
Siti V menatap Abi tajam. Terlihat guratan keterkejutan di wajahnya. Ia sama sekali tidak menyangka pria yang di hadapannya itu akan menyebut nama tuan Jireh.
“Kurasa kau telah menjalin hubungan mesra dengan monster itu. Biar kutebak: tuan Jireh terlibat dengan kasus hukum yang sedang menimpamu. Atau, dia adalah orang yang menjebakmu.”
“Hebat! Siti V memang seorang peramal,” puji Abi sambil bertepuk tangan. “Dari ekspresi wajahmu, aku tahu kalau kau sangat mengenal pria itu.”
Siti V sama sekali tidak tersanjung dengan pujian dari Abi. Keterkejutannya masih belum hilang. Ia ragu harus menjawab pertanyaan dari Abi karena baginya, informasi itu sangat mahal dan penuh resiko jika diberikan pada orang lain.
“Sebelum aku memberitahukannya padamu, sebaiknya kau memikirkannya lagi. Informasi itu akan sangat berbahaya bagimu. Dia bukanlah orang yang bisa kau tangani.”
Abi tersenyum mendengar peringatan dari Siti V. Sangat jarang melihatnya mengkhawatirkan seseorang. Prinsip yang selalu ia pegang adalah tidak pernah mencampuri urusan kliennya. Asalkan dibayar dengan layak, ia akan memberikan informasi yang diminta.
“Tenang, kau adalah orang kesekian yang mengatakan seperti itu padaku. Jika aku tidak yakin bisa menanganinya, aku takkan berdiri di sini sekarang.”
Melihat kesungguhan Abi, akhirnya Siti V menyerah. Namun, masih ada syarat yang harus dipenuhi. “Katakan, berapa harga yang akan kau bayar untuk informasi ini.”
Abi melangkahkan kakinya untuk menghampiri Siti V. Senyuman di wajahnya belum hilang. Ia menatap wanita itu dengan penuh keyakinan, seolah ada sesuatu berharga yang akan ditawarkannya.
“Informasi tentang keberadaanku. Kurasa, itu cukup mahal,” kata Abi.
Siti V bingung mendengar jawaban itu. Ia sama sekali tidak menduga jika Abi ‘menjual’ dirinya sendiri. “Pada siapa aku bisa menjualnya?”
“Terserah pada siapa kau ingin menjualnya, karena aku yakin banyak yang membutuhkannya. Mungkin polisi, kejaksaan, media atau tuan Jireh sendiri.”
Mereka berdua saling bertatapan seakan percakapan yang lebih dalam terjadi melalui tatapan itu. Siti V memastikan ucapan Abi barusan dan Abi meyakinkannya. Ia sangat tahu kalau berita tentang kaburnya Abi akan menggemparkan negeri ini. Banyak hal yang bisa terjadi jika berita ini tersiar, tergantung siapa yang pertama kali mendapatkannya.
“Tapi, itu belum cukup mahal untuk menyebutkan identitas tuan Jireh.”
Abi menghela napas. Ia tahu proses tawar menawar ini akan berlangsung sangat alot. Ia tahu Siti V tidak pernah bohong tentang nilai informasi yang ia miliki.
__ADS_1
“Jadi, apa yang bisa kudapatkan?”
Wanita menghisap rokoknya dalam, lalu menghembuskan asap dari mulutnya sebelum rokok itu dijatuhkan dan diinjaknya. Wajahnya terlihat berpikir keras. “Aku akan memberitahumu keberadaannya saja.”
“Tidak, itu terlalu murah,” kata Abi. “Bagaimana dengan keberadaannya dan satu informasi lagi. Tentang Bima Sakti, pria yang akan mencalonkan diri menjadi gubernur.”
Mendengar tawaran baru yang diajukan oleh Abi, Siti V mengangguk. Ia punya banyak informasi tentang Bima Sakti dan menurutnya tidak terlalu berharga. Ia bahkan bisa memberikannya secara gratis pada Abi. “Baik, aku setuju.”
Mereka pun berjabat tangan tanda kesepakatan telah dibangun.
“Kalau begitu, di mana tuan Jireh berada?”
“Bisa dibilang, dia ada di dekatmu,” kata Siti V. Ia kemudian menunjuk ke arah jendela. Abi menjulurkan lehernya dan melihat seseorang berada di sisi luar jendela itu. “Tuan Jireh memiliki ikatan yang cukup dekat dengan wanita itu.”
Abi terkejut. Wajahnya terlihat nyaris pucat seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia melihat ke arah Siti V seakan memohon agar wanita itu meralat ucapannya. Tapi, Siti V hanya diam.
*
Akhirnya Indira mengerti arti ‘nanti’ yang dimaksud oleh Abi. Itu adalah pukul 10 malam, yaitu jam pergantian shift keamanan di kantor PT. Laras Jaya Karya. Kenapa Abi memilih waktu itu? Karena biasanya para sekuriti yang baru mulai shift tidak lagi memeriksa identitas para petugas kebersihan yang bahkan sudah hampir menyelesaikan pekerjaannya pada jam itu.
“Aku hanya perlu masuk dari pintu belakang dengan peralatan kebersihan sambil menunjukkan ID card. Di sana tidak ada mesin ID card checker, jadi tidak akan ada masalah. Lalu, kalau sudah jam 10, aku sudah bisa bebas mengelilingi gedung.”
Indira mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Abi. Sementara tugasnya hanya berjaga-jaga di parkiran sambil melihat keadaan di luar.
“Sudah ingat dokumen apa saja yang kita perlukan?”
“Sudah.”
“Foto saja. Kalau kamu membawa aslinya atau menyalinnya dengan mesin fotokopi, kita akan ketahuan.”
__ADS_1
Abi menatap wajah Indira. Ia masih teringat dengan perkataan Siti V tentang adanya hubungan antara Indira dan tuan Jireh. Tapi, ia meyakinkan dirinya untuk memercayai Indira. Wanita itu tak mungkin menjadi mata-mata tuan Jireh.
“Kenapa? Ada yang aneh dengan wajahku?” tanya Indira yang salah tingkah karena tatapan Abi yang melekat padanya.
Terngiang kembali ucapan Siti V padanya tadi, yang mengatakan, “Jangan gegabah dan jangan terlalu percaya diri. Menurut informasi yang kudengar, Indira adalah salah satu wanita yang berharga bagi tuan Jireh. Aku tak tahu kenapa, tapi mungkin saja selama ini ia tidak mau menyentuhmu karena Indira. Kau harus tetap waspada dengan wanita itu. Ia bisa menjadi kekuatan sekaligus kelemahanmu.”
Menurut hasil penyelidikan Rama dulu terkait masa lalu Indira, tidak ada sedikitpun yang mengindikasikan Indira punya hubungan dengan sosok misterius dan berbahaya. Hal itu membuat Abi agak tertekan. Ia sama sekali tidak bisa menebak hubungan seperti apa yang dimiliki oleh mereka. Bahkan, saat ini ia merasa sama sekali tidak mengenal wanita yang ada di hadapannya itu.
“Iya, aku tahu. Tidak perlu mengajariku tentang hal sesederhana itu,” kata Abi. Ia berusaha berusaha menutupi kegalauan hatinya di hadapan Indira.
“Maaf, deh. Aku tahu kamu lebih pintar dariku.”
Memang, sebenarnya Indira tidak perlu mengajari Abi. Bahkan mungkin saja Abi lebih tahu apa yang harus dilakukannya dibanding Indira. Tapi Indira mencemaskannya. Bahkan, saat ia tak lagi melihat punggung Abi, ia masih memikirkan hal apa yang harus dikatakannya sehingga Abi kembali dan tetap di hadapannya.
“Indira? Apa yang sedang kau lakukan di sini?”
Jantung Indira mendadak berdetak kencang ketika mendengar suara itu. Suara, yang meski jarang didengarnya, sangat familiar di telinganya. Suara yang selalu membangkitkan amarah di hati Indira ketika mendengarnya.
“Kau! Sedang apa kau di sini?”
Seorang pria tua mengenakan jaket lusuh tertawa sambil menahan dinginnya cuaca. Pria itu sama sekali tidak marah meski Indira, yang berusia jauh di bawahnya, membentaknya.
“Jangan marah, dan jangan panggil aku dengan sebutan ‘kau’. Aku ini ayah kandungmu.”
Ya, pria itu adalah Jack Off the Record. Indira sadar kalau situasi ini sangat tidak baik. Jika Jack tahu Abi melarikan diri dari rumah sakit dan mencuri dokumen dari PT. Laras Jaya Karya, maka itu akan menjadi musibah besar bagi mereka.
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Karena kesalahan teknis, maka pasal 67 bisa ditemukan setelah pasal 84. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
__ADS_1