
Kegelapan mulai menutupi langit, termasuk langit yang menaungi sebuah pulau kecil yang nun jauh dari kehidupan ibukota. Di tengah pulau itu ada sebuah lapangan yang biasa digunakan sebagai landasan helikopter.
Saat itu, ada satu helikopter yang sedang berdiam di sana. Di dalamnya, ada pilot yang sudah sejak siang bersiap untuk menerbangkan kendaraan udara tersebut. Di kursi penumpang, ada tuan Jireh yang sedang asyik menonton dari ponselnya sambil menulis sesuatu di kertas. Di sampingnya, ada Indira yang sedang tertidur dalam keadaan terikat.
“Akhirnya, kau sadar juga,” kata tuan Jireh di sela-sela tawanya. “Tapi sayang, kau sudah terlambat, Bocah Bajingan!”
Tuan Jireh menepuk pundak pilotnya sebagai isyarat untuk menerbangkan helikopter mereka.
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dan sirine. Beberapa detik kemudian, mereka mendengar seseorang berbicara dengan pengeras suara untuk memberitahukan bahwa mereka sudah dikepung. Betapa terkejutnya tuan Jireh ketika melihat beberapa kapal polisi laut sudah mengitari pulau dengan senjata teracung pada mereka.
“Terbangkan saja,” titah tuan Jireh.
Sang pilot sempat menurut, namun nyalinya ciut ketika dilepaskan sebuah tembakan ke udara. Ia segera menurunkan helikopternya.
“Sudah kukatakan, terbangkan saja!”
“Maaf, Tuan. Sepertinya mereka serius akan menembak kita jika kita tidak menyerahkan diri,” kata pilot itu.
“Begitu juga denganku. Aku akan meledakkan kepalamu jika kau mendarat.” Tuan Jireh meletakkan moncong pistolnya ke kepala sang pilot. “Mereka takkan menembak kita karena ada sandera di dalam.”
Pilot itu akhirnya menuruti perintah tuan Jireh. Salah satu kapal menembakkan sesuatu ke arah helikopter. Ternyata, sebuah tali tembaga yang langsung melilit ke landing skids helikopter tersebut. Tali itu menahan gerakan helikopter sehingga tidak bisa lagi terbang tinggi. Tak lama kemudian, sebuah katrol raksasa memutar ujung tali sehingga helikopter tersebut dipaksa untuk turun.
Tuan Jireh panik. Ia tahu, ia tak bisa lagi mengandalkan helikopter itu untuk melarikan diri. Ia melihat ke bawah. Masih ada kemungkinan baginya untuk melompat ke laut. Namun, matanya terpaut cukup lama pada Indira. Ia tidak ingin kehilangan wanita itu lagi.
Dengan nekatnya, tuan Jireh berusaha mendorong Indira. Pikirannya yang sudah kalut tak lagi memikirkan dampak buruk yang akan dialami oleh Indira jika ia dilemparkan ke laut dalam keadaan terikat.
Untungnya, saat tuan Jireh berusaha mendorongnya, Indira terbangun. Ia sangat terkejut menyadari situasi yang menegangkan itu. Saat melihat tuan Jireh sedang mendorong tubuhnya, secara refleks Indira membalasnya dengan dorongan juga, sehingga pria tua itu oleng dan terjatuh. Tepat di atas kapal.
Tuan Jireh masih sempat sadar sebentar. Pandangannya kabur dan ia tidak bisa melihat jelas lagi. Ia sudah tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
Sekonyong-konyong, ia melihat ke atas, ke arah helikopter. Ia melihat seorang wanita sedang melihat ke arahnya. Ia tahu jika wanita itulah yang mendorongnya hingga terjatuh. Wanita yang sangat ia cintai.
__ADS_1
“Lasmi! Apakah ayah sejahat itu hingga kau sangat membenci ayah?”
Perlahan, tatapannya semakin kabur dan kini semua terlihat gelap. Ia pun menghembuskan napas terakhirnya dengan air mata berlinang. Dan riwayat kejahatan pria tua misterius bernama tuan Jireh itu pun berakhir.
Sang pilot pun akhirnya menyerah dan menurunkan helikopter dengan sukarela. Beberapa polisi langsung menghampiri helikopter itu. Ada yang mengamankan sang pilot, ada juga yang membantu Indira.
*
Sehari sebelumnya
Indira mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Abi. Tahu di mana tapi tidak tahu lokasinya?
“Maksudmu?”
“Mereka pasti ada di pulau yang pernah diceritakan oleh tuan Jireh. Pulau rahasia lainnya yang juga terhubung oleh pulau di tengah reklamasi itu dengan sebuah terowongan.”
“Ah, sayang sekali. Terowongan itu telah diledakkan oleh tuan Jireh saat ia baru melarikan diri dari kejaran polisi tempo hari,” kata Regina. “Kita jadi tidak tahu di mana pulau itu berada.”
“Lalu, kenapa ia tidak keluar negeri saja sejak awal?”
“Sederhana saja. Ia tidak punya cukup uang untuk ke sana. Apalagi ia memiliki sandera,” jawab Abi. “Ia sedang menunggu uang yang sangat banyak dan dengan uang itu ia dapat membeli tempat tinggal dan identitas baru di negara lain.”
“Menunggu uang?” Regina mengernyitkan dahinya.
“Tentu saja.” Abi menegakkan duduknya dengan susah payah sambil tersenyum. “Mungkin kau belum tahu, tapi aku sudah. Aku sudah tahu tujuan bajingan itu meminta aku mewawancarai Nyonya Hemas secara langsung.”
“Apa?”
Abi tersenyum kembali, membuat Regina semakin penasaran. “Siapa kenalanmu yang posisinya paling tinggi?”
*
__ADS_1
Tidak seperti Regina yang terlihat tegang dan gugup, sikap Abi sangat tenang. Sesekali ia menutup matanya untuk menahan sakit yang kambuh di bahu kirinya. Jika tadi pagi ia menggerutu karena bosan terus-terusan di atas tempat tidur, kini ia menyesalinya dan menganggap tidur adalah kegiatan terbaik yang seharusnya ia lakukan sekarang.
Kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Abi dan Indira segera berdiri menyambut kedatangan beberapa orang. Salah satu dari mereka adalah seorang pria tua bertubuh tinggi besar dan sangat berkharisma. Abi dan Regina mengenalnya karena ia sering wara-wiri di televisi.
Pria itu adalah Tandika Andronikus, atau sering disapa dengan panggilan Bapak Andro. Ia adalah salah satu staf khusus presiden saat ini. Lebih spesifiknya, ia adalah juru bicara presiden. Sebagai juru bicara, ia adalah orang pertama yang menyampaikan secara resmi suatu kejadian yang melibatkan presiden.
Kharismanya memang sangat kental. Sebelum menjadi juru bicara presiden, beliau memang seorang jenderal bintang satu di angkatan darat. Meski sudah purnawirawan, namanya masih melegenda sebagai seorang tentara berprestasi.
“Jadi, Anda adalah Abimanyu Alexander yang legendaris itu, ya?” tanya pak Andro sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Abi menyambut tangan itu sambil tersenyum.
“Benar, Pak.”
“Lalu, apa yang ingin Anda bicarakan? Memang, saya sudah mendengarnya sekilas dan terlihat cukup menarik. Tapi, saya butuh yang lebih detail.”
Abi berpikir sejenak. Ia harus memilih kata-kata yang tepat agar sang jubir langsung mengerti dan percaya dengan apa yang ia katakan. “Sepertinya, saya tahu cara menemukan Harta Hemas.”
Pak Andro menatapnya tajam. Ya, ini yang menurutnya menarik saat mendengarnya sekilas. Penangkapan Nyonya Hemas tidak serta merta membawa negara menemukan Harta Hemas yang konon katanya sebesar ribuan triliun. Wanita itu selalu menyangkal keberadaan harta tersebut, yang seharusnya dimiliki oleh negara. Harta yang sebagian besar dihasilkan dari ‘menjual’ sumber daya alam negeri ini pada perusahaan-perusahaan asing.
“Bagaimana caranya?” tanya pak Andro dengan suara beratnya.
“Saya harus mewawancarai Nyonya Hemas,” kata Abi yang menimbulkan reaksi heran dari pak Andro. “Tadi pagi pria yang merupakan kaki tangan Nyonya Hemas bernama tuan Jireh menelepon saya. Ia menyandera teman dekat saya dan mengancam akan mencelakainya jika tidak mau menuruti perintahnya. Perintahnya adalah mewawancarai Nyonya Hemas secara langsung.”
“Lalu, apa kaitannya dengan Harta Hemas?”
“Nyonya Hemas adalah wanita picik yang sangat mencintai hartanya melebihi nyawanya sekalipun. Melihat bagaimana ia bertahan untuk tidak buka mulut tentang Harta Hemas, saya berasumsi ia memiliki rencana lain untuk harta itu. Sebelumnya, ia pasti punya kesepakatan dengan tuan Jireh jika terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan, misalnya situasi seperti sekarang. Namun, Nyonya Hemas takkan memberitahukan lokasi harta tersebut sebelum sesuatu yang tidak mereka inginkan itu benar-benar terjadi. Menurut saya, sekarang adalah situasi di mana sesuatu yang tidak mereka inginkan itu terjadi.”
“Jadi, apa kesepakatannya? Bagaimana caranya kita menemukan Harta Hemas?”
Abi terdiam melihat sang jubir presiden. Sepertinya, pria itu tidak suka penjelasan yang bertele-tele dan fokusnya hanya Harta Hemas.
“Daripada dikuasai oleh pemerintah, akan lebih baik jika harta itu dititipkan pada tuan Jireh. Dengan harta yang banyak, ia masih memiliki kesempatan untuk bebas,” ujar Abi. “Sepertinya, Nyonya Hemas akan memberitahukan lokasi harta tersebut melalui wawancara itu”
__ADS_1