Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 24


__ADS_3

Cuaca pagi ini terasa segar, meski banyak orang yakin sebentar lagi akan terik dan suhu udara akan menggila karena panasnya seperti hari-hari kemarin. Para tahanan berjalan ke lapangan. Mereka berbaris sesuai dengan arahan para sipir. Senam pagi akan dimulai.


Abi melihat ke sekelilingnya. Ia mencari keberadaan komplotan bos Dirga dari posisinya berdiri. Sebenarnya ia sudah melihat mereka di ruangan makan tadi, namun ia tak berani mendekat karena mata para sipir yang mengawasinya.


Musik dinyalakan. Para tahanan mulai bergerak mengikuti instruktur yang berdiri di atas sebuah podium panjang yang biasa digunakan kepala rutan untuk berpidato. Abi yang mulai memberikan perhatiannya pada gerakan lincah sang instruktur dikejutkan oleh sebuah suara yang tiba-tiba menyapanya dari belakang.


“Bos Dirga mengucapkan terima kasih padamu.”


Abi melirik sumber suara itu. Ternyata salah satu anak buah bos Dirga yang bernama Cungkring. Ia mengingatkan Abi untuk tidak menoleh ke belakang guna menghindari pengawasan dari para sipir.


“Apakah hanya ucapan terima kasih?” tanya Abi sambil tersenyum.


“Bos bilang, ia akan memberikan hadiah yang kau minta. Katakan saja apa yang kau butuhkan.”


Abi berpikir sejenak seraya mengikuti gerakan senam dengan lincah. Bibirnya masih belum kehilangan senyuman. Ia tahu yang akan dimintanya adalah sesuatu yang sangat berharga, yang akan membantunya memenangkan pengadilan berikutnya.


“Aku ingin memintanya langsung pada bos.”


Permintaan Abi itu mengejutkan anak buah bos Dirga itu. Bukan karena ia tidak menyangka pertanyaan itu, tapi karena bos Dirga sudah memprediksi sejak awal jika Abi ingin bertemu dengannya.


“Baiklah, temui bos Dirga besok di aula. Ada ibadah mingguan di sana,” kata Cungkring. Abi tidak menjawab dan hanya termenung. “Kenapa? Kau keberatan?”


“Tentu saja tidak,” jawab Abi santai. “Kebetulan agama kami sama.”


*          *         *


Indira membentur-benturkan kepalanya ke atas meja. Ia tidak merasa sakit sama sekali meski benturannya cukup kuat, terbukti dari bunyi keras yang dihasilkan. Abi hanya bisa melihat sebelum akhirnya ia mulai terganggu dan meletakkan telapak tangannya ke atas meja, tepat di area Indira membenturkan kepalanya.


“Sudah, hentikan. Persidangannya sudah beberapa hari yang lalu dan kau masih saja bersikap seperti ini. Aku tak pernah menyalahkanmu,” kata Abi sambil mengangkat jidat Indira yang sudah ada di telapak tangannya.


“Kamu tahu Lani Guinier?” tanya Indira tiba-tiba.


“Eh, siapa itu?”


“Ternyata kamu bukan orang yang tahu semuanya,” gerutu Indira. Abi tidak mengambil hati karena memahami perasaan galau yang melanda penasihat hukumnya itu. Ia melepaskan jidatnya dari tangan kliennya lalu menatap ke arah jendela. “Dia adalah seorang profesor hukum di universitas ternama dunia, Harvard University.”

__ADS_1


Abi menunggu kelanjutan dari cerita tentang Lani Guinier, tapi Indira hanya diam. Ia sampai harus bertanya, “Lalu?”


“Salah satu quote darinya yang sangat kusuka adalah: Most people ask questions because they want to know the answer; lawyers are trained never to ask questions unless they already know the answer. Kebanyakan orang bertanya karena ingin tahu jawabannya; pengacara dilatih untuk tidak pernah mengajukan pertanyaan kecuali mereka sudah tahu jawabannya.”


“Kau juga menanyakan hal itu pada Totok karena kau pikir sudah tahu jawabannya. Jika ternyata jawabannya berbeda, itu hanya membuktikan kalau pengacara tidaklah maha tahu. Bahkan aku sendiri tak pernah memprediksi dia akan menjawab seperti itu.”


Indira menatap Abi seakan ingin memastikan apa yang dikatakan kliennya itu benar. Setelah melihat keseriusan dari wajahnya, Indira mulai merasa sedikit lebih tenang.


“Terima kasih,” gumam Indira. “Baiklah, kita akan membahas persiapan kita untuk sidang berikutnya. Hal lain yang membuatku stres adalah pemilik rekaman dashboard mobil di belakang mal itu menolak rekamannya dipakai sebagai barang bukti. Demikian juga dengan rekan Rama yang bekerja di kantor Ekstrim. Ia enggan mengembalikan riwayat pemesanan ke aplikasi di ponselmu dan batal memberikan rekaman kedatangan polisi ke kantor mereka. Kita kehilangan banyak barang bukti penting. Sepertinya para polisi mendatangi dan menakut-nakutiku mereka. Karena kejadian yang menimpa polisi bernama Reynold itu, jadi -”


Indira segera menutup mulutnya setelah ingat komitmennya untuk tidak membahas kasus itu pada Abi sebelum ada bukti keterlibatan kliennya itu. Ia melakukannya sebagai bentuk kepercayaannya.


“Sebaiknya kita tidak usah membicarakan tentang persidangan berikutnya hari ini,” kata Abi mengejutkan Indira.


“Kenapa? Waktu kita tinggal beberapa hari lagi menjelang sidang berikutnya. Jika kita tidak membahasnya sekarang, aku takut persiapan kita akan kurang maksimal.”


Abi menghela napasnya sambil mengusap dagu. Ia berpikir sejenak sebelum berkata, “Aku sedang menunggu sesuatu. Ini sangat penting bagi kita.”


“Sepenting apa? Apakah sesuatu yang kamu tunggu itu akan berpengaruh pada persidangan nanti?”


“Sangat penting, bahkan bisa mengubah alur persidangan nanti.”


Kini Abi dan Indira saling menatap. Untuk beberapa saat, Indira tidak bisa memikirkan kata-kata apa yang paling tepat untuk ia ucapkan pada Abi. Ia sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran kliennya itu. Namun, melihat wajah kliennya yang sangat serius saat mengatakannya, ia memilih untuk percaya.


“Baiklah. Kalau begitu, besok aku akan kembali,” kata Indira sambil berdiri dan bersiap untuk pergi.


“Dua hari lagi.”


Mendengar ucapan Abi, Indira kembali duduk. Ia menatap kliennya seraya berpikir apakah kali ini ia harus memercayainya lagi atau tidak.


“Tidak, besok!”


*          *         *


Seperti rutan lainnya, rutan Sukadamai juga memperhatikan kebutuhan spiritual penghuninya. Mereka selalu mengundang pemuka-pemuka agama untuk berdakwah atau berkhotbah untuk para tahanan. Setiap hari Rabu, rutan selalu mengundang pemuka agama dari gereja-gereja secara bergantian. Ibadah biasanya dilaksanakan di ruang aula.

__ADS_1


Abi sudah tiba di aula sejak tadi. Ia mengikuti ibadah dengan khusyuk. Meski sadar tidak menjalani hidup dengan benar, Abi tidak pernah meremehkan ibadahnya. Apalagi saat remaja dulu ia pernah aktif kegiatan gereja di lingkungannya.


“Wah, ternyata kau cukup suci juga, ya?”


Tiba-tiba sebuah suara mengganggu konsentrasinya saat mendengar khotbah. Ia menoleh ke samping dan di sana sudah duduk bos Dirga yang berpura-pura serius mendengar seorang pendeta yang sedang berbicara.


“Lebih mengejutkan lagi seorang bos Dirga yang mengikuti ibadah,” kata Abi tanpa menatap lawan bicaranya.


“Aku atheis. Namun, aku harus terlihat bertobat untuk menebus kejadian kemarin.”


Abi tersenyum. Ia pun bergumam, “Bahkan meski tidak memercayai keberadaan Tuhan, seorang Bos Dirga masih memperalatNya.”


Bos Dirga terdiam sejenak untuk mencerna perkataan Abi, lalu tertawa kencang. Bahkan ia sampai menjadi pusat perhatian orang-orang yang beribadah. Tapi ia tidak merasa malu sedikitpun. Ia harus berhenti tertawa karena seorang sipir datang menegurnya.


“Ya sudah, sekarang katakan saja apa yang kau inginkan sebagai hadiahmu.”


Abi masih menundukkan kepalanya agar sipir yang tadi datang menegur bos Dirga tidak tahu kalau ia sedang berada di dekat si Raja Kasino itu.


“Aku butuh informasi tentang seseorang,” kata Abi.


“Informasi tentang seseorang?” Bos Dirga mengulangi perkataan Abi dengan ekspresi kesal. “Kenapa kau harus mendapatkan informasi tentangnya dariku? Apakah dia orang yang sangat penting sehingga demi dirinya, kau membuatku membunuh istriku? ”


“Bukan, dia bukan orang penting,” jawab Abi. “Tapi dia berkaitan dengan orang yang penting. Bahkan mungkin sangat penting. Karena itu, hanya Bos Dirga pilihan masuk akalku untuk bertanya tentangnya dan tentang orang penting yang berkaitan dengannya.”


Bos Dirga terdiam. Ia mulai penasaran dengan orang yang dimaksud oleh Abi. Firasatnya hanya bisa menebak ‘orang penting’ itu, dan jika benar, sangat menarik karena hanya beberapa orang saja yang mengetahui keberadaannya dan seharusnya Abimanyu Alexander tidak termasuk.


“Baiklah, katakan saja siapa orang yang ingin kau ketahui informasinya.”


“Mischa Radjasa,” ujar Abi mantap.


Bos Dirga berpikir sejenak. Otaknya sedang mencoba untuk mengingat nama itu. Terdengar familiar, tapi sepertinya tidak cukup dekat dengannya.


“Ah, artis itu. Bukankah dia yang kau bunuh itu? Ah, maaf. Aku sama sekali tak mengenalnya. Sepertinya kau salah bertanya.”


“Bukan, bukan Mischa Radjasa yang mati itu,” kata Abi. “Tapi ‘Mischa Radjasa’ yang pernah kutemui dulu. Yang menyuruhku mengantarkan paket berisi sabu-sabu dan membuatku harus mendekam di tempat ini.”

__ADS_1


__ADS_2