
“Hei, apa yang sedang kamu pikirkan? Fokus!”
Indira menyenggol tangan Abi. Sejak tadi ia melihat mata kliennya itu terus menatap kosong. Tanya jawab yang dilakukan Indira dan para saksi seperti tidak diperhatikannya.
“Ya, aku fokus, kok,” kilah Abi. “Persidangannya berjalan dengan lancar. Sangat lancar. Bahkan terlalu lancar.”
Indira menatap Abi dengan penuh curiga. Pria itu sudah mulai bertingkah aneh. Seperti biasanya, ia pasti sedang merencanakan sesuatu yang luar biasa aneh.
“Jangan pernah bertindak di luar rencana kita!” Indira memberikan ultimatum keras untuk Abi.
“Baik,” jawab Abi lirih.
Saat itu, Indira sedang melemparkan pertanyaan demi pertanyaan pada saksi ahli dari bidang forensik yang diajukan oleh pihak kejaksaan. Seperti yang telah ia persiapkan bersama Abi dan dengan bantuan ahli forensik langganan ojek Abi, analisis mereka dibenarkan oleh saksi tersebut.
“Fraktur pada tulang dadanya cukup besar. Butuh tekanan yang besar untuk membuat fraktur sebesar itu,” terang saksi ahli.
“Melihat bentuk sidik jari terdakwa pada gagang pisau, apakah ada kemungkinan bahwa dia yang menusuk korban?” tanya Indira.
“Sidik jari yang ada di gagang pisau hanya terdapat jari jempol dan sisi dalam jari telunjuk. Seperti kata Saudara penasihat hukum, sidik jari itu mirip dengan orang yang sedang mengaduk teh. Tidak mungkin orang memegang pisau dengan pegangan seperti itu, apalagi sampai menikam dan menghasilkan luka sedalam yang dimiliki oleh korban.”
Semua orang yang mendengarnya mengangguk-anggukkan kepala. Sementara Indira tersenyum puas.
“Yang Mulia, menurut klien saya, gagang pisau itu sangat mirip dengan gagang sendok yang ia pakai untuk mengaduk teh saat interogasi pertama, demikian juga dengan gelasnya. Kami asumsikan, klien kami sengaja dijebak dan para polisi yang menginterogasinya saat itu harus diperiksa karena mereka pasti terlibat dengan pembunuhan itu,” kata Indira dengan suara lantang.
Di tengah kehebohan dan keseruan sidang itu, Abi memikirkan hal lain. Ia masih teringat dengan ucapan tuan Jireh dua hari yang lalu.
[Kuakui, kau adalah anak muda yang hebat. Aku mengaku salah karena selama ini meremehkanmu. Aku bisa membebaskanmu dengan mudah. Tapi, aku ingin kau bekerja untukku.]
Tubuh Abi masih gemetar karena terkejut. Ia tak menyangka orang yang selama ini diincarnya justru mengetahui gerak-geriknya, bahkan yang paling rahasia sekalipun. Ia memang bukan lawan yang bisa diremehkan.
“Aku terlalu sombong untuk bekerja bagi orang lain,” jawab Abi yang disambut dengan tawa terbahak-bahak dari seberang teleponnya.
[Karena itu, kau harus bekerja untukku agar kau tahu apakah kau benar-benar layak untuk sombong atau tidak.]
__ADS_1
“Terima kasih atas tawarannya. Tapi, aku sedang sibuk untuk hal lain.”
[Hal lain apa? Membalaskan dendam masa lalumu? Aku bisa membantumu. Reynold mungkin hasil pekerjaanmu. Tapi, jaksa Jerold? Itu adalah hasil kerjaku.]
Jantung Abi berdetak semakin kencang. Meski ia sudah berspekulasi sampai sana, ia sama sekali tidak menduga akan mendapatkan pengakuan langsung dari tuan Jireh, bahkan secepat ini.
“Jadi, kau yang -”
[Aku tahu banyak tentang dendammu. Jika sekarang kau ingin aku membunuh Louis Jithro Kurniawan, aku bisa melakukannya. Siapa lagi? Kapolsek yang dulu dibayar oleh Louis sehingga ia menyuruh anak buahnya untuk menyiksamu di ruang interogasi? Meski jejaknya sudah menghilang sejak enam tahun yang lalu, aku bisa menemukannya untukmu.]
Dada Abi sudah terlalu sesak. Ia benar-benar tidak menduga akan mendapatkan tawaran kerjasama dari sosok yang membuat banyak orang takut, bahkan hanya karena mendengar namanya saja.
“Sayangnya, sekarang yang jadi targetku adalah kau. Tuan Jireh!”
Kembali terdengar tawa dari pria itu. Bahkan, kini tawanya lebih membahana sehingga membuat Abi semakin ketakutan.
“Hei, hakim ketua sedang berbicara denganmu,” bisik Indira membuyarkan khayalan Abi.
“Baik, Saudara terdakwa, apakah ada yang ingin disampaikan?” Hakim ketua mengulangi pertanyaannya pada Abi.
“Kalau begitu, dipersilakan untuk Saudara terdakwa.”
Abi menatap wajah Indira yang penuh harap padanya. Ia tahu apa yang Indira ingin ia lakukan. Kemudian ia mematikan mikrofonnya lalu berbisik pada Indira, “Selama ini, ruang kunjungan konsultasi rutan telah disadap. Semua percakapan kita, termasuk persiapan untuk sidang ini, telah didengar oleh seseorang. Orang yang sangat berbahaya. Aku sedang mengincarnya. Bahkan, aku tak peduli jika kalah dalam kasus ini dan dihukum penjara dalam waktu yang cukup lama. Maafkan aku karena mungkin ini akan memengaruhi reputasimu sebagai pengacara.”
Indira melongo saat mendengar perkataan Abi itu.
“A, apa maksudmu?”
Abi mencondongkan mulutnya ke arah mikrofon, lalu menyalakannya dan bersiap untuk berbicara. “Ada satu hal yang tidak saya setujui dari apa yang diucapkan oleh penasihat hukum saya tadi.”
Ruangan pengadilan kembali heboh. Para penonton sepertinya yakin akan ada drama baru yang takkan kalah seru dari yang sudah ditampilkan tadi. Semua orang terlihat antusias menantikan ucapan Abi selanjutnya, termasuk jaksa penuntut umum dan para hakim.
“Hal apa itu?” tanya hakim ketua.
__ADS_1
“Pelaku sebenarnya tidak sedang berkeliaran di luar sana saat ini,” jawab Abi yang menambah ketegangan dalam persidangan itu. “Ia ada di ruangan ini. Saya yakin, yang saya lihat di TKP saat itu bukanlah Mischa Radjasa, tapi orang itu.”
Abi menunjuk seorang pria bertubuh besar yang menggunakan jas panjang berwarna hitam, yang duduk di baris ketiga sebelah kanan kursi pengunjung. Semua mata kini mengarah padanya. Bahkan, kamera yang sejak awal mengarah ke depan, kini memutar untuk menangkap wajah orang yang Abi tunjuk itu.
Kali ini kehebohan besar tidak bisa terelakkan lagi. Bahkan, sejak sidang pertama, tidak pernah terjadi kehebohan sebesar ini. Hakim ketua sampai berkali-kali mengetuk palunya untuk menenangkan ruang persidangan hingga akhirnya patah.
Sementara pria itu terlihat sangat ketakutan. Seperti seekor kancil yang sudah tersudut di antara para singa yang hendak menerkamnya.
“Yang Mulia, kami dari pihak terdakwa, meminta orang yang telah ditunjuk oleh klien kami untuk menjadi saksi di persidangan ini. Saat ini juga.” Indira memohon pada hakim dengan suara yang lantang.
“Keberatan, Yang Mulia,” sanggah jaksa baru itu.
“Yang Mulia, menurut pasal 160 ayat 1 huruf c KUHAP, penasihat hukum atau penuntut umum dapat mengajukan saksi selama berlangsungnya sidang atau sebelum dijatuhkannya hukuman dan hakim ketua sidang wajib mendengarkan keterangan saksi tersebut.”
Para hakim saling berdiskusi. Mereka membenarkan argumen yang diberikan oleh Indira tentang kemungkinan menghadirkan saksi spontan di tengah persidangan. Kemudian hakim ketua berkata, “Baik, permohonan penasihat hukum dikabulkan. Petugas, tolong bawa orang yang telah ditunjuk oleh saudara terdakwa tadi.”
Beberapa petugas berjalan mendekati pria itu di tempat duduknya. Tubuhnya yang besar seakan tak berdaya ketika melihat para petugas datang dan membawanya ke kursi saksi. Ia masih terlihat ketakutan saat diminta membacakan sumpah.
“Baik, siapa nama Saudara?”
“Be, Benjiro Michael, Pak.”
“Untuk berikutnya, panggil saja Yang Mulia,” kata hakim. “Apakah benar yang dikatakan oleh saudara terdakwa bahwa Saudara Benjiro yang melakukan pembunuhan terhadap Mischa?”
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menunduk ketakutan. Karena kesal tak mendapatkan jawaban darinya, hakim beralih bertanya pada Abi.
“Saudara terdakwa, apakah Saudara yakin dengan yang Saudara katakan tadi?” tanya hakim di tengah kekacauan ruang sidang.
“Yakin, Yang Mulia.”
Kata-kata Abi membuat Indira sedikit lega. Ia pikir kliennya itu akan melakukan sesuatu yang di luar rencana mereka. Sejauh ini, ia masih mengikuti skenario yang mereka rancang sebelumnya, meski jika menurut rencana, dialah yang seharusnya menunjuk pria itu.
“Baik, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk Saudara Benjiro. Dengan demikian, sidang akan kami tunda sampai -”
__ADS_1
“Maaf, Yang Mulia,” potong Abi yang membuat Indira kembali khawatir. “Saya harus ralat. Saya tidak bilang kalau dia yang membunuh.”
Ruang sidang yang mulai tenang, kembali heboh. Terlihat sang hakim yang sudah tua itu kelelahan karena harus menerima berbagai kejutan silih berganti. Sementara Indira seakan tidak sanggup menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.