Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 11


__ADS_3

Indira memeriksa salinan Berita Acara Perkara (BAP) yang baru saja ia terima dari pihak penyidik sambil melirik Abi yang ada di hadapannya. Sang klien masih menguap sambil sesekali mengucek matanya. Pemeriksaan kemarin berlangsung selama hampir dua belas jam oleh empat penyidik dengan lebih dari lima puluh pertanyaan.


“Bagaimana dengan tidurmu? Nyenyak?” tanya Indira.


“Sangat tidak nyenyak. Mereka memang tidak menyiksaku. Tapi, pertanyaan mereka yang berbelit-belit dan seakan memaksaku untuk mengakui semua tuduhan itu sangat melelahkan bagi mentalku. Bahkan setelah pemeriksaan selesai, pikiranku terus bekerja. Ditambah lagi ruangan kami tadi malam sangat panas dan banyak nyamuk. Akibatnya, aku kesulitan untuk tidur.”


Indira mengangguk-angguk seakan ingin menunjukkan empatinya. Padahal ia bertanya hanya untuk berbasa-basi. Cukup dijawab dengan ya atau tidak. Tak disangka, Abi memberikan informasi jauh lebih banyak dari yang Indira harapkan.


“Ada lagi hal lain yang ingin kamu bicarakan?”


Tatapan Indira tak lepas dari wajah Abi yang sedang memikirkan sesuatu. Ia sangat berharap Abi membahas wanita berpenampilan rocker yang memanggilnya dengan sebutan ‘Suamiku’. Berhubung hal itu sudah masuk dalam ranah pribadi, tentu Indira segan untuk menanyakannya secara langsung. Tapi, rasa penasaran mendesaknya untuk mencari tahu.


“Tidak ada. Kita bicarakan saja tindakan kita selanjutnya.”


Sayangnya, Abi tidak mengarah pada pembahasan tersebut.


“Ingin membacanya lagi?” Indira mengacungkan salinan BAP yang ia pegang pada Abi.


“Tidak. Aku masih ingat semua pertanyaannya dan sebelum menandatanganinya, aku sudah memeriksanya dengan teliti.”


“Baiklah kalau begitu.”


Indira meletakkan kembali salinan tersebut ke atas meja sambil berpikir, apa lagi yang harus ia bicarakan dengan kliennya tersebut.


“Sepertinya sekarang sudah waktunya untuk kau melakukan keahlianmu,” kata Abi yang membuat Indira bingung.


“Keahlianku?”


“Iya, investigasi.”


Indira menaikkan salah satu alisnya karena tidak mengerti dengan apa yang Abi katakan. Sejak kapan ia mengaku ahli dalam investigasi? Atau, bagaimana Abi bisa menilai dirinya ahli dalam investigasi?

__ADS_1


“Kenapa kamu katakan seperti itu?”


“Sudah kuduga. Bahkan kau sendiri tidak sadar kalau kelebihanmu adalah investigasi. Padahal itu adalah alasan kedua aku menunjukmu sebagai pengacaraku.”


Indira menunjukkan ekspresi keberatan dengan penilaian Abi tersebut. Bukan karena tidak menyukainya, tapi karena ia sadar kalau selama ini investigasi yang dilakukannya tidak terlihat spesial. Ia hanya melakukan prosedur-prosedur standar dalam melakukan investigasi.


“Aku akan menarik ucapanku jika kau tidak terima. Tapi, setelah mendengar seseorang mengatakan demikian, aku yakin kau akan segera menyadari jika itu benar,” ujar Abi sambil tersenyum.


Melihat dari sikapnya, Indira melihat Abi serius. Meski belum setuju, ia merasakan semangat mulai tumbuh di dalam dirinya. Tekanan yang ia rasakan karena membela tersangka dari kasus yang paling menarik perhatian publik saat ini mulai berkurang setelah mendapatkan pengakuan dari seseorang. Ia berpikir Abi memilihnya sebagai pengacara karena tidak punya pilihan lain. Tentu sangat menyenangkan saat mengetahui ada lebih dari satu alasan seseorang memercayainya.


“Menurutmu, apa yang harus kita selidiki terlebih dulu?”


Abi tersenyum melihat wajah Indira yang jauh lebih percaya diri dari sebelumnya.


* * *


Indira berdiri mematung.


“Kamu benar-benar bukan Abi?” tanya Indira pada pria yang ada di depannya.


“Of course not, Kakak. Aku adalah Rama Alexander, saudara seibu Abimanyu Alexander. Bisa dibilang, Rama adalah versi lite dari Bang Abi,” kata seorang pria yang ada di hadapan Indira.


Jika dilihat sekilas, Rama dan Abi sangat mirip. Namun, jika dilihat lebih teliti lagi, akan terlihat perbedaan mencolok. Misalnya, tubuh Rama yang jauh lebih pendek, warna kulitnya yang sedikit lebih gelap dan pipinya yang lebih berisi. Belum lagi suaranya yang cempreng, berbeda dengan Abi yang terdengar berwibawa. Pantas saja mirip, ternyata mereka kakak beradik.


“Abi sudah memberitahukan padamu kalau -”


“Sudah, Kakak. Bang Abi sudah kasih tahu Rama kalau selama investigasi, Rama akan menemani Kakak,” katanya dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. “Pokoknya Kakak tidak perlu takut. Rama menguasai berbagai ilmu beladiri dan punya banyak sekali koneksi. So, Kakak bisa menginvestigasi by calm down and easy.”


Indira terkejut sekaligus senang dengan promosi diri yang dilakukan oleh Rama. Benar kata Abi tadi bahwa ia akan dibantu oleh seseorang yang sangat berguna dan dapat dipercaya selama investigasinya, meski pria ini sangat suka menggunakan bahasa Inggris secara brutal. Ia pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman sebagai tanda perkenalan mereka.


“Perkenalkan, saya Indira Christina. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik,” kata Indira sambil melemparkan senyum.

__ADS_1


“Oh, tentu saja. Kita akan menjadi Super Team,” balas Rama dengan suara lebih lantang sambil menyambut uluran tangan Indira. “Sekarang, mau ke mana kita?”


“Sebaiknya kita ke TKP terlebih dulu,” usul Indira.


“Baik, segera browsing.”


Rama mengambil kunci di sakunya lalu mengacungkannya sambil menekan tombol. Sebuah bunyi seperti alarm mobil muncul dari suatu arah. Indira merasa lega karena selama investigasi akan memakai mobil sebagai alat transportasinya.


“Silakan, Kakak,” kata Rama dengan ramah mempersilakan Indira untuk menaiki kendaraannya.


Indira menoleh ke kanan dan kiri, mencari mobil yang Rama maksud. Tidak ada. Yang terdekat adalah mobil yang diparkirkan agak jauh dari tempat mereka, tapi jaraknya tidak cocok dengan bunyi alarm yang ia dengar tadi.


“Di mana mobilnya?” tanya Indira.


“Bukan mobil, Kakak. Kita akan keliling kota mencari kebenaran dengan Belalang Tempur.”


Rama menunjuk sebuah motor tua jenis dual sport yang sudah mengalami berbagai modifikasi yang cukup norak. Dudukannya yang tinggi membuat Indira sudah merasa lelah duluan. Bukan trauma, tapi ia punya banyak pengalaman buruk dengan motor. Jika memungkinkan, ia lebih memilih untuk menggunakan alat transportasi lain. Sudah beberapa tahun terakhir ia berusaha untuk tidak menggunakan alat transportasi tersebut.


“Apakah tidak sebaiknya kita menggunakan mobil saja?” tanya Indira.


“Oh, tidak bisa, Kakak. Menginvestigasi di tengah kota besar yang selalu sibuk dan padat ini, kita butuh kendaraan dengan high mobility, yang bisa menghindari kemacetan jalanan kota. Meski lebih nyaman dan mewah, mobil hanya akan memperlambat pergerakan kita. Dengan Belalang Tempur, kita akan bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat, bahkan seperti sedang melakukan teleportasi.”


“Sepertinya investigasi kita tidak terlalu membutuhkan mobilitas yang -”


“Nobody knows the future, Kakak. Misalnya sekarang, kita akan memeriksa gedung TKP. Ternyata gedung itu sebentar lagi akan dihancurkan oleh penjahat untuk menghilangkan barang bukti.”


“Tapi gedung itu tidak akan dihancurkan dalam waktu dekat.”


“Atau Kakak mengetahui siapa penjahat di balik semua kasus yang menimpa bang Abi, tapi ternyata pelaku itu sedang di bandara hendak escape to overseas.” Rama terdiam sebentar, lalu berbicara dengan nada yang lebih tenang, “Selain itu, kita tidak punya cukup uang untuk membeli atau sekadar menyewa mobil.”


Indira terdiam. Bayangan investigasi yang tenang dan mudah mendadak buyar setelah tahu seperti apa orang yang akan menemaninya.

__ADS_1


“Baiklah. Belalang Tempur,” tukas Indira dengan nada pasrah.


__ADS_2