Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 48


__ADS_3

Media nasional untuk dua hari ini dihebohkan oleh sebuah berita panas. Mata publik tertuju pada salah satu perusahaan terbesar di negeri ini. Perusahaan tersebut diduga melakukan praktek jahat yang menipu investornya dengan merekayasa penambahan modal sehingga menyebabkan dilusi saham. Bukan hanya dengan perubahan anggaran pembangunan yang terjadi pada mal New World, mereka juga melakukan berbagai cara agar terjadinya efek dilusi. Menurut beberapa ahli, hal ini sengaja dilakukan oleh pemilik perusahaan untuk menggerus suara para pemegang saham besar sehingga pemiliknya tetap memegang kendali penuh atas perusahaan.


Berbagai tuntutan dilayangkan pada PT. Laras Jaya Karya, perusahaan yang dimaksud. Para pemegang saham yang selama ini berpikir hal tersebut adalah fenomena yang biasa terjadi dalam bisnis, memberanikan diri untuk melapor setelah tahu kalau itu adalah rekayasa perusahaan. Citra perusahaan semakin buruk mengingat sebelumnya dua pimpinan dari dua anak perusahaannya ditangkap karena dugaan suap.


Kasus tersebut ternyata bukan yang terakhir, bahkan hanya sebuah pemicu dari terbongkarnya borok-borok perusahaan itu yang selama ini berhasil disembunyikan dengan sangat baik. Mulai dari kasus pelanggaran hak tenaga kerja, pencucian uang, penggelapan pajak, dan masih banyak lagi. Saat ini, PT. Laras Jaya Karya sedang berada di ujung tanduk.


Sementara itu, Louis Jithro Kurniawan selaku pemilik perusahaan belum bisa memberikan keterangan karena kondisinya yang sakit parah. Beberapa media elektronik berhasil merekam kedatangannya ke sebuah rumah sakit besar. Baru saja mobilnya berhenti di depan pekarangan rumah sakit, beberapa pengawal sudah menjaganya dari serbuan wartawan.


Ia turun dari mobil mewahnya dengan kursi roda menuju pintu unit gawat darurat. Wajahnya tertutup masker dan kacamata hitam serta topi kupluk di kepala. Tak lupa selimut tebal menutupi pangkuannya. Demi menunjukkan betapa parah penyakitnya, ia tidak memberikan lambaian tangan pada awak media, seperti yang selama ini dilakukannya.


Namun, tidak seperti rencana Abi, kali ini Leroy Jerold Kurniawan alias jaksa Jerold alias Roy, mantan teman SMA-nya, ikut terseret. Seperti yang ditemukan oleh Abi, beberapa wartawan menemukan beberapa kasus terkait PT. Laras Jaya Karya yang dijaksai oleh Roy dimana selalu berakhir dengan situasi yang menguntungkan perusahaan tersebut.


Kini ia sedang diselidiki oleh komisi kejaksaan dan diskors sampai waktu yang belum ditentukan. Kasus yang sedang ditanganinya akan segera dilimpahkan pada jaksa lain, termasuk kasus Abimanyu Alexander.


Yang pasti, para pencari berita sedang berpesta pora saat ini karena melimpahnya materi berita yang bisa mereka olah untuk disajikan kepada masyarakat. Kecuali satu orang wartawan. Ia justru sedang berpikir keras agar pemberitaan tentang PT. Laras Jaya Karya segera berakhir.


“Aku sedang memikirkan apa yang bisa mengalahkannya! Berita itu terlalu hangat dan terlalu besar. Banyaknya korban juga akan membuat berita itu sulit untuk dialihkan.”


Jack Off the Record sedang berselisih dengan seorang pria yang berada di seberang panggilan teleponnya. Seperti biasa, jika ada sebuah kabar yang viral dan menyudutkan suatu pihak, sementara pihak itu memiliki hubungan yang baik dengannya, maka ia akan mendapat perintah untuk membuat berita tandingan untuk mengalihkan perhatian publik.

__ADS_1


[Bukankah banyak materi lain yang bisa kau goreng? Peredaran narkoba yang makin menggila, pembunuhan berantai, persaingan Pilkada yang tak sehat atau kasus Abimanyu Alexander. Apakah reputasimu yang legendaris itu sudah berakhir?]


Jack menghela napas untuk menahan emosinya. Ia paling kesal jika ada orang yang mempertanyakan kemampuannya. Tapi, ia tidak mau mengamuk pada orang yang akan memberikannya bayaran besar. Ia hanya menutup percakapan itu dengan berkata, “Baik, aku sudah mendapatkan idenya. Tunggu saja besok.”


Ia menutup panggilan tersebut dan langsung melempar punggungnya ke sandaran kursi. Kepalanya menengadah ke atas sehingga ia bisa melihat lampu-lampu kantor yang membasuh wajahnya dengan cahaya. Sebenarnya, ia belum mendapatkan ide yang bagus. Materi yang disampaikan pria itu sama sekali kurang kuat untuk membendung berita PT. Laras Jaya Karya.


Di tengah perenungan, ponselnya berbunyi dan ia menatap ke layarnya. Kemudian bibirnya tersenyum. Ia menekan tombol shut down pada komputernya lalu pergi meninggalkan kantornya sambil bersiul santai.


                  *


“Kau tidak apa-apa?” tanya Regina.


Meski sebelumnya mereka selalu bertengkar, kali ini Regina memilih untuk bersikap baik pada Roy, tunangannya. Bukan karena perasaannya yang mulai berubah. Ia hanya bersimpati dengan apa yang terjadi pada Roy dan keluarganya akhir-akhir ini. Karenanya, sejak pertama kali mereka berkencan belasan tahun yang lalu, untuk pertama kalinya Regina mengajak Roy pergi ke suatu tempat dengan tujuan berkencan. Pilihannya adalah sebuah pantai.


“Ayo kita turun,” ajak Regina. Ia membuka pintu dan bersiap keluar. Namun, Roy memegang tangannya.


“Tidak bisakah kita bersantai di dalam mobil ini saja?”


Regina menatap Roy dengan perasaan sedih. Ia berpikir kalau saat ini Roy sedang tidak ingin berjumpa dengan banyak orang. Kemudian ia kembali menutup pintu mobilnya dan balas memegang tangan pria itu.

__ADS_1


“Baik, kita di mobil saja. Kalau begitu, aku akan membawa kita menyusuri jalan di pantai ini saja. Sangat indah.”


Regina melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup rendah. Sesekali ia melirik Roy. Pria itu selalu tersenyum dan mencoba menutupi kesedihannya. Regina membuka percakapan mereka dengan segala cerita tentangnya, terutama tentang pekerjaannya yang terkadang membosankan, terkadang seru dan menegangkan.


Ia tidak ingin membahas tentang masalah yang sedang dihadapi oleh Roy dan keluarganya terlebih dulu. Bukannya tidak peduli, bahkan ia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi karena ia hanya mendengar kisahnya melalui portal berita di internet dan baginya portal berita seperti itu tidak boleh dipercaya begitu saja. Ia tidak ingin memulai pembahasan tentang itu karena menunggu Roy sendiri yang bercerita. Jika ia belum bercerita, artinya ia belum siap untuk membahasnya.


“Aku minta maaf padamu untuk semua kesalahan yang pernah kulakukan,” gumam Roy dengan suara lirih. “Mungkin semua yang terjadi padaku beberapa hari terakhir adalah karma atas segala kejahatan yang pernah kulakukan.”


Regina tidak menjawab. Ia hanya memandang wajah Roy dengan iba. Selama ini ia sangat membenci wajah itu. Ia sangat membenci pria itu. Pria itu adalah pacar pertamanya. Pria itu adalah orang yang pertama memukulnya. Pria itu yang membuat sahabat baiknya difitnah, disiksa, dipenjara dan dikeluarkan dari sekolah. Pria itu yang menghasut ibunya agar memaksanya untuk menerima permintaan pertunangan. Pria itu kini sedang berjuang di pengadilan untuk memberikan hukuman seberat-beratnya pada sahabat baiknya sekaligus satu-satunya pria yang ia cintai.


Tapi kini kebencian itu hilang. Semua kesalahan yang dilakukannya seakan sirna dari memori Regina. Pria itu seperti pesakitan yang patut dikasihani.


“Bagiku, kau menyadari kesalahanmu dan meminta maaf padaku saja sudah lebih dari cukup. Aku berharap kita bisa me-reset hubungan kita dan mulai dari awal kembali sebagai sahabat. Ya, aku tahu bagaimana rasanya memiliki sahabat dan itu jauh lebih menyenangkan daripada memiliki pacar atau tunangan.”


Regina tersenyum lebar sehingga kecantikannya semakin terpancar jelas. Bukan hanya cantik, tapi terlihat imut dan menggemaskan bagi Roy. Pria itu pun akhirnya bisa memberikan senyum yang tulus untuk Regina.


Tiba-tiba ia menarik cincin yang tersemat di jarinya. Ia menyerahkan cincin itu pada Regina dan berkata, “Ya, mari kita hanya berteman. Kau pantas mendapatkan yang jauh lebih baik dariku.”


Tangan Regina ragu, tapi ia meraih cincin itu. Tidak seperti Roy, ia menyimpan cincin tunangannya di tas dan ia pun mengembalikannya pada Roy sambil berkata, “Jika keadaan sudah membaik dan kita juga sudah menjalani hidup yang lebih baik dari sekarang, mungkin kita bisa kembali bertunangan.”

__ADS_1


Mereka berpelukan, layaknya sepasang sahabat yang hubungannya baru saja dipulihkan. Roy bersyukur karena bisa mengakhiri pertunangannya dengan baik-baik. Sementara Regina berdoa dalam hati untuk perubahan Roy. Ia berharap agar pria itu bisa melewati setiap cobaan yang sedang dihadapinya dan hidup menjadi pribadi yang lebih baik.


Sayangnya, Regina tidak tahu jika malam itu adalah pertemuan terakhir bagi mereka.


__ADS_2