Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 32


__ADS_3

Tubuh Roy masih gemetar ketika ia sedang menelusuri koridor yang akan membawanya ke pintu keluar rutan. Hampir semua kata-kata yang terlontar dari mulut Abi tadi menghajarnya. Namun, kalimat terakhir menjadi sebuah serangan yang terberat dan masih terngiang-ngiang di kepalanya.


“Dan aku tahu, akar dari pohon itu adalah seseorang yang sangat mengerikan. Ia adalah dirigen dari sistem jahanam tersebut. Tanpanya, kalian kacau. Dan dengannya, kalian adalah pengacau. Aku tak tahu siapa orang itu. Tapi, melihat bagaimana takutnya kau setiap kali pihak kami menyerang di persidangan, aku yakin dia ada di sana. Sampaikan padanya, suatu saat aku akan berhadapan dengannya secara langsung dalam kondisi saling mengenal satu sama lain sebagai lawan. Aku akan menghancurkannya agar dendamku, yaitu menumbangkan pohon itu, bisa terbayar lunas. Sampaikan pada Tuan Jireh.”


Roy tahu betapa mengerikannya Tuan Jireh. Bahkan ia tidak pernah sembarangan menyebut namanya. Tapi Abi, yang notabene bukan siapa-siapa dan tak memiliki apa-apa, berani menantang pria itu. Ternyata, remaja yang pernah ia fitnah beberapa tahun yang lalu telah tumbuh menjadi monster dan kini berada di level yang lebih tinggi darinya.


“Sayang?”


Terdengar sebuah suara lembut memanggilnya. Matanya yang sudah berkunang-kunang berusaha mencari sumber suara itu. Ternyata dari seorang wanita cantik bertubuh tinggi yang sangat ia kenal.


“Sayang? Kenapa kau di sini?”


Wanita itu adalah Regina. Ia memegang pundak Roy dan mencoba menopangnya karena kelihatan tubuh itu seperti hendak tumbang.


Sementara itu, tak jauh dari mereka, Indira dan Rama saling berbisik.


“Aku tak menyangka kalah mereka bertunangan. Selain karena Regina terlihat pintar dan jaksa itu terlihat bodoh, waktu itu ia memanggil Abi dengan sebutan 'suamiku' dan mereka terlihat sangat akrab. Ya, ia lebih cocok dengan Abi dibandingkan dengan jaksa bodoh itu.”


Rama tersenyum mendengar paparan opini dari Indira. “The situation is very complicated, Kakak. Semua orang yang mengenal mereka bertiga tahu kalau dulu bang Abi love Regina dan Regina love bang Abi, sampai kunyuk itu muncul di antara mereka.”


“Abi pernah mencintai Regina?” Entah kenapa, Indira merasa sangat kecewa.


“Konon dulu mereka adalah teman lama, sepertinya sejak SD. Dari cerita yang kudengar, mereka hampir pacaran. Sayangnya, terjadi peristiwa itu yang membuat bang Abi dipenjara dan dikeluarkan dari sekolah. Padahal bisa dibilang peristiwa itu terjadi karena bang Abi mencoba melindungi Regina dari perlakuan kasar Roy. Lucunya, setelah bang Abi keluar, Regina dan Roy malah berpacaran hingga akhirnya bertunangan. Hanya saja, Regina malah terlihat lebih sering bermanja-manja dengan bang Abi dibandingkan dengan jaksa itu.”


Indira mengangguk-angguk seolah mulai bisa memahami situasi rumit yang Rama maksud. Lalu, mereka terkejut ketika jaksa itu tiba-tiba membentak.


“Kenapa kau berdandan ke tempat ini? Bahkan kau tidak pernah menggunakan make up sedikitpun saat berkencan denganku atau saat menemui orang tuaku.”


“Berhentilah bersikap seperti anak kecil. Aku memang selalu berdandan jika hendak bertemu dengan Abi.”

__ADS_1


Kemudian Roy menggenggam pergelangan tangan kanan Regina erat sambil menatapnya tajam, seakan amarahnya sudah memuncak. Meski ini bukan yang pertama, ia tak sudi jika tunangannya memperlakukan orang yang baru saja menyerangnya secara brutal dengan istimewa.


“Lepaskan tanganmu! Kau pasti tahu kalau aku sudah sering menghajar para penjahat,” kata Regina yang membalas tatapan tajam Roy dengan tatapan yang tak kalah tajam.


“Maksudmu, aku penjahat?”


Regina tidak langsung menjawab. Ia menatap Roy dengan penuh kebencian, sebelum berkata, “Selama kau menganggapnya demikian.”


Mereka saling bertatapan cukup lama dan tanpa kata-kata. Indira dan Rama sampai merasa canggung dengan situasi itu. Hingga akhirnya, Roy melepaskan genggaman tangannya dan melanjutkan perjalanan ke pintu keluar, meninggalkan tunangannya.


“Para wartawan sudah menunggumu di luar. Selamat bersenang-senang,” kata Rama setengah berbisik saat jaksa itu melewati mereka.


Sementara itu, Indira menatap Regina yang sedang mengusap pergelangan tangan kanannya. Wanita yang selama ini selalu bersikap tangguh di depannya, kini terlihat galau dan rapuh. Tidak seperti yang Indira kira, wanita itu berjalan ke arah mereka dengan wajah murung. Hingga akhirnya ia melewati Indira dan Rama.


“Lho, what happen? Tidak jadi menjenguk bang Abi?”


Regina tidak memberi jawaban. Sepertinya ia tidak mendengar. Indira mencolek Rama dan memberi isyarat agar ia tidak mengganggu polwan itu.


“No, no. We must go now,” kata Rama. Indira menunjukkan wajah bingung seakan bertanya alasannya. Kemudian Rama mendekatkan mulutnya ke telinga Indira dan berbisik, “Bang Abi baru bilang kalau sekarang kita harus memeriksa sesuatu.”


Wajah Indira sekarang semakin bingung. “Kapan Abi mengatakannya padamu?”


Rama menunjukkan layar ponselnya dan terlihat sebuah percakapan pesan. Sangat jelas dari bahasanya bahwa lawan bicara Rama di percakapan itu adalah Abi.


“Rama menyelundupkan ponsel padanya dua hari yang lalu.”


Nyaris saja Indira berteriak mendengar pengakuan dari Rama. “Bagaimana bisa? Itu adalah sebuah pelanggaran yang cukup berat di rutan. Jika ketahuan, ia akan mendapatkan masalah besar.”


“Rama sudah mengatakan hal yang sama pada bang Abi. Tapi katanya, ia memang sedang ingin membuat masalah besar.”

__ADS_1


Indira geleng-geleng kepala karena tak habis pikir dengan kelakuan kliennya. Sejak itu, kekhawatiran pun mulai melingkupi hatinya, membuatnya menebak-nebak masalah besar seperti apa yang direncanakan oleh Abi.


*          *         *


Suasana rutan sudah sepi. Tak ada lagi suara yang terdengar kecuali langkah beberapa sipir yang patroli memeriksa setiap kamar rutan. Para tahanan telah sibuk dengan mimpi-mimpi mereka.


Namun, seorang tahanan masih terjaga. Ia mengendap-endap di dalam toilet yang bau dan berantakan. Matanya awas memeriksa keadaan setiap saat. Bahkan rekan sekamarnya tidak ada yang menyadari aktivitasnya.


Tahanan itu adalah Abi. Ia menarik sebuah bata yang sebelumnya melekat di salah satu sisi dinding. Selama di rutan, Abi sudah menyadari keadaan bata itu, yang tak lagi melekat kuat dengan bata-bata di sekelilingnya.


Beberapa hari terakhir, Abi mengikis bagian tengah salah satu sisi bata sampai membentuk seperti huruf u. Sisi tersebut menghadap ke dalam tembok sehingga tidak terlihat dari luar. Hasil kikisannya itu dibuang sedikit demi sedikit ke luar lapangan. Tentu saja, ia terinspirasi oleh film tentang pelarian dari penjara terbaik sepanjang masa, The Shawshank Redemption.


Abi memang sengaja membuat celah bata itu untuk tempatnya menyembunyikan ponsel yang diselundupkan Rama. Berhubung tubuhnya terkurung di dalam rutan ini, ia butuh sebuah 'kendali' yang akan membantunya untuk menjalankan misi besar yang sudah dirancangnya sejak lima belas tahun yang lalu.


Ia memulainya dengan mengakses cloud miliknya, yang berisi tentang banyak rahasia penting dari orang-orang penting yang memiliki hubungan Roy, ayahnya serta para polisi yang menyiksa dan memenjarakannya dulu.


“Aku tidak akan membuat posisinya sebagai jaksa penuntut umum di kasusku hilang. Aku ingin bermain-main lebih lama lagi dengannya,” gumam Abi pada dirinya sendiri. “Bagaimana dengan abang dan kakaknya?”


Abi membuka beberapa folder yang tersusun rapi, mulai dari berdasarkan abjad hingga nama orang-orang yang selama ini diintainya.


Ia menemukan beberapa berkas yang namanya identik dengan nama abang dan kakak Roy. Kemudian, ia menekan tombol untuk membagikan file-file itu lalu memilih nomor yang diberi nama salah satu instansi pemberantasan korupsi dan nomor yang diberi nama LSM yang khusus mengawasi kasus-kasus korupsi di negeri ini.


“Bro, kok lama banget? Masih hidup, kan? Cepetan, gue kebelet.”


Abi terkejut mendengar suara cempreng Aben, salah satu teman sekamarnya, yang tiba-tiba. Kemudian, ia membuka sebuah aplikasi di ponselnya dan menekan salah satu tombol. Lalu terdengar suara seperti orang sedang buang angin dan buang air besar.


“Sorry, Bro. Perutku lagi tidak beres.”


“Ya udah, gue tunggu. Tapi tolong dipercepat, ya.”

__ADS_1


Abi melihat kembali ponselnya. Berkas tadi sudah terkirim. Kemudian ia mematikan ponsel itu lalu memasukkannya ke dalam bata kembali. Ia berharap sesuatu yang menyenangkan terjadi besok.


__ADS_2