
Keringat mulai mengalir dari kening Indira. Ia sama sekali tidak menyangka pertanyaannya justru menjerumuskan pihaknya. Totok yang awalnya menceritakan Abi sebagai Advokat Malam dan jasa-jasanya bagi warga di tempat mereka tinggal, kini malah membeberkan hal-hal negatif dari kliennya dan itu terdengar sangat meyakinkan.
“Sejak kecil saya melihatnya sebagai orang aneh dan menyeramkan. Setiap kali ia bermasalah dengan orang lain, hampir selalu orang itu akan mendapatkan musibah yang tak wajar. Abi juga tidak pernah menunjukkan kesakitan meski ia terluka atau babak belur separah apapun. Ia juga cerdas dan selalu mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Karenanya, saya selalu berpikir kalau ia adalah psikopat.”
“Maaf, kapasitas Saudara saksi di sini adalah saksi fakta, bukan saksi ahli. Saudara hanya perlu mengatakan apa yang Saudara lihat, alami dan ketahui. Tidak perlu mengatakan asumsi-asumsi, apalagi asumsi pribadi tanpa dasar.”
Di balik ketegangannya, Indira segera memotong ucapan Totok yang mengarahkan asumsi bahwa Abi sangat mungkin melakukan kejahatan serius.
“Lho, tadi Saudara sendiri yang bertanya pada saksi menggunakan kata ‘menurut Saudara’? Sekarang melarang dia mengatakan asumsinya.”
Kata-kata hakim itu mengundang tawa di tengah para pengunjung sidang sekaligus mempermalukan Indira. Wajah pengacara bertubuh mungil itu sampai memerah karena malu. Sementara itu, Abi hanya tertunduk seakan sedang merenungkan sesuatu.
“Baik, Saudara penasihat hukum, silakan dilanjutkan.”
Pikiran Indira sudah kacau dan pertanyaan yang sudah dipersiapkannya sejak tadi kini hilang entah ke mana. Meski demikian, ia tetap ingin mengajukan pertanyaan. Apapun itu, asal dapat menyudutkan saksi bernama Totok itu. Namun, saat mulutnya hampir mengeluarkan suara, Abi menyentuh tangannya dan menggeleng kecil. Tindakan sederhana itu mampu membuat emosi Indira kembali normal.
“Dari kami sudah cukup, Yang Mulia.”
“Baik, kalau begitu, ada tanggapan dari terdakwa terkait keterangan dari saksi?”
Abi menghela napas panjang. Ia menatap ke Indira sebentar lalu mengarahkan tatapannya ke Totok, teman masa kecilnya. Yang ada di pikirannya adalah wajah Totok yang memelas untuk meminta tolong. Bukan hanya saat adiknya sedang dikejar polisi, beberapa kali Totok memelas padanya untuk alasan-alasan lain.
Kemudian Abi mendekatkan mulutnya ke arah mikrofon. Semua orang menunggu perkataan dari mulutnya. Sebagian orang berpikir Abi akan menyangkalnya dengan menggunakan pasal-pasal. Sebagian lagi berpikir Abi akan menyerang Totok, seperti yang dilakukannya pada para penyidik tempo hari.
“Semua yang dikatakan oleh saksi adalah benar, Yang Mulia.”
__ADS_1
Sontak semua orang di ruang sidang dan yang menonton siaran langsung sidang itu terkejut mendengar pengakuan dari Abi. Tidak seperti bayangan mereka tentang sosok Abi yang pintar dan hebat dalam melawan, kali ini mereka melihat Abi tampak pasrah. Membenarkan perkataan saksi seolah membenarkan kemungkinan dirinya adalah pelaku dari semua kejahatan yang dituduhkan padanya.
“Tidak ada pertanyaan lagi?” Hakim ketua memastikan penuntut umum, penasihat hukum, terdakwa dan hakim anggota sudah selesai dengan keterangan Totok. “Baik, untuk Saudara saksi, terima kasih atas keterangan Saudara. Apabila majelis hakim membutuhkan kembali keterangan dari Saudara, maka Saudara akan dipanggil kembali. Apakah Saudara bersedia?”
“Bersedia, Yang Mulia.”
Totok dijemput kembali oleh petugas yang membawanya tadi lalu mereka meninggalkan ruang persidangan. Sementara itu, mata Abi mengikuti langkah kepergian Totok, namun terhenti di wajah Indira. Wanita itu tertunduk. Abi memahami perasaan Indira saat ini. Ia pasti sedang sibuk menyalahkan dirinya sendiri.
“Baik, untuk penuntut umum, apakah masih ada saksi yang ingin dihadirkan?”
“Masih, Yang Mulia.”
Abi tidak memedulikan lagi saksi-saksi yang akan dihadirkan oleh penuntut umum. Ia menyentuh tangan Indira sambil berbisik lembut, “Aku lelah. Kita biarkan saja saksi berikutnya berbicara sesukanya. Nanti kita jawab di nota pembelaan saja.”
Indira bingung melihat Abi yang pura-pura tidak melihatnya. Meski samar, Indira bisa melihat senyum tipis di bibir pria itu. Rasa bersalah di hatinya masih ada, tapi sedikit terobati dengan sikap santai yang ditunjukkan oleh sang klien.
Sejak mengetahui dari BAP kalau semua CCTV di sekitar mal sampai rumah Mischa rusak, Abi bisa menebak mereka akan menggunakan driver ojol yang ia temui untuk dijadikan saksi.
Sementara saksi terakhir yang dihadirkan oleh penuntut umum hari ini adalah pihak Ekstrim. Pria yang menjabat sebagai manajer cabang perusahaan itu memberikan kesaksian bahwa tidak ada riwayat pemesanan yang dilakukan saat itu dari rumah Mischa yang masuk ke aplikasi Abi. Berbeda dengan kenyataannya.
“Kita sudah mempersiapkan bantahannya. Apakah kamu yakin untuk tidak menggunakannya?” tanya Indira.
Ya, Indira dan Rama sudah menemukan kamera mobil yang merekam keberadaan Abi di belakang mal Sukajadi. Mereka juga sudah mendatangi kenalan Rama yang merupakan pekerja di Ekstrim dan meminta untuk mengembalikan riwayat pemesanan ke aplikasi yang ada di ponsel milik Abi. Sangat disayangkan jika tidak menunjukkannya di pengadilan, terutama untuk menghadapi saksi-saksi palsu itu.
“Sudah kubilang, aku lelah. Jika kita berdebat lebih lama lagi hari ini, aku takut akan terjadi sesuatu yang di luar kendaliku,” ujar Abi.
__ADS_1
Akhirnya Indira pasrah dan melewatkan kesempatan bertanya pada kedua saksi tersebut. Sidang pun ditunda untuk menunggu Abi dan Indira mempersiapkan saksi dari mereka.
* * *
“Tante Jenny! Tante Jenny!”
Beberapa orang warga mendatangi rumah Abi dan memanggil nama ibunya. Mereka baru saja menyaksikan siaran langsung persidangan pria itu. Melihat di sidang itu Abi tersudut oleh karena kesaksian dari Totok, mereka khawatir wanita yang selalu mereka panggil dengan sebutan Tante Jenny akan mengamuk ke rumah Totok. Mereka tahu betapa seramnya wanita itu jika sedang marah. Ia pasti akan berkelahi dengan tante Susi, ibunya Totok.
“Tante Jenny sudah keluar dari tadi pagi,” kata Dennis yang baru muncul dengan singlet dan sarung menutupi tubuhnya.
“Ke mana?”
“Tidak tahu. Aku hanya melihat dia berdandan rapi dan pergi naik ojek.”
Karena orang yang mereka cari tidak ada, mereka kembali berdiskusi dan akhirnya memutuskan beberapa orang untuk berjaga-jaga di depan rumah Abi, beberapa di depan rumah Totok, sedangkan yang lain kembali kepada kesibukannya masing-masing.
“Tak disangka Totok akan seperti itu pada Abi, ya. Kupikir mereka bersahabat,” ujar Beben, salah satu warga yang tinggal, pada Dennis.
“Memangnya Abi punya sahabat?” celetuk Dennis santai yang direspons oleh Beben dengan anggukan. “Walaupun bukan sahabat, perbuatan Totok sudah kelewatan. Aku tahu Abi sering membantunya, terutama dalam hal meminjamkan duit. Belum lagi saat jadi Advokat Malam, sudah dua kali Abi menyelamatkan Kuntet, adiknya.”
“Benar. Bahkan aku yang belum pernah ditolong oleh Advokat Malam saja takkan mau bersaksi untuk memberatkan Abi. Biarpun dia aneh, tapi dia tidak pernah bermasalah dengan warga kampung. Apalagi kita harus ingat jasa tante Jenny bagi warga kampung dulu.”
Mereka berdua mengangguk sambil mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
“Akhirnya dunia tahu siapa itu Advokat Malam,” gumam Beben.
__ADS_1
“Sekarang bukan itu yang terpenting,” kata Dennis sambil memperbaiki sandalnya yang putus. “Apakah Advokat Malam masih ada lagi untuk membantu kita nanti, itu yang terpenting.”