
Sidang ketiga dengan tersangka Abimanyu Alexander
Suasana tegang sangat kental terasa di ruang pengadilan saat itu. Persidangan berlangsung dengan seru. Setiap mata yang mengikuti jalannya persidangan, baik yang berada di dalam ruang pengadilan atau yang sedang menonton melalui siaran langsung, seperti tidak rela melepaskan pandangan mereka. Mereka tidak ingin terlewatkan sedikit saja drama yang mungkin terjadi. Ya, selama lebih dari tiga jam persidangan berlangsung, begitu banyak drama melalui pengungkapan berbagai fakta yang benar-benar membuat jantung selalu berdetak lebih kencang dari biasanya.
“Jadi, tidak bisa disangkal lagi, kasus ini telah direkayasa sejak awal. Baik itu dugaan pengedaran narkoba ataupun pembunuhan artis dengan inisial MR. Kami yakin, saat ini, pelaku sebenarnya masih berkeliaran di luar sana.”
Suara lantang Indira memecah udara di ruangan itu. Ia tampak lebih bersemangat dan percaya diri dibandingkan sidang-sidang sebelumnya. Semua orang terpana dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Para hakim saling berdiskusi dengan kesadaran bahwa mereka harus mengambil keputusan yang sulit setelah berbagai fakta yang disuguhkan oleh pihak terdakwa membuat apa yang selama ini mereka yakini runtuh satu per satu.
“Baik, Saudara terdakwa, apakah ada yang ingin disampaikan?” tanya hakim ketua yang sudah terlihat galau pada Abi.
Abi mencondongkan mulutnya ke arah mikrofon, lalu menyalakannya dan bersiap untuk berbicara. “Ada satu hal yang tidak saya setujui dari apa yang diucapkan oleh penasihat hukum saya tadi.”
Ruangan pengadilan kembali heboh. Para penonton sepertinya yakin akan ada drama baru yang takkan kalah seru dari yang sudah ditampilkan tadi. Semua orang terlihat antusias menantikan ucapan Abi selanjutnya, termasuk jaksa penuntut umum dan para hakim.
“Hal apa itu?” tanya hakim ketua.
“Pelaku sebenarnya tidak sedang berkeliaran di luar sana saat ini,” jawab Abi yang menambah ketegangan dalam persidangan itu. “Ia ada di ruangan ini. Saya yakin, yang saya lihat di TKP saat itu bukanlah Mischa Radjasa, tapi orang itu.”
Abi menunjuk seorang pria bertubuh besar yang menggunakan jas panjang berwarna hitam, yang duduk di baris ketiga sebelah kanan kursi pengunjung. Semua mata kini mengarah padanya. Bahkan, kamera yang sejak awal mengarah ke depan, kini memutar untuk menangkap wajah orang yang Abi tunjuk itu.
__ADS_1
Kali ini kehebohan besar tidak bisa terelakkan lagi. Bahkan, sejak sidang pertama, tidak pernah terjadi kehebohan sebesar ini. Hakim ketua sampai berkali-kali mengetuk palunya untuk menenangkan ruang persidangan hingga akhirnya patah.
Sementara pria itu terlihat sangat ketakutan. Seperti seekor kancil yang sudah tersudut di antara para singa yang hendak menerkamnya.
*
Beberapa hari sebelum sidang ketiga
“Jadi, kau sudah menemukan hasilnya?” tanya Abi pada Indira yang baru saja datang. Tak ada sedikit basa-basi seperti menanyakan kabar, datang dengan apa, dan sebagainya. Abi sudah menunggu kehadiran Indira dengan penuh kecemasan.
Indira mengangguk sambil mengeluarkan beberapa kertas dari tasnya. Ia menunjukkan Abi urutan pembacaan informasi pada kertas tersebut, sesuai dengan petunjuk narasumbernya.
“Jadi, ini gambar tulang kepala dan dada mendiang Mischa. Seperti kata penyidik, kematiannya diduga karena benturan gelas dan tikaman pisau yang ada sidik jarimu. Jadi, aku menemui langganan ojekmu. Kebetulan sekali, orang itu sangat menguasai antropologi forensik, atau lebih sederhananya, cabang ilmu forensik yang lebih berfokus pada pemeriksaan rangka atau sisa tubuh manusia. Sangat cocok, mengingat tubuh mendiang sudah tidak utuh lagi karena terbakar.”
“Beberapa hal tentang penyebab kematian, atau bisa dikatakan, yang bukan menjadi penyebab kematian. Meski demikian, beliau menekankan kalau analisisnya tidak bisa dipastikan akurat atau tidak karena ia hanya mengandalkan foto saja. Seandainya bisa memeriksa langsung, ia bisa memberikan data yang lebih akurat,” terang Indira.
“Sayangnya, walaupun ia mau, jasad Mischa sudah dikremasi sesuai dengan permintaan keluarganya.,” kata Abi sambil memeriksa kertas-kertas itu. “Tapi, informasi-informasi ini sudah cukup bagi kita untuk menghadapi saksi ahli nanti.”
“Kenapa tidak kamu ajukan saja dia untuk menjadi saksi ahli kita?”
“Ia masih bekerja di kepolisian. Jika kita terang-terangan menunjuknya sebagai saksi ahli, bukannya tidak mungkin ada oknum di tempatnya kerja yang memberinya tekanan sebelum persidangan. Itu akan menjadi bumerang buat kita.”
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu.” Indira tidak mencoba mendebat Abi dan melupakan usulnya tersebut. “Jadi, kita bisa memperkirakan penyebab kematian berdasarkan penelitian yang berfokus pada jejak-jejak trauma atau luka pada tulang. Ada beberapa jenis trauma pada tulang dan untuk kasus Mischa, seharusnya hanya ada dua trauma, yaitu trauma karena benturan dari benda tumpul yang ada di kepalanya dan trauma karena benda tajam di dadanya. Untuk trauma karena benturan benda tumpul, distribusi cedera secara keseluruhan dapat menjelaskan mekanisme cedera. Jika kita lihat trauma di kepalanya, distribusi cederanya sangat kecil dan sangat sulit memenuhi syarat untuk menjadi penyebab kematian.”
“Ya, mereka tidak ingin memecahkan gelasnya karena itu adalah salah satu instrumen penting untuk mengarahkanku sebagai pelakunya.”
“Begitulah. Dan untuk trauma di dadanya, memang terlihat cukup dalam. Tapi dokter itu curiga kalau luka tersebut terjadi setelah kematian korban, atau istilahnya postmortem.”
“Dari mana ia bisa melihatnya?”
“Sangat mudah melihatnya. Pada tulang yang mengalami trauma, di permukaan, bagian tengah dan sisi dalamnya terlihat hitam. Jika kekerasan terjadi sesudah meninggal, patahan tulang berwarna putih. Tetapi kalau terjadi sebelum meninggal, patahan tampak hitam. Bahkan sampai ke rongga-rongganya.”
“Ia mengatakan tentang bagaimana luka tusuk itu bisa tercipta?”
“Seperti luka tusuk lainnya, terdapat fraktur besar dengan bentuk mirip dengan mata pisau yang diduga sebagai senjata pembunuhan. Kedalaman trauma yang terjadi kemungkinan karena pelaku menusuk korban dalam posisi tertidur sehingga kekuatan tekanannya lebih besar dan dilakukan dengan kedua tangan. Posisinya kira-kira seperti ini,” Indira memperagakan kemungkinan posisi pelaku saat menikam dada korbannya. Ia mencondongkan tubuhnya hingga sadar wajahnya hampir bertabrakan dengan wajah Abi. Indira langsung mundur dan duduk seperti semula dengan wajah yang memerah. “Kabar baiknya, ini menjadi kontradiktif dengan sidik jarimu yang ditemukan di gagang pisau. Seperti yang kamu katakan, bentuk sidik jarimu yang menempel adalah genggaman seperti mengaduk teh, bukan genggaman untuk menikam orang dengan sekuat tenaga.”
Abi berpikir serius. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja, seakan menjadi nada yang mengiringi perjalanannya ke alam deduktif. Ia mengaitkan semua fakta yang telah ditemukan lalu meletakkannya ke atas bingkai besar logika untuk menyambungkan benang-benang kejadian sehingga masuk akal dan mungkin mendekati kebenaran.
“Berarti memang seperti itu kejadiannya,” gumam Abi, seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri. “Tapi aku merasa ada yang terlewatkan. Jika memang dia pelakunya, kenapa kejadiannya seperti itu?”
“Eh, kamu sudah tahu siapa pelakunya? Siapa?”
“Kau takkan mengenalnya. Lihat saja nanti di pengadilan, kau bisa melihatnya langsung.”
__ADS_1
“Berarti kamu benar-benar sudah tahu? Bagaimana? Sejak kapan?” Indira mencecar Abi dengan berbagai pertanyaan karena tak terima Abi memiliki rahasia sepenting itu bagi kasus yang sedang mereka tangani bersama.
Abi tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat poninya dan menunjukkan bekas luka akibat serangan dari bos Dirga beberapa waktu yang lalu. “Untuk mendapatkan identitas pelakunya, aku juga harus mendapatkan luka ini. Sampai sekarang, aku masih merasakan sakitnya.”