Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 112


__ADS_3

Dua bulan kemudian


Sudah tidak ada lagi media yang memberitakan penangkapan Abimanyu Alexander. Bahkan, nama itu seakan mulai lenyap dari ingatan sebagian besar masyarakat negeri ini. Semua orang lebih sibuk memberikan perhatian pada pilkada yang berlangsung dramatis. Arya Topaz Gumilang, sosok yang sebelumnya tidak terlalu populer dan mencalonkan diri hanya karena menggantikan petahana, keluar sebagai pemenang.


Kebijakan pertama yang dikeluarkannya adalah janjinya di awal pencalonan tentang penghentian proyek reklamasi pulau dan menjadikan pulau yang sudah terlanjur dibangun sebagai proyek pelestarian alam. Hampir seluruh masyarakat merasa optimis pemimpin baru mereka akan menjadi pemimpin yang baik bagi mereka.


Sementara itu, setelah penangkapan Abi, terjadi beberapa peristiwa kurang mengenakkan bagi orang-orang yang terlibat dengannya. Rinjani ditangkap karena tuduhan penggelapan uang kampanye Bima Sakti, Regina dimutasi ke daerah lain karena diam-diam terlibat secara ilegal dalam penyelidikan kasus Bima Sakti. Sedangkan Indira, izin advokatnya benar-benar dicabut karena aduan pengacara Okan Katalis diterima oleh pihak Dewan Kehormatan Advokat, ditambah ditemukannya beberapa bukti bahwa ia membantu Abimanyu Alexander selama masa pelariannya.


Sebenarnya, Indira juga nyaris dijebloskan ke dalam penjara karena melanggar pasal 223 KUHP. Tapi, ia ditolong oleh pak Burhan. Entah bagaimana caranya, tapi pak Burhan hanya berbicara sedikit pada para penyidik, Indira langsung dibebaskan dari segala tuduhan.


Bukan hanya itu, Indira juga ditawarkan pekerjaan di kantor hukum rekan pak Burhan. Memang, bukan sebagai advokat. Tapi, paralegal adalah pekerjaan yang paling masuk akal baginya yang memiliki sedikit keahlian di luar bidang hukum.


“Terima kasih atas bantuan Bapak selama ini,” kata Indira saat mereka bertemu di sebuah taman.


“Tidak usah dipikirkan. Bagiku, kau sudah seperti putriku sendiri,” balas pak Burhan. “Kau bahagia di tempatmu yang baru?”


Indira menatap pria tua itu. Hatinya dipenuhi oleh amarah yang luar biasa. Ia tahu, hal buruk yang ia lihat dan alami sendiri beberapa bulan terakhir berhulu darinya. Tapi, ia harus menahan diri dan berpura-pura bahagia karena menerima setiap bantuan darinya. Ia harus melakukan itu demi Abi.


“Tentu, tentu saja. Untuk saat ini, aku tidak sedang dalam kondisi bisa memilih pekerjaan. Pekerjaanku yang sekarang tidak jauh berbeda dengan sebelumnya, bahkan bebannya lebih sedikit. Jadi, aku sangat bahagia.”


Pak Burhan tersenyum. Ia sangat senang karena berpikir telah berhasil membuat Indira bahagia. Baginya, senyuman wanita itu sangat berharga, apalagi yang tercipta karenanya.


Sejak dulu banyak yang bertanya-tanya tentang sikap pak Burhan yang selalu memperlakukan Indira dengan sangat baik. Indira bukan kerabatnya, bukan pula orang yang pernah berjasa padanya. Ia tidak pintar, tidak berasal dari orang kaya, tidak juga bisa dikatakan cukup cantik untuk meluluhkan hati sang profesor.


Sampai saat ini, tidak ada yang tahu jawabannya, kecuali pak Burhan sendiri dan Jack Off the Record.


                  *


Dua puluh tujuh tahun yang lalu


Pak Burhan terlihat lesu. Tenaganya telah terkuras habis sejak beberapa jam yang lalu. Semua berawal dari panggilan telepon yang ia terima dari kepolisian tentang kecelakaan yang dialami oleh putri tunggalnya. Ia juga sudah tak punya air mata lagi. Semua tangisnya sudah tumpah sejak seorang dokter menyatakan Lasmi Kemuning, putrinya, meninggal dunia.


Pria itu hanya bisa melihat siaran berita yang menayangkan kecelakaan tersebut. Mobil yang ia tumpangi memang terlihat rusak parah. Dari kelima orang yang ada di dalamnya, tidak ada yang selamat. Dan yang paling menyedihkannya adalah kondisi tubuh para korban mengalami kerusakan yang sangat parah.

__ADS_1


Masih terbayang di benaknya wajah terakhir Lasmi yang tersenyum padanya saat pamit hendak pergi ke kegiatan kampus.


“Jangan anggap aku anak kecil lagi. Bahkan sekarang aku bisa memenjarakan presiden,” kata gadis cantik itu bercanda, yang membuat sang ayah tertawa.


Air mata pak Burhan kembali mengalir saat mengingat momen itu. Jika ia tahu ini akan terjadi, pasti saat itu ia akan menggenggam tangan putri kesayangannya itu dan takkan melepasnya lagi sedetikpun.


“Jika ini memang hukuman, untuk dosaku yang mana?” tanya pak Burhan lirih pada temannya yang juga seorang hakim, Kevin Perdana. Pria itu yang mengantarkan pak Burhan ke rumah sakit dan yang terus menemaninya.


“Terkadang, hukuman diberikan bukan pada orang yang berdosa, tapi pada orang yang salah mengambil keputusan,” balas Kevin.


Pak Burhan menatap rekan sejawatnya itu. Ia tahu Kevin sedang membahas putusan yang ia keluarkan untuk kasus terbarunya, yaitu kasus pemerkosaan dengan terpidana anak seorang pejabat. Meski telah menerima ancaman, ia tetap memenjarakan sang pelaku dengan hukuman maksimal.


“Aku hanya menjalankan tugasku sebagai hakim,” ujar pak Burhan dengan air mata yang masih menderai di pipi.


“Ada alasan kenapa semua orang mengejar harta dan kekuasaan,” tutur Kevin. “Itu agar mereka bisa membeli apapun, termasuk hukum.”


Pak Burhan tak lagi menimpali ucapan Kevin. Ia memikirkan kata-kata rekannya itu dengan serius. Sejak dulu ia bercita-cita menjadi seorang hakim yang adil, yang menjunjung tinggi supremasi hukum dalam kondisi apapun. Tapi, jika ternyata harus mengorbankan putri yang dicintainya, satu-satunya orang yang sangat berharga baginya, ia bahkan rela meludah hukum itu.


“Maaf, apakah Bapak keluarga dari Lasmi Kemuning?”


“Ya, dia adalah ayahnya,” jawab Kevin mewakili pak Burhan yang sepertinya sudah tidak sanggup melayani orang asing lagi. “Ada apa?”


Tiba-tiba pria itu berlutut sambil memegang kaki pak Burhan. Isak tangis mulai terdengar dari mulutnya, membuat pak Burhan dan Kevin merasa sangat canggung.


“Maafkan saya, Pak. Tapi, saya minta tolong, selamatkan putri saya.”


Pak Burhan sama sekali tidak bisa memahami situasi yang sedang terjadi. Bagaimana ia bisa menyelamatkan putri orang lain, sementara ia baru saja kehilangan putrinya sendiri?


“Maaf, Pak. Bukannya saya tidak mau. Tapi, bagaimana caranya?”


Pria itu mengeluarkan secarik foto seorang bayi mungil yang tubuhnya dipasang berbagai selang medis. Ia bercerita bahwa putrinya tersebut mengalami masalah pada hatinya.


“Ia membutuhkan donor untuk hatinya. Kami sudah mencoba mencari dari keluarga. Tapi, hati saya tidak cocok dan ibunya baru saja meninggal. Di keluarga besar pun tidak ada yang cocok. Hanya hati kakaknya yang cocok, namun ia masih terlalu kecil untuk mendonor.”

__ADS_1


Pak Burhan mulai memahami arah pembicaraan mereka. “Maksud Bapak, putri saya -”


“Kami mendapatkan informasi dari pihak rumah sakit bahwa putri Bapak telah mendaftar sebagai pendonor organ dan hatinya kemungkinan besar cocok dengan anak saya. Dan, bukannya ingin mensyukuri apa yang terjadi padanya, tapi pada situasi sekarang, hanya putri Bapak yang mampu menyelamatkan putri saya.”


Pak Burhan terdiam sejenak, lalu air matanya kembali berderai. Ia sama sekali tidak tahu perihal donor organ yang telah dilakukan oleh putrinya. Ia juga tidak menyangka, meski tubuh Lasmi telah hancur, masih ada organ tubuhnya yang mampu menyelamatkan orang lain.


“Boleh, Pak. Sangat boleh. Lasmi pasti akan sangat bahagia jika bisa menyelamatkan hidup orang lain, meski ia telah tiada.”


Pria itu langsung memeluk erat pak Burhan sampai tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih. “Saya berjanji akan membalas kebaikan Bapak. Bahkan, saya akan memberikan apapun untuk membayarnya.”


                  *


Beberapa tahun kemudian 


Pak Burhan berjalan menyusuri koridor kampus. Wajahnya terpasang ramah dan menyapa setiap mahasiswa yang berpapasan dengannya. Ia memang dikenal sebagai dosen yang paling ramah sekaligus hakim terbaik.


Tidak ada yang tahu wujud aslinya. Ia adalah seorang pemimpin salah satu kelompok kejahatan terbesar di kota ini. Tidak seperti kelompok kejahatan lain yang hanya mengandalkan kekerasan dalam menyelesaikan berbagai masalah, ia memiliki sesuatu yang lebih kuat di genggaman tangannya, yaitu hukum.


Tak terhitung berapa kali ia memanipulasi hukum demi keuntungan pribadi. Tidak ada yang tidak bisa dilakukannya. Apakah dengan demikian ia tidak lebih kejam dari kelompok kejahatan lain? Justru sebaliknya. Ia adalah yang terkejam dari seluruh penjahat kejam di kota ini. Bahkan, hanya mendengar namanya saja, orang-orang akan ketakutan.


“Jangan anggap aku anak kecil lagi. Bahkan sekarang aku bisa memenjarakan presiden,” kata seorang gadis dengan nada kesal.


Pak Burhan terkejut ketika mendengarnya. Itu adalah kata-kata yang sering diucapkan oleh mendiang putrinya. Bahkan itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan padanya.


Ia segera mengintip ke arah jendela, mencari asal suara itu. Ternyata dari seorang calon mahasiswa yang sedang membentak pria paruh baya di depannya.


“Papa hanya ingin memastikan kau baik-baik saja.”


Ternyata mereka adalah pasangan ayah dan anak.


“Aku baik-baik saja, bahkan sejak aku lahir dan kau meninggalkanku, aku selalu baik-baik saja,” kata wanita itu ketus.


“Baiklah kalau begitu. Papa pergi dulu. Papa senang kau sudah kuliah.”

__ADS_1


Pria itu berbalik dan betapa terkejutnya pak Burhan ketika melihat wajahnya. Ternyata ia adalah pria yang dulu pernah meminta donor hati Lasmi padanya. Ia adalah Jack Off the Record.


__ADS_2