Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 53


__ADS_3

Meski sebelum sidang pertama, kasus Abimanyu Alexander menarik perhatian masyarakat karena tindakan beraninya mengungkapkan kejahatan pada proses interogasinya, sebagian besar stasiun tv nasional enggan menyiarkan jalannya persidangan pertama. Hanya ada dua stasiun yang memang berorientasi pada berita yang menyiarkan persidangan tersebut secara live.


Namun, tak disangka kalau persidangan tersebut menghadirkan banyak drama seru. Mulai dari pengungkapan saksi palsu hingga kesaksian tetangga Abi yang melihat bibit psikopatnya sejak kecil. Selama beberapa hari pasca persidangan itu, orang-orang masih membahasnya. Acara-acara yang ditayangkan bersamaan dengan persidangan tersebut mengalami penurunan rating yang luar biasa. Beberapa stasiun akhirnya tertarik untuk menayangkan persidangan kedua, meski ada sebagian kecil yang menolaknya karena merasa keseruan hanya terjadi di awal, sebelum akhirnya menjadi drama yang menjemukan.


Siapa sangka? Analisis luar biasa tentang terjadinya kebakaran yang dilakukan oleh Indira menjadi peristiwa yang sangat menghebohkan. Aksi luar biasa dari pengacara wanita itu membuat banyak anak perempuan yang bercita-cita menjadi seperti dirinya.


Lalu di persidangan ketiga, sudah semua stasiun tv nasional menayangkan persidangan tersebut. Dan sepertinya mereka takkan menyesal karena respons masyarakat sangat luar biasa. Hampir seluruh rumah yang menyalakan televisi sedang menayangkan persidangan tersebut.


Maka tak salah ketika mengatakan saat ini seluruh negeri merasakan ketegangan yang sama dengan yang terjadi di ruang persidangan. Bagaimana tidak? Di tengah persidangan, muncul saksi spontan dari kursi pengunjung, yang mana juga berpotensi sebagai pelaku pembunuhan Mischa yang sebenarnya. Dan setelah semua yakin kalau saksi tersebut adalah pelaku sebenarnya, Abi malah mengatakan bukan dia pelakunya.


“Jadi, sebenarnya apa peran Saudara Benjiro ini menurut sepengetahuan Saudara terdakwa?” tanya salah satu hakim anggota, mewakili hakim ketua yang terlihat sudah terlalu kesal untuk bertanya.


“Yang saya tahu, saksi adalah orang yang saya temui di tempat kejadian dan yang memberikan paket berisi sabu-sabu itu untuk saya kirim ke suatu tempat.”


“Kenapa baru beritahu sekarang? Kita sudah capek-capek menjalani tiga kali sidang, seharusnya tidak perlu serumit ini jika sejak awal Saudara sudah tahu siapa yang mengirim paket itu.”


“Saya sudah mengatakannya sejak awal, bahkan saat interogasi. Itulah alasan utama mereka menyiksa saya, karena saya tidak mau menyebut nama Mischa sebagai pengirimnya.”


“Saudara Benjiro, benar seperti itu?”


“Be, benar, Yang Mulia.”


Hakim itu kembali melihat ke arah Abi dan bertanya lagi, “Hanya itu perannya?”


“Yang saya tahu, hanya itu, Yang Mulia.”


“Jadi, siapa yang membunuh korban?”

__ADS_1


“Kalau untuk itu, saya tidak bisa mengatakannya, Yang Mulia. Saya tidak punya bukti, baik untuk menunjuk orang lain atau untuk menyangkal kalau itu saya.”


Lagi-lagi Abi mengatakan hal yang aneh, bagaikan melemparkan bola panas yang liar dan membakar pikiran-pikiran orang yang mendengarnya.


“Yang Mulia,” kata Indira menginterupsi pembicaraan antara Abi dan hakim. Ia juga terlihat masih kesal dengan kliennya itu. “Dari bukti yang kami temukan, kami menduga saudara Benjiro adalah pelaku pemukulan dan penusukan terhadap Mischa yang mana menggunakan senjata yang terdapat sidik jari klien saya. Selain itu, kami menduga dia yang menyembunyikan jasad korban dan membakar rumahnya. Namun, alangkah baiknya jika dilakukan pemeriksaan khusus lagi pada saudara Benjiro.”


“Iya, ini yang saya maksud tadi.” Akhirnya sang hakim ketua kembali berbicara. “Untuk mendapatkan keterangan yang lebih akurat, maka kami meminta agar saudara saksi atas nama Benjiro Michael dapat diperiksa oleh tim penyidik. Dengan demikian, sidang ditunda dan dilanjutkan kembali hari Rabu minggu depan.”


Terdengar bunyi ketukan palu diiringi oleh napas lega para penonton persidangan. Indira merapikan dokumen-dokumennya yang berserakan di atas meja dengan wajah kesal. Ia sama sekali menolak untuk menatap Abi meski pria itu beberapa kali memanggil namanya.


“Aku hanyalah pengacaramu, yang memastikan kamu mendapatkan perlakuan hukum seadil-adilnya.  Kamu tak bersalah, itu yang kamu katakan dan yang kuyakini. Makanya, aku berjuang untuk kebebasanmu. Tapi, sepertinya kamu menolak untuk dibebaskan. Aku merasa semua perjuanganku untukmu selama ini sia-sia belaka.”


Abi tidak menjawab, sampai ia melihat petugas datang untuk menjemputnya.


                  *


Malam itu berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Malam ini ia memberikan waktu khususnya untuk menunggu. Meski tak ada janji yang dibuat sebelumnya, ia tahu seseorang akan menghubunginya dengan ponsel rahasia itu. Terutama karena kejadian di persidangan siang tadi.


Dan tebakannya benar-benar menjadi kenyataan. Layar ponselnya berkedap-kedip, menandakan ada panggilan masuk. Abi sempat hanya menatapnya beberapa detik sebelum menjawabnya.


Abi meletakkan ponsel itu ke telinga kanannya. Ia tidak mengatakan apa-apa dan menanti seseorang di seberang sana membuka percakapan.


[Ternyata kau orang yang sulit.]


Terdengar suara berat seorang pria menyapa Abi dengan sebuah kata-kata yang tajam, namun diucapkan dengan nada yang cukup ramah. Membuat siapapun yang mendengarnya pasti merasakan aura yang menyeramkan. Ia adalah tuan Jireh.


“Tentu saja. Jika tidak, aku takkan bertahan sampai sejauh ini,” balas Abi santai, berusaha menutupi ketakutannya.

__ADS_1


Pria di seberang telepon itu tertawa terbahak-bahak seakan merasa terhibur dengan ucapan Abi barusan.


[Aku menyesal telah meremehkanmu sejak awal. Sangat jarang menemukan orang yang bisa membuatku marah dan tertawa secara bersamaan.]


“Ya, banyak orang yang telah meremehkanku dan sesuatu yang buruk terjadi pada mereka.”


Bersikap sombong bukanlah sifat asli yang dimiliki oleh Abi. Ada dua situasi yang bisa memaksanya untuk sombong, yaitu saat mengintimidasi atau saat terintimidasi. Abi tidak tahu, situasi seperti apa yang sedang ia hadapi saat ini. Yang pasti, ia sedang berhadapan dengan tuan Jireh yang menjadi teror bagi banyak orang.


Beberapa belas detik mereka lalui tanpa kata-kata. Sebagai orang terakhir yang berbicara, Abi enggan memecah kesunyian itu. Lagipula, ia tidak tahu apa yang ingin dikatakannya lagi.


[Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk bebas dan menjauh dari kasus ini. Tapi, sepertinya kau ingin bermain-main lebih lama lagi denganku. Apakah kau sadar posisimu?]


“Aku tak pernah menganggap posisi itu penting. Karena di posisi apapun, jika aku mau, aku bisa menyerangmu.”


[Jika kau menilaiku dari bagaimana aku memperlakukanmu selama ini, maka kau dalam bahaya. Selama ini aku hanya membiarkanmu bergerak sesuka hatimu karena butuh tontonan yang menghibur. Namun, jika kau bertindak terlalu jauh, aku akan melayanimu dengan serius.]


Dua hari yang lalu, pria itu memang menjanjikan pada Abi untuk membantunya balas dendam terhadap orang-orang yang telah menghancurkan hidup Abi lima belas tahun yang lalu dan kematian Roy adalah bukti awalnya. Pria itu juga mengaku bisa membebaskan Abi dari semua kasus hukum yang menjeratnya. Namun, ia meminta Abi untuk memilih dua hal: bergabung dengannya atau tidak ikut campur dengan apapun yang berhubungan dengannya, termasuk kasus kematian Mischa. Saat itu Abi hanya diam dan ia menjawabnya di persidangan tadi.


“Kau tahu? Aku sudah tidak tertarik lagi dengan dendamku. Lima belas tahun aku menyusun rencana balas dendam hanya untuk membuatku melihat banyak kejahatan yang jauh lebih besar. Pembunuhan, penipuan, perjudian korupsi, penggelapan, pencucian uang, human trafficking, politik kotor, dan masih banyak lagi. Aku merasa kejahatan yang mereka lakukan padaku dulu, yang telah menghancurkan hidupku, hanyalah kejahatan kecil.”


[Jika balas dendammu tak menarik lagi bagimu, lalu apa yang sekarang membuatmu tertarik?]


“Sebelumnya, aku hanya ingin membalaskan dendamku. Tapi, pada perjalanannya, kalian menjebakku dalam kasus ini. Hal itu seperti menjadi trigger bagiku. Aku ingin melakukan yang lebih, yaitu menggunakan pasal demi pasal untuk melawan kejahatan demi kejahatan. Dan puncaknya adalah ketika aku mengetahui ada seseorang yang duduk di puncak kejahatan itu. Aku mendapatkan namanya dan mendadak gairahku bergejolak. Tuan Jireh!”


Pria itu diam lagi. Dalam lubuk hatinya, Abi masih menyimpan ketakutan. Tapi ia merasa kalau ini adalah saat yang tepat untuk mendeklarasikan perang pada sosok itu.


Kemudian, tuan Jireh kembali berbicara dengan suara yang lebih berat, menunjukkan amarah yang sedang ditahannya.

__ADS_1


[Aku akan menunjukkan padamu seperti apa Tuan Jireh itu dan alasan mengapa semua orang takut padanya.]


__ADS_2