Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 75


__ADS_3

Suasana rumah sakit masih dalam keadaan panik ketika Regina datang. Polwan itu bertanya kepada salah satu perawat yang masih menunggu beberapa rekannya datang dari dalam. Sementara, Abi dan Indira bersembunyi sambil memperhatikan gerak-gerik Regina.


“Itu dia!”


Indira menunjuk ke arah seorang pria berpakaian pasien rumah sakit yang berjalan mengendap-endap. Itu adalah Rama. Indira melambaikan tangan agar Rama melihat keberadaan mereka. Ketika Rama melihat dan hendak melambaikan tangan juga, Indira memberikan isyarat untuk tidak melakukannya sambil menunjuk ke arah Regina.


“Di mana para polisi penjaganya?” tanya Abi ketika Rama sudah di hadapan mereka.


“Entah, aku meninggalkan mereka saat kami hendak naik lift,” jawab Rama dengan napas terengah-engah.


“Eh, sepertinya kamu takkan sempat. Para penjaga itu sudah keluar gedung dan Regina sebentar lagi pasti akan melihat keberadaan mereka,” info Indira saat melihat sekumpulan orang berpakaian polisi sedang kebingungan mencari seseorang yang pastinya adalah Abi.


Sementara itu, Regina merasa semakin curiga ketika melihat keributan yang sedang terjadi. Ia yakin, ini pasti ada hubungannya dengan laporan yang ia dengar tentang Abi. Di tengah situasi yang sangat ramai, ia belum bisa berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya bisa berpikir untuk segera menemukan rekan-rekannya yang bertugas menjaga Abi.


“Briptu Adi, Briptu Soetrisno, apa yang sedang terjadi? Di mana tahanan?”


Kedua polisi yang Regina temui sedang celingak-celinguk terkejut melihat kemunculan seniornya itu. Mereka terlihat gugup dan tidak tahu harus berkata apa.


“Eh, eh, tadi kami mendengar ada alarm kebakaran, lalu kami mencoba membawa tahanan keluar gedung. Tapi -”


“Tapi kenapa?” tanya Regina kesal karena cara menjawab rekannya itu yang sangat lambat.


“Kau tidak perlu mengkhawatirkannya.” Terdengar suara dari kejauhan yang tak salah lagi ditujukan pada Regina


Kedua polisi itu selamat dari situasi menyeramkan yang ditebarkan Regina ketika salah satu senior mereka, yaitu Aiptu Khairul, memanggil sambil memegang Abi, yang tanpa sepengetahuan mereka adalah Abi yang berbeda dengan yang terakhir mereka lihat.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah dia kabur?” Regina kembali bertanya pada kedua juniornya itu dengan wajah marah.


“Ti, ti, tidak. Aiptu Khairul hanya membawanya ke toilet sebentar.”


Polisi yang bernama Khairul itu datang dengan menarik Abi secara paksa. Ia tersenyum saat melihat wajah Regina yang sudah seperti hendak memakannya.


“Halo, Regina cantik. Sepertinya kau tak perlu mendatangiku seperti ini hanya karena kangen,” kata Aiptu Khairul dengan senyum lebarnya.


Regina mengabaikan sapaan ramah itu, bahkan ia mengabaikan pria itu, dan langsung menarik kerah baju Abi.


“Kau! Jangan melakukan hal-hal yang aneh!” kata Regina dengan suara ditekan, seperti ia sedang menekan kekesalannya pada Abi di depan rekan sejawatnya.


Abi tidak menjawab dan hanya tersenyum, membuat Regina semakin kesal. Ia menatap ke arah Aiptu Khairul dan kedua juniornya, lalu berkata, “Perhatikan baik-baik.”

__ADS_1


Tak disangka, Regina melayangkan tinjunya ke wajah Abi hingga pria itu tersungkur dan mengeluarkan darah segar di hidungnya. Semua orang yang ada di sekitar mereka melihat dengan rasa takut.


“Apa yang kau lakukan? Kau ini seorang polisi, tidak boleh melakukannya, meski pada seorang tahanan.”


“Bekas pukulanku punya ciri khas dan tidak ada yang bisa menirunya. Jadi, jika bekas pukulan yang ada di wajahnya ini berubah, kalian harus memberitahuku.”


Semua orang yang mendengarnya sama sekali tidak mengerti dengan maksud Regina. Namun, Aiptu Khairul menilai situasi saat ini sangat tidak bagus.


“Bawa dia pergi dari sini,” titah Aiptu Khairul. Kedua juniornya itu menarik Abi dan membawanya menjauh dari Regina. Kemudian, Aiptu Khairul menatap Regina yang masih terlihat kesal. “Ayolah, kau tak perlu datang dengan penuh emosi seperti itu. Cerialah.”


“Sepertinya tidak benar-benar terjadi kebakaran,” ujar Regina, masih mengabaikan ucapan rekannya itu. “Menurut pengamatanmu, apakah tidak ada perubahan antara fisik Abi sebelum dan setelah hilang tadi?”


“Perubahan apa? Kau hanya…”


Aiptu Khairul mendadak terdiam. Ia mengingat sosok tahanannya sebelum hilang di depan lift tadi. Memang, tubuhnya tidak setinggi barusan dan bahunya juga tidak sebidang barusan. Lalu mulutnya ternganga sambil memandang Regina. Dari ekspresi wajahnya itu, Regina sudah tahu jawabannya.


“Pantas saja kau memukulnya. Tahu begitu, aku akan membiarkanmu memukulnya dua atau tiga kali lagi.”


                  *


Regina tidak melepas tatapannya dari Abi sedetik pun. Tatapan itu membuat Abi merasa sangat tidak nyaman. Ia pura-pura tidak melihat dan bersiul memainkan jarinya ke tepi ranjang. Di lubang hidungnya masih tersumbat kapas untuk menahan aliran darah dari dalam.


“Kau pasti melakukan sesuatu yang tidak benar, kan? Aku sudah lama mengenalmu dan aku tahu kalau ekspresimu seperti itu, kau sedang menutupi sesuatu,” kata Regina berusaha menekan Abi.


“Sok tahu. Memangnya sesuatu yang tidak benar apa yang kira-kira akan kulakukan?”


“Alarm rumah sakit. Aku tahu, pasti kau yang memanipulasinya sehingga menyala walau tak terjadi kebakaran.”


“Tapi, kebakaran benar-benar terjadi di gudang. Yah, walau tidak sempat besar, tapi itu sangat mungkin untuk membunyikan alarm peringatan ke seluruh gedung.”


“Aku tahu, karena itu… Tunggu, dari mana kau tahu alarm berbunyi karena ada kebakaran kecil di gudang? Seingatku, tidak ada yang memberitahukannya.”


“Eh, aku tadi mendengar sekilas,” kilah Abi. Ia menyesal telah salah berbicara.


Regina mendekatkan wajahnya ke wajah Abi sehingga ekspresi penuh amarah dari wajah itu bisa terlihat dengan sangat jelas di mata Abi. Ia sangat gugup karena tahu bagaimana sahabatnya tersebut jika sedang marah. Ia takkan menghiraukan apapun hingga amarahnya terlampiaskan.


“Kau pasti tahu kalau ada pasal yang mengatur tentang menyalakan alarm palsu, bukan?”


“Eh, i, iya. Pasal 172 KUHP, Barang siapa dengan sengaja mengganggu ketenangan dengan mengeluarkan teriakan-teriakan, atau tanda-tanda bahaya palsu, diancam dengan pidana penjara paling lama tiga minggu atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah. Dan pasal 503 KUHP, Diancam dengan pidana kurungan paling lama tiga hari atau pidana denda paling banyak dua ratus dua puluh lima rupiah: barang siapa membikin ingar atau riuh, sehingga ketentraman malam hari dapat terganggu.”

__ADS_1


“Lalu, kenapa kau melakukannya, Tuan Paling Paham Hukum?”


Abi melongo, lalu mengeluarkan senyuman polos. Ia tahu, Regina selalu luluh jika melihat senyuman polos itu. Tapi, sepertinya kali ini senyum itu tidak mempan. Raut marah di wajahnya tidak berubah sama sekali.


“U, untuk apa aku melakukannya? Apakah menurutmu aku terlalu bosan di sini sehingga melakukan hal sebodoh itu?”


Regina menghela napas panjang. Ia sudah lelah memancing Abi agar mengatakan apa yang sebenarnya terjadi atas inisiatif sendiri. Sepertinya ia harus mengatakannya secara langsung.


“Katakan sejujurnya, kau dan Rama sempat bertukar tempat, kan? Beberapa saat yang lalu, sebelum alarm rumah sakit berbunyi, yang ada di tempat ini adalah Rama dan kau berkeliaran di luar sana.”


Abi terdiam. Melihat kedatangan Regina dan bagaimana wanita itu menekannya sejak tadi, ia bisa menebak kalau Regina sudah curiga dengan perbuatannya sepanjang malam ini. Tapi, sebelum Regina menunjukkan bukti yang kuat, ia akan terus menyangkal.


“Kau terlalu kebanyakan menonton film. Bagaimana mungkin orang yang tidak lulus SMA bisa mengelabui empat atau lima polisi yang terus menerus berjaga-jaga di sekelilingnya?”


“Ini tidak ada kaitannya dengan ijazah. Aku tahu, kau dan Rama sangat mungkin melakukannya.”


“Maksudmu, kau menuduh kami penipu? Aku sakit hati.”


“Berhenti mengalihkan pembicaraan atau aku akan membuat bekas pukulan yang baru.”


Abi terdiam dan menunduk. Ia tahu, Regina bukanlah orang yang mudah meyakini sesuatu. Tapi, ketika ia sudah yakin, ia akan sulit untuk digoyahkan. Abi melihat Regina sudah pada titik sangat yakin bahwa ia bertukar tempat dengan Rama.


“Kau tahu? Yang kau lakukan termasuk pelanggaran berat?”


“Eh, sebenarnya aku tidak pernah membaca undang-undang yang mengatur tentang tahanan yang melarikan diri dari rumah sakit ketika dirawat. Bisa jadi, jika memang aku melakukannya, aku tidak akan mendapat -”


“Diam!”


Abi kembali tertunduk setelah Regina membentaknya. Beberapa polisi yang menjaga sampai mengintip dari pintu karena bentakan itu cukup keras.


“Intinya, aku menyangkal tuduhanmu itu. Tidak ada bukti kuat. Jika mengandalkan dugaan para polisi penjaga tentang tinggi badanku yang berubah, itu belum bisa dijadikan alat bukti.”


Regina mengeluarkan ponselnya lalu mencari beberapa berkas berbentuk foto dan menunjukkannya pada Abi. Pria itu terkejut karena foto-foto itu. Itu adalah beberapa fotonya ketika beraktivitas di luar bersama Indira beberapa jam yang lalu.


“Darimana kau mendapatkannya? Ah, bukan. Itu bukan aku. Sudah jelas kalau itu Rama.”


Regina kembali menghela napas panjang sambil menarik kembali ponselnya.


“Harus berapa kali kukatakan padamu? Aku adalah orang yang paling mengenalmu, bahkan lebih dari dirimu sendiri. Seandainya hanya bagian hidung saja yang terlihat, aku tetap tahu kalau itu hidungmu atau tidak.”

__ADS_1


Abi terdiam. Ia tidak bisa mengelak lagi setiap perkataan Regina. Namun, yang masih menjadi pertanyaannya adalah siapa yang mengirim foto-foto itu pada Regina.


__ADS_2