring, Wanita itu masih belum sadarkan diri. Ia sudah beberapa hari berjaga-jaga di rumah sakit ini. Selain karena simpatik karena tidak ada keluarganya yang memungkinkan untuk menjaganya, Indira berharap Rama datang diam-diam untuk menjenguk ibunya.
Untungnya, mbak Ratih bersedia mengantarkan pakaian ganti, peralatan mandi dan sedikit makanan untuknya tadi sore. Jadi, ia tidak perlu khawatir lagi kesulitan tidur karena bau badan dan gatal-gatal akibat bakteri yang menumpuk di kulitnya.
“Di mana anak itu, ya?” gumam Indira.
Kemudian, ia berinisiatif untuk mengambil remote televisi dan menyalakannya. Segera ia cari saluran berita untuk menunggu kabar terkait Bima Sakti. Meski telah memutuskan hubungan sepenuhnya dengan sosok itu, ia masih penasaran dengan apa yang terjadi padanya sekarang. Sayangnya, ia menemukan berita yang menyudutkannya karena menjadi pengacara dari seorang buronan kasus pembunuhan.
“Tidak bisa dibiarkan! Memang, pengacara harus membela kliennya, sesalah apapun kliennya itu. Tapi, bagaimana ia bisa memberikan pembelaan terhadap klien yang menjadi buronan pihak yang berwajib? Kita harus mencermatinya, apakah itu sudah ada unsur-unsur pidananya atau tidak. Karena, sangat sulit untuk percaya kalau pengacara tidak mengetahui keberadaan klien yang sedang dibelanya.”
Wawancara itu sangat ampuh untuk merusak suasana hati Indira dalam seketika. Meski tidak mengenalnya secara pribadi, ia tahu siapa yang berbicara itu. Ia adalah Hikayat Budiman, seorang profesor hukum yang juga ketua IKAKUM, organisasi pengacara yang pernah memecat Indira. Meski demikian, Indira merasa orang itu tidak memiliki hak untuk menghakiminya.
Akhirnya, berita tentang Bima Sakti telah tayang. Berita itu lebih menitikberatkan pada kekecewaan Pasadena selaku partai pengusung terhadap apa yang telah menimpa Bima Sakti. Menurut Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencalonan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Walikota dan Wakil Walikota, calon kepala daerah dapat digantikan jika ia dinyatakan tidak memenuhi syarat kesehatan, berhalangan tetap (meninggal atau tidak mampu melaksanakan tugas secara permanen) atau dijatuhi pidana berdasarkan Putusan Pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Sementara Bima Sakti belum menerima panggilan persidangan, apalagi putusan pengadilan.
Artinya, Pasadena harus tetap mengusung Bima Sakti sebagai calon gubernur mereka sampai pilkada dilaksanakan, meski citranya sudah hancur lebur dan elektabilitasnya terus merosot tajam hingga angka nol koma sekian.
Sementara itu, Paperba (Partai Perjuangan Bangsa) yang sempat mencalonkan Theodore Fransiskus, mantan gubernur, akhirnya mendapatkan pengganti. Ia adalah Arya Topaz Gumilang, salah satu pensiunan polisi yang beberapa tahun belakangan aktif dalam kegiatan-kegiatan positif seperti ketua umum palang merah nasional, pengurus di berbagai persatuan olahraga nasional, penggerak organisasi gerak cepat penanganan musibah, dan lain sebagainya.
__ADS_1
Kemunculannya sebagai calon gubernur juga merupakan sebuah kejutan, tapi kejutan yang cukup membahagiakan banyak orang. Elektabilitasnya melesat bagai kilat sehingga kini ia memimpin survey, meski hanya selisih beberapa persen saja dari pesaing terkuatnya.
Arya Topaz Gumilang berbeda dengan Theodore Fransiskus. Ia menolak keras pembangunan di pulau reklamasi. Arya Topaz Gumilang juga lebih baik dari Bima Sakti. Ia menandatangani perjanjian tertulis dengan para nelayan dan warga sekitar serta beberapa lembaga pemerhati lingkungan yang selama ini menentang reklamasi pulau, yang isi perjanjiannya adalah jika ia terpilih nanti, aktivitas di pulau reklamasi akan benar-benar dihentikan.
Pulau yang sudah terlanjur direklamasi akan dimanfaatkan untuk tujuan pelestarian alam. Kemungkinan besar, pulau-pulau tersebut akan dijadikan hutan lindung di mana akan ditempatkan berbagai satwa dan ekosistem yang tidak boleh disentuh secara sembarangan oleh manusia. Selain itu, di sekelilingnya akan ditanam pohon-pohon bakau yang akan menjadi tameng jika suatu saat terjadi tsunami.
Arya Topaz Gumilang juga melakukan diskusi dengan asosiasi pengusaha serta para pengembang yang sudah mendapatkan izin membangun di pulau reklamasi. Ajaibnya, mereka yang selama ini ngotot mempertahankan hak mereka, mendadak setuju untuk merelakan pulau reklamasi. Meski calon gubernur itu berjanji akan mempermudah izin mereka dalam pembangunan di lahan lain, sepertinya itu tak sepadan dengan apa yang telah mereka lepaskan di pulau reklamasi itu.
Visi ini menempatkan Arya Topaz Gumilang menjadi calon gubernur yang paling solutif dalam permasalahan pulau reklamasi. Caranya bertindak juga sangat mengagumkan. Ia tidak perlu membangun citra di depan kamera dengan cara blusukan ke mana-mana atau menayangkan iklan kampanye di setiap stasiun televisi.
Kampanyenya adalah berita-berita baik tentangnya yang disampaikan oleh media. Ia juga sering memberikan sumbangan secara diam-diam. Memang, tidak ada media yang menyiarkan saat ia memberi, tapi para penerima sumbangan terus menerus memberikan kesaksian atas perbuatannya pada media.
Karena mengatakan tentang fitnah yang diterima Bima Sakti, ia jadi ingat kalau Regina sedang mengusut tentang jadwal kegiatan Mischa yang telah direkayasa. Ia ingin menanyakan hal tersebut sekalian menanyakan tentang perkembangan kasus Rama. Ia sangat berharap ada kabar baik. Bahkan, jika Rama berhasil ditangkap juga akan menjadi kabar yang baik baginya. Indira percaya Rama tidak melakukan pembunuhan. Jadi, ia butuh keterangan dari Rama agar bisa membuat pembelaan.
Baru saja ia menyentuh ponselnya, sebuah pesan masuk. Ia memeriksa dan ternyata sebuah video. Mengingat maraknya penipuan dengan modus mengirimkan sebuah aplikasi yang jika dibuka akan secara otomatis menautkan ponsel beserta data-data di dalamnya dengan ponsel pelaku, Indira tidak langsung membukanya. Ia hanya menatapnya terlebih dulu.
Tiba-tiba ponsel itu berbunyi lagi, namun kali ini adalah sebuah panggilan. Indira mengangkatnya dan seorang pria berbicara dengan nada membentak.
[Buka sekarang videonya!]
__ADS_1
Meski orang itu belum memberitahukan identitasnya, Indira melakukan apa yang disuruhnya karena merasa kenal dengan suara itu.
Matanya membelalak ketika menonton video itu. Ternyata itu adalah rekaman CCTV sebuah klub di malam terjadinya pembunuhan Shasha yang dituduhkan pada Rama. Terlihat Rama sedang tak sadarkan diri, dibopong oleh seorang wanita dan seorang pria.
Video itu berlanjut di lokasi yang berbeda, tepatnya di depan rumah Shasha. Sebuah mobil berhenti dan seorang pria turun dari mobil itu lalu masuk ke rumah. Selang beberapa lama, pria itu memberikan kode melalui jendela dan beberapa orang lagi turun dari mobil itu dan membawa turun sebuah bungkusan besar yang terlihat seperti sesosok tubuh manusia.
“Bukankah ini -”
Indira langsung menelepon Regina untuk memberitahukan tentang video yang baru saja ditontonnya.
“Halo, aku mendapat kiriman video dari seseorang. Di video itu ada -”
[Ya, aku juga menerimanya.]
Indira terkejut. “Jadi, bagaimana? Apakah itu bisa dijadikan alat bukti?”
[Tentu saja. Tapi, aku penasaran dengan pengirimnya. Apakah ia meneleponmu? Seperti apa suaranya?]
Indira diam sejenak untuk mengingat suara itu. Sangat familiar. Ia mencoba mencocokkan suara itu dengan orang-orang yang pernah dikenalnya. Tiba-tiba matanya terbelalak.
__ADS_1
“Sepertinya aku tahu,” kata Indira. “Itu suara Abi!”