
“Dan kini, sang Nyonya, mantan ibu negara, istri dari mantan presiden Hemas, yang dulu diumumkan telah meninggal dunia, bahkan sampai diadakan pemakaman yang sangat megah saat itu, sekarang tinggal nyaman di lapas Maharaja. Ia yang selalu memberikan dukungan padamu, baik dalam bentuk finansial atau informasi penting dari era orde baru yang disimpan oleh Hemas. Pamrihnya hanya satu, kau harus membangun sebuah kerajaan kecil baginya.”
Tuan Jireh tersenyum mendengar spekulasi dari Abi. Cukup detail dan semuanya mendekati kebenaran. “Benar sekali, sebuah kerajaan kecil di mana perjudian, prostitusi dan perdagangan narkoba akan bebas. Kerajaan yang diperuntukkan bagi siapapun yang membutuhkan privasi. Tak peduli kau penjahat atau narapidana, asalkan uangmu banyak, kau boleh ke kerajaan ini.”
“Ya, ya. Makanya, kau merencanakan reklamasi yang penuh kontroversi ini. Tujuannya adalah sebuah pulau kamuflase yang tidak tercatat dalam dokumen manapun dan mengecoh citra satelit. Memang, karya PT. Laras Jaya Karya sangat luar biasa.”
“Bukan hanya itu. Seperti yang kau tahu, pulau ini punya akses terowongan bawah laut. bukan hanya satu, kami sudah berhasil membuat dua terowongan. Satu langsung terhubung ke lapas Maharaja, dan satu lagi terhubung ke sebuah pulau terluar yang selama ini diabaikan pemerintah.”
Abi sadar kalau senyumnya sedang melebar karena mengagumi ambisi tuan Jireh dan nyonya Hames untuk pulau ini. Ia harus segera menyadarkan dirinya untuk kembali fokus pada tujuannya bertemu dengan tuan Jireh.
“Tapi, aku harus mengakui kelicikanmu. Kau sempat mengecohku saat memberi dukungan pada Theodore Fransiskus yang sangat ngotot membangun pemukiman di pulau Reklamasi, ternyata tujuan akhirmu adalah Arya Topaz Gumilang yang akhirnya mengesahkan undang-undang pemanfaatan pulau-pulau reklamasi untuk pelestarian alam. Padahal hanya untuk menjadikannya ‘benteng’ bagi pulau ini dan membuat orang awam pada akhirnya mengabaikan reklamasi ini.”
“Tentu saja. Jika Theodore Fransiskus yang membuat undang-undang itu, pasti akan menimbulkan kecurigaan. Untungnya, ada Bima Sakti yang tanpa ia sadari membantu kami.”
“Yang menjadi pertanyaanku, kenapa butuh waktu selama itu? Dua puluh lima tahun.”
“Benar juga. Sudah dua puluh lima tahun,” kata tuan Jireh sambil menengadah ke langit, seakan sedang melihat kilas balik hidupnya selama dua puluh lima tahun terakhir. “Kau pikir semua itu mudah? Mulai dari reklamasi, pembangunan terowongan, serta menguasai rutan-rutan. Aku harus melakukannya satu per satu. Dukungan dari wanita tua itu tidaklah cukup. Aku juga membutuhkan dukungan para pejabat dan orang-orang kaya. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan memanfaatkan dosa-dosa mereka. Jual beli hukum adalah cara termudah bagiku. Dan seharusnya saat ini pembangunan rumah judi terbesar di Asia sudah berjalan jika saja kau tidak mengganggunya.”
Abi tertawa terkekeh-kekeh, seakan sedang mengejek jawaban tuan Jireh barusan.
“Katakan saja, kau memanfaatkan wanita tua itu untuk menjadi tuan Jireh yang seperti sekarang. Atau, kau memang menunggu kematiannya agar kau punya kuasa penuh atas harta Hemas.”
Ucapan Abi itu membuat tuan Jireh tersentak. Jika sebelumnya pemuda itu menjabarkan apa yang pernah terjadi dengan cukup akurat, kali ini ia mengatakan apa yang selama ini dipikirkan oleh tuan Jireh.
“Sepertinya istilah ‘lawan terberat adalah diri sendiri’ itu sangat tepat,” ujar tuan Jireh sambil tersenyum. “Sejak awal, ketika pertama kali melihatmu, aku seperti melihat diriku sendiri. Kita memang punya banyak kemiripan. Jika tidak, kau takkan bisa membaca pikiranku setepat itu. Bahkan asistenku sendiri tak pernah menduga seperti itu.”
“Sayangnya, aku tidak bangga dengan hal itu,” balas Abi mengejek.
__ADS_1
“Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Kau ingin melaporkanku?”
“Pastinya. Kebetulan, aku merekam semua percakapan kita,” ujar Abi sambil melepaskan topinya. Ia menunjuk ke arah tengah topi, seakan ingin memberitahu tuan Jireh kalau di sana ada kamera.
“Sayangnya, kau takkan pernah bisa keluar dari tempat ini.”
Tiba-tiba terdengar suara lebih dari satu helikopter datang dan mendarat di sekeliling mereka. Dari dalamnya, turun beberapa pria berpakaian sama dengan senjata di tangan. Mereka segera menghampiri tempat tuan Jireh dan Abi berada.
“Ya, tentu saja kau takkan membiarkanku pergi, apalagi dengan rekaman ini,” kata Abi yang masih sanggup tersenyum pada situasi itu. “Aku sudah bilang pada Indira, jika aku tidak ke tempatnya sampai jam sembilan, ia harus menelepon polisi dan memberitahukan lokasi tempat ini. Dan sekarang sepertinya sudah hampir jam sembilan.”
Tuan Jireh seakan tidak peduli. Ia tidak menghentikan langkah para anak buahnya sama sekali.
“Sebaiknya kau jangan terlalu berharap banyak,” ujar tuan Jireh. “Asistenku sudah datang berkunjung ke rumahnya beberapa waktu yang lalu. Aku yakin, saat ini wanita pengkhianat itu sudah berada di alam lain.”
*
“Bagaimana dengan pria itu?” tanya Indira.
“Aku sudah mengirim pesan pada rekan-rekanku dan mereka akan tiba sebentar lagi,” jawab Regina yang direspons Indira dengan anggukan kecil.
“Apakah ada makanan?” tanya Rinjani.
“Mie instan. Mau? Biar kumasakkan,” ujar Indira.
“Tidak mau. Kau selalu memasukkan telur setelah mienya. Aku tidak suka karena kuahnya menjadi keruh dan menjijikkan.”
“Pesan antar saja. Aku tahu tempat menjual mie ayam yang sangat enak dan ada jasa antar ke alamat,” timpal Regina.
__ADS_1
Indira dan Rinjani menyambut baik ide itu. Mereka pun membahas lebih lanjut tentang pemesanan makanan tersebut dengan sangat antusias.
“Ah, sial. Kenapa aku bisa kalah dengan para wanita lemah ini?”
Indira, Regina dan Rinjani terkejut ketika mendengar suara itu. Mereka segera menoleh dan lebih terkejut lagi karena melihat Jesse Arnold sudah berdiri dengan tubuh penuh luka. Mereka sempat berpikir kalau pria itu bukanlah manusia, melainkan monster.
Regina dan Rinjani merasa kesal. Tubuh mereka sudah terlanjur lelah dan kesakitan. Bahkan untuk berjalan saja mereka membutuhkan usaha yang ekstra.
“Sudah kukatakan tadi, seharusnya kau bunuh saja. Kau ledakkan kepalanya dengan pistol. Di film-film sering kejadian seperti ini. Tokoh jahat yang dipikir sudah kalah, tiba-tiba bangkit dan membunuh salah satu karakter,” gerutu Rinjani pada Regina.
“Hei, aku ini polisi, bukan pembunuh,” ujar Regina tak kalah kesal pada Rinjani. “Lagipula, kapan kau mengatakannya?”
“Sudah. Daripada kalian bertengkar mulut, sebaiknya kalian pikirkan apa yang harus kita lakukan sekarang,” kata Indira mencoba menenangkan mereka.
Regina dan Rinjani setuju dengan perkataan Indira tersebut. Mereka berpikir sejenak.
“Bukankah ia mengincar Indira? Aku yakin, kondisinya juga sama dengan kita,” kata Regina sambil menatap Rinjani. Untungnya, Rinjani segera mengetahui maksud polwan itu.
“Indira, ketika kami menangkap pria itu, kau segera lari sekencang-kencangnya ke kantor polisi,” bisik Rinjani pada Indira.
Tiba-tiba Jesse Arnold bergerak ke arah mereka. Dengan sigap, Regina dan Rinjani menangkapnya dan memeluknya erat-erat. Melihat situasi itu, Indira langsung berlari kencang menuruni tangga untuk berlari menuju kantor polisi terdekat, seperti yang disuruh oleh Rinjani.
“Dasar bodoh!” bentak Jesse. Ia hanya perlu mengguncang tubuhnya sebentar lalu mengangkat kedua tangannya, pelukan Regina dan Rinjani langsung lepas dan mereka berdua terjatuh.
“Ternyata, kita benar-benar lemah sekarang,” ujar Rinjani dengan air mata yang sudah mengalir di pipi. Regina juga tak kalah sedih setelah menyadari kondisi mereka sekarang.
Jesse Arnold tidak menghiraukan mereka dan segera berjalan menyusul Indira. Ia mengeluarkan pisau yang tersimpan di balik celana bagian kaki kanannya. Sambil memegang pisau, ia mengejar Indira.
__ADS_1