Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 22


__ADS_3

“Bangun! Bangun!”


Abi terbangun ketika mendengar suara teriakan salah satu sipir beserta bunyi pukulan tongkatnya ke pintu sel. Ia berjalan ke arah pintu dengan langkah gontai. Tiba-tiba sipir lain, yang menemaninya saat bertemu dengan Reynold kemarin, datang dan langsung meraba seluruh tubuh Abi dengan wajah panik.


“Ada apa?” tanya sipir pertama yang bingung melihat tingkah rekannya itu.


“Ponselku hilang dan terakhir terlihat ketika memasukkannya ke sel ini kemarin.”


Abi tersenyum dan berkata, “Ponselmu terjatuh di ruang kunjungan kemarin.”


“Tak mungkin. Aku sudah mengecek ruangan itu.”


“Apakah kau tidak ingat siapa satu-satunya orang di ruangan itu ketika kita pergi dari sana? Seorang polisi yang punya catatan indisipliner terbanyak di kota ini. Ia pasti sudah mengambil dan menjual ponselmu. Apalagi kemarin ia terlihat kesal denganmu. Jadi, ikhlaskan saja.”


Sipir itu semakin pucat setelah mendengar kata-kata itu. Sementara Abi tertawa kecil sambil berjalan meninggalkan sel itu mengikuti sipir yang satunya. Ia terdiam sebentar saat melewati sebuah sel yang konon dihuni oleh bos Dirga.


Abi dibawa ke ruang makan. Ia melihat ruangan sudah penuh oleh tahanan. Sambil mengambil sarapannya, ia mencari bos Dirga. Tak sulit menemukannya, mengingat tubuhnya yang besar serta pengawalnya yang selalu berada di sekelilingnya menjadi pemandangan yang cukup mencolok di ruangan ini.


Dengan santai Abi berjalan menghampiri. Belum lagi sampai di hadapan bos Dirga, ia sudah dihadang dua orang tahanan dengan wajah sangar. Abi tidak melawan.


“Aku punya informasi yang cukup penting untuk Bos,” kata Abi pada bos Dirga yang sedang menyantap sarapannya.


“Aku tidak butuh informasi apapun sekarang. Di sini aku sedang berlibur. Aku tidak ingin memikirkan apapun,” jawab bos Dirga.


“Justru itu. Informasi yang kumiliki sangat penting bagi Bos ketika Bos sedang berlibur.”


Bos Dirga tidak menjawab dan meneruskan makannya. Dua orang tahanan yang menghadang Abi mulai mendorong tubuhnya agar ia pergi.


“Berkaitan dengan nyonya Rahayu.”


Nama yang disebutkan oleh Abi itu mampu mencuri perhatian bos Dirga. Ia yakin, Rahayu yang dimaksud oleh Abi adalah istrinya, wanita yang paling ia cintai. Pria tambun itu mengangkat tangan kirinya seakan memberi isyarat agar para pengawalnya membiarkan Abi.


“Jika informasi yang kau berikan mengecewakanku, aku akan mengoyak mulutmu karena menyebut nama itu,” kata bos Dirga. Meski tahu ancaman itu serius, Abi malah tersenyum seakan percaya diri dengan apa yang dimilikinya sekarang.


“Tapi jika tidak mengecewakan, aku ingin Bos memberikanku sesuatu.”


Bos Dirga mengelap mulutnya dengan tangan dan mendorong mangkuk sarapannya. Kemudian ia benar-benar menatap Abi. “Kau yang datang menawarkan informasi, bukan aku yang meminta. Jadi, aku takkan membayar untuk apapun.”

__ADS_1


Abi menghela napas. Ia masih percaya diri dengan rencananya. “Tidak perlu memutuskannya sekarang. Bos bisa putuskan setelah menerima informasinya.”


Bos Dirga mulai tertarik. Ia pun menengadahkan tangan kirinya dan berkata, “Berikan saja semua yang kau punya itu sekarang.”


“Aku tidak bisa memberikanmu sekarang. Kau bisa melihatnya sendiri di sel strap.”


Keduanya saling menatap, membuat suasana di sekitarnya jadi mencekam. Seorang sipir yang memperhatikan dari jauh mulai curiga dengan gelagat mereka. Ia bersiap menghampiri mereka sebelum Bos Dirga berdiri dan melemparkan kursinya ke wajah Abi.


“Hei, berhenti!” teriak sipir itu sambil berlari ke arah mereka diikuti oleh sipir lain.


Abi sudah tergeletak kesakitan. Nampan berisi sarapannya tumpah mengenai wajahnya. Dengan sigap salah satu sipir membantunya berdiri, sementara sipir lain menahan bos Dirga. Tidak seperti yang mereka duga, tahanan lain yang biasa menjaga bos Dirga mundur teratur seakan membiarkan para sipir itu menangkap pemimpin mereka.


Bos Dirga digiring oleh tiga orang sipir ke sel strap. Saat sudah masuk ke dalam ruangan yang cukup menyeramkan bagi para tahanan itu, pria yang juga dijuluki raja kasino itu berdiri mematung. Ia menunggu para sipir itu benar-benar pergi.


Kemudian ia berjalan menyusuri dinding yang dicat putih. Tangannya menyentuh dinding hingga memutih karena cat kapur yang melapisinya. Langkahnya terhenti ketika melihat sebuah benda berbentuk kotak menempel di dinding. Permukaannya dibaluri bubuk putih dari cat kapur dinding. Sebuah ponsel.


“Aku telah meletakkan sebuah ponsel di sel itu. Bos bisa melihat informasi apa yang kumaksud. Layarnya tidak terkunci dan setelah Bos menekan tombol di kanan ponsel, Bos akan bisa melihatnya,” kata Abi tadi, sebelum bos Dirga melemparinya dengan kursi.


Bos Dirga membuka ponsel itu. Layarnya tidak terkunci. Memang, sebelumnya Abi telah menonaktifkan kunci layar sehingga saat bos Dirga menekan tombol di sisi kanan ponsel, layarnya langsung menampilkan beberapa foto. Foto itu hanya menampilkan dua subyek: Rahayu, istrinya yang sangat ia cintai, dan Reynold, seorang polisi yang selama ini juga bekerja atas perintahnya. Dan di foto itu mereka tampak mesra. Bahkan terlalu intim.


“Aku tahu dua tipe orang yang Bos benci: Pertama, orang yang mengkhianati Bos. Kedua, orang yang menggoda istri Bos. Dalam ponsel itu, Bos bisa melihat satu orang yang memiliki kedua tipe itu.” Abi juga mengatakan hal itu tadi.


“Badroel, di mana nyonya?”


[Bos?! Benarkah ini Bos Dirga?! Bagaimana bisa?!]


Terdengar suara heboh dari seberang telepon. Orang yang bernama Badroel itu memanggil teman-temannya untuk memberitahukan perihal bos mereka yang sedang meneleponnya. Ia sangat bahagia dan tak menyangka kalau bosnya yang sedang mendekam di penjara akan meneleponnya. Ia pun tidak langsung menjawab pertanyaan bos Dirga dan malah mengoceh.


“Jawab saja, di mana nyonya?!”


[Eh, nyonya sedang keluar, Bos. Sejak Bos dipenjara, nyonya sering keluar saat malam. Katanya, nyonya sedang menjalin hubungan dengan orang yang dapat membebaskan Bos. Wah, tekad nyonya memang luar biasa. Bahkan ia sebenarnya menyuruhku untuk merahasiakannya pada Bos karena ia malu tidak bisa membebaskan Bos dengan cepat.]


“Kenapa kali ini Bos bisa tertangkap dan kenapa harus ditahan? Kenapa Reynold, orang yang selama ini membantu bos agar tidak tertangkap, apalagi di penjara, tidak bisa membantu Bos?” Bos Dirga kembali mengingat ucapan Abi yang lain. “Itu karena mereka ingin memiliki waktu yang lebih leluasa untuk memadu kasih. Keberadaan Bos tentunya membuat mereka selalu ketakutan saat bertemu, sehingga akhirnya mereka berencana untuk menjebloskan Bos ke dalam penjara untuk beberapa waktu agar mereka bisa mewujudkan keinginan mereka selama ini.”


Bos Dirga menghela napas panjang. Ia mulai yakin dengan apa yang baru saja disangkanya.


“Badroel, selidiki di mana nyonya. Juga Reynold. Jika kau melihat sesuatu yang tidak seharusnya terjadi, berjanjilah -” Bos Dirga kembali menghela napas. Matanya mulai berkaca-kaca seakan air mata bersiap untuk tumpah dari sana. “Berjanjilah untuk menjaga nama baik dan harga diriku sebagai bosmu. Meski itu artinya kau harus membunuh orang yang kau kenal.”

__ADS_1


*          *         *


“Kau masih penasaran?”


Seorang sipir berkacamata bertanya pada rekan kerjanya yang dari kemarin sibuk mencari ponselnya yang hilang. Sang rekan mengajaknya menemaninya mencari benda itu di sepanjang koridor rutan.


“Aku yakin ponsel itu hilang saat aku membawa Abimanyu Alexander ke sel trap,” kata sipir tak berkacamata yang kehilangan ponsel sambil menyinari jalan koridor dengan senter.


“Ikhlaskan saja. Beli yang baru.”


“Aku tidak punya uang. Lagipula, di sana banyak file penting dan rahasia.”


“Kau menyimpan video tak bermoral, ya?”


“Sembarangan! Maksudku bukan itu.”


Sipir tak berkacamata itu menggaruk-garukkan kepalanya. Ingin rasanya ia menyerah, tapi hati kecilnya memaksa ia untuk kembali mencari.


“Kau sudah menghubungi nomornya?”


“Tentu saja sudah. Sejak awal aku coba, tapi tidak ada hasil.”


Sipir berkacamata itu mengambil ponselnya lalu mencari satu nama kontak untuk dihubungi. Kemudian terdengar suara nada dering ponsel. Nada dering yang sangat familiar bagi sipir yang kehilangan ponsel itu.


“Sudah kubilang. Kau saja yang tidak mencobanya.”


“Tapi aku -”


Mereka pun mencari sumber suara itu. Perlahan suaranya semakin kencang ketika mereka mulai mendekati sel strap. Hingga akhirnya mereka yakin kalau ponsel itu berada di dalam sel strap.


“Ayo kita periksa ke dalam. Pasti ponselku di dalam.”


“Tunggu dulu,” kata sipir berkacamata. “Di dalam ada bos Dirga.”


Mereka berdua terdiam. Tentu saja mereka tidak berani untuk masuk ke dalam sel tersebut tanpa sepengetahuan atasan mereka. Mengingat reputasi bos Dirga yang menyeramkan, mereka pun menunda rencana mereka untuk masuk.


“Apakah kalian mencari ponsel ini? Ambil saja. Aku sangat membenci nada deringnya. Mirip dengan punya istriku.”

__ADS_1


Terdengar sebuah suara berat dari dalam sel. Para sipir itu ketakutan, apalagi ketika suara itu diikuti oleh tawa yang membahana. Mereka pun memutuskan untuk pergi dari sana.


__ADS_2