Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 23


__ADS_3

Berita kota hari ini dipenuhi oleh kabar tentang penemuan mayat seorang polisi di pinggir sungai. Tak jauh dari lokasi tersebut juga ditemukan mayat seorang wanita usia sekitar awal empat puluh tahunan tanpa identitas yang sempat terseret arus sungai. Dugaan kuat jika mereka dibunuh oleh pelaku dan di waktu yang sama.


Salah satu media, dalam investigasinya, berhasil menemukan hubungan antara polisi yang menjadi korban dengan Abimanyu Alexander, pria yang namanya sedang santer diperbincangkan karena dugaan keterlibatannya atas kasus pengedaran narkoba dan pembunuhan Mischa Radjasa.


Polisi yang bernama Reynold Harris itu adalah salah satu polisi yang menginterogasi sekaligus menyiksa Abi lima belas tahun yang lalu dan diduga sebagai awal kebenciannya pada kepolisian. Fakta baru yang tak kalah mengejutkan juga terungkap. Sehari sebelum mayat ditemukan, korban bertemu dengan Abi di rutan tempatnya ditahan. Menurut kesaksian kepala rutan, tujuan dari kedatangan Reynold adalah ingin meminta maaf atas kejadian di masa lalu. Ia merasa apa yang terjadi pada Abi beberapa waktu terakhir adalah kesalahannya.


“Itu tidak benar. Korban justru mendatangi klien saya untuk menghina,” kata Indira saat diwawancarai oleh awak media. “Sebelumnya, saya bertemu dengannya di polsek Talang Angin dan dia mengatakan rencananya menemui klien saya untuk memprovokasinya. Polisi bernama Reynold itu baru saja menginterogasi dan menganiaya ibu klien saya. Kalian bisa cek sendiri di polsek tersebut. Saya juga bisa menunjukkan hasil visumnya.”


Sementara itu, di ruang kunjungan rutan, Rama menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar sejak persidangan pertama. Ia juga menceritakan kondisi terkini ibu mereka.


“Bukan Abang pelakunya, kan?” tanya Rama penasaran.


“Memangnya kenapa kalau aku? Bukankah dia sudah memukul mama kita? Itu adalah hukuman yang setimpal dengannya.”


“Kalau Rama sih setuju-setuju saja. Tapi Rama yakin Abang takkan melakukannya, walau Abang punya kesempatan dan kekuatan untuk melakukannya.”


“Kenapa begitu?”


“Abang itu menjunjung tinggi hukum. Ah, lebih tepatnya adalah gila hukum. Sejak beberapa tahun terakhir, satu-satunya perlawanan yang akan Abang lakukan adalah melalui hukum. Abang takkan membunuh atau melakukan tindakan apapun yang melanggar hukum karena Abang selalu bilang, pelanggaran hukum adalah kelemahan terbesar.”


Abi menatap adiknya sambil tersenyum, meski perasaannya sedikit malu. Meski bukan dia pelakunya, pembunuhan terhadap Reynold adalah rencananya. Ia sudah tahu apa yang akan terjadi pada pria itu jika ia mengadukan hubungan gelapnya dengan nyonya Rahayu pada bos Dirga.


“Ada dua keuntungan orang pintar: pertama, ia takkan mudah untuk dibodoh-bodohi dan kedua, ia akan mudah untuk membodoh-bodohi. Selama ini kau melihatku dari sisi orang yang tak mudah dibodoh-bodohi perihal hukum. Kau belum melihat sisiku yang lain.”


Rama melongo. Ia mencoba untuk mencerna perkataan abangnya. “Jadi, benar Aabgn yang melakukannya?”


Abi tersenyum lalu memukul kepala adiknya. “Bodoh, bagaimana mungkin aku melakukannya kalau aku sendiri di dalam penjara!”


“Aduh,” gerutu Rama sambil mengusap kepalanya.


“Bagaimana dengan Indira? Apakah dia masih merasa bersalah atas persidangan yang lalu?” tanya Abi mengubah topik pembicaraan.


“Kakak Indira masih feeling guilty. Awalnya kulihat dia sangat frustrasi. Tapi, entah karena marah setelah melihat mama dianiaya polisi itu, ia kembali bersemangat seakan ingin menebus kesalahannya.”


“Baguslah kalau begitu.”


Abi menyandarkan tubuhnya. Terlihat kelegaan di wajahnya. Beberapa hari ini ia kepikiran dengan Indira. Ia khawatir, perasaan bersalah yang ditunjukkan wanita itu setelah persidangan kemarin akan berdampak buruk di masa yang akan datang.

__ADS_1


“Tapi, benarkah Kakak Indira yang menyebabkan kita kalah di persidangan kemarin?” tanya Rama. Abi kembali menatapnya sambil menggeleng kepala.


“Persidangan adalah peperangan jangka panjang, bukan pertandingan sepakbola yang dibagi dalam beberapa babak. Kemenangan dan kekalahan hanya bisa dilihat saat hakim membaca putusan dan mengetuk palu. Judicia poxteriora sunt in lege fortiora - keputusan terakhir ialah yang terkuat di mata hukum. Sebelum itu, tidak ada yang pasti. Fakta-fakta yang terungkap bisa meringankan atau bisa juga memberatkan terdakwa. Semua tergantung bagaimana fakta-fakta tersebut disajikan sehingga mempengaruhi perspektif hakim dalam membuat putusan. Aku yakin Indira punya kemampuan untuk itu.”


Rama kembali melongo karena kata-kata Abi. Seringkali Abi lupa kalau tingkat intelegensi Rama tak sebaik dirinya. “Baiklah, ada pesan yang ingin kau sampaikan padanya?”


“Tidak usah. Aku menyuruhnya datang besok.”


“Adakah yang harus Rama bawa di kunjungan berikutnya?”


Abi berpikir sejenak saat menerima tawaran itu. Kemudian ia berkata, “Aku ingin kau membawa sesuatu. Lebih tepatnya, menyelundupkan sesuatu.”


Mendengar kata 'menyelundupkan' dari mulut abangnya, Rama terheran-heran sambil menggeleng kepala, “Wah, ternyata Abang benar-benar tidak seperti yang kusangka selama ini.”


*          *         *


Matahari menunjukkan keperkasaan dengan teriknya siang ini. Padahal tengah hari belum menjelang. Seluruh tahanan yang sedang membersihkan lapangan mulai mengeluh karena kepanasan. Tubuh mereka sudah basah karena keringat.


Abi, yang baru datang dari ruang kunjungan, menyapa beberapa teman sekamarnya sambil mengambil sapu lidi untuk ikut bekerja. Ia sadar kalau wajah teman-temannya tegang ketika melihatnya.


“Kenapa?” tanya Abi.


Abi terkejut ketika mendengar kabar itu, meski ia sudah menduganya.


“Apakah polisi boleh memukul tersangka ketika diinterogasi?” tanya Tio, tahanan baru yang ditangkap karena mencopet. Ia sudah diperiksa, namun akan diperiksa kembali karena ada temuan baru kalau ia tergabung dalam sindikat pencopet yang sering meresahkan pengunjung beberapa mal di kota ini.


“Sebenarnya tidak boleh, tapi ada beberapa oknum yang melakukannya,” jawab Amran. Kemudian matanya kembali mengarah pada Abi. “Kudengar kau terlibat. Benarkah itu?”


“Iya, kudengar kau membuat bos Dirga sengaja menyerangmu sampai ia masuk ke sel trap dan bisa menghubungi anak buahnya untuk membunuh polisi itu,” sambung Adi.


“Untuk apa aku sengaja diserang? Aku menghinanya karena kesal dikurung di sel strap. Awalnya aku hanya ingin membuat keributan, tak kusangka ia menjatuhkanku dengan sekali serangan,” sangkal Abi. “Mereka boleh menangkapku jika punya bukti aku terlibat.”


Di tengah perbincangan mereka, seorang sipir datang menghampiri mereka dan memanggil Abi.


“Abimanyu Alexander, ada panggilan untukmu.”


Abi dan teman-temannya terdiam. Mereka melihat dua orang pria berpakaian preman sedang berdiri memperhatikan. Mereka tahu jika orang-orang itu adalah polisi yang akan menginterogasi Abi.

__ADS_1


“Sudah kubilang, kau pasti dicurigai terlibat,” ujar Amran.


“Hati-hati, ya, Bang,” kata Tio sambil memegang lengan Abi. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran, seperti Abi akan disiksa oleh kedua polisi itu.


Abi melemparkan senyum lalu berjalan mengikuti sipir. Tujuan mereka adalah ruang interogasi. Dalam perjalanan, ia melihat sipir yang biasa menemaninya di ruang kunjungan. Ponsel sipir itu yang ia curi untuk diberikan pada bos Dirga. Ia melihat wajah sang sipir yang lesu seperti langkahnya. Pakaiannya bukan seragam yang biasa dikenakannya di sini dan di pundaknya tergantung sebuah tas besar.


“Dia yang memberikan ponsel pada Dirga, ya?” tanya salah satu polisi pada sipir yang mengantar mereka ke ruang interogasi.


Alis mata Abi naik. Memberikan ponsel? Bukankah sipir itu kehilangan ponsel dan dialah yang mencuri lalu memberikannya pada bos Dirga?


“Iya, Pak. Tadi pagi pak Kepala merumahkannya untuk jangka waktu yang belum ditentukan.”


Sesampainya ruang interogasi, Abi duduk berhadapan dengan kedua pria itu dan sipir yang mengantar mereka pergi. Mereka saling tatap. Terlihat kedua pria itu ingin mengintimidasi Abi terlebih dahulu sebelum melemparkan pertanyaan. Sayangnya, hal seperti itu tidak berpengaruh bagi Abi.


“Kamu kenal Brigpol Reynold Harris?” tanya salah satu polisi yang mengenakan jaket berwarna biru lusuh.


“Kenal, Pak?”


“Bisa jelaskan bagaimana kamu mengenalnya?” Sekarang giliran polisi yang mengenakan jaket hitam yang bertanya.


“Saya mengenalnya lima belas tahun yang lalu. Saat itu saya dilaporkan ke polisi karena dituduh menganiaya teman saya. Reynold Harris yang menjadi salah satu polisi yang menginterogasi saya.”


“Bagaimana situasi saat itu?”


“Seperti interogasi biasanya.”


“Jangan bohong! Brigpol Reynold Harris menghajarmu saat itu, kan?” bentak polisi berjaket biru. Abi memundurkan kepalanya seolah menghindari tetesan liur yang menyembur wajahnya.


“Jika Bapak-Bapak sudah tahu jawabannya, untuk apa bertanya? Seperti pengacara saja.”


Polisi berjaket biru itu seperti hendak menghajar Abi. Untung rekannya berusaha menahan. Ia pun bertanya kembali pada Abi, kali ini dengan nada yang lebih lembut. “Maaf, kami sangat memohon kerjasamanya. Pagi ini Brigpol Reynold Harris ditemukan meninggal dunia. Melihat luka-lukanya, kemungkinan ia telah dibunuh oleh seseorang yang memiliki dendam padanya. Kami mendapat informasi kalau kamu adalah salah satu orang yang memiliki motif itu.”


Abi menatap ke luar jendela dan tersenyum. Ia muak dengan metode polisi baik dan polisi jahat dalam setiap pembukaan interogasi yang dijalaninya. Karena pada kenyataannya tidak ada yang berakhir baik.


“Maaf, kita ini sedang apa? Status saya sekarang sebagai apa? Dan kapasitas Bapak-Bapak sebagai apa? Jika ini adalah sebuah pemeriksaan dan saya dimintai keterangan sebagai saksi, maka saya ingin menerima surat panggilan yang sah terlebih dulu. Apakah saya harus membacakan pasal 112 KUHAP?”


Kedua polisi itu terdiam mematung. Mereka baru sadar kalau yang sedang mereka hadapi saat ini adalah seorang Abimanyu Alexander. Kemudian mereka pamit pergi setelah berjanji akan memberikan surat panggilan jika mereka membutuhkan keterangan dari Abi.

__ADS_1


“Sebelum membuat surat panggilan, sebaiknya kalian selidiki terlebih dulu apa yang terjadi lima belas tahun yang lalu agar kalian tahu siapa saja yang terlibat dan apa dampaknya bagi mereka jika aku mengungkap semuanya.”


Abi melambaikan tangannya pada mereka sambil tersenyum.


__ADS_2